Chapter: Bab 51. Alasan Arra“Gak bisa gitu, Van,” ujar Arra pelan. Ia menggenggam tangan Revan yang berada di atas punggung tangannya, sementara tangan kanannya tetap fokus menyetir mobil.“Kita belum menikah. Kita gak bisa tinggal serumah. Apa kata orang nanti? Dan Rafa bagaimana? Orang tua kamu juga,” lanjutnya lirih.Arra sangat tahu diri. Bukan berarti ia menolak Revan. Namun tinggal bersama seorang pria di apartemen mewah—terlebih saat hubungan mereka baru saja membaik—terasa terlalu mencolok. Ia juga memikirkan reaksi orang tua Revan, terutama Mommy-nya, yang pasti tak akan tinggal diam. Dan yang paling membuatnya gelisah, kenyamanan Rafa.“Persetan dengan omongan orang, Arra!” suara Revan meninggi, meski matanya justru memancarkan luka yang dalam. “Aku sudah kehilangan lima tahun yang berharga. Aku gak mau kehilangan satu menit pun lagi.”Ia menelan napas, suaranya bergetar. “Kamu mau Rafa terus-terusan bertanya siapa ayahnya? Kamu mau dia iri setiap lihat temannya dijemput ayahnya? Kamu tega?”Arra terdi
Last Updated: 2026-01-30
Chapter: Bab 50. Tinggal bersamaMalam semakin larut, namun Revan tak kunjung datang. Arra sudah siap untuk pulang; bahkan Rafa, yang sejak tadi menunggu dengan penuh antusias, kini tertidur lelap. Ada rasa tidak enak yang mengganjal di hati Arra—ia merasa telah merepotkan pria itu.Sebenarnya, Arra sempat berniat pulang berdua dengan Rafa menggunakan taksi online. Namun Revan melarangnya dan meminta Arra menunggu sebentar, dengan alasan ia sedang mengurus urusan pribadi.Arra menghela napas pelan, jemarinya terangkat memijat pelipis yang mulai terasa berdenyut. Dinda dan Niko sudah lebih dulu pulang. Sebelum pergi, Arra sempat menceritakan pada Dinda tentang hubungannya dengan Revan dan meminta sahabatnya itu untuk merahasiakannya. Untung saja, Dinda mengerti.Tiba-tiba, pintu ruang rawat Rafa terbuka. Revan muncul dengan penampilan yang sedikit kusut. Seketika rasa bersalah Arra kian menguat. Siapa tahu Revan sebenarnya sedang sibuk bekerja, dan kehadirannya justru menghambat. Seharusnya tadi ia bersikeras pulang n
Last Updated: 2026-01-22
Chapter: Bab 49. Arra mengaku ke DindaSetibanya di basement, Revan melihat Kevin berdiri di depan mobil sambil mengamati sekitar. Begitu melihat Revan keluar dari pintu rumah sakit, Kevin segera menghampirinya.“Selanjutnya, Pak?”“Kita belanja kebutuhan Arra dan Rafa. Hari ini hari terakhir Rafa dirawat. Saya akan membawa mereka ke apartemen saya, dan mulai hari ini kami bertiga tinggal bersama,” ujar Revan tegas.Ia sudah mantap mengambil keputusan itu. Arra dan putranya akan tinggal bersamanya. Tapi sebelum itu, ia harus membeli semua kebutuhan mereka terlebih dahulu. Setelahnya, ia akan membujuk Arra secara perlahan.“Baik, Pak. Kita pergi sekarang?”“Iya. Kali ini kita belanja banyak. Baju wanita, mainan anak, dan semua yang dibutuhkan.”“Siap, Pak.”Kevin membuka pintu penumpang dan mempersilakan Revan masuk, lalu segera membawa mobil menuju pusat perbelanjaan.***“Astaga, Rafa! Kamu nggak apa-apa, kan?!” teriak Dinda histeris. Ia baru saja datang untuk menjenguk “keponakan tersayang”-nya. Meski bukan keponakan kan
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Bab 48. Kebenaran di atas kertasKertas di tangan Revan bergetar. Lututnya lemas, memaksanya jatuh terduduk di kursi yang tadi diduduki Gunawan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Benar. Selama ini instingnya tidak keliru.Rafa adalah anaknya—darah dagingnya sendiri.Dalam dua detik pertama, Revan merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban ribuan ton terangkat dari pundaknya. Ia tidak gila. Ia tidak halu. Rafa benar-benar putranya.Namun detik berikutnya, gelombang emosi lain menghantam jauh lebih keras: rasa bersalah, penyesalan, dan kesedihan yang dalam.Revan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Di dalam kesunyian ruang pribadi Gunawan itu, pertahanan seorang Revan Alendra runtuh total.Bahu tegapnya berguncang hebat. Isak yang selama ini tertahan pecah dari bibirnya, berubah menjadi raungan pilu yang menyayat hati.“Ya Tuhan…” rintihnya di sela tangis.Bayangan lima tahun terakhir berputar di kepalanya seperti sebuah film dokumenter yang kejam.Ia membayangkan Arra hamil sendirian—mungkin muntah-muntah
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Bab 47. HasilKevin: “Hasilnya sudah keluar, Pak. Saya masih di Rumah Sakit Cipto. Saya tunggu di sini. Kata Dokter Gunawan, beliau ingin bertemu Bapak secara langsung.”Revan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Saatnya telah tiba. Ia tahu persis alasan Gunawan ingin menemuinya. Pria itu pasti bertanya-tanya—bagaimana mungkin Revan memiliki seorang anak, sementara ia belum menikah dan bahkan belum pernah menyebarkan undangan pernikahan.Revan berdiri, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin, topeng seorang CEO yang selalu ia kenakan saat menghadapi krisis perusahaan.“Arra,” panggil Revan.Arra menoleh sambil meletakkan piring buahnya. “Ya, Van? Kenapa?”“Aku harus ke perusahaan sebentar. Kevin bilang ada berkas kontrak yang harus aku tanda tangani sekarang juga. Urgent,” kata Revan lancar, berbohong tanpa ragu.“Oh, iya, Van. Silakan. Kamu pasti sibuk sekali,” ucap Arra dengan nada bersalah. “Maaf ya, gara-gara nemenin kita di sini ka
Last Updated: 2026-01-17
Chapter: Bab 46. Menunggu hasilRevan kembali duduk di kursi di samping ranjang Rafa. Jantungnya masih berdegup kencang, sisa adrenalin dari kejadian tadi. Ia menatap Rafa yang kini tampak tenang, asyik menonton kartun di televisi dinding.“Om, tadi temennya Om bawa makanan apa?” tanya Rafa tanpa mengalihkan pandangan dari layar.“Bubur ayam spesial buat kita bertiga, sama kopi buat Om,” jawab Revan. Suaranya sudah kembali normal.Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Rasa bersalah perlahan merayap di dadanya karena melakukan semua ini tanpa sepengetahuan Arra. Jika Arra tahu ia mengambil sampel Rafa diam-diam, perempuan itu pasti marah besar. Seolah-olah Revan sedang berusaha merebut anaknya.Namun Revan tak punya pilihan.Bayangan wajah mommy-nya kemarin kembali terlintas. Tamparan itu. Tatapan penuh kebencian saat Mirna menyerang Arra tanpa ampun. Ia tahu, mommy-nya tidak akan berhenti. Jika suatu hari Revan mengakui Rafa sebagai anaknya di hadapan keluarga besar Alendra, Mirna pasti akan menyangkal habis-habi
Last Updated: 2026-01-16
Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya
Dalam novel aslinya, Valeriana de Vallas adalah wanita antagonis yang mati dipenggal karena meracuni kekasih Putra Mahkota. Suaminya, Duke Kael, pria yang diam-diam mencintainya, dituduh melakukan pemberontakan dan berakhir bunuh diri karena gagal melindungi Valeriana.
Mengetahui akhir tragis itu, aku—Kirana, seorang gadis modern yang kini merasuki tubuh Valeriana—memutuskan satu hal: Persetan dengan Pangeran! Misi utamaku sekarang adalah pulang, memeluk suamiku yang tampan, dan mencegah kematiannya.
Namun, mengubah takdir tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat aku mulai bersikap manis pada Kael dan menyelidiki dalang di balik “pemberontakan” itu, Pangeran Arthur malah mulai menaruh perhatian padaku.
Bisakah aku sebagai Valeriana membersihkan nama Kael sebelum tanggal eksekusi tiba, sementara musuh dalam selimut mulai mengincar nyawanya?
Read
Chapter: Bab 285. Keberangkatan KaelTiga hari berlalu sejak pertemuan darurat di istana. Selama waktu itu, Kael hampir tidak pernah benar-benar beristirahat. Siang dan malam dihabiskannya bersama Kaisar serta para petinggi militer untuk menyusun strategi terbaik menghadapi serangan Kerajaan Ferros yang terus mendesak wilayah selatan. Setelah melalui berbagai perhitungan dan pertimbangan yang panjang, keputusan itu akhirnya diambil.Kael de Vallas akan kembali memimpin pasukan.Bukan sebagai Jenderal Kekaisaran.Melainkan sebagai Duke Vallas yang memilih mengangkat pedangnya sekali lagi demi melindungi rakyat Arcelia.Sebelum keberangkatannya, Kael memanggil seluruh penghuni utama Kediaman Vallas untuk berkumpul di ruang tamu. Lucas datang lebih dahulu, disusul Anna, kemudian Tabib Pym yang berjalan pelan dengan wajah yang tampak jauh lebih muram dibanding hari-hari sebelumnya.Setelah semua berkumpul, Kael berdiri di hadapan mereka dengan pakaian perang yang belum sepenuhnya dikenakan. Tatapannya menyapu satu per satu w
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 284. Kebohongan Valeriana 2Malam berlalu dalam keheningan yang terasa terlalu rapuh untuk disentuh. Di dalam kamar utama Kediaman Vallas, cahaya remang dari lilin minyak menari pelan di dinding, sementara Valeriana sama sekali tidak mampu memejamkan matanya meski tubuhnya telah terasa begitu lelah.Di sisinya, Kael akhirnya tertidur setelah berhari-hari menahan begitu banyak beban di pundaknya. Napas pria itu terdengar dalam dan teratur, meskipun sesekali dahinya masih berkerut seolah bahkan di dalam tidurnya ia tetap memikirkan perang, kekaisaran, dan keluarga kecil yang begitu ingin ia lindungi.Valeriana memandang wajah itu cukup lama.Wajah yang selama ini selalu berdiri di hadapannya setiap kali bahaya datang. Wajah seorang pria yang tidak pernah ragu menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai jika itu berarti Valeriana tetap aman.Perlahan, Valeriana mengangkat tangannya dan menyapu beberapa helai rambut Kael yang jatuh menutupi dahinya."Maafkan aku..." bisiknya sekali lagi. Bibirnya bergetar. "Aku tidak
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bab 283. Kebohongan ValerianaValeriana perlahan memejamkan matanya. Dadanya terasa semakin sesak setiap kali mengingat semua yang baru saja dikatakan Kael. Kini ia benar-benar memahami bahwa pria itu tidak sedang bimbang. Tidak sedang mencari alasan. Kael telah mengambil keputusan yang tidak akan berubah, bahkan jika seluruh kekaisaran datang berlutut memohon di hadapannya.Dan justru karena itulah, sebuah keputusan lain perlahan tumbuh di dalam hati Valeriana. Keputusan yang sejak tadi berusaha ia abaikan. Keputusan yang perlahan terasa semakin jelas.Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka matanya kembali. Bibirnya membentuk senyum yang begitu tipis, nyaris tidak terlihat, namun cukup untuk menyembunyikan gejolak yang sedang mengoyak hatinya."Suamiku..."Kael yang masih menggenggam tangannya langsung mengangkat wajah."Ada apa?"Valeriana menatapnya dengan lembut."Aku belum sempat memberitahumu sesuatu."Alis Kael langsung berkerut."Apa?""Tadi siang—" Valeriana berhenti sejenak, seolah sedang meng
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Bab 282. Ketakutan seorang suamiKael terdiam cukup lama setelah selesai menceritakan keadaan di wilayah selatan. Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan yang berat, sementara suara kayu yang terbakar di dalam perapian sesekali terdengar berderak pelan, menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian di antara mereka.Valeriana menundukkan pandangannya perlahan ke arah tangan mereka yang masih saling bertaut di atas selimut. Jari-jari Kael menggenggam tangannya begitu erat, hingga hampir terasa seolah pria itu takut dirinya akan menghilang jika ia melepaskannya walau hanya sesaat.Beberapa saat berlalu sebelum Valeriana akhirnya menarik napas panjang."Suamiku..."Kael mengangkat wajahnya perlahan. Entah mengapa, sejak mendengar suara itu, dadanya tiba-tiba terasa menegang oleh firasat yang tidak ia sukai."Aku ingin kau menerima permintaan Yang Mulia."Kalimat itu membuat sorot mata Kael berubah seketika."Apa?"Ia menatap istrinya seolah tidak yakin telah mendengar dengan benar. "Itu tidak mungkin, sayang.
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Bab 281. Panggilan dari istanaMereka bahkan belum sempat melanjutkan pembicaraan yang menggantung di udara ketika suara ketukan keras terdengar dari balik pintu ruang kerja.Tok.Tok.Tok.Pintu segera terbuka, memperlihatkan Lucas yang masuk dengan napas sedikit memburu, sesuatu yang sangat jarang terlihat pada pria yang biasanya selalu tenang itu."Tuan."Kael segera menoleh dari tempatnya berdiri di dekat jendela."Ada apa?"Lucas menelan ludah sebelum menjawab."Ada utusan kerajaan yang datang dengan sangat tergesa-gesa."Ia berhenti sejenak."Yang Mulia Kaisar meminta Tuan segera datang ke istana."Kael mengernyit pelan."Sekarang?""Iya."Lucas menganggukkan kepala."Katanya keadaan darurat."6t---Kurang dari satu jam kemudian, kereta keluarga Vallas telah memasuki halaman utama istana kekaisaran.Namun suasana yang menyambut mereka jauh berbeda dari biasanya.Tidak ada ketenangan.Tidak ada kesunyian khas bangunan megah yang selama ini menjadi pusat pemerintahan kekaisaran.Para pengawal terlihat berlari
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: Bab 280. Sindrom kehabisan KehidupanBeberapa minggu berlalu jauh lebih cepat daripada yang mereka sadari. Musim perlahan kembali berganti, membawa perubahan kecil yang terlihat jelas di seluruh wilayah utara. Udara pagi yang sebelumnya masih menyisakan kesejukan khas musim semi kini mulai terasa lebih hangat, sementara bunga-bunga di taman Kediaman Vallas telah bermekaran sepenuhnya, memenuhi halaman dengan warna-warna lembut yang menenangkan mata. Dedaunan muda bergoyang perlahan setiap kali angin berembus melewati pepohonan, menciptakan suara gemerisik pelan yang biasanya mampu menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya.Namun di dalam Kediaman Vallas sendiri, seluruh perhatian hanya tertuju pada satu orang.Valeriana.Usia kandungannya kini telah memasuki bulan kesembilan. Perutnya telah membesar dengan sempurna, menjadi bukti nyata dari kehidupan kecil yang selama berbulan-bulan tumbuh dengan tenang di dalam dirinya. Namun di balik kebahagiaan yang seharusnya menyertai hari-hari menjelang kelahiran itu, kondisi tu
Last Updated: 2026-07-04