LOGINKania Sekar Melati gadis berusia 20 tahun itu harus putus kuliah, dan terpaksa bekerja sebagai babysitter di sebuah rumah mewah milik duda kaya beranak satu yang bernama Bagas Adipati Wiratmodjo. Sedangkan Bagas adalah duda yang baru saja bercerai, dia seringkali merasakan kesepian. Seringkali kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi, di usianya yang menginjak angka 31 tahun membuat darahnya meronta-ronta karena kebutuhan yang tidak terpenuhi itu. Sampai suatu ketika Kania mendapati situasi yang mendesak. Ia meminta pertolongan pada Bagas dan dirinya pun di beri tawaran yang tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya. Akhirnya ia menerima tawaran itu, tawaran menjadi simpanan sang bos.
View More"Kan, biaya tagihan rumah sakit mamasmu sudah membengkak beberapa hari ini. Ini bibi bayarkan dulu pakai uang pinjaman dari bank keliling. Soalnya, bibi sudah nggak punya simpanan lagi."
Ucapan bibinya tempo hari masih terngiang jelas di kepala Kania. Sudah sebulan terakhir, kakaknya bolak-balik rumah sakit untuk menjalani pengobatan atas penyakit yang dideritanya. Meski sudah menggunakan asuransi pemerintah, tetap saja ada banyak biaya yang tidak sepenuhnya ditanggung sehingga tagihan rumah sakit terus bertambah. Kania bingung. Di satu sisi, ia baru saja dikeluarkan dari kampusnya karena keterbatasan biaya. Rasanya, hidup menekannya dari dua arah yang sama-sama menyakitkan. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, ia tidak pernah menyangka dunia akan mengacak-acak hidupnya serumit ini. Angga adalah satu-satunya saudara yang ia miliki. Selama ini mereka hanya hidup berdua, dan Kania tidak sanggup membayangkan kehilangan kakaknya. Apa pun yang terjadi, ia bertekad untuk memperjuangkan kesembuhan Angga. "Aku nggak boleh kasih tahu Mas Angga kalau aku udah di-DO dari kampus. Aku harus kerja buat bayar biaya pengobatan Mas Angga. Setidaknya, aku juga jadi punya alasan setiap kali keluar rumah, supaya Mas mikir kalau aku masih kuliah." Setelah berpikir cukup lama, Kania akhirnya memutuskan untuk menghubungi beberapa temannya demi mencari informasi pekerjaan. Namun, dari sekian banyak orang yang ia hubungi, hanya satu yang benar-benar bersedia membantunya—Linda, sahabat terdekatnya. Linda kemudian menawarkan untuk mengenalkannya pada sebuah penyalur tenaga kerja yang biasa mencari pekerja sebagai babysitter atau asisten rumah tangga. "Gaji jadi ART atau babysitter lumayan, kok. Biasanya paling sedikit sekitar dua setengah juta, tergantung majikannya. Kalau bosnya baik, kamu bahkan bisa dapat gaji sampai lima jutaan." Kania menimbang tawaran Linda dalam diam. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan bekerja sebagai ART atau pekerjaan sejenis itu. Meski berasal dari keluarga sederhana, Angga selalu berusaha memenuhi kebutuhannya. Bahkan, kakaknya itu rela bekerja keras demi membiayai kuliahnya. Namun, melihat keadaan yang kini begitu sulit, rasanya Kania tidak lagi punya kesempatan untuk memilih pekerjaan. Bayangan Angga yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis kembali memenuhi pikirannya. "Ingat, kan? Kamu mau Mas Angga sembuh, kan? Kamu harus punya banyak uang supaya dia nggak bolak-balik rumah sakit lagi. Paling nggak, kamu bisa bantu supaya utang keluarga kalian nggak terus menumpuk. Nanti kalau kamu sudah dapat pekerjaan yang lebih bagus, kamu bisa pelan-pelan melunasi utang kakakmu yang lain." Kania terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membalas pelan, "Tapi... ini aku langsung kerja, kan?" "Iya, langsung kerja. Kemarin aku lihat status W******p orangnya, mereka lagi butuh orang buat jadi babysitter." Kania terdiam cukup lama, tenggelam dalam pikirannya. "Jadi gimana? Kalau kamu mau, aku bisa antar kamu ke penyalurnya," ujar Linda. Pada akhirnya, Kania mengangguk menyetujui tawaran itu. "Iya, aku mau. Tapi sebelum ke sana, aku mau jenguk Mas Angga dulu. Kamu mau nungguin aku, kan?" Linda langsung mengangguk. "Iya. Aku temani kamu ke rumah sakit juga." "Makasih ya, Lin." Tanpa ragu, Kania langsung memeluk sahabatnya erat-erat. Dadanya dipenuhi rasa haru karena, di tengah semua kesulitan yang menimpanya, hanya Linda yang tetap setia berada di sisinya dan mau menolongnya. Siang itu, sebelum pergi ke penyalur kerja, Kania memutuskan untuk lebih dulu menjenguk Angga di rumah sakit. Ia mengobrol sebentar dengan kakaknya yang masih terbaring lemah di ranjang perawatan. "Kan, kamu kuliah yang benar, ya. Cuma kamu satu-satunya harapan yang Mas punya. Cuma kamu yang Mas punya. Mas sayang sama kamu." Kedua bola mata Angga terlihat berbinar. Banyak sekali hal yang dia pendam dan tidak sanggup ia ungkapkan. Kania mengangguk, meski jauh di dalam hatinya ia diliputi kecemasan karena harus menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya sudah dikeluarkan dari kampus. "Mas juga harus janji sama aku Mas harus sembuh." Angga mengangguk. Sebenarnya, ia sudah tidak banyak berharap pada hidupnya, tidak berharap lebih atas kesembuhannya mengingat segala kesusahan yang mereka hadapi. Namun, demi Kania, ia harus berpura-pura kuat dan baik-baik saja. Ia tidak ingin adiknya ikut terbebani memikirkan kondisinya. Terlebih lagi, mereka tidak punya cukup uang untuk biaya pengobatan. Angga juga tidak mau terus merepotkan bibinya maupun Kania yang masih berusia dua puluh tahun dan seharusnya masih memiliki masa depan panjang. "Iya, Mas pasti sembuh." Dengan penuh kasih sayang, Angga mengusap rambut Kania. Perlahan, Kania merasa sedikit tenang. Sikap hangat dan energi positif yang diberikan kakaknya berhasil meredakan kecemasan di dalam dirinya. "Kalau gitu, aku pamit dulu, Mas. Aku ada kelas sore." Kania segera berdiri. Padahal hari itu, ia sebenarnya akan pergi ke penyalur kerja untuk mencari pekerjaan. "Iya, Kan. Hati-hati, ya," ujar Angga. Bi Asih yang sejak tadi menjaga Angga di ruangan itu juga ikut menatap Kania. "Bi, aku titip Mas Angga, ya," ucap Kania pada perempuan itu. Bi Asih mengangguk penuh pengertian. "Iya, Kan. Bibi pasti jaga Masmu baik-baik." Setelah itu, Kania keluar dari ruangan untuk menemui Linda yang sudah menunggunya di area parkir. Ia tidak ingin membuat sahabatnya menunggu terlalu lama, sehingga langkahnya berubah sedikit terburu-buru. Sambil berjalan cepat setengah berlari, Kania membuka tumbler stainless berisi air hangat yang tadi ia bawa dari rumah. Namun, saat melewati persimpangan lorong rumah sakit, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang datang dari arah berlawanan. Tubuh Kania langsung terhuyung kaget, sementara air di dalam tumbler yang dipegangnya tumpah begitu saja. Cairan hangat itu mengenai seorang pria yang tengah berdiri tak jauh darinya sambil menempelkan ponsel di telinga. Pria itu sontak terkejut. Ia langsung menjauhkan ponselnya sambil mendesis kesal. "Sial... panas!" Suaranya terdengar penuh tekanan ketika cairan hangat itu mengenai bagian bawah pusarnya. Cairan hangat tadi merembes ke dalam celananya. Seketika, tatapan tajam pria tersebut mengarah pada Kania. Sementara itu, Kania hanya bisa membeku di tempat. Refleks, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat menatap pria di hadapannya. Namun, yang membuatnya semakin panik adalah air hangat tadi rupanya tumpah tepat mengenai bagian pribadi pria itu.Kania tidak menyangka jika dirinya akan menjalin hubungan dengan pria yang masih berstatus suami orang ini. Bagaimana kelanjutan hidupnya? Ia benar-benar merasa cemas, dan takut jika dirinya akan di kasuskan dalam hubungan mereka. Sebenarnya jika Bagas akan rujuk dengan Frisca itu bukan masalah untuknya. Hanya saja ia khawatir kalau suatu saat perbuatannya itu akan di ketahui dan berujung membawa masalah besar untuknya. Tentu ia tidak mau perbuatannya itu di ketahui orang-orang. Apalagi kakaknya? Ia tidak mau Angga tahu. Ia tidak mau Angga syok dan jatuh sakit karenanya. Seusai sarapan selesai, Kania ikut berjibaku bersama para pelayan membereskan meja makan. Ia bisa melakukan ini tentu karena Naren bersama ibunya. "Nanti setelah ini kamu pindah semua barang-barangmu ke kamar pelayan. Kamar Naren akan di pakai Frisca dan Naren untuk bermain,” ucap nyonya Helena yang kini mendekati Kania. Kania mengangguk. "Baik, Nyonya." Setelah itu ia segera naik ke lantai atas ke kam
"Maaf, maafkan saya, Nyonya, Tuan." Kania kikuk, dia lalu berjongkok untuk membersihkan tumpahan susu itu yang mengotori lantai. Sambil menggigit bibirnya ia mengelap noda itu dengan tisu. Pandangan Bagas tertuju pada Kania sebentar. Bisa-bisanya ia sampai tidak memperhatikan Kania di ruangan ini. Akhirnya masalah pribadi yang seharusnya hanya di ketahui oleh mereka berdua bisa di ketahui oleh Kania. "Siapa yang menyuruh kamu ada disini? Keluar!" perintah Bagas pada Kania. Nadanya terdengar seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Padahal sebelum ini Bagas baru saja menggodanya. Tapi mau tidak mau, Kania memang harus segera pergi. Ia sadar akan posisinya, ia tidak boleh berharap di perlakukan baik setiap saat oleh Bagas. "Maaf, tuan. Saya tadi sedang mau siapkan susu." "Biar Frisca yang siapkan susunya." Kania mengangguk patuh. "Baik, kalau begitu saya permisi, tuan." Gadis itu segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Sementara Bagas kembali menata
"Aku ... aku lagi masak nyonya." Kania segera mengambil piring berisi nasi gorengnya dan menaruh ke atas meja makan. "Maaf nyonya aku izin makan sebentar." Karena ia pikir Naren sedang bersama ibunya jadi ia punya waktu untuk sarapan. Nyonya besar seakan tak percaya dia memicingkan matanya dan memindai seisi dapur dengan tatapannya, seolah ingin tahu apa yang sedang di sembunyikan Kania. "Tadi saya dengar ada suara orang lain disini, suara pria. Kamu gak lagi bohongi saya kan?" "Nggak, Nyonya. Aku gak bohong. Tadi aku emang masak sambil telponan sama kakakku. Mungkin itu yang nyonya kira suara pria." Nyonya Helena terus melirik kesana kemari tak percaya dengan yang Kania jelaskan, ia masih percaya jika ada orang lain disini. Sekarang tatapannya ke arah bawah meja itu. Nyonya Helena mendenguskan napasnya karena tak mendapatkan apa-apa dari arah kabinet yang tertutup tirai itu. "Setelah selesai segera balik ke atas siapkan perlengkapan Naren sebelum Frisca bangun. Jangan sa
"Kenapa diem hem? Katanya mau kerja, ayo kita ke kamar," imbuh Bagas. Kania langsung memasukan nasi goreng yang baru matang ke dalam piring. Kemudian memutar tubuhnya menatap Bagas. Tangan pria itu masih memeluk pinggang Kania. "Mas. Apa kamu tahu kalau di kamar kamu saat ini ada mbak Frisca?" terang Kania. Pria itu seketika melepas pelukannya di pinggang Kania lantaran agak kaget. "Nggak mungkin lah." "Mas lihat aja sendiri ke atas kalau gak percaya." Bagas terdiam, tapi Kania tidak mungkin berbohong. "Kapan dia kesini?" tanya Bagas akhirnya. "Tadi malem, waktu mas pergi." Kania menjawab dengan tenang. "Yaudah, kalau begitu disini saja." Kania tidak segera merespon ia memilih menaruh nasi goreng yang baru selesai dia buat itu ke dalam piring. Wangi nasi goreng itu semerbak di dalam ruangan ini. "Kamu jam segini udah sarapan?" tanya Bagas. Bagas tentu saja tahu jika Kania tidak makan sejak kemarin sore, karena moodnya yang tidak bagus setelah mendapat perlakuan tak me
Bagas terdiam, pertanyaannya tadi terjawab. Rupanya yang membuat Kania bersedih adalah ketika perempuan itu tahu statusnya dengan Frsica masih belum resmi bercerai."Ga penting aku tahu dari mana," ujar Kania ketus."Jawab pertanyaan saya Kania?" Bagas mencengkram rahang Kania dan menarik wajahnya
Tak lama Kania muncul dengan wajah yang terlihat segar. Kaus milik Bagas yang ia kenakan terlihat kedodoran, menutup sampai ke lututnya."Tuan," sapa Kania.Bagas berbalik. Seolah tahu apa yang sedang Kania nantikan saat ini.Pria itu berjalan memasuki kamar masih dengan menggendong Naren. Kemudian
Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matan
Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews