MasukLily hampir berlari menuruni tangga, wajahnya cerah, matanya penuh antusias yang tidak bisa disembunyikan. Theo berjalan di belakangnya sambil membawa koper kecil, sementara Sebastian sudah berdiri di ruang bawah, menunggu.“Ayah—” Lily berhenti di anak tangga terakhir, lalu berlari menghampirinya. “Kita mau ke mana?”Sebastian sedikit menunduk, menatapnya. Untuk sesaat, ekspresinya melunak—tipis, tapi nyata.“Kau mau ikut aku ke luar negeri?” tanyanya tenang. “Tinggal bersamaku di sana.”Lily mengedip, lalu matanya langsung berbinar lebih terang dari sebelumnya.“Serius?” suaranya hampir melonjak.Sebastian mengangguk pelan. “Aku akan membawamu keliling dunia nanti.”Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Lily—itu seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata.“Iya! Mau!” jawabnya cepat, tanpa ragu, hampir melompat kecil di tempatnya.Di belakang mereka, Amara berdiri diam. Wajahnya perlahan kehilangan warna.Ia menatap Lily—anaknya sendiri—yang berdiri begitu dekat dengan Sebastian, dengan e
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya.Tidak ada yang benar-benar berbicara di dalam mobil. Lily sempat bercerita pelan tentang hal-hal kecil yang ia lihat tadi, tapi perlahan suaranya meredup, digantikan keheningan yang menggantung di antara orang-orang dewasa di sekitarnya.Begitu mobil berhenti di depan rumah, Lily langsung turun lebih dulu, menggandeng tangan Amara dengan langkah ringan, seolah suasana berat tadi tidak terlalu memengaruhinya.Amara membiarkan dirinya ditarik masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya terhenti begitu mereka sampai di kamar Lily.Beberapa pelayan berada di dalam.Koper kecil terbuka di atas tempat tidur.Pakaian-pakaian Lily sudah dilipat rapi dan dimasukkan satu per satu ke dalamnya.Amara mengernyit.“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya, nadanya langsung berubah waspada.Salah satu pelayan menoleh, sedikit terkejut melihat mereka sudah kembali. Ia segera menunduk hormat sebelum menjawab, “Kami hanya menjalankan perintah, Nona.”“Perintah s
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Lampu kamar diredupkan. Tirai ditutup rapat. Hanya cahaya lembut dari lampu tidur yang menyisakan bayangan hangat di dinding.Amara duduk di sisi ranjang, menepuk pelan selimut yang menyelimuti tubuh kecil Lily.Gadis itu belum tertidur.Matanya masih terbuka, menatap langit-langit, seolah ada sesuatu yang terus berputar di kepalanya.“Bu ….” Suara itu pelan.Amara menoleh. “Hm?”Lily memiringkan kepalanya sedikit, lalu menatap ibunya. “Kenapa ibu tidak menikah saja dengan Paman Sebastian?”Tangan Amara yang semula bergerak pelan … berhenti. Ia tidak langsung menjawab.“Kenapa tanya begitu?” Suaranya dibuat setenang mungkin.Lily mengangkat bahu kecilnya. “Karena Paman Sebastian orang baik.”Amara menatapnya.Lily melanjutkan dengan polos, tanpa beban. “Dia melindungi kita. Dia tidak seperti ayah Noah.”Nama itu membuat Amara terdiam sejenak.“Dan ….” Lily tersenyum kecil, matanya berbinar, “Dia juga sayang sama aku.”Jantung Amara terasa se
Rumah itu terang.Lampu-lampu menyala di setiap sudut, memantulkan kilap dingin pada lantai marmer yang terlalu bersih. Beberapa orang berpakaian hitam masih berdiri dalam kelompok kecil, berbicara dengan suara rendah, sekadar formalitas sebelum akhirnya pamit satu per satu.Tidak ada tangisan.Tidak ada keributan.Hanya bisikan—dan tatapan yang sesekali mengarah pada satu sosok yang berdiri terpisah dari semuanya.Sebastian.Ia berdiri di ruang tamu, punggungnya tegak, wajahnya datar. Satu per satu orang datang, menyampaikan belasungkawa, lalu pergi. Ia mengangguk secukupnya, menjawab seperlunya.Tidak lebih.Tidak kurang.Seolah semua itu tidak benar-benar menyentuhnya.Padahal pikirannya … tidak pernah benar-benar diam.Pandangannya sempat beralih ke arah ruang makan—tempat Liam jatuh beberapa jam lalu.Semuanya sudah dibersihkan. Terlalu rapi. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.Sebastian menarik napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya.Di salah satu sisi ruangan, Amara berdir
Sebastian tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa detik, seperti menimbang sesuatu di kepalanya.“Aku tahu ada yang tidak beres di keluarga Bawono,” ucapnya akhirnya. “Kalau aku mau, aku sudah bisa mencari tahu semuanya. Tapi aku tidak melakukannya. Sejak awal … aku memang tidak ingin terlibat.”Ia mengangkat pandangan. “Aku tidak bisa.”Nada suaranya pelan, tapi final.“Sekarang aku punya Lily. Ditambah ibunya … aku tidak bisa menarik diriku terlalu jauh. Aku tidak ingin mereka ikut terkena imbasnya.”“Kau tidak mengerti, Sebastian.” Liam condong ke depan, suaranya lebih mendesak. “Raharjo itu berbahaya. Dia bisa melakukan apa saja. Bahkan mencoba melenyapkanmu waktu itu.”“Justru karena aku tahu,” balas Sebastian tenang, “aku tidak mau ikut campur.” Ia menghela napas pendek. “Aku punya anak. Masih kecil. Aku hanya ingin memberinya hidup yang nyaman.”Liam terdiam.Bahunya perlahan turun, lalu ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya mengusap wajahnya lagi, lebih lam
Sebastian berdiri di depan cermin.Tatapannya menelusuri bayangan dirinya sendiri—wajah yang tetap tajam, garis rahang tegas, postur yang masih sempurna. Tidak ada yang berubah.Tidak ada yang berkurang.Jadi apa yang salah?Pintu di belakangnya terbuka pelan.Theo masuk tanpa banyak suara, seperti biasa. Pandangannya langsung jatuh pada Sebastian, alisnya terangkat tipis saat mengamati apa yang sedang dilakukan atasannya.“Jarang melihat Anda berdiri selama ini hanya untuk bercermin,” ucapnya santai.Sebastian tidak langsung menoleh. Tatapannya masih terpaku pada bayangannya sendiri.“Apa menurutmu penampilanku sudah menurun?”Alis Theo terangkat sedikit lebih tinggi. “Sejak kapan Anda mulai mempertanyakan hal seperti itu?”Sebastian berdecak pelan. “Aku bahkan jauh lebih baik dari mantan suaminya. Jauh di atas segalanya.”Ia berbalik, merentangkan tangan seolah menampilkan dirinya.“Katakan. Apa yang kurang dariku?”Theo mengamatinya sekilas, lalu menjawab tanpa beban, “Tidak ada.”







