Share

Bab 7

Penulis: Nikhil
Gita kebetulan juga melihat tatapanku itu. Wajahnya sedikit memucat, jelas terlihat agak takut.

Meski aku hampir tidak bisa menahan diri untuk memberi pelajaran pada gadis nakal ini, aku tetap menahan diri. Bagaimanapun, Nadya masih berdiri di belakang.

"Cih! Dasar pecundang nggak guna," maki Gita dengan nada meremehkan, lalu dia menggoyangkan pinggulnya kecil saat pergi.

"Gita, sini!" Pada saat itu, suara Nadya terdengar agak tegas dan dingin dari sampingku.

Aku menoleh dan melihat ekspresi Nadya yang dingin dan sangat menakutkan. Ini pertama kalinya aku melihat ekspresinya seperti itu. Jelas dia sedang marah.

Gita juga terlihat takut pada Nadya. Dengan agak terpaksa, dia menundukkan kepala dan berbalik.

"Minta maaf pada ayahmu," ucap Nadya dengan suara dingin dan tegas.

Tubuh Gita sedikit gemetar. Suruh dia minta maaf padaku? Jelas dia tidak mau.

Hanya saja, Nadya adalah kepala keluarga. Gita mungkin tidak takut pada orang lain, tapi dia takut pada Nadya. Sambil menggigit bibir dalam kondisi air mata hampir jatuh, dia bergumam pelan, "Ma ... maaf."

"Nggak apa-apa," kataku cepat sambil mengusap ludah di bajuku.

Pada saat itu, aku melihat dari arah kepalanya yang tertunduk, tatapan Gita ke arahku dipenuhi kebencian yang dalam.

"Maaf ya, Ervin. Kamu malah menerima perlakuan begini," ucap Nadya pelan setelah Gita pergi.

Aku membalas sambil tersenyum pahit. "Mau gimana lagi? Siapa pun pasti sulit menerima kalau tiba-tiba punya ayah yang usianya nggak jauh berbeda dari dirinya."

"Kalau kamu bisa mengerti, itu bagus," ucap Nadya sambil tersenyum. "Eh, bukannya ini tas Gita? Dia sampai lupa bawa. Dasar anak itu. Tapi, aku harus berangkat kerja."

"Biar aku yang antar saja," kataku buru-buru.

Nadya memang tidak punya waktu. Pada saat ini, hanya aku yang sedang tidak ada kegiatan, jadi aku tahu harus melakukan apa.

Nadya melirikku sejenak, lalu menyerahkan tas Gita kepadaku.

Aku sempat teringat masih ada baju semalam yang belum dicuci, tapi kupikir tidak masalah kalau dicuci nanti saja. Jadi, aku langsung membawa tas Gita keluar rumah.

Awalnya, aku ingin menyusul dari belakang, tapi Gita sudah menghilang dalam sekejap.

Berhubung tidak ada pilihan lain, aku pun berlari menuju kampus.

Kampus ini benar-benar sangat mewah, bahkan bisa dibilang mewah sekali.

Universitas Bisnis Leanos!

Gedung-gedung kampus berdiri tinggi berjajar. Ada gedung kelas, laboratorium, dan asrama. Luas seluruh area kampus ini mungkin bahkan lebih besar dari banyak universitas lain.

Dibandingkan dengan kampus di kota kecil tempatku dulu, luasnya mungkin hanya sepersepuluh dari kampus ini. Rasanya benar-benar tidak sebanding.

Saat teringat, kalau bukan karena kekurangan uang, sekarang aku seharusnya sudah berada di tahun keempat kuliah dan bersiap-siap menyusun skripsi. Dulu aku bahkan sempat berpikir, setelah lulus aku akan menempuh S2.

Sayangnya, aku tidak punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku.

Hatiku terasa sedikit sesak. Aku tersenyum pahit. Sepertinya dalam hidup ini, dunia pendidikan memang sudah tidak ada hubungannya lagi denganku. Hidupku mungkin hanya akan berjalan seperti ini saja.

Di sekelilingku, orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian yang rapi dan mewah.

Tubuh mereka tegap. Baik laki-laki maupun perempuan, wajah mereka dipenuhi rasa percaya diri.

Suara ceria para gadis terdengar jernih, seperti alunan musik yang menyenangkan.

Kampus ini bahkan sangat terkenal di kota kecil tempatku dulu.

Di seluruh ibu kota provinsi, ini adalah kampus elite yang sangat terkenal. Biaya kuliahnya mahal sekali. Uang kuliah satu murid untuk satu tahun saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga beranggotakan lima orang selama setahun, bahkan mungkin masih bersisa.

Meski begitu, tetap saja banyak orang tua yang mengirim anak mereka ke sini tanpa henti.

Sebab, kampus ini memiliki tingkat kelulusan dan keberhasilan masuk S2 tertinggi di seluruh provinsi.

Kampus seperti ini tentu memiliki sistem keamanan yang sangat ketat. Setiap mahasiswa harus menggunakan kartu pelajar untuk masuk, jadi jelas aku tidak bisa masuk.

Aku sempat berpikir untuk menitipkan tas itu ke penjaga agar diberikan kepada Gita.

Namun pada saat itu, dari sudut mataku, aku tiba-tiba melihat sosok yang terasa familier.

Di bawah celana yang seksi, ada sepasang kaki ramping yang dibalut stoking hitam. Kaki kecilnya mengenakan sandal hak tinggi dengan pita putih yang melilit di betisnya. Ditambah lagi dengan gaya rambut dua kuncir yang khas .... Kalau bukan Gita, siapa lagi?

Lengan putihnya yang ramping bertumpu di bahu seorang pria sambil tertawa riang.

Selain itu, di samping Gita juga ada tiga anak laki-laki lain. Penampilan mereka terlihat seperti berandalan. Di lengan mereka bahkan terlihat tato dan telinga mereka dipenuhi anting. Jelas, mereka adalah tipe anak nakal.

Ketiganya mengelilingi Gita, entah mengatakan apa sampai membuatnya tertawa terus.

Mereka jelas adalah murid-murid bermasalah di kampus ini. Para mahasiswa lain yang melihat mereka terlihat sedikit mengernyit, lalu langsung menjauh dan menjaga jarak.

Ternyata, anak-anak nakal memang ada di mana-mana. Bahkan, di kampus elite seperti ini pun tidak terkecuali.

Padahal Gita berangkat lebih dulu dariku, tapi ternyata dia masih di belakang? Sepertinya, dia sengaja datang untuk menemui tiga anak ini.

Aku sedikit mengernyit, tapi sebenarnya urusan ini tidak terlalu ada hubungannya denganku.

Kalau Gita benar-benar anak kandungku, mungkin aku sudah menamparnya dulu sebelum berbicara.

Meski aku adalah ayah Gita secara status, aku tidak punya hak untuk ikut campur terlalu jauh dalam urusan Keluarga Pangarep. Kalau terlalu banyak ikut campur, malah akan membuat orang makin tidak suka padaku.

Bagiku, tugasku hanya satu, yaitu mengembalikan tas ini kepada Gita.

"Gita ..." panggilku.

Akhirnya, Gita menyadari keberadaanku. Saat melihatku, wajahnya langsung berubah muram, bahkan ada sedikit kebencian di matanya. Jelas, dia masih kesal karena dimarahi Nadya tadi pagi.

Kemudian, Gita pura-pura tidak melihatku dan langsung hendak masuk ke kampus.

Saat Gita melewatiku, tanpa sadar aku memegang pergelangan tangannya.

"Ini tasmu ..." kataku sambil menyodorkan tas itu ke arah Gita.

Hanya saja, sentuhanku seolah membuatnya merasa sangat terhina. Gita menjerit, lalu langsung menepis tanganku. Setelah itu, dia mengambil tisu dan terus mengusap bagian yang tadi kupegang, seolah-olah tanganku kotor.

Sikap itu membuat amarah dalam diriku makin memuncak.

"Eh Gita, siapa dia?" Salah satu dari tiga laki-laki itu yang tampaknya pemimpinnya pun melirikku dengan tatapan meremehkan sambil bertanya demikian.

Gita awalnya hendak menjawab, tapi tiba-tiba matanya berputar seolah-olah mendapat ide. "Pencuri! Orang ini pencuri. Dia mencuri tasku!"

"Lionel, hajar dia!" teriak Gita.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aroma Sang Jelita   Bab 100

    Pelacur? Perempuan yang bisa ditiduri siapa saja?Kata-kata penuh hinaan seperti itu membuat wajahku langsung menjadi suram.Meskipun hinaan itu bukan ditujukan kepadaku, penghinaan terhadap Selena tetap membuat hatiku terasa tidak nyaman.Kenapa bisa begitu?Itu jelas tidak mungkin.Selena bukan gadis seperti itu.Aku memang belum lama mengenal Selena, mungkin juga aku belum terlalu memahami dirinya. Namun, naluriku mengatakan bahwa Selena bukan perempuan yang bisa disentuh siapa saja.Sebaliknya, bagiku Selena memberikan perasaan yang sangat murni, semurni kelopak bunga yang melayang tertiup angin.Kadang-kadang aku bisa melihat ekspresi kehilangan dan kesepian di wajah Selena, bahkan sedikit kemurungan.Kalau benar dia tipe perempuan yang sama sekali tidak peduli soal hal-hal seperti itu, seharusnya dia tidak mungkin menunjukkan ekspresi seperti itu, 'kan?Masalah ini akan kuingat dalam hati. Setelah kembali ke kampus, aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya aku

  • Aroma Sang Jelita   Bab 99

    Buset, memang tidak heran perempuan ya. Dalam hal seperti ini benar-benar memikirkan jauh lebih banyak dibanding laki-laki. Hanya saja, meskipun nanti saat tua bisa kendur, kalau bahkan kesempatan untuk kendur saja tidak punya, bukankah itu malah lebih menyedihkan?Tentu saja, semua itu hanya kupikirkan dalam hati, jelas tidak mungkin kuucapkan. Aku masih belum ingin mati.Setelah jeda sesaat, Gita melanjutkan, "Seksi, cantik, nilai bagus. Harusnya dia tipe perempuan sempurna. Meskipun gadis seperti itu biasanya membuat perempuan lain iri, mereka biasanya juga nggak akan menunjukkannya secara terang-terangan. Apalagi laki-laki, pasti seperti lalat yang terus mengerubungi Selena.""Tapi reputasi Selena justru sangat buruk. Bahkan di seluruh kampus, mungkin nggak ada satu orang pun yang benar-benar akrab dengannya, baik laki-laki maupun perempuan.""Kenapa?""Karena jumlah pacarnya terlalu banyak.""Saking banyaknya, bahkan Selena sendiri juga mungkin nggak tahu sudah berapa.""Pada dasa

  • Aroma Sang Jelita   Bab 98

    Bersihkan leher mereka dan tunggu aku!Suara serak itu terdengar sangat dingin. Di mataku yang sedikit memerah bahkan terpancar sesuatu yang bisa disebut niat membunuh.Kali ini, aku benar-benar marah.Aku jelas bukan orang suci. Hal seperti membalas kebencian dengan kebaikan tidak mungkin terjadi padaku. Aku ini pendendam dan orang pendendam selalu membalas setiap dendam mereka, tidak peduli sekecil apa pun.Kalau sudah berani menyinggungku, bersiaplah menerima balasan seratus kali lipat. Aku akan membuat Lionel dan para idiot itu menyesal karena berani melawanku.Bahkan wajah Tandi langsung sedikit pucat melihat penampilanku. Meskipun niat membunuh itu bukan ditujukan padanya, dia tetap tak bisa menahan tubuhnya yang langsung gemetar, bahkan bulu kuduknya berdiri semua.Dia tersenyum kaku padaku, lalu meninggalkan ruang rawat bersama Nindy dan Selena. Sebelum pergi, Selena bahkan diam-diam melambaikan tangan padaku sebagai salam perpisahan.Namun, gerakan itu langsung tertangkap oleh

  • Aroma Sang Jelita   Bab 97

    "Sudah jauh lebih baik ....""Dengar tuh, dia sudah jauh lebih baik. Kalau kalian nggak ada urusan lain, cepat pergi saja." Gita terus melambaikan tangan kecilnya sambil berkata tidak sabar.Sikap itu terlihat sangat tidak sopan, seolah-olah dia sangat memusuhi orang-orang di depannya. Lebih tepatnya, dia sangat memusuhi Selena.Sebaliknya, setelah mendengar perkataan itu, Nindy langsung menghela napas lega. Dia terlihat sangat senang. Gadis itu bahkan tidak berani menatapku secara langsung. Tatapannya kepadaku selalu dipenuhi rasa takut.Mereka sudah jauh-jauh datang kemari, kalau langsung disuruh pergi memang rasanya tidak enak. Jadi, aku mengundang mereka masuk dan duduk sebentar. Mendengar itu, wajah Nindy langsung murung.Setelah duduk, Selena mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dari tas ranselnya dan bersiap menyerahkannya kepadaku."Kamu nggak masuk kelas, aku takut kamu ketinggalan pelajaran. Jadi aku rapikan catatan kelas ini untuk kamu. Kamu ....""Nggak perlu. Pelajarannya

  • Aroma Sang Jelita   Bab 96

    Setelah kejadian kali ini, jarak antara aku dan Gita juga sudah menghilang, hubungan kami berkembang pesat. Bagiku, Gita benar-benar sudah seperti keluargaku sendiri dan aku sama sekali tidak akan membiarkan Gita berada dalam bahaya.Kalau Lionel dan kelompoknya benar-benar berani datang mencari masalah, bahkan kalau harus mempertaruhkan segalanya, aku akan menghantamkan teko air panas di tanganku ini ke kepala mereka.Air di dalam teko ini baru saja direbus oleh Gita. Kalau benar-benar terkena, mungkin wajah orang itu akan langsung matang.Dengan wajah garang, aku langsung membuka pintu dan bergegas keluar.Namun, begitu sampai di luar, ekspresiku langsung berubah aneh.Situasinya ternyata sedikit berbeda dari yang kubayangkan. Kukira yang bertengkar dengan Gita adalah Lionel dan teman-temannya, tetapi setelah diperhatikan baik-baik, ternyata sama sekali bukan.Yang berdiri di depan Gita adalah tiga orang mahasiswa dan mereka terlihat cukup familier. Sepertinya mereka adalah teman sek

  • Aroma Sang Jelita   Bab 95

    Aku menatap punggung Amira yang semakin menjauh. Meskipun merasa agak memalukan, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya."Oh ya, Amira ... kakakmu mana?" Begitu kata-kata itu keluar, aku langsung ingin menampar diriku sendiri. Ini sebenarnya apa sih?Siapa sangka setelah mendengar pertanyaanku, wajah Amira tiba-tiba membeku sesaat. Setelah tertawa kaku sebentar, tatapannya tanpa sadar menghindariku."Kamu juga tahu sendiri 'kan ... Kakak itu ketua yayasan, jadi pekerjaannya sangat sibuk. Dia harus pergi lebih awal.""Tapi Kakak juga menyuruhku bilang ke kamu supaya kamu istirahat yang baik. Soal lain nggak perlu khawatir, dia bilang semuanya akan dia urus." Amira berbicara dengan cepat."Sudah siang, aku harus pergi dulu. Nanti sore aku datang lagi." Setelah melambaikan tangan kepadaku, Amira pun meninggalkan ruang rawat. Aku pun tidak terlalu memikirkannya.Setelah adik iparku pergi, di ruang rawat hanya tinggal aku dan Gita.Aku melirik Gita. Mungkin karena kejadian tadi, d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status