ログイン"Om harus puasin aku sekarang, dan sebagai jaminannya... Om pasti jadi Papa tiriku." Jevan Mahendra, mantan polisi yang dipecat karena fitnah besar yang dilakukan oleh seorang pengusaha kaya bernama Rendra Satvika. Pemecatan tak terencana itu membuat sang komandan besar mengajak Jevan bekerja sama, ia menugaskan Jevan untuk menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Rendra. Sialnya, Jevan malah dijadikan tumbal untuk menggoda mantan istri Rendra—Bianca Satvika. Misi Jevan tak berjalan mulus karena kedua putri Bianca dan mendiang Rendra justru tergila-gila padanya.
もっと見る“Celine, Kiara....” Bianca berteriak tepat saat ia membuka pintu utama rumah mewah yang baru pertama kali kudatangi ini.
Dari dua nama yang disebut, hanya satu yang muncul. Seorang gadis dengan daster berwarna merah muda sebatas lutut, matanya sembab seperti orang yang habis menangis. Tatapannya datar, bolak-balik melihatku dan Bianca.
“Celine mana, Kiara?” Bianca masih menggandeng tanganku saat kami menghampiri gadis itu.
“Belum pulang,” jawab gadis itu lalu tatapannya berpindah padaku. “Pacar baru lagi, Ma?”
Bianca terkekeh. “Mama dan Mas Jevan akan menikah minggu depan.”
Kiara terkejut, matanya yang bengkak itu melotot sempurna. “Ni-nikah? Kok bisa? Ah, maksud Kiara... kemarin bukannya Mama pacaran sama Om Alden?”
Kiara menatapku dari atas sampai bawah. “Umur Om berapa? Kok mau sama Mamaku? Mamaku umur 45 loh. Kayaknya Om masih muda.”
Ocehannya sangat berisik, persis seperti Bianca, bikin pusing. Aku hanya nyengir kuda, tapi tetap kutunjukkan ketulusanku.
“Saya mencintai Mama kamu, Kiara,” jawabku lembut, tapi yang kuterima adalah balasan tatapan sinis gadis itu serta decihan kecil seolah ia bisa menebak bahwa aku memang tidak tulus.
Kiara berbalik badan, dari belakang bisa kulihat bentuk tubuhnya yang bahenol persis seperti Bianca tapi versi mini. Bokongnya sintal, memantul mengikuti gerakan kakinya. Indah sekali.
“Mas, kita duduk dulu, yuk. Nanti aku suruh Bibi bikin makanan dan minuman.” Bianca meraba perutku, disertai tatapan menggoda yang membuatku harus mati-matian menahan diri.
Wanita yang baru kukenal tiga minggu yang lalu, tak kusangka dengan mudahnya menerimaku masuk dalam hidupnya. Bermodal kalung berlian, Bianca langsung putus dengan pria yang baru ia pacari dua bulan yang lalu.
Ia pun tak sungkan mengajakku segera menikah setelah kukatakan bahwa aku punya berpetak-petak tanah di kampung halaman. Muda, tampan, dan kaya raya, itulah yang Bianca tahu tentang diriku.
“Om, silakan diminum.” Kiara tiba-tiba datang dengan nampan di tangan. Wajahnya masih sama datarnya, tapi begitu ia menunduk untuk meletakkan nampan di atas meja ... belahan di balik dasternya menyembul di depan mataku.
“Mbak yang kerja di rumah ini lagi sakit, jadi kalau butuh apa-apa panggil aku aja,” kata Kiara lagi.
Kesadaranku kembali setelah bermenit-menit gagal fokus. Begitu Kiara berbalik badan, mataku lagi-lagi terpusat pada bongkahnya. Sial sekali ... kenapa Bianca malah membawaku ke sarang gadis muda cantik seperti Kiara ini.
Waktu sudah menunjukkan jam delapan malam, pintu utama terbuka saat aku dan Bianca sedang berbincang santai. Seorang gadis yang kutaksir usianya lebih dari 20 tahun muncul, wajahnya ramah, terlihat dari senyumnya saat melihatku dan Bianca di sofa ruang utama.
“Siapa, Ma?” tanya gadis itu.
“Celine, kenalkan, calon Papa kamu namanya Jevan.”
Gadis yang kulit wajahnya seperti porselen dengan tahi lalat di bawah mata itu mengangguk, lalu mengulurkan tangan. “Saya Celine, Om. Kakaknya Kiara.”
Kusambut uluran tangan Celine, detik itu juga hatiku berdesir luar biasa.
Mulus, seperti wajahnya. Aroma parfumnya bahkan masih tercium padahal wajahnya terlihat lelah sekali khas budak-budak korporat yang kelelahan selepas bekerja seharian.
“Saya ke kamar dulu ya, Om,” kata Celine.
Ekor mataku melirik, meski Celine tak sebahenol Kiara, tapi kaki jenjang yang terbungkus rok span selutut itu berhasil mencuri perhatianku.
Kuteguk salivaku bulat-bulat, pikiranku mulai berkeliaran ke mana-mana. Bagaimana bisa aku bertahan di dalam rumah berisi tiga bidadari sintal?
“Mas, udah malam banget. Kamu mau nginep aja gak?” Bianca menawarkan, seperti biasa suara lembut dan tatapan matanya membuatku terhipnotis beberapa saat.
“Aku harus ngantor besok, Sayang,” jawabku sembari mengusap kepala wanita itu. “Aku ada meeting dengan klien, gak bisa ditinggal. Ini penentu pernikahan kita minggu depan, kamu mau mahar mewah walau pesta kita sederhana, kan?”
Bianca mengangguk, ia rapatkan duduknya, tubuhnya condong sehingga dadanya yang besar itu menempel tepat di lenganku. Kecupan singkat tapi hangat menyentuh pipiku, sementara satu tangannya mengusap-usap lututku.
“Mas jangan nakal, ya. Kamu udah janji mau serius sama aku sejak kita pertama kali begituan,” bisik Bianca nakal.
Aku tersenyum, tak membantah. Aku memang mengatakan hal itu pada Bianca dalam keadaan sadar saat menikmati tubuhnya di bawah remang lampu hotel bintang tiga.
“Aku boleh numpang ke kamar mandi?” tanyaku segan.
“Aku antar, ya. Tapi kamar mandi di kamarku dan di dekat dapur lagi ada masalah. Aku antar kamu ke kamar Kiara aja, ya.”
Aku hanya mengangguk, tak punya waktu untuk bertele-tele karena sudah di ujung tanduk. Bianca mengantarku sampai ke depan kamar Kiara, ia membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Bianca tak ikut masuk, hanya aku dan leherku yang celingak-celinguk mencari pemilik kamar.
“Sepi. Apa gak apa-apa aku pakai kamar mandinya tanpa bilang-bilang?” gumamku.
Ah, masa bodoh, aku sudah tak tahan. Kudorong pintu kamar mandi, dan kutuntaskan hajatku. Aku mendesah lega sembari menekan tombol flush. Selesai sudah.
“Punya Om ternyata gede!”
Aku hampir melompat, tubuhku oleng hampir menabrak dinding. Kiara muncul dari balik gorden yang menutup bathtub. Tubuhnya basah kuyup hanya ditutup tangtop tipis dan celana pendek yang mungkin sebenarnya tak mampu menampung bongkahan panggulnya.
“Ki-Kiara... maaf, saya pikir gak ada siapa-siapa—“
“Sssttt, santai aja, Om. Jangan sok kaget gitu nanti Mama curiga.” Kiara tersenyum sinis, kedua tangannya berkacak di pinggang, menatapku menyelidik.
“Jujur umur Om berapa? Kayaknya masih muda, kayaknya seumuran sama Kak Celine. Om cuma mau morotin Mamaku, kan? Mamaku itu janda kaya raya, mendiang Papaku ninggalin harta buat tujuh turunan!” sergah Kiara menutut.
Aku menelan ludah.
“Kenapa diam? Bener kan tebakanku?” Tangannya terlipat di depan dada, membuat gunung padat itu makin terlihat menantang.
“Ka-kamu salah paham, Kiara. Percuma kalau saya jelaskan, kamu pasti gak akan percaya. Lebih baik kamu tanya Mama kamu sendiri, sekalian tanya kalung berlian yang dia pakai itu dari siapa,” kataku mulai santai.
Kiara terperangah. “Jadi berlian itu dari Om? Wah, aku mau dong.”
Matre! Persis Bianca sekali.
“Nanti kalau kamu resmi jadi anak saya, saya beliin satu set.”
Kiara hampir berteriak, saking girangnya ia melompat ke pelukanku, membuatku yang tak siap otomatis harus memeluknya—menahan tubuh agar tak jatuh. Kedua tanganku refleks membungkus pinggang Kiara, sementara kedua tangan gadis itu memeluk erat leherku.
“Om mau minta apa sama aku? Aku kasih,” katanya, entah polos, entah memang sengaja.
“Mi-minta apa maksud kamu?”
Ia mendongak, tanpa melepas rangkulan di leherku, ia menatapku persis seperti tatapan Bianca yang selalu menggoda. “Jangan pura-pura polos, Om. Aku udah 19 tahun loh.”
“Terakhir kali aku minta iphone sama dosenku langsung dibeliin, tapi hampir tiap hari aku ciuman sama dia.”
Aku melotot. “Ci-ciuman?”
Gila nih anak! Batinku mulai kacau.
“Iya, sambil pangku-pangkuan. Nanti kalau Om udah jadi Papaku, Om minta aja sama aku. Aku kasih....”
“Aahh... Mas Jevan....” Bianca melenguh.Kutepati janjiku, hampir setengah hari kuhabsikan waktu bersama janda kaya raya yang hidupnya akan kumanfaatkan habis-habisan.Wanita itu sekarang mengangkang di pangkuanku, sementara pinggulku bergerak naik turun menghantam miliknya dari bawah. Tingkat agresif Bianca patut diacungi jempol, dia tidak diam saja seperti Kiara ketika diterpa badai kenikmatan.Sebaliknya, Bianca akan mengimbangiku, menjilati atau menciumi wajahku bahkan ketika aku sedang menyusu. Ah, sepak terjang wanita ini di dunia ranjang memang tidak bisa diragukan.Suara kecipak pertemuan dua paha kami menggema bersama suara desahannya, mungkin juga terdengar sampai ke luar kamar karena pintu itu terbuka sedikit. Pasti ini sudah menjadi kebiasaan Bianca.Jika kemarin Celine-lah yang memergoki kami, sekarang Kiara berdiri di sana dengan ekspresi yang... aku yakin dia pasti merajuk padaku dan memohon dimanjakan seperti ibunya juga.“Sayang, kamu gak tutup pintu. Nanti kalau Kiar
Sudah jam tujuh pagi, Kiara masih tertidur pulas memunggungiku, tubuhnya masih polos tertutup selimut. Kupandangi wajahnya yang jelita, leher dan dadanya yang penuh bekas cupang, dan rambutnya yang sedikit berminyak.“Cantik sekali,” gumamku. “Luar biasa.”Sialnya, isi kepalaku malah bergeriliya ke mana-mana, membandingkan Bianca dan Kiara dari segi kehebatan di ranjang, tapi aku juga penasaran dengan hal lain... bagaimana dengan Celine?Ponselku berdering, sebuah pesan dari Nadira membuatku harus buru-buru memakai seluruh pakaianku. Kukecup kilas dahi dan pipi Kiara lalu kutinggalkan begitu saja.“Hallo, Nad? Ada apa?”“Kamu di mana? Bisa jemput aku di hotel? Komandan Rakabumi ngajak diskusi jam setengah sembilan di markas,” katanya.“Ok, aku ke hotel.”“Kamu dan Bianca sudah berbaikan?”“Belum, tapi tenang aja, aku dan Bianca pasti baik-baik aja.”“Syukurlah. Kalau dia gak mau baikan, kamu pake aja badannya.” Nadira tertawa.Aku hanya tersenyum, tidak mungkin bilang kalau semalam te
“Aahh....” Lolos desahan Kiara.Aku mulai gugup, keringatku bercucuran, masih belum bisa mencerna apa yang kuhadapi sekarang. Kiarani Satvika, gadis 19 tahun yang kumengerti dirinya masih senang bermain-main dan mencari tahu banyak hal.Entah hal apa yang selama ini Kiara hadapi di luar sana dan bagaimana kedua orang tuanya mengawasinya. Kiara amat binal untuk gadis seusianya.“Ki-Kia....”“Om, aku gak tahan,” bisiknya, dan detik kemudian ia menurunkan kedua tali bra, membuka pembatas kain yang menutup kedua payudaranya.Blush!Wajahku memerah, tak bisa munafik pemandangan di depan mataku benar-benar luar biasa. Besar, padat, aku membayangkan bagaimana rasanya jika ‘Jevan Kecil’ menjepit di tengah-tengah.“Bagusan punyaku atau punya Mama?”Boro-boro menjawab, isi kepalaku sudah mengosong saat Kiara membawa kedua telapak tanganku agar menyentuh kedua dadanya.Napasku tersendat detik itu juga. Kenyal, lembut, aah... aku ingin melakukan lebih. Persetan dengan kewarasanku, malam ini aku b
“Gak sanggup? Payah kamu, Jev.” Nadira mengejek. “Mau makan dulu gak sama aku? Aku juga masih nunggu orang.”Sepertinya tawaran Nadira tak bisa ditolak. Kami pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel, memesan makanan, dan duduk tenang menikmati makanan. Sesekali berbincang agar tak terlalu hening.Jujur saja, di antara aku dan Nadira tidak pernah ada pembahasan penting kecuali saat kami saling membutuhkan di atas ranjang. Hubungan kami murni pertemanan dan saling menguntungkan, karena kalau soal perasaan aku tidak yakin Nadira orang yang mudah membuka hati hanya karena seks.Ponselku berdering lagi, tapi kali ini bukan telepon yang kuterima, melainkan sebuah pesan gambar dari Bianca.“Astaga!” Aku meremas rambutku, frustrasi.“Hm? Kenapa, Jev?”Kusodorkan ponselku pada Nadira, detik itu juga ia ikut terkejut. Ada seseorang yang mengikuti kami, mengambil foto kami saat keluar dari hotel dan juga canda kecil yang kami lakukan beberapa menit sebelum makan.Foto itu dikirimkan oleh Bia
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.