LOGIN"Om harus puasin aku sekarang, dan sebagai jaminannya... Om pasti jadi Papa tiriku." Jevan Mahendra, mantan polisi yang dipecat karena fitnah besar yang dilakukan oleh seorang pengusaha kaya bernama Rendra Satvika. Pemecatan tak terencana itu membuat sang komandan besar mengajak Jevan bekerja sama, ia menugaskan Jevan untuk menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Rendra. Sialnya, Jevan malah dijadikan tumbal untuk menggoda mantan istri Rendra—Bianca Satvika. Misi Jevan tak berjalan mulus karena kedua putri Bianca dan mendiang Rendra justru tergila-gila padanya.
View MorePOV KIARA"Mama harus tahu..."Hanya kalimat itu yang terus berputar di kepalaku sejak Komandan Rakabumi mengatakan operasi penangkapan akan dilakukan malam ini.Aku menundukkan kepala, berpura-pura masih sibuk mengusap air mata. Dari sudut mataku, kulihat Om Jevan dan anggota kepolisian lainnya kembali membahas tumpukan berkas di atas meja. Tidak ada lagi yang memperhatikanku. Mereka menganggap aku hanya seorang gadis yang masih trauma setelah hampir diculik.Kalau aku tetap berada di sini, malam nanti semuanya akan terlambat.Mama harus tahu. Nyonya Luan juga harus tahu.Tapi bagaimana caranya?Aku menggigit pelan bibir bawahku sambil mengepalkan kedua tangan di atas pangkuan. Ponselku sudah lama tidak ada. Semua jalur komunikasi denganku diputus sejak semalam. Bahkan kalau sekarang aku nekat keluar dari kantor polisi, Om Jevan pasti langsung mengejarku.Sial...Seketika aku langsung menyesal datang ke sini. Tapi jika tidak, aku tak akan tahu kalau polisi sudah bertindak sejauh ini.
POV JEVANRuang rapat di lantai tiga masih dipenuhi suara lembaran berkas yang dibolak-balik sejak aku datang satu jam lalu. Papan tulis di depan ruangan semakin sesak oleh foto-foto, denah bangunan, hingga garis merah yang menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Beberapa anggota sibuk menyusun laporan terbaru, sementara Rakabumi berdiri di depan papan sambil memperhatikan seluruh perkembangan yang berhasil kami kumpulkan sejak semalam. Anehnya, dari semua bukti yang kini berada di depan mata, pikiranku justru terus kembali pada satu orang.Nadira.Aku kembali menekan tombol panggil di ponsel untuk kesekian kalinya. Nada sambung hanya terdengar beberapa detik sebelum akhirnya terputus begitu saja. Tidak ada jawaban. Tidak ada pesan. Tidak ada satu pun tanda yang menunjukkan perempuan itu baik-baik saja. Jemariku tanpa sadar mengetuk pelan permukaan meja, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali pikiranku mulai dipenuhi firasat buruk.Rakabumi yang sedari tadi memperhatikan l
POV NADIRAAku mengenali perempuan yang berdiri di ambang pintu itu.Wajahnya masih terlihat pucat, salah satu tangannya masih terpasang infus yang menggantung pada tiang penyangga.Namun sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan seseorang yang baru saja sadar setelah berhari-hari terbaring di rumah sakit.Ruangan mendadak sunyi.Kiara yang sejak tadi berdiri di depanku perlahan melepaskan cengkeramannya pada kerah bajuku. Ia mundur satu langkah, memberi jalan tanpa diminta. Nyonya Luan yang sejak tadi mengawasi dari luar juga ikut menyingkir ke samping, membiarkan perempuan itu masuk lebih dulu."Mama..." suara Kiara terdengar jauh lebih pelan dibanding bentakannya beberapa detik lalu.Bianca tidak langsung menoleh kepadaku. Tatapannya justru berhenti pada meja yang terguling dan foto-foto yang berserakan di lantai. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan mendekat, lalu membungkukkan badan perlahan untuk memunguti satu per satu lembar foto itu."Apa yang kamu lakukan?" tan
POV NADIRAAku tidak tahu sudah berapa lama berada di ruangan itu. Jam dinding terus berdetak pelan, tetapi tidak ada seorang pun yang masuk sejak Nyonya Luan meninggalkanku beberapa saat lalu. Ruangan VIP itu memang terlihat nyaman, lengkap dengan sofa, tempat tidur, dan kamar mandi pribadi. Namun bagiku, semua itu tidak lebih dari sebuah sangkar yang dibuat semewah mungkin.Pelan-pelan aku bangkit dari kursi, lalu berjalan menuju pintu. Jemariku mencoba memutar kenopnya beberapa kali, berharap kuncinya hanya macet. Namun hasilnya tetap sama. Aku mengetuk pintu dari dalam sambil memanggil pelan, "Permisi... ada orang di luar?" Tidak ada jawaban. Lorong di balik pintu tetap sunyi, membuatku sadar mereka memang sengaja mengunciku di sini.Aku baru saja berbalik ketika suara kunci diputar dari luar membuat langkahku terhenti. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Kiara yang masuk sambil membawa sebuah map cokelat tipis. Wajahnya sudah tidak lagi dipenuhi air mata seperti semalam. Ta
“Gak sanggup? Payah kamu, Jev.” Nadira mengejek. “Mau makan dulu gak sama aku? Aku juga masih nunggu orang.”Sepertinya tawaran Nadira tak bisa ditolak. Kami pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel, memesan makanan, dan duduk tenang menikmati makanan. Sesekali berbincang agar tak terlalu henin
“Ya sudah, saya antar kamu ke klinik—““Boleh antar aku ke hotel aja, Om? Aku mau tinggal beberapa hari di sana sampai baikan sama Mama,” kata Celine memotong.Kupatuhi permintaannya, kugendong gadis langsing itu dan duduk di mobil. Dia mengucapkan terima kasih, wajahnya memerah mungkin karena malu
Aku mengerang panjang sambil melepas semuanya ke atas perut Nadira. Perempuan cantik sepantarakan denganku yang sudah hampir satu tahun ini menjadi partner ranjangku. Pasangan tanpa status, hanya untuk bersenang-senang.Kuraih semua pakaianku dan kupakai seperti semula, kotak rokok dan korek gas di
Gadis itu memajukan badannya sehingga makin menempel padaku, tatapan mata yang kulihat sinis sejam yang lalu kini berubah sedikit liar menggoda.Aku meneguk ludah ... ‘Jevan Kecil’ di bawah sana mulai kehilangan harga dirinya. Apalagi saat kurasakan Kiara seperti sengaja menggerakan tubuhnya sehing
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.