Share

Bab 59

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-01-26 20:31:23

"Berbaliklah," ucap Ibra tiba-tiba. Aya mendongak menatap wajah tampan di bawah sinar lampu putih di dalam kamar pas tersebut.

"Cepat," tekannya.

"Saya bisa sendiri," desis Aya, mencoba menutupi punggungnya yang terekspos dengan tangannya.

"Diamlah. Kamu hanya akan merusak gaun mahal ini," ucap Ibra dingin.

Ibra melangkah semakin dekat. Aya bisa merasakan embusan napas pria itu di tengkuknya. Aya mengalah. Lalu ia dapat merasakan jemari Ibra yang panjang dan hangat mulai menyentuh kulit punggu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 188

    Di kantor polisi, tepatnya di ruang interogasi. Sementara kehangatan menyelimuti kamar Putra, atmosfer di kantor polisi justru sedingin es. Ibra berdiri di balik kaca satu arah, menatap dua sosok yang telah menghancurkan ketenangannya, yaitu Timo dan Beatrice.Samuel berdiri di samping Ibra, memegang beberapa berkas tuntutan dan bukti kejahatan yang dilakukan kedua orang itu."Kita punya cukup bukti untuk menjerat mereka berdua, Pak. Terutama Timo, dia tertangkap tangan dengan bukti digitalnya. Dan ini berkat ketelitian Bu Aya," papar Samuel.Rahang Ibra mengeras saat menatap kedua orang yang duduk berdampingan di hadapannya. Mereka pun menyadari kemunculan Ibra dan Samuel.Ibra melangkah masuk ke ruang interogasi pertama. Di sana, Timo duduk dengan bahu merosot dan tangan terborgol. Begitu melihat Ibra, pria yang dulunya adalah orang kepercayaan di tim IT itu langsung bersimpuh di lantai, memeluk kedua kakinya."Pak Ibra... saya mohon maaf, Pak! Saya khilaf!" ra

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 187

    Mentari pagi yang biasanya disambut dengan kehangatan aktivitas persiapan sekolah, kali ini terasa hening di kediaman Ibra. Cahaya yang menyusup lewat celah gorden kamar Putra tidak mampu mengusir sisa-sisa trauma yang menyelimuti bocah lima tahun itu.Putra masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Meski ruangan itu luas dan terang, di matanya, kegelapan ruangan dan lemari sempit tempatnya disekap kemarin masih membayang. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali merasakan hawa dingin dan sesak yang mencekik napasnya dan juga suara amarah wanita yang menjadikannya sandera."Meong!" Lili berseru pelan. Mengeluarkan tubuhnya dengan lentur di sebelah Putra. Seolah tahu akan keadaan teman kecilnya itu, Lili duduk dengan bulu putih yang berantakan, lalu menyandarkan kedua cakar depannya di dada Putra."Lili...." cicit Putra pelan."Meong...." Lili membalas dengan ngeongan lembut. Kucing kecil itu pun semakin mendekat dan kini berpindah duduk tepat di sebelah bahu Putra. Kepalanya pun m

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 186

    Ibra mengangguk. "Ya. Dia berhasil mengecoh kita."Aya mengepalkan kedua tangannya. "Mas, sebaiknya kita bicara di luar." Wanita itu menoleh ke arah anaknya dan mengusap pipi Putra dengan lembut."Sayang, kamu istirahat, ya? Biar ditemani Lili. Bunda, Ayah, sama Nenek mau bicara," ucap Aya lembut dan penuh kasih sayang."Iya, Bunda." Putra mengangguk patuh. Bocah itu memeluk ibu lalu neneknya terlebih dahulu. Lalu ia menoleh ke arah ayahnya."Ayah, makasih," ujarnya sebelum memeluk sang ayah juga."Sama-sama, Jagoan. Ayah tidak akan biarkan kamu terluka," ucap Ibra. Pria itu menatap sang istri."Kalian keluarlah dulu. Aku mau obati tangan Putra," ujarnya."Apa?!" Aya memekik. Wanita itu menarik tangan mungil anaknya dan melihat ruam merah di pergelangan Putra."Astaga... Biar Bunda yang obati.""Tidak, biar Nenek saja!"Dan setelah itu, Aya dan Dewi mengobati tangan Putra bersama. Mereka bertiga pun segera keluar dan membiarkan bocah itu tidur

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 185

    Malam itu, mobil Maybach hitam metalik milik Ibra terus membelah jalanan. Meninggalkan area pantai kembali ke pusat kota yang cukup jauh. Hingga pukul sembilan malam, mobil Ibra tiba di depan rumahnya.Lampu teras berpijar kuning temaram, menerangi dua sosok wanita yang wajahnya telah luruh oleh air mata dan kecemasan. Aya berdiri di ambang pintu, jemarinya saling meremas.Di sampingnya, Dewi tak henti-hentinya berdoa dengan bibir gemetar. Sudah lima jam sejak Putra hilang tanpa jejak dari sekolahnya. Lima jam yang terasa seperti lima abad di neraka karena tak bertemu dengan cucunya.Lalu, sepasang lampu sorot mobil membelah kegelapan. Masuk ke area rumah Ibra, melewati pintu gerbang uang tinggi.Mobil Maybach hitam itu berhenti dengan decitan pelan tepat di depan teras. Jantung Aya seakan berhenti berdetak saat pintu belakang terbuka. Ibra keluar dari sana. Wajahnya pucat, bajunya kusut, rambutnya berantakan, tapi matanya memancarkan sesuatu yang membuat napas Aya kembali tercekat."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 184

    Dinding batu yang lembap itu seolah menghimpit paru-paru Beatrice. Napasnya tersengal, meninggalkan uap tipis di udara lorong bawah tanah yang dingin dan berbau tanah. Di belakangnya, gema langkah sepatu bot yang berat menghantam lantai beton terdengar semakin jelas.Itu mereka. Dua anak buah Ibra."Dia tidak mungkin jauh! Cari di setiap tikungan!" suara parau itu menggelegar, memantul di dinding lorong yang sempit, membuat bulu kuduk Beatrice meremang.'Sialan. Mereka berhasil menemukan tempat ini,' umpat Beatrice dalam hati.Wanita itu terus berlari tanpa alas kaki. Dirinya yang biasanya memikirkan penampilan yang sempurna, kini tidak peduli. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal, yaitu keluar dari tempat ini dan menjauh dari Ibra sejauh mungkin.Lampu-lampu redup yang berkedip di langit-langit lorong hanya memberikan penerangan minimal, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan. Setiap kali ia melewati persimpangan, ia memilih arah secara acak, berharap instingnya leb

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 183

    "Sepertinya saat Putra tadi dimasukkan ke lemari, Putra denger suara pintu yang dibuka, Yah," jawab Putra sembari menatap ke arah lantai dua.Santo dan Samuel ikut menoleh ke belakang. Mereka pun bertatapan dan mengangguk seolah paham akan situasi dan segera naik kembali ke lantai dua.Ibra pun menatap anaknya. "Kamu yakin?" tanya pria itu."Iya, Ayah. Tadi Putra denger jelas Tante jahat itu buka pintu di deket lemari," jawab Putra jujur dengan tatapan polosnya."Tuan! Ternyata memang ada pintu rahasia di sana," lapor Santo yang tiba-tiba kembali muncul.Ibra segera kembali. Ingin tahu di mana penculik anaknya berada. Saat ia kembali memasuki ruang kerja dan masuk ke dalam ruangan sempit itu, Samuel sudah berdiri di sana. Ia telah berhasil membuka sebuah pintu rahasia yang ia temukan tepat di samping lemari kayu. Kini mereka menemukan lorong sempit yang tadi dilalui Beatrice."Kejar dia!" perintah Ibra."Baik, Pak," sahut Samuel. Pria itu memberikan isyar

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 72

    Aya tertegun. Lidahnya mendadak kelu, seolah terkunci oleh ribuan beban yang menghimpit dadanya. Pertanyaan Gina bukan sekadar basa-basi. Itu adalah bentuk kepedulian seorang sahabat tentang kebahagiaannya."A-aku... aku hanya ingin yang terbaik untuk Putra, Gina," bisik Aya, suaranya bergetar.Ia

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 70

    'Sial... Kenapa aku begini?' gumam Ibra dalam hati ketika pintu kamar Putra baru saja tertutup rapat.Langkah Ibra yang tegak kembali terdengar pelan. Pria itu kembali naik ke lantai dua di mana kamar utama berada. Ada perasaan mengganjal yang entah mengapa mengganggu.Saat melihat Aya menangis den

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 69

    Ibra masih terdiam. Ia menerima cacian ibunya tanpa membela diri. Untuk pertama kalinya, ego sang Presdir yang arogan itu terusik oleh kenyataan pahit yang ia paparkan sendiri."Aku tidak tahu dia hamil, Mah," gumam Ibra pelan."Itu bukan alasan!" potong Dewi. "Seorang pria sejati akan memastikan w

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 68

    Suasana di dalam ruang VIP itu mendadak hening, seolah oksigen tersedot keluar. Pengakuan Aya yang meluncur begitu saja membuat jantungnya sendiri berdegup kencang. Ia meremas kembali kedua lututnya, menunduk dalam-dalam hingga helai rambutnya menutupi wajahnya yang mulai memerah."Maaf, Mah.

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status