Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya
Dalam novel aslinya, Valeriana de Vallas adalah wanita antagonis yang mati dipenggal karena meracuni kekasih Putra Mahkota. Suaminya, Duke Kael, pria yang diam-diam mencintainya, dituduh melakukan pemberontakan dan berakhir bunuh diri karena gagal melindungi Valeriana.
Mengetahui akhir tragis itu, aku—Kirana, seorang gadis modern yang kini merasuki tubuh Valeriana—memutuskan satu hal: Persetan dengan Pangeran! Misi utamaku sekarang adalah pulang, memeluk suamiku yang tampan, dan mencegah kematiannya.
Namun, mengubah takdir tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat aku mulai bersikap manis pada Kael dan menyelidiki dalang di balik “pemberontakan” itu, Pangeran Arthur malah mulai menaruh perhatian padaku.
Bisakah aku sebagai Valeriana membersihkan nama Kael sebelum tanggal eksekusi tiba, sementara musuh dalam selimut mulai mengincar nyawanya?
Read
Chapter: Bab 100. Terima kasih, PahlawankuSisa para bandit mulai panik. Beberapa dari mereka saling berpandangan, lalu tanpa aba-aba mencoba kabur menuju ujung gang. Sepatu mereka menghantam batu dengan langkah terburu-buru.Namun mereka bahkan belum sempat berlari jauh. Bayangan-bayangan hitam tiba-tiba meluncur turun dari atap di sekeliling gang. Empat sosok berjubah gelap mendarat hampir tanpa suara.Shadow Guard — Pasukan bayangan.Gerakan mereka cepat, presisi, dan mematikan. Pedang mereka berkilat seperti kilatan cahaya di bawah sinar matahari. Dalam hitungan detik, semuanya berakhir. Bandit-bandit yang mencoba melarikan diri sudah terjatuh ke tanah, beberapa dengan tangan dipelintir ke belakang, beberapa lainnya sudah terikat. Tak ada yang berhasil lolos.Sementara itu, para prajurit Kael yang sebelumnya ditahan segera dibebaskan. Mereka bangkit dengan wajah penuh kemarahan, langsung membalikkan keadaan. Sekarang gantian. Para bandit itu yang menjadi tahanan.Gang sempit itu kembali sunyi.Hanya tersisa suara napas ber
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bab 99. Saat Duke turun tanganNama itu seolah memukul udara di gang sempit itu.Suasana yang sebelumnya hanya dipenuhi derap napas tegang tiba-tiba berubah. Beberapa bandit yang tadinya berdiri kaku langsung menoleh ke arah atap dengan wajah yang menegang. Mata mereka menyipit, seakan berharap apa yang mereka dengar barusan hanyalah kesalahpahaman.Namun nama itu terlalu dikenal untuk diabaikan.Mungkin mereka belum pernah melihat Duke Vallas secara langsung. Tetapi kisah tentangnya telah beredar di seluruh ibukota—dibisikkan di kedai minum, diceritakan oleh para prajurit yang kembali dari medan perang, dan ditakuti oleh mereka yang pernah berdiri di sisi yang salah dari pedangnya. Tentang jenderal yang tak pernah kalah dalam pertempuran. Tentang bagaimana ia memperlakukan musuh-musuhnya tanpa belas kasihan.Cerita-cerita itu membuat banyak orang merinding. Dan kini nama itu disebut di hadapan mereka. Kael tidak menjawab.Ia hanya berdiri di atas atap, menatap lurus ke arah pria yang masih mencengkeram Valeriana.
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bab 98. Kemarahan Sang DukeDelapan prajurit Vallas yang baru datang langsung terjun ke dalam pertarungan. Baja beradu dengan keras di gang sempit itu, suara benturan pedang menggema di antara dinding batu yang tinggi. Namun meski jumlah mereka bertambah, para bandit bertopeng yang muncul dari segala arah ternyata jauh lebih banyak.Pertarungan menjadi semakin kacau.Valeriana mundur selangkah, napasnya sedikit terengah. Anna di belakangnya ikut mundur, matanya liar mencari jalan keluar. Mereka berdua berusaha menjauh dari keributan itu—mencari celah untuk kabur dan meminta bantuan.Namun sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, dua bayangan tiba-tiba muncul dari belakang. Anna bahkan tidak sempat menyadarinya ketika sebuah tangan kasar menarik tubuhnya dengan keras. Ia terkejut dan kehilangan keseimbangan.“Ah!”Salah satu bandit mendorongnya menjauh tanpa ampun. Tubuh Anna terhempas ke tanah berbatu.Sementara itu, sebelum Valeriana sempat bereaksi, sebuah lengan kuat sudah melilit bahunya dari belakang. Uj
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: Bab 97. Senjata dari Kantong BelanjaJantung Valeriana berdetak keras di dalam dadanya, seolah ingin memecah sunyi malam dengan dentumannya. Namun gadis itu tidak berteriak. Ia juga tidak mundur. Tubuhnya tetap tegak, tatapannya tajam dan tak berkedip saat menatap pria bertopeng di hadapannya.Pria itu mengangkat pedangnya sedikit lebih tinggi. Kilau baja dingin memantulkan cahaya redup dari lentera kereta.“Ikutlah—”Kalimatnya bahkan belum selesai ketika Valeriana bergerak cepat. Tangannya meraih sesuatu di sampingnya—sebuah botol kaca kecil dari toko obat. Salep Kael. Tanpa berpikir panjang, ia mengayunkan tangannya dan melempar botol itu sekuat tenaga.PRANG!Botol kaca itu menghantam wajah pria bertopeng tersebut dengan keras.“ARGH!”Pria itu terhuyung mundur, tangannya refleks memegang wajahnya yang kini dipenuhi pecahan kaca dan salep lengket. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh dari pijakan kereta.Kesempatan itu tidak disia-siakan. Valeriana langsung meraih tangan Anna. “Keluar!”Mereka melompat tu
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: Bab 96. Jebakan di jalan tikusSiang itu, ibu kota Kekaisaran Arcelia terasa cukup terik. Debu-debu jalanan beterbangan setiap kali roda kereta kuda yang berlalu-lalang menggilas permukaan jalan. Valeriana baru saja selesai berbelanja dari butik milik Madame Rose.Di tangannya, ia membawa dua bungkusan kecil. Salah satunya berisi gaun untuk dirinya, sementara yang lain adalah pakaian untuk Kael. Pakaian itu merupakan busana khusus untuk pasangan suami istri, dan Valeriana sudah tidak sabar membayangkan memakainya bersama Kael.Sementara itu, Anna yang duduk di sampingnya juga membawa beberapa kantong berisi sayuran, ikan, daging, keju, dan roti sebagai persediaan makanan di kediaman mereka yang hampir habis. Sebelum mampir ke butik Madame Rose, mereka lebih dulu pergi ke pasar. Mereka juga tidak lupa membeli salep untuk Kael di toko obat.Dua prajurit Kael mengawal perjalanan mereka. Kedua prajurit itu duduk di depan bersama kusir, menemani dan sekaligus berjaga. Tiba-tiba kereta kuda yang ditumpangi Valeriana berh
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Bab 95. Ciuman yang tertundaDi malam hari di kediaman keluarga Vallas, Kael terlihat keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya. Tubuhnya yang kekar dipenuhi bekas luka kering akibat sayatan pedang dan berbagai pertempuran yang telah ia lalui.Namun bagi Valeriana, pemandangan itu justru tampak begitu gagah dan memikat. Ia jauh lebih menyukai tubuh pria yang penuh bekas perjuangan seperti itu dibandingkan tubuh mulus tanpa luka. Baginya, bekas luka itu adalah bukti bahwa suaminya adalah seorang pekerja keras—seorang pria yang melindungi negaranya dengan sepenuh hati. Sayangnya, ada seseorang yang dengan keji memfitnah suaminya.Valeriana mengambil handuk kecil lalu mulai mengusap rambut Kael yang masih sedikit basah. Ia harus sedikit berjinjit karena tubuh Kael yang jauh lebih tinggi darinya.Memahami keinginan istrinya, Kael sedikit membungkuk. Di tangannya terdapat salep untuk mengobati bahu kirinya yang kembali terasa nyeri. Sejak semalam, bahu itu memang sedikit sakit.Ta
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Bab 51. Alasan Arra“Gak bisa gitu, Van,” ujar Arra pelan. Ia menggenggam tangan Revan yang berada di atas punggung tangannya, sementara tangan kanannya tetap fokus menyetir mobil.“Kita belum menikah. Kita gak bisa tinggal serumah. Apa kata orang nanti? Dan Rafa bagaimana? Orang tua kamu juga,” lanjutnya lirih.Arra sangat tahu diri. Bukan berarti ia menolak Revan. Namun tinggal bersama seorang pria di apartemen mewah—terlebih saat hubungan mereka baru saja membaik—terasa terlalu mencolok. Ia juga memikirkan reaksi orang tua Revan, terutama Mommy-nya, yang pasti tak akan tinggal diam. Dan yang paling membuatnya gelisah, kenyamanan Rafa.“Persetan dengan omongan orang, Arra!” suara Revan meninggi, meski matanya justru memancarkan luka yang dalam. “Aku sudah kehilangan lima tahun yang berharga. Aku gak mau kehilangan satu menit pun lagi.”Ia menelan napas, suaranya bergetar. “Kamu mau Rafa terus-terusan bertanya siapa ayahnya? Kamu mau dia iri setiap lihat temannya dijemput ayahnya? Kamu tega?”Arra terdi
Last Updated: 2026-01-30
Chapter: Bab 50. Tinggal bersamaMalam semakin larut, namun Revan tak kunjung datang. Arra sudah siap untuk pulang; bahkan Rafa, yang sejak tadi menunggu dengan penuh antusias, kini tertidur lelap. Ada rasa tidak enak yang mengganjal di hati Arra—ia merasa telah merepotkan pria itu.Sebenarnya, Arra sempat berniat pulang berdua dengan Rafa menggunakan taksi online. Namun Revan melarangnya dan meminta Arra menunggu sebentar, dengan alasan ia sedang mengurus urusan pribadi.Arra menghela napas pelan, jemarinya terangkat memijat pelipis yang mulai terasa berdenyut. Dinda dan Niko sudah lebih dulu pulang. Sebelum pergi, Arra sempat menceritakan pada Dinda tentang hubungannya dengan Revan dan meminta sahabatnya itu untuk merahasiakannya. Untung saja, Dinda mengerti.Tiba-tiba, pintu ruang rawat Rafa terbuka. Revan muncul dengan penampilan yang sedikit kusut. Seketika rasa bersalah Arra kian menguat. Siapa tahu Revan sebenarnya sedang sibuk bekerja, dan kehadirannya justru menghambat. Seharusnya tadi ia bersikeras pulang n
Last Updated: 2026-01-22
Chapter: Bab 49. Arra mengaku ke DindaSetibanya di basement, Revan melihat Kevin berdiri di depan mobil sambil mengamati sekitar. Begitu melihat Revan keluar dari pintu rumah sakit, Kevin segera menghampirinya.“Selanjutnya, Pak?”“Kita belanja kebutuhan Arra dan Rafa. Hari ini hari terakhir Rafa dirawat. Saya akan membawa mereka ke apartemen saya, dan mulai hari ini kami bertiga tinggal bersama,” ujar Revan tegas.Ia sudah mantap mengambil keputusan itu. Arra dan putranya akan tinggal bersamanya. Tapi sebelum itu, ia harus membeli semua kebutuhan mereka terlebih dahulu. Setelahnya, ia akan membujuk Arra secara perlahan.“Baik, Pak. Kita pergi sekarang?”“Iya. Kali ini kita belanja banyak. Baju wanita, mainan anak, dan semua yang dibutuhkan.”“Siap, Pak.”Kevin membuka pintu penumpang dan mempersilakan Revan masuk, lalu segera membawa mobil menuju pusat perbelanjaan.***“Astaga, Rafa! Kamu nggak apa-apa, kan?!” teriak Dinda histeris. Ia baru saja datang untuk menjenguk “keponakan tersayang”-nya. Meski bukan keponakan kan
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Bab 48. Kebenaran di atas kertasKertas di tangan Revan bergetar. Lututnya lemas, memaksanya jatuh terduduk di kursi yang tadi diduduki Gunawan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Benar. Selama ini instingnya tidak keliru.Rafa adalah anaknya—darah dagingnya sendiri.Dalam dua detik pertama, Revan merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban ribuan ton terangkat dari pundaknya. Ia tidak gila. Ia tidak halu. Rafa benar-benar putranya.Namun detik berikutnya, gelombang emosi lain menghantam jauh lebih keras: rasa bersalah, penyesalan, dan kesedihan yang dalam.Revan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Di dalam kesunyian ruang pribadi Gunawan itu, pertahanan seorang Revan Alendra runtuh total.Bahu tegapnya berguncang hebat. Isak yang selama ini tertahan pecah dari bibirnya, berubah menjadi raungan pilu yang menyayat hati.“Ya Tuhan…” rintihnya di sela tangis.Bayangan lima tahun terakhir berputar di kepalanya seperti sebuah film dokumenter yang kejam.Ia membayangkan Arra hamil sendirian—mungkin muntah-muntah
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Bab 47. HasilKevin: “Hasilnya sudah keluar, Pak. Saya masih di Rumah Sakit Cipto. Saya tunggu di sini. Kata Dokter Gunawan, beliau ingin bertemu Bapak secara langsung.”Revan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Saatnya telah tiba. Ia tahu persis alasan Gunawan ingin menemuinya. Pria itu pasti bertanya-tanya—bagaimana mungkin Revan memiliki seorang anak, sementara ia belum menikah dan bahkan belum pernah menyebarkan undangan pernikahan.Revan berdiri, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin, topeng seorang CEO yang selalu ia kenakan saat menghadapi krisis perusahaan.“Arra,” panggil Revan.Arra menoleh sambil meletakkan piring buahnya. “Ya, Van? Kenapa?”“Aku harus ke perusahaan sebentar. Kevin bilang ada berkas kontrak yang harus aku tanda tangani sekarang juga. Urgent,” kata Revan lancar, berbohong tanpa ragu.“Oh, iya, Van. Silakan. Kamu pasti sibuk sekali,” ucap Arra dengan nada bersalah. “Maaf ya, gara-gara nemenin kita di sini ka
Last Updated: 2026-01-17
Chapter: Bab 46. Menunggu hasilRevan kembali duduk di kursi di samping ranjang Rafa. Jantungnya masih berdegup kencang, sisa adrenalin dari kejadian tadi. Ia menatap Rafa yang kini tampak tenang, asyik menonton kartun di televisi dinding.“Om, tadi temennya Om bawa makanan apa?” tanya Rafa tanpa mengalihkan pandangan dari layar.“Bubur ayam spesial buat kita bertiga, sama kopi buat Om,” jawab Revan. Suaranya sudah kembali normal.Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Rasa bersalah perlahan merayap di dadanya karena melakukan semua ini tanpa sepengetahuan Arra. Jika Arra tahu ia mengambil sampel Rafa diam-diam, perempuan itu pasti marah besar. Seolah-olah Revan sedang berusaha merebut anaknya.Namun Revan tak punya pilihan.Bayangan wajah mommy-nya kemarin kembali terlintas. Tamparan itu. Tatapan penuh kebencian saat Mirna menyerang Arra tanpa ampun. Ia tahu, mommy-nya tidak akan berhenti. Jika suatu hari Revan mengakui Rafa sebagai anaknya di hadapan keluarga besar Alendra, Mirna pasti akan menyangkal habis-habi
Last Updated: 2026-01-16