LOGINZara remaja selalu tampil ceria, menawan dan hidup berkecukupan. Orang-orang nampak menyukai sikapnya yang manis, apalagi senyumannya yang berlesung pipit dengan gigi gingsul yang mempertegas pesona alaminya Namun saat beranjak dewasa, keadaan seolah menarik semua keceriaannya. Meninggalnya sang ayah meninggalkan duka mendalam yang dialami Zara. Ayahnya bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarganya, namun juga beban piutang yang tak sedikit nominalnya. Zara dewasa dilingkupi oleh kemurungan dan kesedihan. Hingga sebuah keadaan membuatnya terjebak dalam belenggu seorang pria berkuasa.
View MoreDi dalam ruangan meetingnya, Tama berkali-kali menatap ponselnya yang gelap, rasa tidak sabarnya untuk menemui Zara semakin meningkat. Sebelumnya ia telah mengirim pesan kepada Zara untuk mengingatkan wanita itu agar mendatangi ruangannya saat jam istirahat nanti. Namun sudah beberapa menit Zara belum juga mengirimkan balasan kepadanya. Sepertinya wanita itu masih marah kepadanya mengenai persoalan kemarin. Karena, pagi tadi sebelum berangkat bekerja pun Zara masih bersikap dingin kepadanya.Tama mencoba untuk fokus kembali pada rapat yang sedang berlangsung, tapi pikirannya terus melayang ke Zara. Ia tidak bisa tidak merasa bersalah atas apa yang telah terjadi kemarin. Ia tahu bahwa ia telah salah, tapi ia tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaikinya."Bagaimana, Pak Tama? Apa bapak setuju?" tanya salah satu anggota direksi, membuat Tama tersentak kembali ke realitas.Tama mencoba untuk tersenyum, "Ah, ya... Itu ide yang bagus, saya menyetujuinya."Ruangan meeting menjadi sunyi sej
Lukman tak bisa berkata-kata, keputusannya untuk mengikuti anak dan menantunya setelah mengantar dirinya ke rumah ternyata membawanya pada suatu hal yang selama ini ditakutinya. Jauh di seberang sana, ia dapat melihat mobil menantunya yang berhenti di depan gerbang cukup lama, entah apa yang anak dan menantunya lakukan karena mobil tak kunjung memasuki halaman rumah. Namun, melihat Anna yang keluar dengan raut wajah marah, diiringi mobil menantunya yang melaju meninggalkan rumah membuat Lukman semakin terkejut melihatnya. Lukman tak bisa membiarkan kebingungan melanda dirinya, ia menyuruh sopir mendekat lalu berhenti di depan gerbang rumah anaknya. Disana, ada satpam yang langsung sigap menghampirinya. "Enggak masuk ke dalam, pak?" tanya satpam yang mengenal Lukman sebagai ayah dari majikan perempuannya. Ia melihat Lukman yang hanya menatap ke dalam melalui kaca mobilnya di luar sana. "Kenapa Tama tidak pula
Di dalam ruangan Tama, Zara duduk di sofa dengan gelisah . Sudah beberapa menit ia menghabiskan waktunya disana sendirian, dan Tama tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya.Zara merasa kesal sendiri, di luar juga tidak ada sosok Juan yang berkata akan berdiam menemaninya saja. Sepertinya lelaki itu meninggalkannya sendirian di lantai itu.Dan kini Zara mencoba menunggu kedua lelaki itu datang kembali ke ruangan itu, namun sebuah pesan yang dikirim Tama membuat kekesalannya semakin menjadi.'Sayang, maafkan aku karena telah meninggalkanmu sendirian disana. Ayah mertuaku memaksa untuk datang ke ruanganku namun aku berhasil mencegahnya. Kamu sekarang pulang sendiri dulu, nanti aku menyusul.'Zara berdecak, lalu beranjak dari sana setelah membalasnya dengan pesan singkat. 'Ya.' Ia terlalu malas meneror Tama dengan pesan berantainya, karena saat ini ia benar-benar kesal.Zara memutuskan untuk menaiki taksi dan pulang ke tempat ibunya. Biar
Sore hari, Zara keluar dari ruangan divisinya lalu disambut Juan di lobi lantai satu. Lelaki itu membawa Zara ke basement dan memasuki lift khusus presdir yang langsung menuju ke ruangannya."Oh ya, Pak Tama masih menyelesaikan meetingnya, mungkin sekitar 10 sampai 20 menit lagi selesai. Mau ku buatkan minuman?""Gak usah, pak." jawab Zara sopan mengingat saat ini ia masih berada di tempat kerja.Juan mengagguk lalu duduk di sofa sebelah.Suasana di dalam ruangan terasa hening, terlebih Zara merasa tak nyaman dengan kehadiran Juan di sampingnya."Ehm, Pak Juan... Kalau mau pulang silahkan, tidak perlu menemani saya disini." ujar Zara mempersilahkan Juan pergi jika kehadirannya disana hanya sekedar menemaninya yang sendirian."Benarkah? Kau berani tinggal disini sendirian?" tanya Juan menantang.Zara mengangguk meskipun agak sedikit ragu di dalam tatapannya, ruangan luas itu nampak tenang dengan interior mewahnya, meskip






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.