Masuk“Sumpah, itu bukan anakku.” Aku tidak pernah menginginkan istriku melahirkan seorang anak. Bukan karena aku tidak mencintainya—melainkan karena aku mandul. Aku menyembunyikan ketidaksuburanku selama bertahun-tahun. Lalu suatu malam, istriku tersenyum dan berkata bahwa dia hamil. Pengkhianat! Aku mengusirnya malam itu juga. Namun setelah dia pergi, aku menyadari satu hal—aku tidak bisa hidup tanpanya. Demi memilikinya kembali, aku berbohong. Aku memaksanya pulang. Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima. Anak itu.
Lihat lebih banyakAmara duduk di bangku rumah sakit, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Udara siang ini panas, tapi telapak tangannya justru dingin. Sudah sepuluh menit sejak suster mengatakan bahwa hasilnya akan segera keluar. Sepuluh menit yang terasa seperti seumur hidup.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi tetap saja, ada ketakutan yang menggerogoti pikirannya. Jika hasilnya negative … jika semua ini hanya harapan kosong lagi … maka dia harus pulang dan kembali menghadapi tatapan Rosaline yang selalu sarat dengan makna.
"Kamu harus lebih sering periksa ke dokter, jangan sampai ada masalah sama rahimmu," kata ibu mertuanya beberapa bulan lalu, sambil tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. Itu bukan saran. Itu penghakiman.
“Sudah tiga tahun menikah dengan Noah dan belum punya anak? Kau yakin kau tidak bermasalah?” Iparnya—Selvi juga mengatakan demikian.
Amara menutup matanya, meredam suara-suara itu. Hari ini dia berharap tidak ada lagi kecewa seperti yang selalu terulang setiap dia melakukan tes kehamilan.
Dia sudah terlambat tiga minggu, p4yudaranya lebih s3nsitif dari biasanya, dan ada rasa mual di pagi hari. Mungkin kah kali ini benar?
Suara pintu terbuka. Dokter keluar dengan map di tangannya, ekspresinya tenang. Jantung Amara berdegup kencang saat dia bangkit berdiri.
"Selamat, Bu Amara."
Amara mengerjap.
"Kamu hamil," lanjut dokter itu, dengan nada pasti.
Seketika dunia terasa berhenti berputar.
Hamil.
Tangan Amara terangkat ke perutnya, seakan belum benar-benar percaya. Matanya panas, dadanya terasa penuh. Ada sesuatu yang mengembang di dalam hatinya—harapan yang selama ini hampir ia kubur dalam-dalam.
Akhirnya ….
Akhirnya, tidak akan ada lagi bisikan yang menyuruhnya 'bersabar'. Tidak ada lagi tatapan dingin dari Rosaline di meja makan, seakan kehadirannya adalah beban yang harus ditanggung keluarga ini.
Dan Noah ….
Amara tersenyum kecil. Malam ini, dia akan memberitahu Noah. Dengan cara yang istimewa, dengan kejutan yang sudah ia impikan sejak lama.
Anak mereka.
Amara mer3mas kertas hasil tes itu dalam genggamannya, memeluknya di dada. Kali ini, dia tidak akan pulang dengan tangan kosong.
19.00 Noah berjanji akan pulang tepat waktu malam ini.
Amara berdiri di depan meja makan, merapikan lilin yang sudah dinyalakan. Cahaya temaram dari lampu gantung membuat ruangan tampak lebih hangat, lebih intim. Makanan favorit Noah sudah tertata rapi, gelas-gelas kristal berisi anggur merah terpantul cahaya lilin.
Di tengah meja, di samping piring Noah, ada amplop putih berisi hasil tes laboratorium tadi.
Dadanya masih dipenuhi debaran yang sama seperti siang tadi. Kebahagiaan yang nyaris tak tertahankan. Noah akan sangat senang. Ia bisa membayangkan ekspresi terkejutnya, bagaimana laki-laki itu akan bangkit dari kursinya dan memeluknya erat. Bagaimana tangannya akan meraba perut Amara dengan hati-hati, penuh rasa ingin tahu.
Mereka akan memiliki anak.
Anak yang selama ini mereka nanti-nantikan.
Suara mesin mobil berhenti di halaman. Amara buru-buru melangkah ke depan pintu, jantungnya makin berdegup cepat. Begitu pintu terbuka, Noah masuk dengan jas tersampir di lengannya, raut wajah lelah, tetapi langsung berubah saat melihat meja makan yang tertata indah.
"Wow." Dia terkekeh kecil, menatap Amara. "Ada acara apa ini?"
Amara tersenyum, menuntunnya ke meja. "Duduk, aku punya sesuatu untukmu."
Noah mengangkat alis, tapi menurut. Dia menarik kursinya, melirik ke sekeliling. "Romantis sekali. Aku suka."
Amara duduk di hadapannya, menatapnya penuh harap. Ia mendorong amplop putih itu ke depan Noah.
"Ada sesuatu yang lebih spesial," bisiknya.
Noah menatapnya sejenak, lalu meraih amplop itu. Dahinya mengernyit ketika membaca tulisan di atasnya. Perlahan, dia membuka isinya, mengeluarkan lembaran hasil lab, membacanya dalam diam.
Detik berikutnya, sesuatu yang tak pernah Amara bayangkan terjadi.
Hasil lab itu terlepas dari tangan Noah, jatuh ke lantai.
Amara melihat bagaimana ekspresi suaminya berubah dalam sekejap. Mata yang tadi penuh kelembutan kini dipenuhi amarah yang meledak-ledak. Rahangnya mengeras, dadanya naik-turun seiring napasnya yang tiba-tiba memburu.
Dan kemudian, suara Noah menggelegar, membelah keheningan rumah mereka.
"Kau mengkhianatiku, Amara?”
Dunia Amara seakan berhenti berputar. "Apa?" suaranya nyaris bergetar.
Noah bangkit dari kursinya dengan kasar, tangannya mengepal. "Jangan pura-pura bodoh, Amara!" bentaknya. "Siapa yang udah buat kamu hamil?! Karena itu jelas-jelas bukan anakku!"
Amara terperangah. "Noah, apa maksudmu? Anak ini anak kita—"
"JANGAN NGACO!" suara Noah menggelegar. "Kamu pikir aku t0lol?!"
Amara berdiri, hatinya mencelos melihat kemarahan di mata laki-laki itu. Air mata mulai menggenang di pelupuknya.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu?!" Suaranya meninggi, emosinya ikut tersulut. "Aku ini istri kamu! Aku gak pernah sekalipun nyentuh laki-laki lain selain kamu!"
Noah tertawa sinis, gelengan kepalanya penuh kemarahan. "Omong kosong!" bentaknya. "Tiga tahun, Amara. TIGA TAHUN, kita enggak pernah punya anak! Tiba-tiba kamu hamil? Dari mana?!"
Amara mencengkeram dadanya yang terasa sesak. "Karena Tuhan akhirnya kasih kita anak, Noah! Ini yang selama ini aku doain!"
"BOHONG!"
Teriakan Noah membungkamnya. Laki-laki itu melangkah maju, menatapnya dengan mata penuh amarah dan kebencian.
"Kamu mau tahu kenapa kita enggak pernah punya anak?" Suara Noah kini lebih rendah, tetapi setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk hati Amara. "Karena aku … mandul."
Deg.
Amara membeku di tempatnya.
"Apa?" bisiknya, nyaris tidak percaya.
Noah menatapnya tajam. "Aku mandul, Amara," katanya lagi, kali ini lebih jelas. "Aku udah tahu dari awal pernikahan kita, dan aku diam. Aku gak mau kamu pergi. Aku gak mau kamu ninggalin aku karena alasan itu."
Amara kehilangan kata-kata. Seluruh tubuhnya gemetar.
Tiga tahun.
Tiga tahun dia menyalahkan dirinya sendiri. Menanggung bisikan, tatapan dingin dari semua orang, termasuk ibu mertuanya.
Dan sekarang ….
Dada Amara naik turun, seluruh emosinya membuncah menjadi satu.
"Kamu tahu?" Suaranya bergetar, bukan karena sedih, tapi karena marah. "Kamu tahu selama ini, dan kamu DIAM?! Kamu biarkan aku disalahkan, kamu biarkan aku ngerasa ini semua salahku?!"
Noah memalingkan wajahnya, tapi Amara tidak peduli.
"Kamu tahu," ulangnya, air mata jatuh satu per satu dari matanya. "Tapi kamu lebih memilih nyalahin aku, nuduh aku selingkuh, daripada—"
Suara Amara tercekat.
Dia tertawa kecil, getir.
"Aku kira … hari ini akan jadi hari paling bahagia dalam hidupku." Matanya menatap Noah penuh luka. "Ternyata, ini hari paling menyakitkan."
Dia melangkah mundur. Tanpa sepatah kata pun.
"Noah," katanya, tanpa menoleh. "Aku gak tahu anak ini milik siapa kalau bukan milik kamu. Tapi satu hal yang aku tahu."
Dia menghela napas panjang, menyeka air matanya, lalu berbisik,
"Kamu gak pantas jadi ayahnya."
***
Kabar mengenai Sebastian yang ternyata sudah memiliki anak membakar kota itu dalam sekejap.Ayahnya—Liam Anthony, bahkan langsung membanting ponselnya dengan marah.Sore itu juga dia menyuruh Asistennya untuk memanggil Sebastian pulang.Arah pembicaraan mereka jelas.Sedangkan Sebastian, sebelum dia mendapat telepon, dia sendiri sudah mengendarai mobilnya menuju rumah Liam.Ia tahu ini akan terjadi.Sebastian menarik napas panjang saat mobilnya berhenti di halaman rumah Liam Anthony. Ia sudah memperkirakan ledakan kemarahan ayahnya, jadi setiap langkah yang ia ambil hanya tenang dan tenang.Begitu pintu dibuka, Liam sudah berdiri di ruang tamu, tatapan tajam menatap Sebastian dengan kemarahan yang hampir terasa membakar udara.“Sebastian!” Suaranya meledak begitu ia melihat putranya melangkah masuk. “Apa yang kau lakukan?!”Sebastian menunduk sebentar, kemudian mengangkat wajahnya dengan tenang, namun matanya tetap memancarkan tekad. Ia tahu apa yang ia lakukan.“Sudah kuduga ayah aka
Mobil itu berhenti halus di depan rumah.Mesinnya mati, tapi suasana di dalamnya tidak langsung berubah. Lily masih bercerita, suaranya ringan, penuh semangat, seolah perjalanan pulang ini tidak pernah dibayangi apa pun.Sebastian membiarkannya menyelesaikan kalimatnya sebelum membuka pintu.“Ayo turun.”Lily langsung bergerak, melompat kecil keluar mobil. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju pintu utama seperti biasa.Pintu sudah terbuka.Amara berdiri di sana.Ia tidak bergerak sejak mereka tiba. Tangannya tergenggam di depan tubuhnya, tidak terlalu erat, tapi cukup untuk menunjukkan ketegangan yang belum sepenuhnya hilang. Tatapannya langsung jatuh pada Lily terlebih dulu.“Ibu!”Lily berlari memeluknya tanpa ragu.Amara membalas pelukan itu refleks. Tangannya mengusap punggung kecil itu pelan, napasnya sedikit tertahan sebelum akhirnya keluar perlahan.“Kamu sudah pulang ….” Suaranya lembut, tapi ada sesuatu yang tertahan di sana.“Sekolahnya gimana?” tanyanya, berusaha terdeng
Sebastian tidak kembali ke meja itu lagi.Begitu keluar dari kafe, langkahnya langsung terarah. Tidak terburu-buru, tapi jelas tidak memberi ruang untuk hal lain selain satu tujuan—menjemput Lily.Mobilnya meluncur tenang di jalan, seolah tidak ada apa pun yang berubah. Padahal di luar sana, semuanya sudah mulai bergerak terlalu cepat.Saat ia berbelok memasuki jalan menuju sekolah, perubahan itu langsung terasa.Beberapa mobil terparkir tidak biasa di sisi jalan. Bukan mobil orang tua murid. Terlalu banyak. Terlalu rapat. Dan … terlalu siap.Sebastian memperlambat laju mobilnya.Tatapannya menyapu area gerbang.Sekelompok orang berdiri di luar pagar. Kamera tergantung di leher mereka, beberapa sudah terangkat, seolah menunggu sesuatu sejak lama. Mikrofon terlihat di tangan beberapa orang lain. Suasana tidak lagi seperti jam pulang sekolah biasa.Mereka menunggu.Dan saat mobil hitam itu muncul di ujung jalan—keramaian itu pecah.Beberapa kepala langsung menoleh bersamaan. Seperti ins
Nana menarik napas sebentar, bertahan beberapa detik, seolah memberi ruang bagi semua yang baru saja ia akui untuk benar-benar meresap. Lalu perlahan, ia mengangkat pandangannya lagi.“Aku pernah bilang ….” Suaranya lebih pelan sekarang, tapi jauh lebih terarah. “Aku menikahimu karena aku butuh kekuasaanmu.”“Aku baru tahu alasan ibuku membiusmu bukan hanya soal obsesinya. Selama aku berada di sisimu, tidak ada yang berani menyentuhku.”Matanya sedikit meredup, tapi suaranya tetap dijaga agar tidak goyah.“Kalau aku kehilangan itu… aku tidak punya apa-apa lagi untuk melindungi diriku sendiri.”Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada memohon, tapi justru karena itulah terasa lebih berat.Nana menegakkan punggungnya sedikit, seolah menguatkan diri untuk mengatakan hal berikutnya.“Jadi … aku ingin meminta sesuatu.”“Bisakah kita mempertahankan pernikahan ini?”Hening kembali jatuh.Bukan karena tidak ada jawaban—tapi karena permintaan itu terlalu jelas untuk disalahartikan.Nana tidak m
Gerbang taman kanak-kanak itu menutup perlahan di belakang Amara.Lily masih duduk di lantai kelas, tertawa bersama anak-anak lain. Bahkan tidak menoleh ketika Amara pamit. Terlalu cepat merasa nyaman—dan itu membuat dada Amara sedikit sesak, sekaligus lega.Ia berbalik.Sebuah mobil berhenti tepat
Makan malam itu seharusnya sederhana.Amara duduk di meja kecil bersama Lily, piring-piring sudah setengah kosong, suara sendok beradu pelan dengan keramik.Lily bercerita tentang sekolahnya—tentang guru barunya, tentang gambar yang dia tempel di papan kelas—sementara Amara hanya sesekali menanggap
Lapangan golf itu selalu terasa sunyi bagi Theo. Tapi dia tahu, tempat ini adalah tempat tujuannya yang benar untuk menemui tuan-nya.Rumput terpangkas rapi, langit bersih, dan satu-satunya suara hanyalah gesekan stik golf dengan bola—teratur, presisi, tanpa emosi.Di hadapannya, Sebastian Hudson b
Malam itu berakhir tanpa keputusan yang hangat.Noah akhirnya pulang ketika jam sudah melewati tengah malam. Tidak ada janji manis. Tidak ada pelukan. Hanya kesepakatan yang dingin dan berat di dada masing-masing.Setelah pintu tertutup, Amara kembali ke kamar Lily.Ia duduk di tepi ranjang, menata


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan