เข้าสู่ระบบQueen berjalan cepat menuju kelas 12A. Di belakangnya, Jenni mengikuti sahabatnya sambil ngos-ngosan karena Queen terlalu cepat berjalan.
"Queen, tungguin!" seru Jenni, lagian sahabatnya itu mau kemana sih. "Queen, lo mau kemana sih!" Queen tidak menggubris panggilan Jenni, keduanya mendekati kelas 12A barulah Jenni sadar tujuan Queen mau kemana. Zayn dkk kelas 12A sedangkan Queen, Jenni, dan Anjani 11B. Jenni menahan tangan Queen. "Ngapain ke sini? Udah gue bilang lo nggak kenal sama mereka," sahut Jenni. Wajahnya berubah datar mengetahui Queen pasti ingin menemui Zayn. "Udahlah Queen, kita balik aja." Jenni menarik tangan Queen tapi di sentak, Queen malah masuk ke kelas dan Jenni mengikutinya di belakang. Tidak akan Jenni biarkan Zayn dkk menyakiti sahabatnya lagi, sudah cukup selama ini Jenni mengikuti perkataan sahabatnya yang dulu tidak ingin dia melukai orang tercintanya. Keduanya menjadi pusat perhatian di kelas 12A, dengan wajah memerah marah Queen berjalan ke arah Zayn dkk yang sedang bercanda gurau. Brak Zayn dkk terkejut melihat Queen ada di kelas mereka, lebih terkejut lagi ia menggebrak meja, berbeda dengan Zayn yang malah tersenyum miring. "Kenapa, udah nggak tahan karena drama murahan lo itu nggak berhasil?" tanya Zayn tersenyum remeh. "Queen, Queen, baru aja gue bersyukur lo berubah jadi baik dan nggak ganggu hubungan Zayn sama Anjani lagi, tapi sekarang lo berulah lagi,” sahut Fatar kesal. Dia capek terus melihat drama yang tidak ada ujungnya ini. "Dari pada mengejar orang yang udah punya pasangan, kenapa nggak terima gue aja, Queen? Tenang, gue masih mau kok sama lo." Elzio tersenyum menggoda kepada Queen. "Ada perlu apa datang ke sini Queen, ada perlu sesuatu atau ingin bertemu Zayn?" tanya Lingga, memang hanya Lingga yang waras di sini. "Menjijikan," cibir Atarik. Plak "Pelajaran buat lo karena berani cari masalah sama gue," ucap Queen dingin. Mereka terkejut, melihat Queen yang menampar seorang Atarik yang selalu berkata pedas dan juga paling misterius menurut mereka lantaran tidak jelas asal-usulnya bahkan keluarganya pun mereka tidak tahu. "LO!" seru Atarik marah. Tamparan Queen tidak main-main, bahkan membuat wajah Atarik tersentak ke samping dan sudut bibirnya berdarah. Zayn dkk yang melihat Queen berani menampar Atarik terkejut, mereka saja tidak berani mencari masalah dengan seorang Atarik yang gampang tersulut emosi. Tangan Atarik sudah berada di atas, siap memukul pipi Queen tapi terhenti mendengar perkataan Queen. "Apa! Mau balik nampar gue? Silahkan! Gue paling nggak suka orang cabul kayak lo. Dan ingat kak Atarik! Jangan pernah manjat ke kamar gue lagi. Dasar kepribadian ganda!" Setelah mengatakan itu Queen pergi meninggalkan kehebohan yang ia lakukan, bahkan Jenni yang tadi mengikuti Queen pun terdiam mematung. "Andai yang lo tampar kak Zayn, gue pasti lebih bahagia," lirih Jenni. Dia tidak percaya Queen seberani itu, apalagi menampar seorang Atarik? Dia saja takut melihatnya, tapi sahabatnya sangat keren dan manjat ke kamar Queen? Wajah Jenni berubah marah, tapi dia tidak mempunyai keberanian memukul Atarik, akhirnya dia pergi mengikuti sahabatnya. "Jelaskan!" titah Zayn menatap Atarik tajam. Begitupun Atarik yang menatap Zayn tak kalah tajam, tangannya mengepal mendengar orang-orang yang membicarakan dia yang masuk ke kamar Queen. ‘Awas lo Queen, gue balas nanti dan sepertinya ancaman gue kasih di rooftop waktu itu ngga membuat lo kapok’ batin Atarik. "Apa?" jawab Atarik kembali santai. "Kenapa lo masuk ke kamar Queen?" tanya Zayn, tangannya mengepal menahan amarah. "Dan kenapa lo marah, masih suka sama cewek itu?" tanya balik Atarik tersenyum miring, Zayn terdiam sambil berusaha menstabilkan diri yang terlalu emosi. "Nggak, lo suka sama Queen?" tanya Zayn tenang. "Kalo iya kenapa, dan kalo enggak jug…" Bug "Jangan pernah berani mendekati Queen!" seru Zayn marah, sahabatnya yang lain terkejut melihat Zayn memukul Atarik. "Double shitt!" umpat Atarik, kembali mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Bug bug Atarik membalas memukul Zayn tak kalah kuat, harga dirinya seperti tergores oleh Queen dan juga Zayn. "Gue paling nggak suka ada yang sentuh wajah gue." Saat Atarik ingin memukul Zayn kembali, Lingga menghalanginya dan berusaha menenangkan keduanya. "Udah stop! Ngapain sih berantem karena cewek. Ingat! Queen bukan cewek lo Zayn, mau Queen sama Atarik atau siapapun terserah dia karena lo bukan siapa-siapa. Harusnya lo lebih mentingin pacar lo yang sekarang sedang melihat lo," sahut Lingga. Zayn yang mendengar ucapan sahabatnya panik, dia melihat pacarnya yang berada di dekat pintu dengan mata berkaca-kaca. "Dan lo Atarik, kendalikan amarah lo dan nggak perlu melakukan kekerasan jika bisa diselesaikan dengan cara baik-baik,” lanjut Lingga lagi. Atarik berdecih. "Dia duluan yang pukul gue." "Gue tahu, tapi Zayn cuman pukul lu sekali dan lo balesnya berkali-kali," jawab Lingga. Atarik yang malas, pergi begitu saja dari hadapan mereka guna menenangkan diri yang masih tersulut emosi. Sedangkan Zayn menghampiri Anjani lalu memeluknya erat. "Maaf, aku nggak bermaksud seperti itu. Hanya saja dulu Queen pernah menjadi kekasihku dan dia paling takut dengan pria yang tiba-tiba datang ke kamarnya." Bukannya menenangkan pacarnya, Zayn malah membuat tangisan Anjani semakin pecah, bahkan Anjani mendorong Zayn lalu pergi berlari meninggalkan mereka yang menatapnya prihatin. "Argggh, sialan!" ngegas Zayn, lalu pergi mengejar pacarnya yang marah. "Percintaan memang rumit," ujar Fatar bergidik ngeri membayangkan dia yang seperti Zayn tadi. ******* "Queen, apa maksudnya Kak Atarik manjat ke kamar lo?" tanya Jenni kepo, Queen menatap sahabatnya datar. "Perlu gue jawab? Sedangkan gue udah kasih tahu kalo Kak Atarik manjat?" "Ekhem, maksud gue apa tujuannya kak Atarik manjat ke kamar lo?" tanya Jenni, sedikit canggung karena ucapannya tadi yang bodoh. Queen mengangkat bahunya acuh. "Gue nggak tahu." "Terus dia lakuin apa sama lo?" tanya Jenni semakin kepo, seketika ingatan Atarik yang menciumnya kembali ia ingat membuat wajahnya memerah kesal. "Kepo." Jenni mengerucutkan bibir, sedangkan Queen mengerutkan keningnya bingung dengan sifat Atarik yang sungguh berbeda. "Jenni." "Hmm." Dehem Jenni yang sedang memakai lipstik. "Kak Atarik, kepribadian ganda ya?" tanya Queen, bukannya menjawab Jenni malah tertawa terbahak-bahak. "Ampun deh Queen, nggak mungkinlah. Kak Atarik itu orangnya cuek, tapi omongannya pedes bahkan gue juga pernah kena semprot sama dia pas gue pake lipstik. Lo tahu dia bilang apa?" Queen menggelengkan kepalanya tidak tahu. "Lo belum kasih tahu gue." "Hehe… iya juga ya, dia bilang gini. 'lo mau sekolah atau mau ngejamet, nih gue punya nomor Om Om' dia bilang gitu ke gue Queen. Sumpah demi apapun gue malu banget karena dia bilangnya di depan anak-anak lain." Jenni menutupi wajahnya dengan tangan, merasa malu mengingat kejadian memalukan itu. Queen tertawa membayangkan berada di posisi Jenni, tapi ia masih tidak yakin Atarik tidak memiliki kepribadian ganda. "Terus lo ambil nomor Om Om nya?" "Gila aja! Nggak mungkin lah, bahkan semenjak itu gue nggak berani beli dan pake lipstik warna merah lagi." Jenni berucap heboh, pecah sudah tawa Queen. ‘Ternyata punya sahabat nggak buruk juga’ batin Queen. Queen sudah mulai nyaman bersama Jenni. Semoga saja Jenni tidak mengkhianatinya seperti kebanyakan orang yang mendekat, jika iya entah bagaimana hati Queen nanti. "Gue penasaran deh, kenapa lo pengen tahu tentang kak Atarik. Lo suka dia?" tanya Jenni dengan wajah serius. Tawa Queen terhenti, melihat lapangan yang memperlihatkan Zayn sedang berpelukan dengan Anjani. "Mana mungkin gue suka sama orang yang sahabat gue cintai?" Queen menyeringai menatap kembali Jenni yang kelabakan. "Eng-engga, gue nggak suka dia." "Masa?" "Dulu pernah suka, tapi semenjak dia komentar tentang lipstik gue. Gue berubah pikiran, mana mungkin gue mau sama cowok yang belum jadian aja udah berkomentar sakit hati, terus kalo nanti udah jadian pasti dia bakal ngatur hidup gue. Iuwww ogah," ujar Jenni serius. "Bagus, karena lo mau jadi sahabat gue. Gue kasih tahu sesuatu, jangan melihat orang yang perlu lo lihat, tapi lihatlah orang yang memperhatikan lo." Queen berucap seperti itu dengan mata melihat sepasang kekasih di lapangan yang sedang bercanda tawa dan Queen tidak menyukai itu. "Maksud lo?" Jenni bingung dengan perkataan Queen, lebih tepatnya bingung karena perkataan Queen seakan mengatakan keduanya baru bersahabat. "Gue ke toilet." Queen berdiri, tapi tangannya ditahan Jenni. "Lo beneran pergi ke toilet, kan?" Queen terkekeh. "Kali ini gue serius, mau lihat gue B A B?" "Iihh jorok lo Queen, sana pergi!" seru Jenni dengan tangan mengibas-ibas seperti mengusir, Queen mengangkat bahunya acuh lalu pergi keluar. Kali ini Queen memang benar ingin ke toilet karena ingin buang air kecil, Queen berjalan anggun melewati lapangan yang dimana ada sepasang kekasih yang sedang bermain basket yaitu Zayn dan Anjani, ada sahabat Zayn juga di sana. "Gue nggak suka lihat wajah lo bahagia Anjani," gumam Queen pelan. Tanpa melihat mereka, Queen tetap berjalan lurus sampai toilet Queen menuntaskan hajatnya. Setelah selesai, Queen keluar dari toilet lalu wajahnya berubah terkejut. Kalian tahu kenapa? Di depannya ada seorang pria yang bersandar di tembok dengan tangan dimasukin ke dalam saku celana, mata itu lagi-lagi menatapnya memuja. "Belum puas gue tampar lo, kak?" ujar Queen menatap pria yang wajahnya mirip Atarik, bukannya takut pria itu malah tertawa. "Gue senang lo tampar pria itu, jika perlu lo bunuh dia." Queen menatap pria itu tidak percaya, Adakah cowok seperti dia yang menginginkan ia membunuhnya? Dan yang membuat Queen bingung kenapa tidak ada bekas luka di sudut bibirnya, sedangkan Queen menampar sangat kuat. "Siapa lo sebenarnya?" tanya Queen curiga. "Ala." Keduanya saling tatap seperti sedang mencari sesuatu di antara keduanya."Dan di sini saya ingin memperkenalkan kepada kalian seseorang yang sangat berarti untuk saya, seseorang yang akan menjadi Nyonya Carlitos. Dia adalah.... Shaqueena Moonstone dan saya peringatkan kepada kalian semua tidak ada yang boleh mengganggunya ataupun keluarganya. Jika tidak, maka kalian akan berurusan dengan saya," seru Ala dingin. Dia sengaja berbicara seperti itu agar seluruh dunia tahu kalo Queen adalah miliknya seorang.Queen tersenyum manis mendengarnya, begitupun keluarga Ala dan Frederick yang merasa terharu menyaksikan keduanya bahagia.Bahkan, Ala membiarkan para wartawan masuk untuk meliputi acara ini, biasanya saat kepala keluarga Charleston adalah Ricard maka wartawan tidak boleh datang ke acara itu karena privasi, tapi tidak untuk Ala yang malah sengaja mengundang mereka datang dan benar saja berita hari ini gempar dan membuat orang-orang terkejut."Silahkan menikmati acaranya," lanjut Ala lagi, lalu turun dari atas panggung menuju tun
"Ala, bukannya aku sudah bilang kalo aku masih sekolah?" ujar Queen kikuk, bigutupun Ala yang cengengesan. "Hehe... typo Sayang, ini buat kamu," ujar Ala menyengir sambil menyerahkan bunga dan boneka. Apalagi saat tatapan matanya menatap calon mertuanya yang menatapnya datar dan tajam, membuat Ala salah tingkah. Ala mendekati Queen yang memegang bunga dan boneka dan menatapnya memuja, Queen pun membalas menatap Ala dengan mata berbinar karena memang dari dulu Queen memimpikan adegan romantis seperti ini. "Sayang, sebelumnya terima kasih sudah menerima aku menjadi bagian hidup kamu. Aku senang banget mengenal kamu karena denganmu aku bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini aku inginkan. Bahkan, kamu yang menjadi penenang hidupku. Entah bagaimana jika aku nggak bertemu kamu, mungkin saja aku akan menyerah." Ala berucap tulus dari dalam lubuk hati yang terdalam, Queen menganggukkan kepalanya menatap sang kekasih terharu karena dirinya pun sama seperti Ala. "Harusnya aku yang berte
Pagi harinya, Queen sudah pulang di antar sang kekasih, ia tidak menyangka kemarin kekasihnya berucap seperti itu padahal dirinya sudah bilang kalo ia masih sekolah. "Sayang, boleh tinggalkan kami berdua?" ujar Ala lembut, Queen menatap kekasihnya dan Daddy-nya secara bergantian. "Mau ngapain?" tanya balik Queeen memicingkan matanya. "Ada urusan bisnis." "Dad bohong, kalo tentang bisnis kenapa Queen nggak boleh tahu?" tanya Queen semakin curiga, Ala yang gemas mencubit kedua pipi kekasihnya. "Nurut apa kata Daddy sama calon suami, Sayang," ucap Ala lembut, Queen yang mendengar itu wajahnya memerah. Hey, bisa-bisanya ia malu mendengar ucapan Ala yang mengucapkan kata calon suami, ia menyentak tangan Ala dan menatapnya dengan wajah memerah malu. "Dasar nggak tahu tempat." Setelah mengatakan itu, Queen berlari masuk ke kamarnya karena malu. Frederick menggelengkan kepalanya melihat kebucinan keduanya, tapi hatinya merasa senang melihat anaknya bahagia kembali tidak seperti
"Lo mukul dia lagi, gue tembak kaki lo," ujar seseorang yang baru datang. Queen melihat orangnya, ia penasaran siapa yang berani mengganggu kesenangannya dan ternyata ada Anne di sana sedang menodongkan pistol ke arahnya. Bukannya merasa takut, Queen malah tersenyum sinis kepada Anne. Ia bahkan ikut mengeluarkan pistol di saku jaketnya, dan menodongkannya ke kepala Atarik. "Silahkan tembak gue, maka suami lo akan mati," sahut Queen santai, sedangkan Ala hanya diam saja menyaksikan mereka. Bukan karena tidak peduli, tapi Ala sudah memperkiraan semuanya akan terjadi. Anne dan mereka terkejut melihat Queen mengeluarkan pistol, apalagi cara Queen memegang pistol sangatlah profesional seperti sudah terbiasa. "Master, kenapa lo biarin Queen menghabisi suami gue?" tanya Anne bingung, tapi tidak ada kemarahan sedikit pun. "Dia pantas menerimanya." Itulah jawaban Ala sambil menatap kekasihnya yang memegang pistol dengan tatapan memuja, gadisnya sangat keren jika seperti ini. "Istri, bant
"Apa yang terjadi?" lirih Queen. Ala membuka matanya dan menatap Queen dengan wajah lelah. "Rindu kamu," lirih Ala membuat Queen linglung. "Hah! Jangan bilang kamu melakukan semua ini karena aku?" tanya Queen terkejut. Setau dirinya, Ala tidak akan mudah terluka, sedangkan penyebab utama Ala sering terluka adalah Ricard yang sudah dia tangkap. "Ala?" panggil Queen karena Ala tak kunjung menjawab malah memalingkan wajahnya, itu berarti tebakannya benar kalo Ala melukai dirinya sendiri. "Jangan gila, Ala! Stop melakukan hal bodoh lagi!" seru Queen kesal sedangkan Ala menunduk pasrah, seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya. "Jangan pedulikan aku, bukannya kamu datang ke sini hanya ingin bertemu pembunuh itu? Bukan karena aku?" ujar Ala merajuk. Bukannya mendengarkan, Queen melihat sekelilingnya. "Di mana p3k?" tanya Queen. Ala mengerucutkan bibirnya kesal karena diabaikan, tapi tangannya menunjuk dimana letak barang yang kekasihnya cari. Ia sudah mengambilnya, lalu duduk d
Queen sudah sampai di rumah sakit, saat ia menuju ruangan Anjani ia tidak sengaja bertemu Zayn dkk di koridor rumah sakit. Tanpa repot-repot berbalik atau berhenti, Queen melewati mereka. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan Zayn dkk, tapi langkahnya terhenti karena seseorang berbicara sesuatu padanya. "Gue yakin penyebab kecelakaan Anjani lo sengaja," ujar Zayn dingin, rasa yang dulu Zayn simpan kepada Queen sudah hilang sepenuhnya. Queen berbalik menatap Zayn dkk dingin. "Menurut lo, apakah gue sebego itu mencelakai Anjani dan melukai diri gue sendiri?" Tepat sasaran, ucapan Queen membungkam Zayn yang terus menyudutkan dirinya atas kecelakaan keduanya. "Zayn sudah, bukannya Om Doni juga sudah memberikan bukti kalo memang Anjani yang ingin ikut ke mobil Queen," sahut Lingga yang merasa sahabatnya sudah keterlaluan, apalagi Queen baru sembuh dari kecelakaan itu. "Cih, tapi gue tetap nggak mempe
Sepanjang jalan menuju kelas, Queen termenung memikirkan pria yang katanya bernama Ala. Setelah mengatakan namanya, pria itu lagi-lagi meninggalkannya. Saat melewati lapangan ternyata di sana masih ada Zayn dkk, tapi tidak ada Anjani dan juga Atarik. Melihat sekeliling lapangan, ia tidak menemuka
Malam harinya, Queen dan Frederick sedang makan malam. Hanya berdua saja karena Frederick tidak mempunyai anak lagi selain Queen. "Gimana sekolahnya, princess?" tanya Frederick. Queen terkejut mendapatkan pertanyaan saat sedang makan. Di dunianya dulu, i
"Mau pesen apa, Queen?" tanya Jenni. "Batagor aja," sahut Queen santai. Jenni mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Batagor itu apa Queen, apa sejenis makanan yang terbuat dari bata?" tanya Jenni polos tapi minta di tampol, sekarang Queen yang melihat Jenni aneh. "Kalo pun iya, lo mau makan?" t
Dengan malas Queen mencatat materi di hadapannya dengan wajah kesal, bagaimana tidak? Di dunia nyata, ia sudah 23 tahun dan sudah lulus kuliah juga, tapi sekarang ia harus kembali bersekolah karena di novel Queen berumur 18 tahun membuat ia kesal karena harus mengulang sekolah. Queen melihat seor







