Share

Bab 6

Author: Nikhil
Aku berusaha keras untuk menenangkan diri, tapi sama sekali tidak berhasil. Di kepalaku, terus muncul bayangan Maya, baik saat dia mengenakan setelan formal yang terlihat begitu seksi ataupun saat memakai piama yang penuh daya tarik.

Makin aku mencoba untuk tidak memikirkan hal itu, pikiranku justru makin tidak terkendali dan terus mengarah ke sana.

Tubuhku pun makin terasa tidak nyaman, seolah ada api yang membakar di perut.

Tanpa sadar, pandanganku beralih ke samping. Cahaya bulan yang masuk dari jendela kamar mandi menyinari pakaian yang baru saja dilepas. Itu adalah pakaian dalam berwarna putih susu dan stoking hitam yang terlihat begitu menggoda. Semua itu terlihat sangat memancing pikiran.

Itu adalah pakaian yang tadi dikenakan Maya, bahkan baru saja dilepasnya.

....

Aku bersumpah, pikiran untuk mencium seperti apa bau stoking itu tidak pernah terlintas di kepalaku.

Hanya saja saat melihat stoking di tangan yang kini kusut dan sedikit kotor karena ulahku sendiri, rasa bersalah tiba-tiba muncul begitu kuat dalam hatiku.

Aku segera melemparkannya kembali, tapi kemudian terpikir kalau besok pagi Maya melihat kondisi stokingnya seperti ini, dia pasti akan menganggapku orang aneh, bahkan mungkin langsung mengusirku. Kalau begitu, gajiku 20 juta sebulan juga akan hilang.

Akhirnya, aku diam-diam bangun dan mencuci stoking itu. Untuk berjaga-jaga, aku sekalian mencuci semua pakaian lainnya juga.

Keesokan paginya, saat aku masih tidur nyenyak, tiba-tiba perutku ditendang.

Ternyata Maya. Dia masih mengenakan piama putih itu, tapi sikapnya benar-benar seperti seorang ratu. Kaki kecilnya yang putih menekan perutku.

Aku membuka mata dengan setengah sadar.

Pagi hari memang waktu di mana pria paling mudah terpicu. Aku tidak bisa mengendalikan diri sehingga tubuhku menunjukkan sedikit reaksi.

Kebetulan hal itu terlihat oleh Maya. Wajahnya langsung penuh rasa jijik, seolah-olah melihat sesuatu yang kotor. Kemudian, dia segera mundur jauh. "Menjijikkan."

"Cepat bangun. Lihat sekarang sudah jam berapa."

Kemudian, Maya melihat pakaian yang kujajarkan di dekat jendela. "Kamu yang cuci? Hmph! Ternyata sampah sepertimu masih ada sedikit gunanya juga."

Perkataan Maya membuat hatiku terasa sangat sesak. Ada amarah yang tertahan, sampai rasanya aku ingin bangkit dan menindihnya di ranjang, lalu memukul pantatnya beberapa kali dengan kasar.

Aku diperintahkan untuk tetap diam di kamar. Setelah Maya selesai bersiap di kamar mandi dan berganti pakaian, barulah dia keluar.

Maya hendak pergi bekerja. Sebagai suami secara status, aku tetap harus mengantarnya sampai ke pintu. Di sana, kebetulan Amira juga ada. Aku sempat ingin menyapanya, tapi begitu melihatku, dia langsung memalingkan wajah dan tidak mau menatapku sama sekali.

Hatiku sedikit merasa kecewa.

Para wanita di Keluarga Pangarep, Nadya, Maya, dan Amira, semuanya pergi bekerja sehingga di siang hari hanya aku seorang diri di rumah.

Hari-hari seperti itu berlangsung hampir satu bulan.

Bagi diriku, satu bulan itu terasa seperti siksaan yang berlipat ganda.

Hampir setiap malam, Nadya akan berjaga di depan pintu kamar. Keinginannya untuk punya cucu benar-benar berlebihan.

Akibatnya, setiap malam aku harus berakting cukup lama. Setelah selesai, aku pasti akan ditendang turun dari ranjang oleh Maya.

Kalau memang benar-benar melakukan hubungan suami istri mungkin tidak masalah, tapi ini justru bisa melihat bahkan menyentuh, tapi tidak boleh benar-benar melakukannya. Rasanya sangat menyiksa. Hampir setiap malam aku harus bangun lagi untuk mencuci pakaian.

Untungnya, Maya tidak pernah menyadari hal-hal itu. Lama-lama keberanianku pun bertambah. Aku bahkan mulai menunda mencuci sampai siang hari. Aku menunggu mereka semua pergi bekerja, lalu aku baru akan mencuci dengan santai. Lagi pula, di siang hari hanya ada aku sendiri di rumah.

Hubunganku dengan Amira sepertinya ya hanya sebatas itu, murni hubungan antara kakak ipar dan adik ipar. Saat melihatku, dia masih menyapa, tapi hanya sampai di situ saja. Amira tampaknya sengaja menghindar dariku.

Sementara itu, sikap Maya terhadapku tetap seperti biasa. Di depan orang lain dia terlihat sangat lembut, tapi begitu tidak ada orang, sikapnya langsung berubah drastis. Wanita itu selalu memukul ataupun memarahiku sesuka hati.

Aku hanya bisa menahan semuanya dengan perasaan terhina. Beginilah nasib jadi menantu pecundang.

Nadya sendiri selalu bersikap baik padaku. Ditambah lagi aku lumayan pandai berbicara, jadi sering membuatnya tertawa. Dia juga beberapa kali bertanya, sudah satu bulan berlalu, kenapa perut Maya belum ada tanda apa-apa. Aku hanya asal mencari alasan untuk mengelabuinya.

Hari baru pun datang lagi. Aku mengantar Maya sampai ke pintu.

"Pulanglah lebih awal. Jangan sampai kelelahan kerjanya," ucapku sambil berpura-pura lembut, lalu mencium pipi Maya pelan.

Aku melihat telinga Maya langsung memerah, bahkan sedikit bergetar. Dia hanya menggumam pelan sebagai jawaban dan lehernya bahkan sampai merinding.

"Sudahlah. Kalian berdua pagi-pagi sudah pamer begini, bikin orang geli saja. Ayo, jalan." Amira tiba-tiba muncul dari belakang, lalu menarik Maya pergi bekerja.

"Hehe. Ervin, tadinya aku khawatir kamu dan Maya nggak cocok, tapi sekarang kelihatannya hubungan kalian cukup baik," ucap Nadya sambil tersenyum dari belakang.

Aku menggaruk kepala sambil membalas bahwa Maya tidak keberatan denganku.

Kalau Nadya tahu bahwa semua ini sebenarnya hanyalah sandiwara antara aku dan Maya, entah akan semarah apa dia nanti.

"Minggir ...." Tiba-tiba terdengar suara agak tajam dari belakang. Sebuah tangan kecil mendorongku hingga aku terdorong ke samping.

Kemudian, seorang gadis dengan tinggi sekitar 150 sentimeter berjalan lewat dari belakang. Rambutnya diikat dua. Tubuhnya kecil tapi sudah mulai menunjukkan pesona remaja. Dia memakai sandal hak tinggi hitam, dengan tali yang melilit di betis membentuk pola yang indah.

Di bawah celana pendeknya, ada kaki ramping yang dibalut stoking hitam.

Wajahnya sepenuhnya mewarisi kelebihan ibunya. Mungil, rapi, dan terlihat sangat cantik.

Gadis ini adalah putri Maya, Gita Pangarep, yang berusia 17 tahun.

Gita sedang berada dalam masa pemberontakan remaja. Dia sering tidak pulang malam, jadi aku sendiri jarang melihatnya. Meski Maya ingin mendidiknya, dia juga tidak berdaya.

Selain itu, Gita bisa dibilang orang yang paling kasar terhadapku di rumah ini.

Saat melewatiku, Gita memiringkan kepala lalu meludah.

Air liurnya langsung mengenai bajuku.

Sebenarnya, Gita mungkin ingin meludah ke sepatuku, tapi tidak mengontrol arah dengan baik sehingga malah mengenai bajuku.

Dalam sekejap, wajahku langsung menjadi muram. Mataku sedikit menyipit dan amarah di dalam hatiku hampir tidak bisa lagi kutahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aroma Sang Jelita   Bab 100

    Pelacur? Perempuan yang bisa ditiduri siapa saja?Kata-kata penuh hinaan seperti itu membuat wajahku langsung menjadi suram.Meskipun hinaan itu bukan ditujukan kepadaku, penghinaan terhadap Selena tetap membuat hatiku terasa tidak nyaman.Kenapa bisa begitu?Itu jelas tidak mungkin.Selena bukan gadis seperti itu.Aku memang belum lama mengenal Selena, mungkin juga aku belum terlalu memahami dirinya. Namun, naluriku mengatakan bahwa Selena bukan perempuan yang bisa disentuh siapa saja.Sebaliknya, bagiku Selena memberikan perasaan yang sangat murni, semurni kelopak bunga yang melayang tertiup angin.Kadang-kadang aku bisa melihat ekspresi kehilangan dan kesepian di wajah Selena, bahkan sedikit kemurungan.Kalau benar dia tipe perempuan yang sama sekali tidak peduli soal hal-hal seperti itu, seharusnya dia tidak mungkin menunjukkan ekspresi seperti itu, 'kan?Masalah ini akan kuingat dalam hati. Setelah kembali ke kampus, aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya aku

  • Aroma Sang Jelita   Bab 99

    Buset, memang tidak heran perempuan ya. Dalam hal seperti ini benar-benar memikirkan jauh lebih banyak dibanding laki-laki. Hanya saja, meskipun nanti saat tua bisa kendur, kalau bahkan kesempatan untuk kendur saja tidak punya, bukankah itu malah lebih menyedihkan?Tentu saja, semua itu hanya kupikirkan dalam hati, jelas tidak mungkin kuucapkan. Aku masih belum ingin mati.Setelah jeda sesaat, Gita melanjutkan, "Seksi, cantik, nilai bagus. Harusnya dia tipe perempuan sempurna. Meskipun gadis seperti itu biasanya membuat perempuan lain iri, mereka biasanya juga nggak akan menunjukkannya secara terang-terangan. Apalagi laki-laki, pasti seperti lalat yang terus mengerubungi Selena.""Tapi reputasi Selena justru sangat buruk. Bahkan di seluruh kampus, mungkin nggak ada satu orang pun yang benar-benar akrab dengannya, baik laki-laki maupun perempuan.""Kenapa?""Karena jumlah pacarnya terlalu banyak.""Saking banyaknya, bahkan Selena sendiri juga mungkin nggak tahu sudah berapa.""Pada dasa

  • Aroma Sang Jelita   Bab 98

    Bersihkan leher mereka dan tunggu aku!Suara serak itu terdengar sangat dingin. Di mataku yang sedikit memerah bahkan terpancar sesuatu yang bisa disebut niat membunuh.Kali ini, aku benar-benar marah.Aku jelas bukan orang suci. Hal seperti membalas kebencian dengan kebaikan tidak mungkin terjadi padaku. Aku ini pendendam dan orang pendendam selalu membalas setiap dendam mereka, tidak peduli sekecil apa pun.Kalau sudah berani menyinggungku, bersiaplah menerima balasan seratus kali lipat. Aku akan membuat Lionel dan para idiot itu menyesal karena berani melawanku.Bahkan wajah Tandi langsung sedikit pucat melihat penampilanku. Meskipun niat membunuh itu bukan ditujukan padanya, dia tetap tak bisa menahan tubuhnya yang langsung gemetar, bahkan bulu kuduknya berdiri semua.Dia tersenyum kaku padaku, lalu meninggalkan ruang rawat bersama Nindy dan Selena. Sebelum pergi, Selena bahkan diam-diam melambaikan tangan padaku sebagai salam perpisahan.Namun, gerakan itu langsung tertangkap oleh

  • Aroma Sang Jelita   Bab 97

    "Sudah jauh lebih baik ....""Dengar tuh, dia sudah jauh lebih baik. Kalau kalian nggak ada urusan lain, cepat pergi saja." Gita terus melambaikan tangan kecilnya sambil berkata tidak sabar.Sikap itu terlihat sangat tidak sopan, seolah-olah dia sangat memusuhi orang-orang di depannya. Lebih tepatnya, dia sangat memusuhi Selena.Sebaliknya, setelah mendengar perkataan itu, Nindy langsung menghela napas lega. Dia terlihat sangat senang. Gadis itu bahkan tidak berani menatapku secara langsung. Tatapannya kepadaku selalu dipenuhi rasa takut.Mereka sudah jauh-jauh datang kemari, kalau langsung disuruh pergi memang rasanya tidak enak. Jadi, aku mengundang mereka masuk dan duduk sebentar. Mendengar itu, wajah Nindy langsung murung.Setelah duduk, Selena mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dari tas ranselnya dan bersiap menyerahkannya kepadaku."Kamu nggak masuk kelas, aku takut kamu ketinggalan pelajaran. Jadi aku rapikan catatan kelas ini untuk kamu. Kamu ....""Nggak perlu. Pelajarannya

  • Aroma Sang Jelita   Bab 96

    Setelah kejadian kali ini, jarak antara aku dan Gita juga sudah menghilang, hubungan kami berkembang pesat. Bagiku, Gita benar-benar sudah seperti keluargaku sendiri dan aku sama sekali tidak akan membiarkan Gita berada dalam bahaya.Kalau Lionel dan kelompoknya benar-benar berani datang mencari masalah, bahkan kalau harus mempertaruhkan segalanya, aku akan menghantamkan teko air panas di tanganku ini ke kepala mereka.Air di dalam teko ini baru saja direbus oleh Gita. Kalau benar-benar terkena, mungkin wajah orang itu akan langsung matang.Dengan wajah garang, aku langsung membuka pintu dan bergegas keluar.Namun, begitu sampai di luar, ekspresiku langsung berubah aneh.Situasinya ternyata sedikit berbeda dari yang kubayangkan. Kukira yang bertengkar dengan Gita adalah Lionel dan teman-temannya, tetapi setelah diperhatikan baik-baik, ternyata sama sekali bukan.Yang berdiri di depan Gita adalah tiga orang mahasiswa dan mereka terlihat cukup familier. Sepertinya mereka adalah teman sek

  • Aroma Sang Jelita   Bab 95

    Aku menatap punggung Amira yang semakin menjauh. Meskipun merasa agak memalukan, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya."Oh ya, Amira ... kakakmu mana?" Begitu kata-kata itu keluar, aku langsung ingin menampar diriku sendiri. Ini sebenarnya apa sih?Siapa sangka setelah mendengar pertanyaanku, wajah Amira tiba-tiba membeku sesaat. Setelah tertawa kaku sebentar, tatapannya tanpa sadar menghindariku."Kamu juga tahu sendiri 'kan ... Kakak itu ketua yayasan, jadi pekerjaannya sangat sibuk. Dia harus pergi lebih awal.""Tapi Kakak juga menyuruhku bilang ke kamu supaya kamu istirahat yang baik. Soal lain nggak perlu khawatir, dia bilang semuanya akan dia urus." Amira berbicara dengan cepat."Sudah siang, aku harus pergi dulu. Nanti sore aku datang lagi." Setelah melambaikan tangan kepadaku, Amira pun meninggalkan ruang rawat. Aku pun tidak terlalu memikirkannya.Setelah adik iparku pergi, di ruang rawat hanya tinggal aku dan Gita.Aku melirik Gita. Mungkin karena kejadian tadi, d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status