INICIAR SESIÓN"Aku akan melunasi Utangmu, dengan syarat kamu menjadi pengantinku." "Apa?" "Ya, aku juga memastikan kamu akan selesai masa Koas sampai menjadi dokter spesialis." Siapa sangka dokter yang gagah, tampan, dan berwibawa rupanya mengidap Disfungsi Ereksi. Sementara Aruna yang masih menjalani masa Koas harus terpaksa menerima pinangan dokter Bima. Akankah ini hanya sebuah hubungan kontrak dan saling menguntungkan? Atau perlahan benih cinta akan hadir di antara keduanya?
Ver másSiang yang begitu terik, calon dokter yang sedang mengikuti masa Koas baru saja menyelesaikan tugas jaga di IGD. Wajah cantiknya sedikit sayu karena semalaman ia berjaga. Namanya adalah Aruna, yang kini baru saja memasuki masa Koas di salah satu rumah sakit di kota Metropolitan.
Begitu selesai jaga, yang Aruna bayangkan adalah bisa segera tiba di rumah dan beristirahat. Matanya begitu berat, tapi ia harus berjibaku dengan Kereta Rel Listrik untuk bisa kembali ke rumahnya. Naas bagi Aruna, karena baru saja keluar dari rumah sakit sudah ada tiga pria yang menghadangnya. “Kamu anaknya Gunawan kan?” Seorang pria dengan tubuh kekar dan sorot mata yang tajam menghadang Aruna. Tentu saja Aruna merasa takut. “Kalian siapa?” “Benar kan kamu anaknya Gunawan!” Pria yang lain membentak. Aruna menunduk. Siapa saja yang ada di posisi Aruna tentulah sangat takut. Aruna ingin berlari, tapi sudah pasti tiga orang itu bisa dengan mudah mengejarnya. “Bapakmu mempunyai utang kepada kami. Kalau sampai Bapakmu tidak bisa membayar utang dan sekaligus bunganya, kami bisa membawamu. Ck, sok hebat sekali pria itu. Bisa menyekolahkan anaknya jadi dokter, tapi utangnya setinggi langit.” Lalu, pria lainnya kemudian berbicara kepada Aruna, “Sebaiknya kamu mencicil utang bapakmu itu!” “Saya tidak punya uang. Lagian yang saya tidak tahu apa-apa kenapa kalian mengganggu saya.” “Tidak tahu apa-apa? Hei, dia itu bapakmu. Ia juga bilang kalau kamu itu anaknya.” Pria lain berbisik dengan sorot mata tertuju pada tas ransel milik Aruna. Dengan pergerakan yang begitu cepat, seorang pria menarik tas ransel Aruna sampai Aruna jatuh. Gadis itu tersungkur, tangannya menyentuh aspal yang saat itu terasa begitu panas karena sengatan matahari. “Tas saya.” “Ayo kita buka isinya. Ambil uangnya!” “Jangan. Kembalikan tas saya.” Aruna yang tersungkur sudah benar-benar harus menahan air matanya. Ia ingin meminta pertolongan, tapi tidak ada sekuriti di sana. Gadis itu merasa diintimidasi. Bahkan satu di antara pria itu mulai menampar sisi wajah Aruna. Aruna sampai mengaduh sembari memegangi wajahnya yang terasa sakit. Sungguh, Aruna merasa tidak bersalah. Badannya juga sangat lelah, tapi muncul tiga pria yang seperti suruhan rentenir. Dalam kondisi seperti itu, lewatlah perlahan mobil mewah. Sosok di dalam mobil itu membuka kaca jendelanya sedikit dan merekam kejadian itu. Wajahnya tersenyum puas ketika Aruna mendapatkan tamparan dari pria di sana. Entah apa motifnya, yang pasti ia berlalu begitu saja. Namun, jarak belasan meter mobil itu berhenti, lalu sosok di dalam mobil berbicara sendiri dengan nada penuh kepuasan. “Rasain lo, Aruna! Lihat saja apa yang bisa gue lakukan dengan rekaman video ini.” Tentu saja wanita itu memiliki motif yang tidak baik. Di satu sisi, Aruna tersungkur. Sisi wajahnya terasa sakit, bahkan sedikit darah keluar di sudut bibirnya. “Ada dompet di sini,” teriak seseorang di situ. “Ambil saja uangnya!” “Jangan, Pak. Jangan ambil uang saya, itu harus saya gunakan untuk bertahan sampai akhir bulan,” balas Aruna. “Persetan!” Dari arah lobi, ada seorang dokter yang terbilang berusia masih muda. Ia melihat ada kejadian di luar rumah sakit. Akhirnya, ia berlari dan berusaha menyelamatkan Aruna. “Lepaskan!” dokter itu berteriak sembari menghadiahi pukulan ke dua pria yang ada di sana. Tas ransel milik Aruna dijatuhkan begitu saja, tapi uang miliknya semuanya diambil. “Beraninya cuma sama cewek! Kalian bukan pria! Pengecut!” dokter itu berteriak. Tampak sekali kalau ia tengah emosi. Bahkan pukulan yang diberikan benar-benar sekuat tenaga. Akhirnya tiga pria suruhan rentenir itu pun berlari. Aruna menangis dengan memeluk lututnya sendiri. Selain itu, ia merasa sangat malu karena sosok yang menolongnya adalah dokter Bima, seorang dokter yang terkenal sangat baik, pintar, dan karismatik. dokter Bima kemudian membantu Aruna berdiri, lalu ia berbicara dengan singkat. “Ikut saya dulu,” katanya. “Tt … tidak, dok,” balas Aruna dengan terisak. “Jangan melawan. Ikuti saya.” Aruna masih terisak sembari mengambil tas ransel miliknya. Snelli atau jas putih miliknya ia ambil terlebih dahulu, bahkan tangannya berusaha membersihkan jas putih itu. Bagi Aruna, Snelli miliknya sangat berharga. Anak dari keluarga tidak mampu yang bisa kuliah di fakultas kedokteran. Selain itu, ada stetoskop miliknya yang juga ia ambil dan masukkan ke dalam tas. Barang terakhir yang Aruna ambil adalah dompetnya yang kini benar-benar tidak ada isinya lagi. Dia membawa tas ransel itu, memeluknya di depan dada. Aruna kemudian mengambil masker dari saku celananya dan mengenakannya terlebih dahulu agar wajahnya yang sembab dan luka di sudut bibir tidak terlihat oleh orang lain di dalam rumah sakit. Langkah kaki Aruna kini mengikuti langkah kaki dokter Bima. Sekarang, ia sudah ada di dalam ruangan dokter Bima. “Duduk dulu,” perintah dokter Bima. Aruna kali ini menurut. Dia duduk dengan masih memeluk tas ranselnya. Sedangkan dokter Bima tampak mengambil kapas dan antiseptik, ia ingin membersihkan sisa darah di sudut bibir Aruna. Baru saja hendak menempelkan kapas di sudut bibir Aruna, saat dokter Bima hendak duduk, sebuah botol jatuh dari sakunya. Botol itu terjatuh ke lantai dan beberapa obat berserakan di sana. Refleks Aruna langsung berjongkok dan meraih botol obat itu bahkan Aruna sempat membacanya. “Sildenafil PDE5,” ucap Aruna. Setelahnya Aruna membelalakkan matanya sembari menatap wajah dokter Bima. dokter yang selama ini terkenal baik itu seketika tampak marah, ia bahkan langsung mencengkeram rahang Aruna dengan sorot mata yang tajam. “Lancang,” kata dokter Bima berbicara dengan nada penuh penekanan."Apakah ada perubahan yang dirasakan?" tanya dokter Sony. Saat ini Bima dan Aruna kembali melakukan konsultasi dan pemeriksaan. Sudah menjadi komitmen Bima bahwa ia akan melakukan pengobatan secara rutin dan Aruna tetap mendampingi suaminya. "Rasanya belum ada sama sekali." "Sudah melakukan jelqing?" Kali ini Aruna menganggukkan kepalanya, "Ya, sudah. Sudah saya lakukan." "Kali ini coba Pak Bima untuk pemanasan. Biasanya saat melakukan pemanasan, saat mulai berhasrat itu alat vital pria akan mengeras dan tegak berdiri. Coba dulu." Bima dan Aruna saling tatap. Aruna walau tidak punya pengalaman sebelumnya, tapi karena belajar kedokteran, maka ia tahu bahwa yang dimaksud dokter Sony adalah melakukan pemanasan sebagai pasangan. "Loh, tidak apa-apa. Kalian kan sudah menikah." "Eh, iya, dok." Aru
Usai kepergian Mama Ranti dan Clara, acara makan malam menjadi jauh lebih tenang. Walau saat ada orang lain yang memperhatikan lehernya, membuat Aruna malu. Seumur hidup baru kali ini ada tanda merah di lehernya. Bima yang duduk di hadapan Aruna juga diam-diam kerap melihat hasil lukisan bibirnya di leher Aruna itu. Kalau dipikir juga cukup menggelikan, tapi ternyata itu berhasil membuat mamanya dan Clara pergi. "Makan yang banyak, Na," kata Bima. "Hm, secukupnya saja, Mas." Bima lalu menganggukkan kepalanya, di tengah-tengah acara makan malam sepupu Bima yang baru bertunangan berdansa bersama. Aruna ikut tersenyum karena pasangan yang memulai dengan cinta rasanya pasti hati berbunga-bunga. Berbeda dengan pasangan yang menikah karena melunasi utang. Lagu-lagu cinta mengalun seolah menjadi harmonisasi yang indah. Sesekali deburan
"Mama heran karena kamu berani datang di acara keluarga besar kami. Lihatlah, siapa kamu! Jelas, kamu tidak sebanding dengan keluarga besar kami." Mama Ranti kembali mencibir Aruna. Ia menunjukkan bahwa Aruna benar-benar berbeda kelas. "Baju seperti itu. Tidak terkesan Luxury sama sekali." "Ma, jangan melihat orang dari penampilannya." Bima menghela napas kalau tetap di sini sudah pasti Aruna akan selalu menjadi cibiran. Bima kemudian berdiri. Lebih baik mereka kembali masuk ke dalam kamar. "Mau ke mana, Bim?" tanya Clara. "Tempat yang indah. Sangat cocok untuk pasangan suami istri." Bima kemudian menatap istrinya, "Sayang, aku mau nambah lagi yah?" Aruna tidak paham maksudnya, tapi ia hanya tersipu dengan rona merah di wajahnya. Bim
Malam hari saat sudah berada di rumah, agaknya suasana hati Bima belum sepenuhnya membaik. Ia seperti berkaca sendiri. Ada trauma yang kembali bangkit. Trauma itu menekan secara mental, dan Bima merasakannya sekarang. Aruna yang lelah usai dari rumah sakit pun meluangkan waktu untuk duduk bersama dengan Bima. Aruna masih ingat saat Bima berkata dulu bahwa mereka harus saling bercerita agar hubungannya semakin akrab. "Mas ...." Aruna memanggil perlahan. Bima tersenyum tipis. Setelahnya Aruna kembali berbicara kepada suaminya. "Bagaimana perasaanmu?" "Hm, i am fine." "Tidak terlihat baik," balas Aruna. Bima tampak menghela napas, Aruna kemudian berbicara lagi, "Dulu memang Mas tidak ada tempat untuk berbagi, tapi katamu dulu bahwa s
Tidak terasa sudah hampir dua bulan berlalu. Hubungan Aruna dan Bima sendiri tidak banyak mengalami peningkatan. Walau begitu keduanya tetap berusaha untuk bersikap profesional selama berada di dalam rumah sakit. Sampai sejauh ini juga hubungannya masih aman. B
Ada satu hal yang selama ini salah kaprah. Mereka yang mengidap DE dikira tidak bisa berhasrat. Padahal yang bermasalah adalah alat vitalnya secara fisik. Sementara hasrat atau libid* dipengaruhi oleh otak. Hasrat itu muncul karena respons otak. Bima memej
Tidak terasa sudah sepekan berlalu. Sepekan yang masih menjadi masa adaptasi untuk Aruna. Roda berputar, begitu juga dengan hidupnya. Kali ini, sepulang dari rumah sakit, Aruna izin kepada suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya karena masih ada barang yang tertinggal di rumah orang tuanya.
Lima Tahun yang Lalu ...."Ada benturan di pangkal pahanya Anda. Benturan yang sangat keras menghantam pe-nis. Oleh karena itu, Anda terkena Aterosklesis."Bima masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja mendapatkan operasi karena mengalami kecelakaan mobil. Tuhan masih ber












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.