Anak Siapa di Rahim Istriku?

Anak Siapa di Rahim Istriku?

last updateLast Updated : 2026-02-03
By:  Fachra. LUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
13views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Sumpah, itu bukan anakku.” Aku tidak pernah menginginkan istriku melahirkan seorang anak. Bukan karena aku tidak mencintainya—melainkan karena aku mandul. Aku menyembunyikan ketidaksuburanku selama bertahun-tahun. Lalu suatu malam, istriku tersenyum dan berkata bahwa dia hamil. Pengkhianat! Aku mengusirnya malam itu juga. Namun setelah dia pergi, aku menyadari satu hal—aku tidak bisa hidup tanpanya. Demi memilikinya kembali, aku berbohong. Aku memaksanya pulang. Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima. Anak itu.

View More

Chapter 1

Bab 1 Kau Mengkhianatiku, Amara?

Amara duduk di bangku rumah sakit, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Udara siang ini panas, tapi telapak tangannya justru dingin. Sudah sepuluh menit sejak suster mengatakan bahwa hasilnya akan segera keluar. Sepuluh menit yang terasa seperti seumur hidup.

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi tetap saja, ada ketakutan yang menggerogoti pikirannya. Jika hasilnya negative … jika semua ini hanya harapan kosong lagi … maka dia harus pulang dan kembali menghadapi tatapan Rosaline yang selalu sarat dengan makna.

"Kamu harus lebih sering periksa ke dokter, jangan sampai ada masalah sama rahimmu," kata ibu mertuanya beberapa bulan lalu, sambil tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. Itu bukan saran. Itu penghakiman.

“Sudah tiga tahun menikah dengan Noah dan belum punya anak? Kau yakin kau tidak bermasalah?” Iparnya—Selvi juga mengatakan demikian.

Amara menutup matanya, meredam suara-suara itu. Hari ini dia berharap tidak ada lagi kecewa seperti yang selalu terulang setiap dia melakukan tes kehamilan.

Dia sudah terlambat tiga minggu, p4yudaranya lebih s3nsitif dari biasanya, dan ada rasa mual di pagi hari. Mungkin kah kali ini benar?

Suara pintu terbuka. Dokter keluar dengan map di tangannya, ekspresinya tenang. Jantung Amara berdegup kencang saat dia bangkit berdiri.

"Selamat, Bu Amara."

Amara mengerjap.

"Kamu hamil," lanjut dokter itu, dengan nada pasti.

Seketika dunia terasa berhenti berputar.

Hamil.

Tangan Amara terangkat ke perutnya, seakan belum benar-benar percaya. Matanya panas, dadanya terasa penuh. Ada sesuatu yang mengembang di dalam hatinya—harapan yang selama ini hampir ia kubur dalam-dalam.

Akhirnya ….

Akhirnya, tidak akan ada lagi bisikan yang menyuruhnya 'bersabar'. Tidak ada lagi tatapan dingin dari Rosaline di meja makan, seakan kehadirannya adalah beban yang harus ditanggung keluarga ini.

Dan Noah ….

Amara tersenyum kecil. Malam ini, dia akan memberitahu Noah. Dengan cara yang istimewa, dengan kejutan yang sudah ia impikan sejak lama.

Anak mereka.

Amara mer3mas kertas hasil tes itu dalam genggamannya, memeluknya di dada. Kali ini, dia tidak akan pulang dengan tangan kosong.

19.00 Noah berjanji akan pulang tepat waktu malam ini.

Amara berdiri di depan meja makan, merapikan lilin yang sudah dinyalakan. Cahaya temaram dari lampu gantung membuat ruangan tampak lebih hangat, lebih intim. Makanan favorit Noah sudah tertata rapi, gelas-gelas kristal berisi anggur merah terpantul cahaya lilin.

Di tengah meja, di samping piring Noah, ada amplop putih berisi hasil tes laboratorium tadi.

Dadanya masih dipenuhi debaran yang sama seperti siang tadi. Kebahagiaan yang nyaris tak tertahankan. Noah akan sangat senang. Ia bisa membayangkan ekspresi terkejutnya, bagaimana laki-laki itu akan bangkit dari kursinya dan memeluknya erat. Bagaimana tangannya akan meraba perut Amara dengan hati-hati, penuh rasa ingin tahu.

Mereka akan memiliki anak.

Anak yang selama ini mereka nanti-nantikan.

Suara mesin mobil berhenti di halaman. Amara buru-buru melangkah ke depan pintu, jantungnya makin berdegup cepat. Begitu pintu terbuka, Noah masuk dengan jas tersampir di lengannya, raut wajah lelah, tetapi langsung berubah saat melihat meja makan yang tertata indah.

"Wow." Dia terkekeh kecil, menatap Amara. "Ada acara apa ini?"

Amara tersenyum, menuntunnya ke meja. "Duduk, aku punya sesuatu untukmu."

Noah mengangkat alis, tapi menurut. Dia menarik kursinya, melirik ke sekeliling. "Romantis sekali. Aku suka."

Amara duduk di hadapannya, menatapnya penuh harap. Ia mendorong amplop putih itu ke depan Noah.

"Ada sesuatu yang lebih spesial," bisiknya.

Noah menatapnya sejenak, lalu meraih amplop itu. Dahinya mengernyit ketika membaca tulisan di atasnya. Perlahan, dia membuka isinya, mengeluarkan lembaran hasil lab, membacanya dalam diam.

Detik berikutnya, sesuatu yang tak pernah Amara bayangkan terjadi.

Hasil lab itu terlepas dari tangan Noah, jatuh ke lantai.

Amara melihat bagaimana ekspresi suaminya berubah dalam sekejap. Mata yang tadi penuh kelembutan kini dipenuhi amarah yang meledak-ledak. Rahangnya mengeras, dadanya naik-turun seiring napasnya yang tiba-tiba memburu.

Dan kemudian, suara Noah menggelegar, membelah keheningan rumah mereka.

"Kau mengkhianatiku, Amara?”

Dunia Amara seakan berhenti berputar. "Apa?" suaranya nyaris bergetar.

Noah bangkit dari kursinya dengan kasar, tangannya mengepal. "Jangan pura-pura bodoh, Amara!" bentaknya. "Siapa yang udah buat kamu hamil?! Karena itu jelas-jelas bukan anakku!"

Amara terperangah. "Noah, apa maksudmu? Anak ini anak kita—"

"JANGAN NGACO!" suara Noah menggelegar. "Kamu pikir aku t0lol?!"

Amara berdiri, hatinya mencelos melihat kemarahan di mata laki-laki itu. Air mata mulai menggenang di pelupuknya.

"Kenapa kamu ngomong kayak gitu?!" Suaranya meninggi, emosinya ikut tersulut. "Aku ini istri kamu! Aku gak pernah sekalipun nyentuh laki-laki lain selain kamu!"

Noah tertawa sinis, gelengan kepalanya penuh kemarahan. "Omong kosong!" bentaknya. "Tiga tahun, Amara. TIGA TAHUN, kita enggak pernah punya anak! Tiba-tiba kamu hamil? Dari mana?!"

Amara mencengkeram dadanya yang terasa sesak. "Karena Tuhan akhirnya kasih kita anak, Noah! Ini yang selama ini aku doain!"

"BOHONG!"

Teriakan Noah membungkamnya. Laki-laki itu melangkah maju, menatapnya dengan mata penuh amarah dan kebencian.

"Kamu mau tahu kenapa kita enggak pernah punya anak?" Suara Noah kini lebih rendah, tetapi setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk hati Amara. "Karena aku … mandul."

Deg.

Amara membeku di tempatnya.

"Apa?" bisiknya, nyaris tidak percaya.

Noah menatapnya tajam. "Aku mandul, Amara," katanya lagi, kali ini lebih jelas. "Aku udah tahu dari awal pernikahan kita, dan aku diam. Aku gak mau kamu pergi. Aku gak mau kamu ninggalin aku karena alasan itu."

Amara kehilangan kata-kata. Seluruh tubuhnya gemetar.

Tiga tahun.

Tiga tahun dia menyalahkan dirinya sendiri. Menanggung bisikan, tatapan dingin dari semua orang, termasuk ibu mertuanya.

Dan sekarang ….

Dada Amara naik turun, seluruh emosinya membuncah menjadi satu.

"Kamu tahu?" Suaranya bergetar, bukan karena sedih, tapi karena marah. "Kamu tahu selama ini, dan kamu DIAM?! Kamu biarkan aku disalahkan, kamu biarkan aku ngerasa ini semua salahku?!"

Noah memalingkan wajahnya, tapi Amara tidak peduli.

"Kamu tahu," ulangnya, air mata jatuh satu per satu dari matanya. "Tapi kamu lebih memilih nyalahin aku, nuduh aku selingkuh, daripada—"

Suara Amara tercekat.

Dia tertawa kecil, getir.

"Aku kira … hari ini akan jadi hari paling bahagia dalam hidupku." Matanya menatap Noah penuh luka. "Ternyata, ini hari paling menyakitkan."

Dia melangkah mundur. Tanpa sepatah kata pun.

"Noah," katanya, tanpa menoleh. "Aku gak tahu anak ini milik siapa kalau bukan milik kamu. Tapi satu hal yang aku tahu."

Dia menghela napas panjang, menyeka air matanya, lalu berbisik,

"Kamu gak pantas jadi ayahnya."

***

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status