Aroma Sang Jelita

Aroma Sang Jelita

By:  NikhilUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
36views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Namaku Ervin Hasibuan. Aku adalah orang miskin yang hampir gila karena terlilit utang. Saat aku sudah benar-benar tidak punya jalan keluar, seorang kakak yang kukenal menunjukkan sebuah jalan padaku. Sejak saat itu, hidupku berubah secara drastis.

View More

Chapter 1

Bab 1

Orang tuaku adalah penjudi berat. Uang di rumah kami sudah habis karena judi. Saat tidak punya uang untuk berjudi, mereka biasanya akan meminjam, bahkan meminjam dari rentenir. Utangnya setidaknya sudah lebih dari dua miliar. Karena merasa tidak mungkin bisa membayar, kedua orang itu pun kabur.

Saat aku hampir tidak punya jalan keluar karena dikejar penagih utang, seorang kakak yang kukenal menunjukkan jalan padaku. Katanya, ada seorang janda cantik yang sangat kaya sedang mencari menantu tinggal di rumahnya.

Wanita itu sudah menikah tiga kali. Suami pertama meninggal setelah tiga tahun, suami kedua meninggal setelah dua tahun, dan suami ketiga meninggal setelah satu tahun ....

Kalau aku pergi ke sana, berarti aku akan jadi suami keempat.

"Pfft ...."

Aku hampir saja menyemburkan air liur pada saat itu. Yang benar saja? Kalau benar-benar ke sana, aku bisa hidup berapa lama? Setengah tahun?

Mungkinkah kebutuhan wanita itu terlalu besar sampai-sampai semua suaminya meninggal satu per satu?

Walaupun badanku cukup kuat, rasanya tetap tidak akan sanggup.

Kakak itu memberiku sebuah nomor telepon.

Selain itu, dia juga mengaku mengenal orang-orang yang memberikan pinjaman pada orang tuaku. Demi menagih utang, mereka bisa melakukan apa saja.

Katanya, dulu ada orang yang tidak membayar utang. Beberapa hari kemudian, orang itu ditemukan di sebuah hutan di pinggiran kota.

Sudah mati.

Ginjalnya diambil.

"Aku nggak mau suatu hari nanti melihat mayatmu di tumpukan sampah!" ucap kakak itu.

Tanpa sadar, tanganku mengepal. Menjadi menantu yang tinggal di rumah istri memang agak memalukan, tapi setidaknya masih bisa hidup, 'kan?

Dengan ragu, aku menelepon nomor itu. "Halo? Maaf ...."

"Mau lamar ya? Siapa namamu?" Suara orang di ujung telepon terdengar dingin.

"Um. Namaku Ervin ...."

"Hari ini jam 9 malam, datang ke Bar Dayroz di pusat kota. Kalau terlambat, nggak bakal kulayani." Setelah mengatakan itu, wanita itu langsung menutup telepon. Aku bahkan tidak sempat berbicara lebih banyak.

Walaupun telepon sudah dilakukan, perasaan malu dan terhina di dalam hatiku malah makin kuat. Rasanya agak sesak di dada. Aku membeli sebotol arak putih di toko sebelah, lalu langsung menenggaknya.

Saat arak yang pedas itu melewati tenggorokan, rasanya panas menyengat. Perutku seperti bergolak oleh panas.

Mataku terasa sedikit perih. Dikhianati oleh orang terdekat benar-benar menyakitkan. Aku juga merasa takut untuk memikirkan masa depan. Seperti ada bagian besar di hatiku yang hilang dan terasa kosong.

Karena tinggal di kota kecil, aku harus pergi ke kota besar.

Aku belum pernah ke kota besar, jadi terpaksa naik taksi. Alhasil, aku malah apes dan bertemu sopir tidak berhati nurani. Setelah menurunkanku di suatu tempat, dia langsung pergi.

Aku melihat sekeliling. Itu adalah gang yang sepi dan kumuh, tanpa ada tanda-tanda bar sama sekali.

Melihat ada pintu kecil di depan, aku pun mendekat. Aku ingin membukanya untuk bertanya apakah ada orang yang tahu di mana bar itu berada. Saat ini, waktunya sudah hampir tiba.

Ketika baru saja membuka pintu, aku mendengar suara tajam.

"Tolong .... Huhu ...."

Sepertinya itu suara wanita. Apa yang terjadi?

Aku sedikit menoleh. Di dalam, terlihat koridor yang sangat mewah. Tiga pria sedang menyeret seorang wanita menuju sebuah ruangan kecil. Mulut wanita itu sudah dibungkam dan rambutnya berantakan.

Wanita itu berwajah tirus. Di bawah cahaya yang redup, dia terlihat sangat cantik seperti bidadari. Tatapan sepasang matanya yang jernih penuh ketakutan. Dia mengenakan gaun putih, tapi gaunnya sudah terangkat dan memperlihatkan stoking hitam di dalamnya.

Bukankah penampilannya ini terlalu menggoda? Jangan-jangan di kota besar memang seperti ini?

Aku hampir saja ingin maju dan menggantikan posisi mereka.

Hanya saja ... aku masih orang yang tahu batas. Hal seperti memaksa wanita memang terdengar cukup menyenangkan, tapi aku tidak sanggup melakukannya.

Aku segera mengikuti mereka dari belakang. Saat sampai di pintu, baru kusadari itu adalah toilet wanita.

Melihat aku mengikuti mereka, ekspresi ketiga pria itu langsung berubah galak.

"Sialan! Lihat apa? Pergi sana ...." Salah satu dari mereka berseru ke arahku.

"Hei, kalian mau apa? Kalau nggak berhenti, aku bakal lapor polisi," ucapku sambil mengerutkan kening. Aku baru datang ke kota ini, jadi sebenarnya tidak ingin mencari masalah.

"Lapor polisi?"

Ketiga pria itu malah tertawa. Salah satu dari mereka menyeringai dan berjalan ke arahku.

Dua orang lainnya tetap menarik wanita itu dan sama sekali tidak peduli dengan ancamanku. Suara sobekan mendadak terdengar. Mereka ternyata merobek gaun wanita itu.

Sementara itu, satu orang yang sudah sampai di depanku pun menendang perutku hingga aku terjatuh.

"Polisi? Lapor apaan! Cari mati ya?" maki pria itu sambil terus memukulku.

Tubuhku terjatuh ke lantai. Saat aku berusaha bangkit, dari sudut mataku terlihat kedua tangan wanita itu sudah ditahan di dinding. Sementara itu, salah satu pria mengangkat gaunnya.

Raut wajah wanita itu penuh ketakutan dan tatapannya hampir putus asa. Kini, air mata sudah mengalir dari sudut matanya.

Tatapan wanita itu tertuju padaku. Di dalam matanya, justru ada sedikit kekhawatiran.

Wanita itu mengkhawatirkanku? Dia khawatir aku terluka? Bahkan, rasanya seperti ingin menyuruhku pergi?

Seumur hidup ini, aku mempunyai orang tua berengsek, putus kuliah, lalu ikut-ikutan preman jalanan. Kerjanya berantem dan memungut uang keamanan. Semua orang memandangku dengan jijik. Hidupku pun hanya seperti anjing terlantar.

Namun sekarang, bisa-bisanya ada seseorang yang mengkhawatirkanku. Bahkan, seorang wanita?

Ini pertama kalinya ada wanita yang mengkhawatirkanku .... Sialan! Bagaimanapun, wanita ini harus kuselamatkan hari ini!

Aku langsung berbalik. Di bawah cahaya lampu, wajahku bagaikan binatang buas dan ekspresiku berubah drastis.

Sekujur tubuhku langsung menerjang. Aku mencengkeram leher pria itu dengan satu tangan. Otot lenganku seketika menegang. Dengan satu tarikan, tubuhnya langsung kutarik, lalu kepalanya aku hantamkan ke dinding di samping.

Buk!

Suara benturan terdengar keras. Wajahnya langsung menghantam dinding, entah ada berapa giginya yang patah. Kemudian, darah terus mengalir dari mulut dan hidungnya.

Di sisi lain, dua pria itu sudah merobek bra wanita itu. Kulit putih di dadanya langsung terlihat dan sama sekali tidak dapat ditahan.

Wanita itu berteriak ingin melawan, tapi malah ditampar keras oleh salah satu pria hingga bekas jari merah muncul di wajahnya.

Pada saat itu, kedua pria itu sadar bahwa temannya dipukul. Raut wajah mereka langsung berubah.

"Beraninya kamu memukul anak buahku!" Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipat dari pinggangnya dan bergegas menyerangku.

"Hati-hati!" seru wanita itu tiba-tiba. Setidaknya, dia masih punya sedikit rasa peduli.

Namun, tidak masalah. Gerakan orang itu memang cepat, tapi gerakanku jauh lebih cepat. Saat dia baru saja menerjang ke hadapanku, tubuhku tiba-tiba sedikit menghindar. Pisau itu hampir saja menggores bahuku. Tangan kananku menyambar secepat kilat dan langsung menangkap pergelangan tangannya. Dengan sedikit entakan, pisau lipat itu langsung kurebut. Tanpa membuang waktu, aku balik menusukkan pisau itu tepat ke pahanya.

Darah segera menyembur ke tanganku.

Rasa sakit membuat tubuh pria itu langsung membungkuk dan gemetar.

Aku mungkin tidak bisa melawan mafia besar, tapi mana mungkin tidak sanggup melawan preman biasa seperti mereka?

Aku menatap orang terakhir dan meludah sebelum memaki, "Sialan! Cepat pergi!"

Orang itu jelas ketakutan. Mungkin tidak menyangka orang mabuk sepertiku bisa sekuat ini. Dia tidak berani tinggal, lalu langsung menarik dua temannya dan kabur.

Aku lalu menoleh ke arah wanita itu. Tanpa sadar, aku menelan ludah. Pakaian wanita itu sudah berantakan dan bagian depan bajunya robek.

Wanita itu jelas agak takut melihat penampilanku. Tubuhnya sedikit menyusut, lalu dia tanpa sadar merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan.

Aku menggeleng. Sayang sekali, pemandangan indah tadi sudah tertutup lagi.

"Hei ...." Wanita itu tiba-tiba memanggilku. Suaranya jernih dan enak didengar.

"Apa?"

"Kamu ...." Wanita itu terlihat agak ragu-ragu.

"Kalau nggak ada apa-apa, aku pergi dulu," ucapku sambil menggaruk kepala untuk menutupi rasa canggung.

Akhirnya, wanita itu mengumpulkan keberanian. Dia mengangkat kepala dan menatapku, lalu melontarkan kata-kata yang membuatku terkejut.

"Kamu ... mau melakukan itu denganku nggak?"
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status