LOGIN"Beneran, Nek?" tanya Putra dengan mata berbinar."Iya, Sayang. Jadilah anak pintar ya, nurut sama Ayah dan Bunda. Nenek pulang dulu," sahur Dewi.Setelah mengantar Dewi sampai ke depan pintu dan memastikan mobilnya berlalu, Ibra kembali ke dalam. Suasana rumah terasa lebih tenang, hanya ada suara denting piring dari dapur tempat Aya menyiapkan makan malam."Mas mandilah dulu. Kita makan," ucap Aya lembut.Ibra mendekati istrinya terlebih dahulu. Lalu memeluk Aya dari belakang dan mengusap lembut perutnya. "Iya, Aya. Kamu duduk saja. Biar Bi Tina yang siapin semuanya.""Nggak papa, Mas. Sudah. Sana mandi." Aya berujar lembut."Aku tidak akan mandi kalau kamu tidak mau duduk," sahut Ibra sembari menarik tangan sang istri. Membawa wanita itu agar duduk di kursi makan."Baiklah." Aya akhirnya menurut. Wanita itu duduk di kursinya. Sementara Putra ikut mendekat dan duduk di hadapan sang ibu."Ayah, biar Putra aja yang bantuin Bunda. Ayah mandi aja," ucap bocah tampan nan menggemaskan itu.
"Pak, apa kita perlu ikut menyelidiki masalah ini?" tanya Samuel ketika ia dan sang Presdir berjalan keluar melewati lobi."Tahan dulu. Biarkan mereka yang bekerja. Sekarang kita fokus pada masalah kebocoran data itu. Kamu harus bisa menyelesaikannya, secepatnya," jawab Ibra dengan tegas."Baik, Pak," sahut Samuel.*Sore harinya, Ibra kembali ke rumah dengan beban di pundak yang terasa semakin berat. Namun, pemandangan di ruang tengah sedikit meredakan ketegangannya.Putra sudah mau keluar dari kamar. Ia duduk di sofa, diapit oleh Aya dan Dewi. Mereka sedang menyusun balok-balok mainan dengan tenang. Aya terlihat membisikkan sesuatu yang membuat Putra tersenyum tipis. Meski senyumannya belum seceria biasanya.Di belakang mereka, Lili memilih tidur dengan tenang. Nampaknya kucing kecil itu sudah kelelahan karena bermain menghibur teman kecilnya."Ayah?" panggil Putra pelan.Aya menoleh, menatap suaminya. Menyadari gurat kelelahan di wajah Ibra. Ia ber
Di kantor polisi, tepatnya di ruang interogasi. Sementara kehangatan menyelimuti kamar Putra, atmosfer di kantor polisi justru sedingin es. Ibra berdiri di balik kaca satu arah, menatap dua sosok yang telah menghancurkan ketenangannya, yaitu Timo dan Beatrice.Samuel berdiri di samping Ibra, memegang beberapa berkas tuntutan dan bukti kejahatan yang dilakukan kedua orang itu."Kita punya cukup bukti untuk menjerat mereka berdua, Pak. Terutama Timo, dia tertangkap tangan dengan bukti digitalnya. Dan ini berkat ketelitian Bu Aya," papar Samuel.Rahang Ibra mengeras saat menatap kedua orang yang duduk berdampingan di hadapannya. Mereka pun menyadari kemunculan Ibra dan Samuel.Ibra melangkah masuk ke ruang interogasi pertama. Di sana, Timo duduk dengan bahu merosot dan tangan terborgol. Begitu melihat Ibra, pria yang dulunya adalah orang kepercayaan di tim IT itu langsung bersimpuh di lantai, memeluk kedua kakinya."Pak Ibra... saya mohon maaf, Pak! Saya khilaf!" ra
Mentari pagi yang biasanya disambut dengan kehangatan aktivitas persiapan sekolah, kali ini terasa hening di kediaman Ibra. Cahaya yang menyusup lewat celah gorden kamar Putra tidak mampu mengusir sisa-sisa trauma yang menyelimuti bocah lima tahun itu.Putra masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Meski ruangan itu luas dan terang, di matanya, kegelapan ruangan dan lemari sempit tempatnya disekap kemarin masih membayang. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali merasakan hawa dingin dan sesak yang mencekik napasnya dan juga suara amarah wanita yang menjadikannya sandera."Meong!" Lili berseru pelan. Mengeluarkan tubuhnya dengan lentur di sebelah Putra. Seolah tahu akan keadaan teman kecilnya itu, Lili duduk dengan bulu putih yang berantakan, lalu menyandarkan kedua cakar depannya di dada Putra."Lili...." cicit Putra pelan."Meong...." Lili membalas dengan ngeongan lembut. Kucing kecil itu pun semakin mendekat dan kini berpindah duduk tepat di sebelah bahu Putra. Kepalanya pun m
Ibra mengangguk. "Ya. Dia berhasil mengecoh kita."Aya mengepalkan kedua tangannya. "Mas, sebaiknya kita bicara di luar." Wanita itu menoleh ke arah anaknya dan mengusap pipi Putra dengan lembut."Sayang, kamu istirahat, ya? Biar ditemani Lili. Bunda, Ayah, sama Nenek mau bicara," ucap Aya lembut dan penuh kasih sayang."Iya, Bunda." Putra mengangguk patuh. Bocah itu memeluk ibu lalu neneknya terlebih dahulu. Lalu ia menoleh ke arah ayahnya."Ayah, makasih," ujarnya sebelum memeluk sang ayah juga."Sama-sama, Jagoan. Ayah tidak akan biarkan kamu terluka," ucap Ibra. Pria itu menatap sang istri."Kalian keluarlah dulu. Aku mau obati tangan Putra," ujarnya."Apa?!" Aya memekik. Wanita itu menarik tangan mungil anaknya dan melihat ruam merah di pergelangan Putra."Astaga... Biar Bunda yang obati.""Tidak, biar Nenek saja!"Dan setelah itu, Aya dan Dewi mengobati tangan Putra bersama. Mereka bertiga pun segera keluar dan membiarkan bocah itu tidur
Malam itu, mobil Maybach hitam metalik milik Ibra terus membelah jalanan. Meninggalkan area pantai kembali ke pusat kota yang cukup jauh. Hingga pukul sembilan malam, mobil Ibra tiba di depan rumahnya.Lampu teras berpijar kuning temaram, menerangi dua sosok wanita yang wajahnya telah luruh oleh air mata dan kecemasan. Aya berdiri di ambang pintu, jemarinya saling meremas.Di sampingnya, Dewi tak henti-hentinya berdoa dengan bibir gemetar. Sudah lima jam sejak Putra hilang tanpa jejak dari sekolahnya. Lima jam yang terasa seperti lima abad di neraka karena tak bertemu dengan cucunya.Lalu, sepasang lampu sorot mobil membelah kegelapan. Masuk ke area rumah Ibra, melewati pintu gerbang uang tinggi.Mobil Maybach hitam itu berhenti dengan decitan pelan tepat di depan teras. Jantung Aya seakan berhenti berdetak saat pintu belakang terbuka. Ibra keluar dari sana. Wajahnya pucat, bajunya kusut, rambutnya berantakan, tapi matanya memancarkan sesuatu yang membuat napas Aya kembali tercekat."
"Apa kamu bercanda? Kenapa kamu nggak pakai sepatu?" tanya Ibra dengan tatapan tajam.Aya memalingkan muka. "Bukankah Anda yang membuang sepatu saya?" Ia balas bertanya."Tapi Bi Tina sudah membawakan sepatu baru untukmu, bukan?""Bi Tina hanya membawa baju saja. Dan saya heran kenapa Anda bisa tah
Tawa Ibra berhenti, tetapi kilatan di matanya justru semakin intens saat kembali menatap Aya. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah akibat pagutan tadi, sebuah gerakan yang membuat wajah Aya semakin memanas."Hyper?" Ibra mengulang kata tersebut dengan nada mengejek. "Mungkin kamu ben
Langkah Ibra terasa ringan namun pikirannya berat saat ia memasuki lobi gedung Bagaskara Group. Para karyawan membungkuk hormat, tetapi sang Presdir hanya melewatinya dengan tatapan lurus.Di kepalanya, bayangan Aya yang menamparnya, Aya yang menatapnya getir, hingga Aya yang memegang keningnya den
"Bunda, Bunda cantik banget, deh," pujian itu lolos dari bibir mungil Putra yang kini duduk di salah satu sisi tempat tidur sang ibu.Aya mematut dirinya di depan cermin. Malam itu ia mengenakan blus biru muda dan celana krem. Rambutnya dia kepang satu dengan dua buah jepit lidi yang terlihat manis







