LOGIN“Sumpah, itu bukan anakku.” Aku tidak pernah menginginkan istriku melahirkan seorang anak. Bukan karena aku tidak mencintainya—melainkan karena aku mandul. Aku menyembunyikan ketidaksuburanku selama bertahun-tahun. Lalu suatu malam, istriku tersenyum dan berkata bahwa dia hamil. Pengkhianat! Aku mengusirnya malam itu juga. Namun setelah dia pergi, aku menyadari satu hal—aku tidak bisa hidup tanpanya. Demi memilikinya kembali, aku berbohong. Aku memaksanya pulang. Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima. Anak itu.
View MoreKabar mengenai Sebastian yang ternyata sudah memiliki anak membakar kota itu dalam sekejap.Ayahnya—Liam Anthony, bahkan langsung membanting ponselnya dengan marah.Sore itu juga dia menyuruh Asistennya untuk memanggil Sebastian pulang.Arah pembicaraan mereka jelas.Sedangkan Sebastian, sebelum dia mendapat telepon, dia sendiri sudah mengendarai mobilnya menuju rumah Liam.Ia tahu ini akan terjadi.Sebastian menarik napas panjang saat mobilnya berhenti di halaman rumah Liam Anthony. Ia sudah memperkirakan ledakan kemarahan ayahnya, jadi setiap langkah yang ia ambil hanya tenang dan tenang.Begitu pintu dibuka, Liam sudah berdiri di ruang tamu, tatapan tajam menatap Sebastian dengan kemarahan yang hampir terasa membakar udara.“Sebastian!” Suaranya meledak begitu ia melihat putranya melangkah masuk. “Apa yang kau lakukan?!”Sebastian menunduk sebentar, kemudian mengangkat wajahnya dengan tenang, namun matanya tetap memancarkan tekad. Ia tahu apa yang ia lakukan.“Sudah kuduga ayah aka
Mobil itu berhenti halus di depan rumah.Mesinnya mati, tapi suasana di dalamnya tidak langsung berubah. Lily masih bercerita, suaranya ringan, penuh semangat, seolah perjalanan pulang ini tidak pernah dibayangi apa pun.Sebastian membiarkannya menyelesaikan kalimatnya sebelum membuka pintu.“Ayo turun.”Lily langsung bergerak, melompat kecil keluar mobil. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju pintu utama seperti biasa.Pintu sudah terbuka.Amara berdiri di sana.Ia tidak bergerak sejak mereka tiba. Tangannya tergenggam di depan tubuhnya, tidak terlalu erat, tapi cukup untuk menunjukkan ketegangan yang belum sepenuhnya hilang. Tatapannya langsung jatuh pada Lily terlebih dulu.“Ibu!”Lily berlari memeluknya tanpa ragu.Amara membalas pelukan itu refleks. Tangannya mengusap punggung kecil itu pelan, napasnya sedikit tertahan sebelum akhirnya keluar perlahan.“Kamu sudah pulang ….” Suaranya lembut, tapi ada sesuatu yang tertahan di sana.“Sekolahnya gimana?” tanyanya, berusaha terdeng
Sebastian tidak kembali ke meja itu lagi.Begitu keluar dari kafe, langkahnya langsung terarah. Tidak terburu-buru, tapi jelas tidak memberi ruang untuk hal lain selain satu tujuan—menjemput Lily.Mobilnya meluncur tenang di jalan, seolah tidak ada apa pun yang berubah. Padahal di luar sana, semuanya sudah mulai bergerak terlalu cepat.Saat ia berbelok memasuki jalan menuju sekolah, perubahan itu langsung terasa.Beberapa mobil terparkir tidak biasa di sisi jalan. Bukan mobil orang tua murid. Terlalu banyak. Terlalu rapat. Dan … terlalu siap.Sebastian memperlambat laju mobilnya.Tatapannya menyapu area gerbang.Sekelompok orang berdiri di luar pagar. Kamera tergantung di leher mereka, beberapa sudah terangkat, seolah menunggu sesuatu sejak lama. Mikrofon terlihat di tangan beberapa orang lain. Suasana tidak lagi seperti jam pulang sekolah biasa.Mereka menunggu.Dan saat mobil hitam itu muncul di ujung jalan—keramaian itu pecah.Beberapa kepala langsung menoleh bersamaan. Seperti ins
Nana menarik napas sebentar, bertahan beberapa detik, seolah memberi ruang bagi semua yang baru saja ia akui untuk benar-benar meresap. Lalu perlahan, ia mengangkat pandangannya lagi.“Aku pernah bilang ….” Suaranya lebih pelan sekarang, tapi jauh lebih terarah. “Aku menikahimu karena aku butuh kekuasaanmu.”“Aku baru tahu alasan ibuku membiusmu bukan hanya soal obsesinya. Selama aku berada di sisimu, tidak ada yang berani menyentuhku.”Matanya sedikit meredup, tapi suaranya tetap dijaga agar tidak goyah.“Kalau aku kehilangan itu… aku tidak punya apa-apa lagi untuk melindungi diriku sendiri.”Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada memohon, tapi justru karena itulah terasa lebih berat.Nana menegakkan punggungnya sedikit, seolah menguatkan diri untuk mengatakan hal berikutnya.“Jadi … aku ingin meminta sesuatu.”“Bisakah kita mempertahankan pernikahan ini?”Hening kembali jatuh.Bukan karena tidak ada jawaban—tapi karena permintaan itu terlalu jelas untuk disalahartikan.Nana tidak m
Makan malam di rumah itu kini terasa lebih lengkap.Noah duduk di sisi meja yang sama seperti biasanya. Lily di tengah, Amara di seberangnya. Pemandangan itu sudah menjadi rutinitas.Sarapan bersama, makan siang jika libur kerja, dan makan malam hampir setiap hari.Seolah-olah mereka memang keluarg
Sebastian berdiri beberapa detik setelah mata mereka bertemu. Rokok di tangannya belum dinyalakan. Ia menatap Amara yang duduk di tepi kolam seperti pemilik tunggal udara malam itu. Bagus. Bagus sekali. Satu-satunya tempat yang bisa ia pakai untuk bernapas tanpa harus menunduk, sekarang d
Pintu kamar Lily tertutup pelan. Lily berjalan masuk dengan langkah yang jauh berbeda dari biasanya. Amara yang sedang merapikan buku-buku di meja belajar langsung menoleh. “Kenapa?” Lily hanya berdiri sebentar, masih memeluk kertas gambarnya. “Ayah lagi capek,” katanya pelan. Amara ber
Jam tepat menunjukkan pukul tiga ketika mobil berhenti di depan rumah.Biasanya Lily menunggu sopir membukakan pintu, tapi hari ini tidak.Begitu mobil melambat, ia sudah membuka pintu sendiri dan meloncat turun dengan tas masih tergantung di bahunya.“Pamaaaan!” Suaranya nyaring, memenuhi halaman.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews