Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya
Dalam novel aslinya, Valeriana de Vallas adalah wanita antagonis yang mati dipenggal karena meracuni kekasih Putra Mahkota. Suaminya, Duke Kael, pria yang diam-diam mencintainya, dituduh melakukan pemberontakan dan berakhir bunuh diri karena gagal melindungi Valeriana.
Mengetahui akhir tragis itu, aku—Kirana, seorang gadis modern yang kini merasuki tubuh Valeriana—memutuskan satu hal: Persetan dengan Pangeran! Misi utamaku sekarang adalah pulang, memeluk suamiku yang tampan, dan mencegah kematiannya.
Namun, mengubah takdir tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat aku mulai bersikap manis pada Kael dan menyelidiki dalang di balik “pemberontakan” itu, Pangeran Arthur malah mulai menaruh perhatian padaku.
Bisakah aku sebagai Valeriana membersihkan nama Kael sebelum tanggal eksekusi tiba, sementara musuh dalam selimut mulai mengincar nyawanya?
読む
Chapter: Bab 16. Valeriana tidak datang"Yang Mulia Putra Mahkota,Surat Anda telah saya terima, meskipun kini sudah tidak lagi berwujud. Surat tersebut telah saya bakar.Perihal undangan atas nama “permintaan maaf” itu, dengan segala penyesalan saya terpaksa menolaknya.Kondisi kesehatan saya saat ini menurun drastis akibat syok atas kejadian kemarin. Tabib secara tegas menyarankan saya untuk menjalani istirahat total. Dalam keadaan seperti ini, mustahil bagi saya untuk memenuhi undangan apa pun.Selain itu, sebagai seorang istri yang berbakti, prioritas utama saya sekarang adalah mendampingi dan melayani suami saya, Duke Kael, yang baru saja kembali dari tugas negara. Saya tidak dapat meninggalkan beliau hanya demi urusan yang tidak mendesak.Sampaikan salam saya kepada Nona Elena. Sebagai bentuk perhatian, kelak akan saya kirimkan sebuah gaun baru, sedikit lebih mewah, untuk menggantikan gaun kemarin yang terkena tumpahan teh."— Hormat saya,Duchess Valeriana de VallasValeriana meletakkan pena dengan senyum puas. Ia me
最終更新日: 2026-01-26
Chapter: Bab 15. Surat dari PangeranSiang itu, suasana di Kediaman Duchy Vallas terasa jauh lebih damai dari biasanya. Setelah “Inspeksi Maut” dan pemecatan massal yang dilakukan Valeriana pagi tadi, para pelayan yang tersisa bekerja dengan efisiensi yang mengagumkan. Tak ada lagi bisik-bisik mencurigakan, tak terlihat pula wajah-wajah malas yang bekerja setengah hati. Udara terasa lebih segar, seolah beban negatif yang selama ini menyelimuti kediaman itu ikut terangkat bersama terusirnya Hans dan para anteknya.Valeriana duduk santai di solarium—ruang berdinding kaca yang menghadap langsung ke taman belakang. Di hadapannya tersaji secangkir teh chamomile hangat dan sepiring scone yang masih mengepulkan uap.“Hm, enak,” gumamnya sambil menggigit kue itu. “Ternyata kalau anggaran dapur tidak dikorupsi, rasa kuenya langsung naik kelas.”Ia menyandarkan punggung ke kursi rotan empuk dan meluruskan kakinya di atas bangku kecil. Sensasi nyaman itu membuatnya merasa seperti pensiunan kaya raya yang tengah menikmati masa tua d
最終更新日: 2026-01-25
Chapter: Bab 14. Benteng yang mulai retakTRANG!Benturan logam yang nyaring memecah udara, bergema ke seluruh penjuru ruang latihan indoor kediaman Duchy Vallas. Percikan api kecil sempat menyala sesaat ketika dua bilah pedang saling menghantam dengan kekuatan penuh.“Whoa! Santai, Tuan! Santai!”Lucas terhuyung ke belakang beberapa langkah, napasnya tersengal. Kacamata berbingkai perak melorot hingga ke ujung hidung, sementara keringat mengucur deras dari pelipisnya. Tangan kirinya terangkat memberi isyarat menyerah, sedangkan tangan kanannya yang masih menggenggam pedang latih bergetar hebat, menahan sisa getaran benturan barusan.Di hadapannya, Kael de Vallas berdiri tegak tanpa sedikit pun goyah. Sang Duke sama sekali tidak tampak lelah. Napasnya tetap teratur, kuda-kudanya kokoh seperti pilar, dan mata abu-abunya menatap tajam—setajam ujung pedang yang baru saja diayunkannya. Keringat yang mengalir di leher dan dadanya—terekspos oleh kemeja latihan dengan kancing atas terbuka—alih-alih mengurangi wibawa, justru membuat
最終更新日: 2026-01-25
Chapter: Bab 13. Jarum beracunMelawan rasa takut yang menyesakkan dadanya, Valeriana segera menghampiri Sarah yang masih mengejang hebat. Busa putih keluar dari sudut mulut wanita itu, pemandangan yang membuat siapa pun bergidik. Dengan jelas Valeriana menyadari—Sarah sengaja dibunuh untuk membungkamnya selamanya.Pandangan Valeriana tertuju pada sebuah jarum yang tergeletak di dekat telinga Sarah. Ia refleks hendak mengambilnya, tetapi Anna dengan cepat mencegahnya.“Jangan, Nyonya! Itu beracun! Anda bisa ikut terkena!” teriak Anna panik.Gadis itu segera menarik Valeriana menjauh dari tubuh Sarah yang kini telah berhenti mengejang. Namun busa dari mulutnya masih terus keluar, sementara kedua matanya melotot lebar—seolah ia mati dalam penolakan, tak rela menerima akhir hidupnya.Valeriana terdiam. Benar juga, barusan ia terlalu gegabah.Ia menatap Anna yang tampak sangat khawatir. Gadis itu begitu perhatian, padahal dulu Valeriana asli sering memperlakukannya dengan kasar.“Tolong ambilkan sarung tangan,” perinta
最終更新日: 2026-01-24
Chapter: Bab 12. Pengkhianat di Kediaman VallasValeriana menatap Hans dengan sorot mata tajam. “Ada selisih hampir tujuh puluh persen dari total anggaran yang masuk ke pos biaya lain-lain, ditambah penggelembungan harga bahan makanan,” ucapnya dingin. “Uang itu menguap begitu saja… entah jatuh ke tangan siapa.”Valeriana sangat yakin. Hans tidak mungkin berani melakukan korupsi sebesar itu sendirian. Pasti ada sosok kuat yang berdiri di belakangnya. Kecurigaannya mengarah pada satu nama: Marquis Gosh. Jika benar Hans menggerogoti keuangan kediaman Duke Kael untuk disetorkan pada pria tua bangka itu, maka kelicikannya sungguh luar biasa.Wajah Hans seketika pucat pasi. Lututnya gemetar. Ia ingin membantah, tetapi deretan angka di hadapannya tak memberi celah untuk berbohong.Ia telah meremehkan Valeriana. Menganggap sang Duchess hanya boneka cantik tanpa otak. Ia pikir Valeriana tak akan pernah mau mengurusi rumah tangga bersama Duke Kael, karena gadis itu mencintai Pangeran Arthur dan membenci Kael sepenuh hati. Namun sekarang? Va
最終更新日: 2026-01-24
Chapter: Bab 11. Audit pertamaLima belas menit kemudian, Aula Utama Kediaman Vallas tampak seperti lokasi upacara bendera yang penuh ketegangan.Sekitar lima puluh pelayan berbaris rapi. Ada pelayan kebersihan, tukang kebun yang masih menggenggam gunting rumput, koki dengan topi yang miring, hingga para dayang bagian laundry. Wajah-wajah mereka tegang, keringat dingin mengalir di dahi masing-masing.Di benak mereka hanya berputar satu pertanyaan: kesalahan apa yang telah mereka perbuat hari ini? Siapa yang akan dipecat?Siapa yang akan menjadi sasaran amarah—atau lemparan piring?Di depan barisan itu berdiri Hans, Kepala Pelayan Kediaman Vallas. Pria paruh baya itu berdiri tegak dengan dagu sedikit terangkat. Meski ia membungkuk hormat saat Valeriana memasuki aula, sorot matanya tetap memancarkan kebingungan yang terselipkan ketakutan.Valeriana berjalan mondar-mandir di hadapan para pelayan. Kali ini ia tidak membawa kipas bulu kesayangannya. Di tangannya hanya ada sebuah buku catatan kecil dan pena—detail sederh
最終更新日: 2026-01-23
Chapter: Bab 50. Tinggal bersamaMalam semakin larut, namun Revan tak kunjung datang. Arra sudah siap untuk pulang; bahkan Rafa, yang sejak tadi menunggu dengan penuh antusias, kini tertidur lelap. Ada rasa tidak enak yang mengganjal di hati Arra—ia merasa telah merepotkan pria itu.Sebenarnya, Arra sempat berniat pulang berdua dengan Rafa menggunakan taksi online. Namun Revan melarangnya dan meminta Arra menunggu sebentar, dengan alasan ia sedang mengurus urusan pribadi.Arra menghela napas pelan, jemarinya terangkat memijat pelipis yang mulai terasa berdenyut. Dinda dan Niko sudah lebih dulu pulang. Sebelum pergi, Arra sempat menceritakan pada Dinda tentang hubungannya dengan Revan dan meminta sahabatnya itu untuk merahasiakannya. Untung saja, Dinda mengerti.Tiba-tiba, pintu ruang rawat Rafa terbuka. Revan muncul dengan penampilan yang sedikit kusut. Seketika rasa bersalah Arra kian menguat. Siapa tahu Revan sebenarnya sedang sibuk bekerja, dan kehadirannya justru menghambat. Seharusnya tadi ia bersikeras pulang n
最終更新日: 2026-01-22
Chapter: Bab 49. Arra mengaku ke DindaSetibanya di basement, Revan melihat Kevin berdiri di depan mobil sambil mengamati sekitar. Begitu melihat Revan keluar dari pintu rumah sakit, Kevin segera menghampirinya.“Selanjutnya, Pak?”“Kita belanja kebutuhan Arra dan Rafa. Hari ini hari terakhir Rafa dirawat. Saya akan membawa mereka ke apartemen saya, dan mulai hari ini kami bertiga tinggal bersama,” ujar Revan tegas.Ia sudah mantap mengambil keputusan itu. Arra dan putranya akan tinggal bersamanya. Tapi sebelum itu, ia harus membeli semua kebutuhan mereka terlebih dahulu. Setelahnya, ia akan membujuk Arra secara perlahan.“Baik, Pak. Kita pergi sekarang?”“Iya. Kali ini kita belanja banyak. Baju wanita, mainan anak, dan semua yang dibutuhkan.”“Siap, Pak.”Kevin membuka pintu penumpang dan mempersilakan Revan masuk, lalu segera membawa mobil menuju pusat perbelanjaan.***“Astaga, Rafa! Kamu nggak apa-apa, kan?!” teriak Dinda histeris. Ia baru saja datang untuk menjenguk “keponakan tersayang”-nya. Meski bukan keponakan kan
最終更新日: 2026-01-20
Chapter: Bab 48. Kebenaran di atas kertasKertas di tangan Revan bergetar. Lututnya lemas, memaksanya jatuh terduduk di kursi yang tadi diduduki Gunawan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Benar. Selama ini instingnya tidak keliru.Rafa adalah anaknya—darah dagingnya sendiri.Dalam dua detik pertama, Revan merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban ribuan ton terangkat dari pundaknya. Ia tidak gila. Ia tidak halu. Rafa benar-benar putranya.Namun detik berikutnya, gelombang emosi lain menghantam jauh lebih keras: rasa bersalah, penyesalan, dan kesedihan yang dalam.Revan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Di dalam kesunyian ruang pribadi Gunawan itu, pertahanan seorang Revan Alendra runtuh total.Bahu tegapnya berguncang hebat. Isak yang selama ini tertahan pecah dari bibirnya, berubah menjadi raungan pilu yang menyayat hati.“Ya Tuhan…” rintihnya di sela tangis.Bayangan lima tahun terakhir berputar di kepalanya seperti sebuah film dokumenter yang kejam.Ia membayangkan Arra hamil sendirian—mungkin muntah-muntah
最終更新日: 2026-01-19
Chapter: Bab 47. HasilKevin: “Hasilnya sudah keluar, Pak. Saya masih di Rumah Sakit Cipto. Saya tunggu di sini. Kata Dokter Gunawan, beliau ingin bertemu Bapak secara langsung.”Revan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Saatnya telah tiba. Ia tahu persis alasan Gunawan ingin menemuinya. Pria itu pasti bertanya-tanya—bagaimana mungkin Revan memiliki seorang anak, sementara ia belum menikah dan bahkan belum pernah menyebarkan undangan pernikahan.Revan berdiri, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin, topeng seorang CEO yang selalu ia kenakan saat menghadapi krisis perusahaan.“Arra,” panggil Revan.Arra menoleh sambil meletakkan piring buahnya. “Ya, Van? Kenapa?”“Aku harus ke perusahaan sebentar. Kevin bilang ada berkas kontrak yang harus aku tanda tangani sekarang juga. Urgent,” kata Revan lancar, berbohong tanpa ragu.“Oh, iya, Van. Silakan. Kamu pasti sibuk sekali,” ucap Arra dengan nada bersalah. “Maaf ya, gara-gara nemenin kita di sini ka
最終更新日: 2026-01-17
Chapter: Bab 46. Menunggu hasilRevan kembali duduk di kursi di samping ranjang Rafa. Jantungnya masih berdegup kencang, sisa adrenalin dari kejadian tadi. Ia menatap Rafa yang kini tampak tenang, asyik menonton kartun di televisi dinding.“Om, tadi temennya Om bawa makanan apa?” tanya Rafa tanpa mengalihkan pandangan dari layar.“Bubur ayam spesial buat kita bertiga, sama kopi buat Om,” jawab Revan. Suaranya sudah kembali normal.Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Rasa bersalah perlahan merayap di dadanya karena melakukan semua ini tanpa sepengetahuan Arra. Jika Arra tahu ia mengambil sampel Rafa diam-diam, perempuan itu pasti marah besar. Seolah-olah Revan sedang berusaha merebut anaknya.Namun Revan tak punya pilihan.Bayangan wajah mommy-nya kemarin kembali terlintas. Tamparan itu. Tatapan penuh kebencian saat Mirna menyerang Arra tanpa ampun. Ia tahu, mommy-nya tidak akan berhenti. Jika suatu hari Revan mengakui Rafa sebagai anaknya di hadapan keluarga besar Alendra, Mirna pasti akan menyangkal habis-habi
最終更新日: 2026-01-16
Chapter: Bab 45. Tes DNA“Om Revan tahu nggak? Mainan yang Om kasih itu, Rafa suka banget. Rexi jadi punya teman,” kata Rafa antusias sambil terkekeh. “Sekarang Rexi kayak pemimpin perang di kerajaan.”“Bagus kalau Rafa suka. Nanti Om belikan yang lain. Kamu mau apa?” tanya Revan.Rafa tampak berpikir sejenak. Namun, ia teringat pesan maminya—ia tidak boleh meminta apa pun kepada orang lain selain maminya. Katanya, itu tidak sopan.“Enggak usah, Om. Temannya Rexi yang kemarin aja sudah cukup. Rafa sudah senang kok. Kata Mami, nggak boleh minta mainan ke orang lain,” ujarnya polos.“Om ini bukan orang lain,” sahut Revan lembut. “Jadi bilang saja, kamu mau apa?”Melihat wajah Revan yang tampak sungguh-sungguh dan tidak bercanda, Rafa akhirnya mengungkapkan keinginannya.“Rafa mau mainan robot, Om. Namanya apa ya… Former? Pokoknya mirip itu.”“Transformers?” tebak Revan.“Iya, itu!” Rafa mengangguk semangat. “Mainan kayak punya teman Rafa yang selalu dibawa ke sekolah.”Revan tersenyum, lalu mengelus rambut Rafa
最終更新日: 2026-01-15