LOGINTubuh Arra menegang seketika. Matanya membelalak saat menatap Revan.
“Surat?”“Iya. Surat yang disembunyikan Mommy. Aku baru menemukannya kemarin,” jelas Revan dengan suara parau. “Kamu bodoh, Ra. Kenapa kamu nggak dengerin pembicaraanku sama orang tuaku sampai selesai? Kenapa kamu nggak percaya kalau aku bakal membela kamu mati-matian dan menolak perjodohan itu?”Dada Arra terasa sesak mendengar pengakuan itu. Ia tak pernah menyangka bahwa malam itu Revan benar-benar membelanya—menolak perjodohan dengan rekan bisnis Daddy Revan.Saat itu Arra hanya mendengar sepenggal percakapan: perintah Daddy Revan agar Revan menerima perjodohan, serta makian Mommy Revan yang diarahkan kepadanya. Ia tak pernah tahu kelanjutannya.Air mata Arra jatuh begitu saja. Pertahanan yang ia bangun sepanjang hari runtuh seketika oleh pengakuan Revan. Sungguh ingin ia mengatakan bahwa alasan kepergiannya bukan hanya soal itu. Masih ada hal lain—hal yang jauh lebihRevan duduk di samping Rafa yang tengah menyantap makanannya dengan lahap. Sementara itu, Arra mengambilkan piring untuk Revan dan menyerahkannya pada pria tersebut. Dengan wajah antusias, Revan menyendok nasi goreng buatan Arra ke piringnya, lalu menghirup aromanya perlahan. Harumnya masih sama seperti dulu.Pemandangan dua pria di hadapannya menikmati nasi goreng buatannya membuat hati Arra mengembang bahagia. Ia ingin sekali menghentikan waktu, mengabadikan momen sederhana antara ayah dan anak itu. Dari cara mereka makan hingga kebiasaan mengelap sudut bibir saat ada sisa makanan, semuanya terasa begitu mirip. Tanpa perlu tes DNA, Arra tahu, kebiasaan Revan menurun sempurna pada Rafa.Bahkan cara mereka meminum air dari gelas pun sama. Jari kelingking keduanya terangkat tanpa sadar. Arra menghela napas lirih. Ia yang mengandung sembilan bulan dan membesarkan Rafa selama lima tahun, namun hampir semua kemiripan justru berasal dari Revan.Satu-satunya sifat Rafa yang ia rasa menurun
Revan menatap Arra yang sesekali melirik ke arahnya dan Rafa. Ia sangat yakin. Perlahan, hati Arra mulai melunak. Revan tak akan menyerah untuk mendapatkan Arra kembali. Ia tahu, jauh di lubuk hati wanita itu masih tersimpan rasa cinta padanya. Arra menjauh bukan karena perasaannya hilang, melainkan karena bayang-bayang orang tua Revan. Dan kini, yang perlu ia lakukan hanyalah membuat Arra kembali percaya dan merasa aman bergantung padanya.“Oh iya, tunggu sebentar. Om juga bawa hadiah buat kamu, sama makan siang kita,” ucap Revan sambil mengecup pelipis putranya, lalu tersenyum ke arah Arra.Ia kembali ke mobil dan membuka bagasi belakang. Dari sana, Revan mengeluarkan berbagai mainan dinosaurus yang ia pesan semalam, disusul dua kotak pizza untuk Arra dan Rafa.Melihat Revan membawa banyak barang, Arra merasa tak tega. Ada rasa haru yang menyelinap di dadanya melihat perhatian pria itu pada Rafa. Ia pun membantu membawa sebagian barang. Rafa sendiri terlihat paling bersemangat, meme
Revan merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Ia membuka sebuah aplikasi belanja online—aplikasi yang seumur hidup belum pernah ia gunakan untuk membeli apa pun. Selama ini, segala kebutuhannya selalu diurus oleh Kevin.Jarinya mengetik di kolom pencarian: Mainan dinosaurus terbaik.Ribuan hasil langsung bermunculan. Revan mengernyit. Ia tak tahu mana yang benar-benar bagus. Ia tidak ingin mainan sembarangan. Putranya harus mendapatkan yang terbaik.Ia pun beralih ke mesin pencari.“Best dinosaur toys for 5 year old boy, premium quality.”Setelah membaca beberapa ulasan dan perbandingan, jari Revan mulai menari di layar ponsel.Klik.Masukkan ke keranjang.Action figure T-Rex dengan suara realistis.Set Lego Jurassic World ukuran terbesar.Boneka Brontosaurus jumbo—cukup besar untuk dinaiki.Ensiklopedia dinosaurus 4D dengan teknologi augmented reality.Revan tak sedikit pun melirik harga. Yang ia perhatikan hanya keterangan: Best Seller, Premium, Educational.Dalam waktu kurang
Sepanjang perjalanan pulang menuju kontrakan Arra, Rafa berceloteh riang, seolah kejadian penculikan yang menegangkan itu sudah menguap begitu saja. Mungkin karena Revan terus mengajaknya bicara, berusaha mengalihkan perhatian Rafa agar ingatannya tak kembali pada rasa takut.Rafa bercerita tentang temannya yang terjatuh dari ayunan, tentang bekal makan siangnya yang sangat enak, juga tentang Rexy—boneka dinosaurus kesayangannya—yang katanya berhasil mengalahkan monster di kolong tempat tidur.Revan mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia menimpali dengan pertanyaan sederhana namun antusias, membuat Rafa semakin bersemangat. Dari sudut matanya, Arra mengamati interaksi itu dalam diam. Hatinya menghangat, sekaligus terasa nyeri. Ikatan antara ayah dan anak itu tampak begitu alami, seolah darah memang selalu menemukan jalannya sendiri.Saat mobil berhenti di depan rumah kontrakan, Rafa menguap lebar. Matanya tampak berat, energinya terkuras setelah seharian beraktivitas. Terleb
“Dasar bodoh! Menculik seorang anak kecil saja tidak bisa!” teriak Nathania penuh frustrasi.Ia menyibakkan rambut panjangnya dengan kasar. Wajahnya menegang, jelas menahan amarah setelah mendengar laporan dari asistennya. Orang-orang yang ia sewa untuk menculik putra Arra gagal menjalankan tugas. Rencananya berantakan.Nathania mondar-mandir di dalam ruangan dengan langkah gelisah. Tujuannya memberi peringatan pada Arra justru berakhir kacau. Ia bahkan tak menghiraukan dua pria yang berdiri kaku di hadapannya, dua orang yang seharusnya menjalankan perintah itu dengan sempurna.Dengan gerakan kasar, Nathania meraih botol minum plastik, meneguk isinya hingga habis, lalu melemparkan botol itu ke arah mereka. Salah satu pria tersentak ketika botol tersebut mengenai tubuhnya.“Kalian ini bisa kerja nggak, sih?” bentaknya tajam. “Nyulik anak kecil saja nggak becus! Badannya sekecil itu, sementara kalian gede-gede! Malu nggak? Badan besar tapi buat nyulik bocah saja gagal!”Tangannya mengep
Mobil hitam milik Revan melaju keluar dari area kantor dengan kecepatan stabil. Kevin menyetir dengan fokus penuh, kedua tangannya mantap menggenggam kemudi. Jalanan siang itu cukup padat, namun ia tetap memilih jalur tercepat menuju TK Rafa.Di kursi belakang, Arra duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan. Kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Jari-jarinya terasa dingin dan gemetar. Sejak menerima telepon itu, napasnya tak kunjung kembali teratur. Pandangannya kosong, namun dipenuhi kecemasan yang menyesakkan dada.Revan duduk di sampingnya. Ia tak banyak bicara, tetapi sorot matanya tak pernah lepas dari Arra. Sesekali, tangannya bergerak mendekat, seolah ingin memberi ketenangan, namun kembali ia tarik. Revan tahu, dalam kondisi seperti ini, Arra membutuhkan ruang untuk menahan dirinya sendiri.Tak sampai lima belas menit, mobil akhirnya berhenti di depan sekolah Rafa.Begitu mobil benar-benar terparkir, Arra langsung membuka pintu tanpa menunggu. Langkahnya nyari







