Chapter: Bab 260. Valeriana mimisanWajah Valeriana seketika memucat.Kalimat itu menghantam kesadarannya begitu keras, seperti sambaran petir di tengah siang yang tenang—mendadak, memekakkan, dan meninggalkan getaran dingin yang menjalar hingga ke ujung jarinya.Kembalilah ke duniamu.Napas Valeriana tercekat.Nenek itu tahu.Entah bagaimana caranya, wanita tua itu mengetahui sesuatu yang bahkan tidak pernah berani ia ungkapkan kepada siapa pun. Kecuali Kael.Dadanya mendadak terasa sesak. Jantungnya berdetak tidak beraturan, seolah mencoba keluar dari rongga dadanya. Ribuan pertanyaan berdesakan di kepalanya dalam waktu bersamaan.Ia ingin bertanya.Ingin menarik tangan keriput nenek itu dan memaksanya menjelaskan semuanya. Siapa dirinya sebenarnya? Dari mana ia mengetahui rahasia itu? Dan apa maksud dari ucapan menyeramkan tentang pengorbanan?Namun sebelum Valeriana sempat membuka mulut, seseorang melintas di antara mereka sambil membawa keranjang besar berisi sayuran. Tubuh tinggi pria itu menutupi pandangannya han
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 259. Seseorang yang Mengetahui KebenaranPagi itu, Kael akhirnya tertidur cukup lama setelah dipaksa meminum obat oleh Valeriana.Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar menerangi wajah pria itu dengan lembut. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, napasnya terdengar lebih teratur. Demamnya sudah mulai turun, dan warna wajahnya tidak lagi sepucat sebelumnya.Menurut Tabib Pym, tubuh Kael sedang bekerja keras untuk memulihkan diri. Selama demamnya tidak kembali naik dan lukanya tidak terbuka lagi, ia harus dibiarkan beristirahat sebanyak mungkin.Valeriana sebenarnya ingin tetap berada di sisi tempat tidur sepanjang hari. Duduk di sana, memastikan Kael baik-baik saja setiap kali membuka mata.Namun Anna mengingatkannya bahwa persediaan obat mulai menipis. Kain bersih perlu diganti. Madu harus dibeli. Begitu pula beberapa bahan makanan segar yang direkomendasikan Tabib Pym untuk membantu pemulihan Kael.Awalnya Valeriana berniat menyuruh pelayan saja. Tetapi setelah berhari-hari dikelilingi sidang, pengkhi
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 258. Mencari jawaban bersamaValeriana kembali duduk di sisi tempat tidur. Jemarinya masih bertaut dengan jemari Kael ketika ia mulai berbicara.“Aku juga tidak tahu banyak. Di kantor, orang-orang hanya membicarakannya sebagai rumor. Tidak ada yang benar-benar tahu kebenarannya.”Kael menyimak dengan tenang. “Apakah orang yang mirip Lucas itu setia kepada bosnya?”Valeriana berpikir sejenak.Bayangan pria itu kembali muncul di benaknya. Sosok yang selalu berjalan cepat di lorong kantor, wajah tenang yang hampir tidak pernah menunjukkan emosi, dan kemampuan luar biasa untuk membuat seluruh perusahaan tetap berjalan meskipun pemimpinnya tidak pernah terlihat.“Kelihatannya begitu,” jawabnya akhirnya. “Dia selalu menjaga perusahaan tetap berjalan. Tegas, disiplin, dan tidak banyak bicara. Tapi semua orang menghormatinya.”“Seperti Lucas?”Valeriana tersenyum kecil.“Iya. Karena itu aku bilang mirip.”Kael terdiam beberapa saat. Tatapannya tampak menerawang, seolah sedang menyusun sesuatu di dalam pikirannya. Lalu ia
Terakhir Diperbarui: 2026-06-09
Chapter: Bab 257. Masih penasaranLucas melirik Kael sekilas.Tatapan itu berlangsung singkat, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan keraguannya. Seolah-olah ia sedang mempertimbangkan apakah laporan semacam ini pantas disampaikan di depan seorang pasien yang baru saja berkali-kali diperingatkan agar tidak memikirkan urusan istana.Valeriana menangkap makna di balik tatapan tersebut.“Ringkas saja.”Lucas segera menundukkan kepala.“Marquis Gosh akan diperiksa secara resmi pagi ini. Kediamannya sudah disegel. Beberapa dokumen ditemukan di ruang bawah tanah. Ada daftar pembayaran yang mengarah kepada pejabat pajak dan beberapa pengawas gudang.”Belum selesai Lucas berbicara, mata Kael sudah tampak lebih fokus daripada sebelumnya.Valeriana langsung menoleh tajam ke arahnya.“Jangan mulai.”“Aku hanya mendengarkan, sayang.”“Kau mendengar sambil berpikir.”“Aku rasa itu memang sangat sulit dicegah.”Nada datarnya membuat Valeriana hampir memutar mata. Sementara itu, Lucas melanjutkan laporannya dengan hati-hati.“Pangera
Terakhir Diperbarui: 2026-06-08
Chapter: Bab 256. Tidak boleh bekerjaKael mendadak diam. Di dekat pintu, Lucas memejamkan mata sesaat seperti seseorang yang sudah menebak arah percakapan ini sejak awal.Anna tampak berusaha keras menahan senyum.Sementara itu, Valeriana menatap Kael dengan tatapan yang terlalu lembut untuk disebut marah, tetapi terlalu tegas untuk diabaikan.“Suamiku.”Kael menghela napas panjang.“Aku hanya ingin membaca laporan singkat.”“Tidak boleh.”“Hanya sedikit, sayang.”“Tidak. Tetap tidak.”“Lucas bisa membacakannya.”“Tetap saja tidak.”Lucas menundukkan kepala dengan sopan, tetapi sudut bibirnya bergerak samar.Kael menatap istrinya seperti seorang jenderal yang sedang mencari celah dalam pertahanan musuh. Namun setelah melihat wajah Valeriana, ia tampaknya sadar bahwa pertempuran kali ini mustahil dimenangkan.“Baik, Nyonya Duchess,” ucapnya akhirnya.Anna hampir gagal menahan senyum lebarnya. Lucas pun menatap Valeriana dengan kekaguman yang sangat samar, tetapi cukup jelas untuk disadari.Saat itulah Valeriana tiba-tiba
Terakhir Diperbarui: 2026-06-08
Chapter: Bab 255. Tidak sendirian lagi"Iya. Nasi yang dimasak lagi dengan bumbu, telur, kecap, kadang ditambah ayam atau sosis."Kael mengernyit samar. Ada satu kata yang terdengar asing baginya."Sosis?""Daging yang dihaluskan lalu dibentuk panjang."Penjelasan itu membuat Kael menyimak dengan sungguh-sungguh. Seolah Valeriana sedang menceritakan sesuatu yang berasal dari negeri yang sama sekali berbeda dari dunia yang ia kenal."Apakah rasanya enak?"Senyum kecil muncul di wajah Valeriana."Sangat enak. Apalagi kalau dimakan saat malam setelah pulang kerja.""Pulang kerja dalam keadaan lelah?"Valeriana mengangguk pelan."Iya. Kadang aku membelinya di pinggir jalan."Tatapan Kael langsung terangkat."Di pinggir jalan?"Barulah Valeriana teringat bahwa bagi seorang duke, membeli makanan di pinggir jalan mungkin terdengar sangat aneh."Di duniaku itu biasa. Ada pedagang yang memasak makanan di gerobak kecil. Orang bisa membeli langsung.""Apakah aman?""Tidak selalu," jawab Valeriana jujur.Seketika sorot mata Kael berub
Terakhir Diperbarui: 2026-06-08
Chapter: Bab 51. Alasan Arra“Gak bisa gitu, Van,” ujar Arra pelan. Ia menggenggam tangan Revan yang berada di atas punggung tangannya, sementara tangan kanannya tetap fokus menyetir mobil.“Kita belum menikah. Kita gak bisa tinggal serumah. Apa kata orang nanti? Dan Rafa bagaimana? Orang tua kamu juga,” lanjutnya lirih.Arra sangat tahu diri. Bukan berarti ia menolak Revan. Namun tinggal bersama seorang pria di apartemen mewah—terlebih saat hubungan mereka baru saja membaik—terasa terlalu mencolok. Ia juga memikirkan reaksi orang tua Revan, terutama Mommy-nya, yang pasti tak akan tinggal diam. Dan yang paling membuatnya gelisah, kenyamanan Rafa.“Persetan dengan omongan orang, Arra!” suara Revan meninggi, meski matanya justru memancarkan luka yang dalam. “Aku sudah kehilangan lima tahun yang berharga. Aku gak mau kehilangan satu menit pun lagi.”Ia menelan napas, suaranya bergetar. “Kamu mau Rafa terus-terusan bertanya siapa ayahnya? Kamu mau dia iri setiap lihat temannya dijemput ayahnya? Kamu tega?”Arra terdi
Terakhir Diperbarui: 2026-01-30
Chapter: Bab 50. Tinggal bersamaMalam semakin larut, namun Revan tak kunjung datang. Arra sudah siap untuk pulang; bahkan Rafa, yang sejak tadi menunggu dengan penuh antusias, kini tertidur lelap. Ada rasa tidak enak yang mengganjal di hati Arra—ia merasa telah merepotkan pria itu.Sebenarnya, Arra sempat berniat pulang berdua dengan Rafa menggunakan taksi online. Namun Revan melarangnya dan meminta Arra menunggu sebentar, dengan alasan ia sedang mengurus urusan pribadi.Arra menghela napas pelan, jemarinya terangkat memijat pelipis yang mulai terasa berdenyut. Dinda dan Niko sudah lebih dulu pulang. Sebelum pergi, Arra sempat menceritakan pada Dinda tentang hubungannya dengan Revan dan meminta sahabatnya itu untuk merahasiakannya. Untung saja, Dinda mengerti.Tiba-tiba, pintu ruang rawat Rafa terbuka. Revan muncul dengan penampilan yang sedikit kusut. Seketika rasa bersalah Arra kian menguat. Siapa tahu Revan sebenarnya sedang sibuk bekerja, dan kehadirannya justru menghambat. Seharusnya tadi ia bersikeras pulang n
Terakhir Diperbarui: 2026-01-22
Chapter: Bab 49. Arra mengaku ke DindaSetibanya di basement, Revan melihat Kevin berdiri di depan mobil sambil mengamati sekitar. Begitu melihat Revan keluar dari pintu rumah sakit, Kevin segera menghampirinya.“Selanjutnya, Pak?”“Kita belanja kebutuhan Arra dan Rafa. Hari ini hari terakhir Rafa dirawat. Saya akan membawa mereka ke apartemen saya, dan mulai hari ini kami bertiga tinggal bersama,” ujar Revan tegas.Ia sudah mantap mengambil keputusan itu. Arra dan putranya akan tinggal bersamanya. Tapi sebelum itu, ia harus membeli semua kebutuhan mereka terlebih dahulu. Setelahnya, ia akan membujuk Arra secara perlahan.“Baik, Pak. Kita pergi sekarang?”“Iya. Kali ini kita belanja banyak. Baju wanita, mainan anak, dan semua yang dibutuhkan.”“Siap, Pak.”Kevin membuka pintu penumpang dan mempersilakan Revan masuk, lalu segera membawa mobil menuju pusat perbelanjaan.***“Astaga, Rafa! Kamu nggak apa-apa, kan?!” teriak Dinda histeris. Ia baru saja datang untuk menjenguk “keponakan tersayang”-nya. Meski bukan keponakan kan
Terakhir Diperbarui: 2026-01-20
Chapter: Bab 48. Kebenaran di atas kertasKertas di tangan Revan bergetar. Lututnya lemas, memaksanya jatuh terduduk di kursi yang tadi diduduki Gunawan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Benar. Selama ini instingnya tidak keliru.Rafa adalah anaknya—darah dagingnya sendiri.Dalam dua detik pertama, Revan merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban ribuan ton terangkat dari pundaknya. Ia tidak gila. Ia tidak halu. Rafa benar-benar putranya.Namun detik berikutnya, gelombang emosi lain menghantam jauh lebih keras: rasa bersalah, penyesalan, dan kesedihan yang dalam.Revan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Di dalam kesunyian ruang pribadi Gunawan itu, pertahanan seorang Revan Alendra runtuh total.Bahu tegapnya berguncang hebat. Isak yang selama ini tertahan pecah dari bibirnya, berubah menjadi raungan pilu yang menyayat hati.“Ya Tuhan…” rintihnya di sela tangis.Bayangan lima tahun terakhir berputar di kepalanya seperti sebuah film dokumenter yang kejam.Ia membayangkan Arra hamil sendirian—mungkin muntah-muntah
Terakhir Diperbarui: 2026-01-19
Chapter: Bab 47. HasilKevin: “Hasilnya sudah keluar, Pak. Saya masih di Rumah Sakit Cipto. Saya tunggu di sini. Kata Dokter Gunawan, beliau ingin bertemu Bapak secara langsung.”Revan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Saatnya telah tiba. Ia tahu persis alasan Gunawan ingin menemuinya. Pria itu pasti bertanya-tanya—bagaimana mungkin Revan memiliki seorang anak, sementara ia belum menikah dan bahkan belum pernah menyebarkan undangan pernikahan.Revan berdiri, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin, topeng seorang CEO yang selalu ia kenakan saat menghadapi krisis perusahaan.“Arra,” panggil Revan.Arra menoleh sambil meletakkan piring buahnya. “Ya, Van? Kenapa?”“Aku harus ke perusahaan sebentar. Kevin bilang ada berkas kontrak yang harus aku tanda tangani sekarang juga. Urgent,” kata Revan lancar, berbohong tanpa ragu.“Oh, iya, Van. Silakan. Kamu pasti sibuk sekali,” ucap Arra dengan nada bersalah. “Maaf ya, gara-gara nemenin kita di sini ka
Terakhir Diperbarui: 2026-01-17
Chapter: Bab 46. Menunggu hasilRevan kembali duduk di kursi di samping ranjang Rafa. Jantungnya masih berdegup kencang, sisa adrenalin dari kejadian tadi. Ia menatap Rafa yang kini tampak tenang, asyik menonton kartun di televisi dinding.“Om, tadi temennya Om bawa makanan apa?” tanya Rafa tanpa mengalihkan pandangan dari layar.“Bubur ayam spesial buat kita bertiga, sama kopi buat Om,” jawab Revan. Suaranya sudah kembali normal.Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Rasa bersalah perlahan merayap di dadanya karena melakukan semua ini tanpa sepengetahuan Arra. Jika Arra tahu ia mengambil sampel Rafa diam-diam, perempuan itu pasti marah besar. Seolah-olah Revan sedang berusaha merebut anaknya.Namun Revan tak punya pilihan.Bayangan wajah mommy-nya kemarin kembali terlintas. Tamparan itu. Tatapan penuh kebencian saat Mirna menyerang Arra tanpa ampun. Ia tahu, mommy-nya tidak akan berhenti. Jika suatu hari Revan mengakui Rafa sebagai anaknya di hadapan keluarga besar Alendra, Mirna pasti akan menyangkal habis-habi
Terakhir Diperbarui: 2026-01-16