LOGIN[ KHUSUS DEWASA ] Santi Mayasari, seorang gadis polos yang terus dikelilingi godaan terlarang, dari teman serumah hingga rekan kerja. Rasa penasaran yang tak terkendali justru membuatnya kehilangan pekerjaan. Demi bertahan hidup, Santi menjadi perawat lansia kaya. Namun satu malam kelam dengan putra sang majikan, Bimo Prakoso Abdinegara, mengubah segalanya. Bukan penyesalan yang muncul… melainkan keinginan untuk mengulang permainan terlarang itu yang lebih liar, lebih berbahaya.
View MoreTenggorokan Santi terasa kering bagai padang pasir. Hari ini ia pulang cukup larut setelah menutup toko, badannya terasa remuk redam sisa bekerja seharian. Dengan langkah gontai dan mata yang masih berat, ia beranjak turun dari ranjang, berniat mengambil air minum di dapur guna melepas dahaga.
Rumah kontrakan itu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang menemani langkah Santi. Namun, saat ia sedang meneguk air dingin dari gelas, kesunyian malam itu mendadak terusik.
Telinga Santi menangkap suara-suara asing. Suara napas tertahan dan derit ranjang yang berirama. Suara itu berasal dari kamar sebelah, kamar Rina, teman satu rumahnya.
Santi menoleh. Pintu kamar Rina tidak tertutup rapat, menyisakan celah sempit yang memancarkan cahaya lampu tidur remang-remang.
"Ah... Iya... Riki..."
Suara Rina terdengar lirih, namun penuh dengan nada yang tidak biasa. Ada getaran aneh dalam suaranya yang membuat bulu kuduk Santi meremang.
Santi mematung di ambang pintu dapur. Kakinya yang seharusnya melangkah kembali ke kamar justru terpaku. Rasa penasaran yang kuat menariknya untuk mendekat, meski akal sehatnya melarang. Dengan jantung berdegup kencang, ia memberanikan diri mengintip sekilas lewat celah pintu itu.
Santi menahan napas.
Di bawah cahaya lampu yang temaram, ia menangkap bayangan dua siluet tubuh yang sedang menyatu. Rina tidak sendiri. Ada Riki di sana. Mereka tampak begitu intim, hanyut dalam dunia mereka sendiri, melupakan segala hal di sekitar mereka.
Wajah Santi memanas seketika. Ia tidak melihat detail yang vulgar, namun atmosfer di ruangan itu begitu intens. Ia melihat ekspresi Rina yang terpejam dengan napas memburu, seolah sedang menahan rasa nikmat yang luar biasa. Pemandangan itu begitu asing bagi Santi yang selama ini hidup lurus-lurus saja.
Santi teringat ucapan Rina yang sering menggoda kepolosannya. "Lo harus coba, San. Kalau sudah ngerasain, pasti ketagihan."
Dulu Santi selalu menutup telinga. Tapi malam ini, melihat betapa Rina tampak begitu lepas dan menikmati momen itu, benteng pertahanan Santi sedikit terguncang. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya, campuran antara rasa malu, takut, namun juga... penasaran.
Darah Santi berdesir hangat, menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa gelisah tanpa alasan.
Sadar bahwa ia telah lancang mengganggu privasi orang lain, Santi buru-buru memalingkan wajah. Dengan langkah seribu, ia berjingkat mundur dan masuk ke kamarnya sendiri yang terletak tepat di sebelah kamar Rina.
Ia menutup pintu pelan-pelan, bersandar pada daun pintu dengan lutut lemas. Napasnya tersengal seolah habis berlari jauh.
Namun, dinding kontrakan yang tipis tak bisa menyembunyikan apa pun. Suara-suara dari kamar sebelah masih terdengar samar, menembus tembok pemisah. Bisikan-bisikan dan suara pergerakan ranjang itu seolah mengejar Santi.
Santi melempar tubuhnya ke atas kasur, menarik selimut hingga menutupi kepala, mencoba mengusir bayangan yang tadi ia lihat. Tapi tubuhnya bereaksi lain. Ada rasa gerah yang tiba-tiba menyergap, membuat keringat dingin membasahi pelipisnya.
Perasaan hangat yang asing itu kembali muncul, menuntut untuk diredakan. Santi merasa bingung dengan tubuhnya sendiri. Ia merasa aneh, gelisah, dan hampa di saat yang bersamaan.
Perlahan, tangan Santi bergerak ragu di balik selimut. Bukan karena ia mahir, melainkan karena insting untuk menenangkan diri dari sensasi yang membingungkan itu. Ia mencoba mencari tahu, apa sebenarnya yang dirasakan Rina hingga bisa bersuara seperti itu?
Malam itu, diiringi detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang, Santi mulai mengenali sisi lain dari dirinya yang selama ini tersembunyi. Sebuah penjelajahan kecil yang membuatnya merasa takut sekaligus berdebar.
Ceklek!
Suara gagang pintu kamar Santi ditekan dari luar membuat Santi terlonjak kaget. Aktivitasnya terhenti seketika. Tubuhnya membeku di bawah selimut.
"San? Lo belum tidur?"
Suara berat Riki terdengar dari balik pintu.
Jantung Santi serasa berhenti berdetak. Ia merapatkan selimut, menyembunyikan tubuhnya yang gemetar.
"Ehh... be-belum, Rik. Kenapa?" jawab Santi dengan suara tercekat, berusaha keras agar suaranya terdengar normal.
Hening sejenak. Santi menggigit bibir bawahnya, takut jika Riki tahu apa yang baru saja ia lakukan atau apa yang ia lihat tadi.
"Oh, enggak. Sorry ganggu. Tadi gue dengar suara dari kamar lo, kirain ada apa-apa," ujar Riki dari luar. Nada suaranya datar, namun cukup membuat nyali Santi ciut.
"Enggak... aku cuma lagi nonton film di HP kok," kilah Santi cepat.
Riki terlihat sama sekali tidak percaya dengan ucapan Santi. Wajah Santi merah merona, sangat menggemaskan. Riki jadi ingin menggoda Santi.
Riki tersenyum tipis. “Oh, tapi itu kayak suara lo, San. Apa mau gue bantu aja?”
Santi tersentak, kaget karena ketahuan tapi tawaran yang diberikan Riki juga seperti tidak ingin ia tolak.
Riki mendekat. Ia tahu Santi ragu, tapi tidak sepenuhnya menolak. Perlahan, Riki duduk di tepi ranjang dan memeluk Santi. “Lo coba dulu, kalau memang enggak enak, lo boleh minta berhenti,” bujuk Riki.
Tetapi, Santi justru mengangkat selimutnya, sebagai tanda penolakannya pada Riki. Riki yang melihat itu tidak merasa tersinggung. Ia tahu dari Rina bahwa Santi masih polos, dan itu justru membuatnya semakin penasaran. Jadi, Riki tidak akan memaksa dulu kali ini. "Oke. Tidur gih. Jangan begadang," ucap Riki singkat.
Langkah kaki Riki terdengar menjauh. Santi menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Tubuhnya lemas seketika.
Santi menurunkan selimutnya dan menyentuh dirinya sendiri.
Santi langsung tersentak tidak percaya.
Hanya didekati dan digoda Riki, ia bisa sebasah ini?!
“Pergilah kesana kalau kau tidak mau melihat. Aku tidak akan memaksakan,” ujar Baga yang menunjuk pada sofa yang berukuran besar. Baga yakin, Santi bisa duduk dengan nyaman disana.“Bolehkah?” Santi buru-buru melompat tanpa ragu, dia benar-benar menuju sofa yang ditunjuk oleh Baga.“Asalkan kamu tidak pergi, aku tidak akan masalah,” ujarnya, Santi tidak menggubrisnya. Dia sebenarnya ingin melihat dengan jelas tato yang baru dibuat oleh karyawan tadi, tapi dia tidak ingin melihat di tempat terbuka. Santi akan menerimanya ketika nanti sampai di kediaman Baga. Tentu saja akan dibantu oleh laki-laki itu. Saking nyamannya lama-kelamaan mata Santi terpejam. Memang hari sudah malam dan seharusnya dia sudah tidur.“Ya ampun bagaimana dengan anak-anak, mereka pasti kelaparan,” Santi teringat saat dia ingin memejamkan mata.“Aga, jangan lama-lama, habis ini kita langsung pulang. Anak-anak belum makan,” Santi berkata dengan suara keras.Baga tidak marah, dia malah tersenyum dan merasa senang
“Hanya turun sedikit kebagian yang sedikit banyak dagingnya, aku yang akan memastikan semua. Ini tidak akan lama.”Tentu saja Baga harus memberikan jaminan kalau Santi mau setuju dengan permintaannya.“Nggak masuk akal! Kenyal-kenyal maksudnya apa? Apa di bagian itu?” Santi tentu saja mengajukan keberatan dari sikap matanya yang membulat secara lebar.“Ya … memang dibagian itu, tapi aku janji sayang itu tidak akan lama. Asalkan mmm …,” mata Baga langsung tertuju pada bagian yang dibilang tadi. “Nggak. Nggak aku nggak mau pokoknya aku nggak mau. Kamu aja … aku nggak usah,” ujar Santi, dia tidak ingin melanjutkan permintaan gila Baga.“Sayang … aku janji, ini tidak akan lama. Aku akan menjaga kamu, eum!” sekali lagi Aga menyakinkan, “aku janji, setelah aku melakukan ini, besok kamu aku antarkan pulang,” sebuah ucapan yang tidak pernah disangka oleh Santi. Dia bahkan belum berpikir kamu kembali ke kediaman Abdinegara. Semua pengkhianatan yang dilakukan Bimo, benar-benar membuat hatinya
Setelah menikah dia juga hanya menghabiskan waktu bersamanya. Jarang keluar rumah jika tidak dengan Bimo.“Aga!” Santi menarik lengannya, laki-laki bertubuh besar itu menoleh.“Aku mengantuk, ini apa akan lama?” belum mereka melangkah masuk ke tempat tersebut, Santi sudah mengajukan protes. Santi juga teringat kalau dia belum mengisi daya baterai ponselnya. Meski dia tidak yakin ada yang mencarinya, tapi dia yakin Bimo pasti mencari juga menghubungi.Santi hanya tidak ingin masalah yang sedang dia jalani semakin berlarut-larut. Dia tidak ingin lari dari kenyataan.“Kau bisa tidur nanti sambil memelukku. Aku janji tidak akan mengganggu. Karena aku juga mengingatkan kamu melakukan hal yang sama denganku,” ujarnya, Santi mengernyitkan keningnya lagi.“Aku nggak mau melakukan hal yang aneh-aneh!” Kedua tangannya langsung menyilang di dada, Baga malah terkekeh pelan, “rupanya kamu tahu juga aku akan melakukan hal yang serius dengan itu!” Baga menunjuk dengan gerakan bibir kearah dadanya.
“Aku ambil satu dulu ya!” bisik Santi, dia ingin sekali langsung memakainya, tapi saat tangannya ingin mengambil, Aga berkata, “kamu yakin?” Santi mengerutkan keningnya.“Kalau kamu ambil sekarang, itu artinya kamu sedang memberitahu yang lain kalau kita baru saja mmm,” Baga tidak melanjutkan ucapannya, dia menatap Santi yang masih mengerutkan kening.“Agh!” Santi membekap mulutnya dan menggeleng.“Aku benar-benar tidak keberatan kok. Pilih saja, mana yang mau kamu ambil duluan?” tantang Baga. Santi masih menggeleng keras.“Hah, bodoh banget sih aku. Aku malah nggak mikir sampai sana. Dasar Santi bodoh. Kamu benar-benar bodoh. Sudah dijebak, ditipu saja nggak sadar,” ejek Santi memaki dirinya sendiri dalam hati.“Agh! Aku nggak mau ambil. Nggak jadi ambil!” tangannya mengibas-ngibas, mengurungkan niat mengambil barang tadi.Baga tersenyum melihat tingkah Santi yang menurutnya itu lucu juga menggemaskan. “Ambillah, aku tidak mungkin meledek untuk hal itu. Itu hanya sekedar candaan ya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.