เข้าสู่ระบบAruna tak pernah menyangka, suami dan sahabat yang paling ia percaya justru menjadi orang yang mengakhiri hidupnya. Di ambang kematian, justru Darren—musuh suaminya—datang, menangisi keadaannya, dan meminta maaf karena terlambat menyelamatkannya. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Aruna memohon satu kesempatan lagi. Saat membuka mata, ia kembali ke enam bulan sebelum kematiannya. Kali ini, Aruna bersumpah akan membalas semua pengkhianatan itu. Dan tentu saja... mengejar Darren, lalu menaklukkan hati pria dingin tersebut. Tapi nyatanya, hubungan Aruna dan Darren tak semulus di awal. Ada halangan besar yang membuatnya ragu.
ดูเพิ่มเติมRasa sakit yang luar biasa di perutnya menyengat kesadaran Aruna. Saat matanya mengerjap, langit-langit gudang tua yang berkarat dan aroma besi yang pekat menyambutnya.
Di luar, hujan turun dengan sangat deras, berdentum di atap seng layaknya irama hitungan mundur menuju kematiannya. Gaun krem yang Arun kenakan kini telah basah kuyup oleh darah merah pekat. Aruna mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dan bayangan beberapa pria berbadan besar yang menusuknya, secara mendadak berputar di kepalanya. Siapa mereka, dan kenapa ia bisa dibuang di tempat mengerikan ini? Dengan sisa tenaga yang kian terkuras, Aruna memanggil sebuah nama dengan lirih, "Mas... Adrian..." Awalnya hanya suara hujan yang menjawabnya, tapi beberapa saat setelahnya, harapan Aruna membubung saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Dan sosok Adrian, pria berjas hitam yang menjadi suaminya selama dua tahun terakhir, muncul di hadapannya. Aruna kemudian mengulurkan tangannya yang berlumuran darah sambil memohon, "Tolong bawa aku ke rumah sakit..." lirihnya. Tapi... Adrian hanya berdiri mematung dengan tatapan dingin dan asing, tanpa ada rasa panik sedikit pun saat melihat istrinya yang sedang sekarat. "Mas...?" panggil Aruna pelan. Tapi hanya ada keheningan semu. "Kamu pikir aku datang untuk menyelamatkanmu?" suara Adrian akhirnya memecah keheningan, disusul senyum licik yang membuat firasat buruk langsung merayap di dada Aruna. "Apa maksudmu?" "Kau masih belum mengerti, ya? Kalau luka di tubuhmu itu... dibuat atas perintahku!" Bagai disambar petir, dunia Aruna runtuh seketika. Sebelum ia sempat mencerna kekejaman itu, ketukan sepatu hak tinggi terdengar. Dan Nadya, sahabat baiknya, melangkah masuk dengan tubuh berbalut mantel bersih tanpa noda. Dengan santai, Nadya merangkul lengan Adrian dan mengecup bibirnya mesra di hadapan Aruna yang sedang sekarat. "Maaf, Aruna. Aku lelah berpura-pura menjadi sahabatmu," ucap Nadya lembut namun sangat berbisa. Dalam sekejap, semua kepingan teka-teki masa lalu, tentang sikap Adrian yang sering lembur dan pembelaan dari Nadya yang 'kebetulan' satu kantor dengannya, kini terjawab sudah. "Kenapa?" suara Aruna bergetar. "Apa salahku pada kalian?" tanyanya dengan parau. Nadya menatap Aruna dengan tatapan muak. "Kesalahanmu itu, hanya karena kamu terlahir sebagai putri keluarga kaya," ucapnya. Kemudian Adrian menimpali dengan dingin, "Begitu seluruh aset keluargamu berpindah ke tanganku, keberadaanmu sudah tidak berguna lagi. Selama dua tahun ini, aku hanya mencintai Nadya. Kamu cuma batu loncatan untuk kami." Setelahnya, Nadya tertawa dan berjongkok di depan Aruna. "Terima kasih, Aruna," ucapnya ringan. "Kalau bukan karena kamu, kami tidak akan mungkin bisa mendapatkan semuanya." Air mata Aruna mengalir tanpa henti. Semua pengorbanannya yang rela meninggalkan karier demi menjadi istri yang berbakti ternyata hanya dianggap lelucon saja. Dengan susah payah, Aruna mengepalkan tangannya. "Suatu hari nanti ... kalian akan menerima balasannya," bisiknya lirih. Mendengar perkataan Aruna, Nadya justru tertawa sinis. "Orang mati tidak bisa membalas dendam." Kemudian sebilah pisau berkilat ditarik dari balik mantel Nadya, lalu dihujamkan beberapa kali tanpa ampun ke dada Aruna. Pekikan menyakitkan lolos dari bibir Aruna bersama seteguk darah segar. Tanpa peduli pada tubuh yang kian mendingin itu, Adrian kemudian mengajak Nadya untuk pergi dan meninggalkan Aruna sendirian di sana menjemput ajalnya. Di ambang kematian, saat kesadaran Aruna mulai memudar, keheningan gudang tiba-tiba pecah oleh suara decitan ban mobil. Pintu gudang didobrak kasar, dan seorang pria bertubuh tinggi berlari masuk. Wajahnya yang biasanya dingin langsung berubah hancur saat melihat kondisi Aruna. Pria itu adalah Darren, sosok yang selama ini dicap Adrian sebagai musuh bebuyutannya yang licik. Darren berlutut, menekan luka di perut Aruna dengan tangan yang gemetar hebat untuk menahan perdarahannya. "Ambulans! Panggil ambulans sekarang juga!" teriaknya murka pada anak buahnya. Air mata Darren menetes ke punggung tangan Aruna. "Maafkan aku karena terlambat... Tolong bertahanlah..." Untuk pertama kalinya, Aruna melihat pria setegar Darren menangis hebat demi dirinya. Di luar gudang, anak buah Darren berhasil meringkus Adrian dan Nadya yang mencoba melarikan diri. Saat keduanya diseret masuk, amarah Darren langsung meledak seketika. kemudian dia membaringkan Aruna dengan sangat hati-hati, lalu bangkit layaknya iblis yang haus darah. Tanpa membiarkan Adrian bersuara, Darren melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah Adrian, hingga pria itu meringkuk bersimbah darah di lantai. Jeritan histeris Nadya menggema saat melihat Adrian yang babak belur, namun tak ada satu pun yang berani menghentikan murka Darren. Setelah puas menghajar Adrian, Darren kembali berlutut di samping Aruna, menggenggam erat jemari wanita itu. "Aruna... aku mohon jangan tinggalkan aku." Aruna memandangi wajah Darren dengan sisa kesadaran yang hampir habis. Kemudian dengan susah payah, Aruna mengangkat tangannya, menyentuh pipi Darren yang basah. Penyesalan mendalam menyeruak di dadanya; selama ini ia telah salah menilai orang. Bibir Aruna bergerak pelan. "Seandainya... Tuhan memberiku ... satu kesempatan lagi... aku tidak akan memilih dia. Aku pasti akan mencintaimu di kehidupan itu," bisik Aruna dengan senyum tipis terakhirnya. Kemudian tangan Aruna terkulai lemas, dan dadanya berhenti bergerak. Detik berikutnya, jeritan pilu Darren bersahutan dengan derasnya hujan, meratapi kepergian Aruna yang telah menutup mata untuk selamanya. Aruna pasrah. Ia mengira kegelapan total itu adalah akhir dari segala penderitaan, titik henti dari seluruh kebodohan hidupnya. Namun, rasa sakit yang membakar itu mendadak menguap, digantikan sebuah sensasi asing yang menyentak seluruh kesadarannya. Hah! Aruna tersentak bangun. Napasnya pendek, terengah-engah dan berburu rapuh, persis seperti orang yang baru saja ditarik paksa dari kedalaman samudra yang menenggelamkannya. Jantungnya berdentum liar, menghantam rongga dadanya dengan brutal. Secara refleks, tangannya langsung meraba dada dan perut untuk mencari robekan gaun krem yang basah, mencari hangatnya aliran darah, mencari lubang menganga akibat hujaman pisau Nadya. Tapi tidak ada. Kulitnya mulus tanpa cela. Yang ia sentuh justru kelembutan piyama sutra merah muda yang melekat pas di tubuhnya. Saat matanya mengerjap lebar, langit-langit gudang tua yang berkarat itu telah sirna. Pandangannya justru disambut oleh kemegahan lampu gantung kristal yang teramat ia kenal. Ini kamarnya. Kamar di rumahnya bersama dengan Adrian. Dengan jemari yang gemetar hebat, Aruna meraih ponsel di atas nakas. Layarnya menyala, menampilkan baris tanggal yang membuat seluruh tubuhnya seketika membeku: 12 Januari 2026. Enam bulan sebelum pembantaiannya. Segala ingatan mengerikan itu mendadak runtuh dan menghantam dirinya sekaligus—pengkhianatan manis dua tahun pernikahan, tawa menjijikkan Nadya, seluruh aset keluarganya yang dirampas habis, hingga tangisan hancur Darren di ujung ajalnya. Dada Aruna terasa sesak. Rasa ngeri, bersalah, dan amarah bercampur menjadi satu, bergolak hebat di dalam sanubarinya. Ia terlahir kembali. Cklek. Putaran knop pintu memutus badai di kepala Aruna. Adrian melangkah keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya. Wajah tampan dengan senyuman ramah yang dulu begitu Aruna puja bagai malaikat, kini tampak telanjang sebagai topeng iblis yang paling menjijikkan. Darah Aruna mendidih seketika. Tangannya mengepal erat di balik selimut hingga kuku-kukunya memutih, ia mati-matian menahan hasrat untuk melompat dan mencakar habis wajah munafik di depannya. "Sayang? Kamu sudah bangun?" Adrian mendekat dengan watak lembutnya yang biasa. Ia duduk di tepi ranjang, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Aruna. Aruna memiringkan kepala dengan kaku, menghindari sentuhan itu sehalus mungkin. Sorot matanya yang menatap Adrian tak lagi sama. Terlihat dingin, kosong, dan menusuk. "Kamu kenapa? Kok mukanya pucat begitu? Mimpi buruk?" tanya Adrian dengan perhatian. Sebuah akting yang luar biasa rapi. "Iya... mimpi buruk yang panjang dan terasa nyata," jawab Aruna datar. Suaranya jernih, bebas dari rasa sekarat, tapi sebenarnya sarat akan racun yang tersembunyi. Adrian terkekeh pelan, lalu berdiri menuju lemari pakaian untuk bersiap. "Makanya, berdoa sebelum tidur. Oh ya, hari ini aku ada rapat penting di luar kota bersama tim pemasaran sampai malam. Jadi, mungkin aku tidak pulang untuk makan malam. Kamu tidak apa-apa, kan?" "Rapat penting? Atau pergi bercumbu dengan Nadya?" batin Aruna sinis. Jika dulu Aruna akan mengangguk patuh bagai orang bodoh, kini ia hanya menatap lurus punggung Adrian yang sedang mengenakan jas. "Tentu saja. Pergilah, Mas. Bukankah pekerjaanmu—dan segala hal di luar sana—memang selalu jadi yang paling utama?" Adrian sempat tertegun sejenak saat mendengar perkataan Aruna. Ada nada dingin dan sindiran tajam yang asing di telinganya, namun pria itu memilih untuk mengabaikannya dan melangkah pergi setelah berpamitan. Begitu pintu tertutup rapat, Aruna langsung melempar selimutnya. Ia berdiri tegak di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang utuh tanpa luka fisik sedikit pun. Namun di balik matanya, ada jiwa yang telah mati dan merangkak naik dari neraka demi sebuah pembalasan. "Adrian, Nadya... kalian bilang orang mati tidak bisa membalas dendam?" gumam Aruna dengan senyum dingin, matanya berkilat penuh tekad yang membara. "Sayangnya bagi kalian, aku belum mati. Dan dalam enam bulan ini, aku akan memastikan kalian merangkak di neraka yang sesungguhnya sebelum waktunya." Lalu bayangan wajah tegar Darren yang hancur dan basah oleh air mata kembali melintas di benaknya, menyisakan denyut penyesalan yang teramat dalam di dadanya. Aruna memegang dadanya sendiri yang berdetak kencang. “Darren... tunggu aku. Kali ini, aku yang akan mendatangimu.”Malam harinya, usai menikmati makan malam hidangan laut di area restoran terbuka, mereka kembali ke resort. Aruna mendudukkan dirinya di tepi ranjang kamarnya yang luas, mengamati temaram lampu pelabuhan dari balik jendela kaca. Ponsel di genggamannya bergetar. Nama Darren tertera di sana. "Halo, Darren?" Aruna menyapa hangat saat menggeser tombol hijau. "Sudah kembali ke hotel?" Suara bas Darren mengalun di seberang sana. Ada nada ketenangan khas pria itu, namun Aruna dengan peka menangkap serak tipis di sela-sela intonasinya. "Sudah. Baru saja selesai makan malam," jawab Aruna. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, alisnya bertaut halus. "Suaramu terdengar sangat lelah, Darren. Apa pekerjaan di kantor sangat menumpuk hari ini?" Di ujung telepon, Darren terkekeh rendah. "Hanya beberapa penyesuaian agenda rutin, Runa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sahut Darren santai menyelipkan kebohongan. "Bagaimana liburanmu hari ini? Kamu menyukainya?" "Sangat suka,
"Rian, masuk ke ruanganku sekarang!" Tak sampai satu menit, asisten pribadi Darren itu melangkah masuk dengan iPad di tangannya. "Ya, Pak Darren? Ada yang bisa saya bantu?" Darren menatap asistennya datar. "Bacakan seluruh jadwal kerjaku untuk tiga hari ke depan." Rian membuka dokumen penjadwalan di iPad-nya. "Untuk besok pagi jam sembilan, Anda ada rapat dengan perusahaan perbankan. Jam satu siang ada presentasi progres Proyek Meridian Bay tahap dua, dilanjutkan makan malam bisnis dengan investor asing pukul tujuh malam. Lusa pagi, ada kunjungan lapangan ke lokasi galangan kapal, dan sorenya—" "Cukup," potong Darren. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah kariernya sebagai eksekutif papan atas yang gila kerja, Darren merasakan kekesalan yang amat luar biasa pada deretan jadwal kerjanya sendiri. Jadwal yang begitu padat itu mendadak terasa seperti tembok penghalang yang teramat mengganggu. "Majukan dua rapat besok ke sore ini dan nanti malam," perintah Darren tanpa beb
Deg. Kalimat ibunya menghantam dada Aruna bagaikan pukulan telak. Rasa bersalah yang besar seketika membuncah di dalam sanubarinya. Aruna teringat betapa bodohnya ia di kehidupan pertamanya, bagaimana ia membiarkan dirinya dimanipulasi oleh Adrian hingga mengabaikan dua orang tua yang sangat mencintainya sepenuh jiwa. Di kehidupan kedua ini, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menebus semua waktu yang terbuang dan membahagiakan Hermawan serta Sofia. Melihat mata ibunya yang berkaca-kaca, seluruh keraguan Aruna meluap tanpa sisa. Aruna mengulas senyum tulusnya, mengusap balik jemari ibunya dengan penuh kasih sayang. "Iya, Ma... Aruna ikut. Aruna mau pergi berlibur sama Papa dan Mama." Seketika, raut sedih di wajah Sofia sirna, berganti dengan binar kebahagiaan yang begitu memancar. "Beneran, Nak?! Wah, makasih ya, Sayang!" Hermawan terkekeh riang melihat tawa istrinya. Tanpa membuang waktu, Hermawan langsung kembali meraih ponselnya. "Papa hubungi Pak Pram sek
Aruna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tertawa kecil sendirian di dalam kamar sembari meresapi kebahagiaan utuh yang akhirnya berlabuh di dalam dadanya. Keesokan harinya. Sinar matahari pagi yang cerah menyusup hangat melalui celah tirai. Aruna bangun. Ia merawat wajahnya, menata rambut hitamnya hingga terurai anggun, lalu mengenakan setelan blazer berwarna krem hangat yang dipadukan dengan celana bahan berpotongan tinggi. Penampilannya terlihat begitu segar, cantik, dan memancarkan aura bahagia yang tak bisa ditutupi. Setelah merapikan tas kerjanya, Aruna melangkah menurini anak tangga menuju lantai bawah. Saat melewati area ruang keluarga menuju meja makan, pandangan Aruna tertuju pada Hermawan dan Sofia yang sedang duduk di sofa. Papanya terlihat sedang menerima panggilan telepon dengan nada suara serius khas seperti saat ia membahas urusan bisnis, sementara Mamanya tampak santai membaca sebuah majalah gaya hidup. "Pagi, Pa, Ma," sapa Aruna hangat semb












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.