MasukDengan malas Queen mencatat materi di hadapannya dengan wajah kesal, bagaimana tidak? Di dunia nyata, ia sudah 23 tahun dan sudah lulus kuliah juga, tapi sekarang ia harus kembali bersekolah karena di novel Queen berumur 18 tahun membuat ia kesal karena harus mengulang sekolah.
Queen melihat seorang gadis yang sedang menulis dengan wajah serius, sedikit terkejut mengetahui kalo wajah itu sangat mirip dengan wajah kakaknya di dunia nyata. Ia dan sang protagonis wanita sekelas, bahkan sesekali Queen meneliti wajahnya tapi selalu dihalangi Jenni. "Ck, Queen, gue udah bilang. Lo nggak kenal cewek penyakitan itu," bisik Jenni. Queen mengerutkan kening, merasa tertarik dengan ucapan sahabat di depannya ini. "Penyakitan?" "Jangan pura-pura bodoh Queen! Bukannya lo tahu dia deketin Zayn karena pura-pura sakit dan terlihat lemah?" bisik Jenni lagi karena di depannya ada guru yang sedang menjelaskan. "Itu berarti gue kenal mereka." Itu pernyataan bukan pertanyaan, dan Zayn? Queen merasa sangat mengenalnya. "NGGAK! LO NGGAK KENAL MEREKA!" teriak Jenni panik. Queen terkekeh, melihat wajah sahabatnya yang panik membuat ia semakin yakin kalo Queen mengenal mereka. "JENNI! Kenapa kamu berteriak di pelajaran saya?!" seru guru yang memang sedang menjelaskan. Jenni cengengesan, sesekali menatap tajam Queen yang berwajah di imutkan dan itu membuat dia mual. "Eh, nga-nggak Bu, Jenni tadi..." "Keluar dari kelas saya sekarang juga!" seru guru itu lagi membuat Jenni kembali panik. Dia tidak ingin membuat daddynya marah karena bolos pelajaran lagi, sudah beberapa hari dia bolos untuk menjaga Queen dan sekarang dia sudah berjanji tidak akan bolos lagi. "Maaf Bu, tadi Jenni berteriak seperti itu karena Queen nggak enak badan. Jenni panik, makanya berteriak seperti tadi." Queen berdiri, kesempatan ia untuk kabur. Guru itu yang tadinya berwajah garang, merubah lembut menatap Queen yang baru sembuh. "Apakah kamu baik-baik saja? Mau Ibu panggilkan dokter?" tanya guru. Meskipun Queen sering membuat onar di sekolah ini, tapi Queen sangat berbakat. "Nggak perlu, Bu, Queen hanya ingin istirahat. Boleh Queen izin ke uks?" ujar Queen dengan suara lembut. "Ya, silahkan. Jenni, kamu antarkan Queen ke uks." Titah guru, dalam hati Jenni berseru ria karena dia akan terbebas dari pelajaran yang membosankan. "Nggak perlu, Bu, Queen bisa sendiri. Dan sepertinya Jenni sangat menyukai pelajaran ibu, kalo begitu Queen permisi. Terima kasih, Bu.” Queen pergi keluar, tapi sebelum pergi tak lupa mengedipkan matanya meledek Jenni yang sekarang sedang menggerutu kesal rencananya di gagalkan oleh Queen. 'Sial! Awas lo Queen, lo sakit nggak mau lagi gue peduli sama lo' batin Jenni kesel. Sedangkan guru itu menatap Queen bersyukur karena sedikit berubah dengan sifatnya yang seperti biasanya. Tadi, daddynya Queen datang dan mengatakan jika Queen sudah berubah dan menjamin tidak akan membuat ulah lagi, makanya guru itu tersenyum senang bebannya berkurang satu. Queen berjalan santai di koridor, tidak ada wajah kesakitan yang tadi ia tunjukkan. "Akhirnya gue bisa bebas dari pelajaran yang membosankan itu." Queen melihat sekelilingnya yang sepi karena masih KBM, mungkin hanya ada beberapa murid yang mengikuti ekstrakulikuler yang keluar. Dengan wajah datarnya Queen berjalan ke segala arah, ia belum tahu letak sekolah ini, Queen berhenti di tempat terbuka. Mungkin rooftop? Entahlah, Queen tidak tahu. Queen menyilangkan kedua tangannya di dada sambil melihat ke bawah, tidak percaya ia sampai di rooftop dimana pemilik asli terjatuh di lantai tiga yang tak lain adalah rooftop. "Malang sekali nasibnya," lirih Queen. Tapi matanya menajam merasakan ada seseorang yang datang dan berdiri di belakangnya. "Siapa lo?" tanyanya datar. Orang yang datang itu meniup telinga Queen membuatnya tidak nyaman, bahkan ia langsung berbalik menghadap orang itu. "Nggak kapok berdiri di sini manis, mau terjun ke bawah lagi?" ujar seorang pria tersenyum manis, Queen menatap pria itu intens. "Mau nemenin gue terjun?" tanya balik Queen tersenyum miring. "Ayo, aku mau." Pria itu menyelipkan rambutnya ke telinga, tapi ditepis oleh Queen . "Jangan sentuh gue." Bukannya marah, pria itu malah terkekeh lucu. "Kenapa? Dulu kamu sangat suka aku sentuh, tapi kenapa sekarang kamu menolaknya, hmm?" Pria itu sekarang malah memainkan rambut Queen, sedangkan Queen bingung siapa pria di hadapannya ini? Di novel tidak ada alur seperti ini dan di ingatan pemilik asli juga tidak ada pria ini. "Siapa lo?" Queen harus waspada, meskipun ia tidak takut apa pun tapi ini dunia novel yang bukan tempatnya dan tidak tahu hukuman apa jika kita melakukan kesalahan. "Aku senang kamu baik-baik saja, sampai bertemu lagi. Princess." Setelah mengatakan, pria itu pergi entah kemana, tapi kenapa wajah orang itu sangat mirip dengan pria yang tersenyum santai waktu di parkiran tadi? Bahkan memakai baju sekolah yang sama dengannya, Queen jadi bingung, tapi ia berusaha tidak peduli selagi pria itu tidak berani macam-macam padanya. Queen mencari bukti bagaimana pemilik asli bisa terjatuh, bahkan tidak ada cctv di sini. Sampai waktu istirahat tiba, Queen pergi menuju kantin. Di pertengahan jalan, ada seseorang yang memeluknya erat. "Lo kemana aja Queen! Gue udah ke UKS tapi lo nggak ada di sana." Tanpa melihat siapa, Queen tahu yang memeluknya adalah Jenni. "Gue ke toilet." "Bohong! Gue udah cari di toilet cewek bahkan toilet cowok pun udah, tapi tetap nggak ada lo. Gue mohon kabarin gue kalo mau kemana-mana, gue takut kehilangan lo lagi Queen. Cukup satu kali gue teledor dan sekarang gue nggak mau terjadi apapun lagi sama lo," seru Jenni dengan wajah cemas. Queen mematung, merasakan ada seseorang yang khawatir padanya, padahal biasanya mereka hanya mengabaikan saja jika ia terluka. "Maaf." Hanya kata itu yang Queen ucapkan, ia tidak tahu harus apa lagi. "Karena lo baru sembuh, gue maafin tapi sekarang gue laper. Jadi, ayo ke kantin." Jenni menarik tangan Queen agar mengikutinya ke kantin, keduanya sudah sampai di kantin dan banyak yang memperhatikan terutama Queen yang menjadi trending dengan aksi bunuh dirinya. "Lihat deh, si pengacau masih hidup,” lirih seorang perempuan. "Ah, nggak asik, padahal gue maunya dia mati biar nggak ada yang bully anak-anak lagi." "Tapi kok dia kelihatan beda, ya?" "Alah paling drama, biar bisa cari perhatian Zayn." Queen tidak memperdulikan mereka yang membicarakannya, fokus ia ke arah sekumpulan pria dan satu orang gadis yang sedang makan, lebih tepatnya kepada pria yang tadi di rooftop berbicara kepadanya. Berbeda dengan Jenni yang wajahnya memerah menahan marah karena mereka menjelek-jelekkan sahabatnya di depannya. "BANGSAT! KALO KALIAN BERANI SINI LAWAN GUE, JANGAN CUMAN BACOT DI BELAKANG. CUPU TAHU NGGAK!" seru Jenni marah. Queen menatap sahabatnya intens, lagi-lagi ada yang membela dirinya lagi. Meskipun Queen tahu bukan ia yang dibela melainkan pemilik asli, tetap saja rasa hangat mengalir di hatinya. "Nggak usah diladeni, lagian gue nggak butuh bacotan mereka." Setelah mengatakan itu, Queen berjalan ke bangku kosong melewati sekumpul meja pria tadi, meninggalkan Jenni yang tersenyum lebar. "Nah, ini baru sahabat gue. Woy! tungguin gue!" seru Jenni berlari mengejar Queen. ****** Sedangkan protagonis pria yang bernama Zayn Alvarendra dan protagonis wanita yang bernama Anjani Vernandez sedang makan bersama dengan sahabat-sahabat mereka. "Mau lagi?" tawar Zayn lembut kepada kekasihnya, yaitu Anjani. "Udah kenyang kak Zayn, sekarang kamu yang makan. Jangan aku terus dong," ujar Anjani tak kalah lembut. "Ciaelah yang lagi kasmaran, seakan dunia milik berdua aja,” cibir seorang pria dengan wajah alay namanya Rafatar Alexander. "Makanya kakak cari pacar, biar bisa kayak kita,” sahut Anjani. Fatar mendengus, sampai kantin heboh dengan kedatangan Queen yang selalu membully Anjani dan mengejar Zayn. "Lihat deh si Queen, beruntung banget ya dia masih hidup padahal jatuh dari lantai tiga," ujar Elzio Adhitama dengan wajah santai dan juga prihatin. "Gue berharap dia mati," sahut Zayn dingin. Mereka tahu bagaimana jadi Zayn, yang pasti sangat risih didekati Queen yang selalu membully gadis-gadis yang dekat dengannya. "Hemm, gue setuju. Lihat, dia pasti berjalan kemari," ucap Ataric Athallaah datar sambil tersenyum miring, tatapan mereka melihat ke arah Queen yang berjalan. "Kok gue ngerasa aneh ya lihat dia yang waktu di parkiran mengabaikan Zayn?" tanya Lingga Pandita. "Mungkin hanya sandiwara," sahut Zayn sinis. "Ya, gue juga setuju. Cara baru Queen kali biar bisa kembali dekat lagi sama Zayn," ujar Fatar. "Kita lihat aja nanti, jika Queen datang ke sini, itu berarti dia memang sandiwara. Tapi jika nggak, berarti Queen benar-benar mengabaikan kita," sahut Lingga. Mereka memang kesal dengan sifat Queen yang sangat berbeda dengan Queen yang dulu berpacaran dengan Zayn, tapi Lingga masih tahu batas tapi tidak tahu dengan yang lainnya. Mereka bukan geng motor ataupun gangster, hanya saja mereka itu sekumpulan most wanted boy di sekolah Alvajan High school. Mereka menatap Queen remeh, sampai Queen sudah dekat dengan mereka dan melewatinya begitu saja, membuat mereka terkejut melihat Queen yang berubah. "Wow," kagum Fatar yang lebay."Dan di sini saya ingin memperkenalkan kepada kalian seseorang yang sangat berarti untuk saya, seseorang yang akan menjadi Nyonya Carlitos. Dia adalah.... Shaqueena Moonstone dan saya peringatkan kepada kalian semua tidak ada yang boleh mengganggunya ataupun keluarganya. Jika tidak, maka kalian akan berurusan dengan saya," seru Ala dingin. Dia sengaja berbicara seperti itu agar seluruh dunia tahu kalo Queen adalah miliknya seorang.Queen tersenyum manis mendengarnya, begitupun keluarga Ala dan Frederick yang merasa terharu menyaksikan keduanya bahagia.Bahkan, Ala membiarkan para wartawan masuk untuk meliputi acara ini, biasanya saat kepala keluarga Charleston adalah Ricard maka wartawan tidak boleh datang ke acara itu karena privasi, tapi tidak untuk Ala yang malah sengaja mengundang mereka datang dan benar saja berita hari ini gempar dan membuat orang-orang terkejut."Silahkan menikmati acaranya," lanjut Ala lagi, lalu turun dari atas panggung menuju tun
"Ala, bukannya aku sudah bilang kalo aku masih sekolah?" ujar Queen kikuk, bigutupun Ala yang cengengesan. "Hehe... typo Sayang, ini buat kamu," ujar Ala menyengir sambil menyerahkan bunga dan boneka. Apalagi saat tatapan matanya menatap calon mertuanya yang menatapnya datar dan tajam, membuat Ala salah tingkah. Ala mendekati Queen yang memegang bunga dan boneka dan menatapnya memuja, Queen pun membalas menatap Ala dengan mata berbinar karena memang dari dulu Queen memimpikan adegan romantis seperti ini. "Sayang, sebelumnya terima kasih sudah menerima aku menjadi bagian hidup kamu. Aku senang banget mengenal kamu karena denganmu aku bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini aku inginkan. Bahkan, kamu yang menjadi penenang hidupku. Entah bagaimana jika aku nggak bertemu kamu, mungkin saja aku akan menyerah." Ala berucap tulus dari dalam lubuk hati yang terdalam, Queen menganggukkan kepalanya menatap sang kekasih terharu karena dirinya pun sama seperti Ala. "Harusnya aku yang berte
Pagi harinya, Queen sudah pulang di antar sang kekasih, ia tidak menyangka kemarin kekasihnya berucap seperti itu padahal dirinya sudah bilang kalo ia masih sekolah. "Sayang, boleh tinggalkan kami berdua?" ujar Ala lembut, Queen menatap kekasihnya dan Daddy-nya secara bergantian. "Mau ngapain?" tanya balik Queeen memicingkan matanya. "Ada urusan bisnis." "Dad bohong, kalo tentang bisnis kenapa Queen nggak boleh tahu?" tanya Queen semakin curiga, Ala yang gemas mencubit kedua pipi kekasihnya. "Nurut apa kata Daddy sama calon suami, Sayang," ucap Ala lembut, Queen yang mendengar itu wajahnya memerah. Hey, bisa-bisanya ia malu mendengar ucapan Ala yang mengucapkan kata calon suami, ia menyentak tangan Ala dan menatapnya dengan wajah memerah malu. "Dasar nggak tahu tempat." Setelah mengatakan itu, Queen berlari masuk ke kamarnya karena malu. Frederick menggelengkan kepalanya melihat kebucinan keduanya, tapi hatinya merasa senang melihat anaknya bahagia kembali tidak seperti
"Lo mukul dia lagi, gue tembak kaki lo," ujar seseorang yang baru datang. Queen melihat orangnya, ia penasaran siapa yang berani mengganggu kesenangannya dan ternyata ada Anne di sana sedang menodongkan pistol ke arahnya. Bukannya merasa takut, Queen malah tersenyum sinis kepada Anne. Ia bahkan ikut mengeluarkan pistol di saku jaketnya, dan menodongkannya ke kepala Atarik. "Silahkan tembak gue, maka suami lo akan mati," sahut Queen santai, sedangkan Ala hanya diam saja menyaksikan mereka. Bukan karena tidak peduli, tapi Ala sudah memperkiraan semuanya akan terjadi. Anne dan mereka terkejut melihat Queen mengeluarkan pistol, apalagi cara Queen memegang pistol sangatlah profesional seperti sudah terbiasa. "Master, kenapa lo biarin Queen menghabisi suami gue?" tanya Anne bingung, tapi tidak ada kemarahan sedikit pun. "Dia pantas menerimanya." Itulah jawaban Ala sambil menatap kekasihnya yang memegang pistol dengan tatapan memuja, gadisnya sangat keren jika seperti ini. "Istri, bant
"Apa yang terjadi?" lirih Queen. Ala membuka matanya dan menatap Queen dengan wajah lelah. "Rindu kamu," lirih Ala membuat Queen linglung. "Hah! Jangan bilang kamu melakukan semua ini karena aku?" tanya Queen terkejut. Setau dirinya, Ala tidak akan mudah terluka, sedangkan penyebab utama Ala sering terluka adalah Ricard yang sudah dia tangkap. "Ala?" panggil Queen karena Ala tak kunjung menjawab malah memalingkan wajahnya, itu berarti tebakannya benar kalo Ala melukai dirinya sendiri. "Jangan gila, Ala! Stop melakukan hal bodoh lagi!" seru Queen kesal sedangkan Ala menunduk pasrah, seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya. "Jangan pedulikan aku, bukannya kamu datang ke sini hanya ingin bertemu pembunuh itu? Bukan karena aku?" ujar Ala merajuk. Bukannya mendengarkan, Queen melihat sekelilingnya. "Di mana p3k?" tanya Queen. Ala mengerucutkan bibirnya kesal karena diabaikan, tapi tangannya menunjuk dimana letak barang yang kekasihnya cari. Ia sudah mengambilnya, lalu duduk d
Queen sudah sampai di rumah sakit, saat ia menuju ruangan Anjani ia tidak sengaja bertemu Zayn dkk di koridor rumah sakit. Tanpa repot-repot berbalik atau berhenti, Queen melewati mereka. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan Zayn dkk, tapi langkahnya terhenti karena seseorang berbicara sesuatu padanya. "Gue yakin penyebab kecelakaan Anjani lo sengaja," ujar Zayn dingin, rasa yang dulu Zayn simpan kepada Queen sudah hilang sepenuhnya. Queen berbalik menatap Zayn dkk dingin. "Menurut lo, apakah gue sebego itu mencelakai Anjani dan melukai diri gue sendiri?" Tepat sasaran, ucapan Queen membungkam Zayn yang terus menyudutkan dirinya atas kecelakaan keduanya. "Zayn sudah, bukannya Om Doni juga sudah memberikan bukti kalo memang Anjani yang ingin ikut ke mobil Queen," sahut Lingga yang merasa sahabatnya sudah keterlaluan, apalagi Queen baru sembuh dari kecelakaan itu. "Cih, tapi gue tetap nggak mempe
Sepanjang jalan menuju kelas, Queen termenung memikirkan pria yang katanya bernama Ala. Setelah mengatakan namanya, pria itu lagi-lagi meninggalkannya. Saat melewati lapangan ternyata di sana masih ada Zayn dkk, tapi tidak ada Anjani dan juga Atarik. Melihat sekeliling lapangan, ia tidak menemuka
Queen berjalan cepat menuju kelas 12A. Di belakangnya, Jenni mengikuti sahabatnya sambil ngos-ngosan karena Queen terlalu cepat berjalan. "Queen, tungguin!" seru Jenni, lagian sahabatnya itu mau kemana sih. "Queen, lo mau kemana sih!" Queen tidak mengg
Malam harinya, Queen dan Frederick sedang makan malam. Hanya berdua saja karena Frederick tidak mempunyai anak lagi selain Queen. "Gimana sekolahnya, princess?" tanya Frederick. Queen terkejut mendapatkan pertanyaan saat sedang makan. Di dunianya dulu, i
"Mau pesen apa, Queen?" tanya Jenni. "Batagor aja," sahut Queen santai. Jenni mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Batagor itu apa Queen, apa sejenis makanan yang terbuat dari bata?" tanya Jenni polos tapi minta di tampol, sekarang Queen yang melihat Jenni aneh. "Kalo pun iya, lo mau makan?" t







