LOGINMendengar kata-kata Evelyn, seluruh ruangan mendadak terdiam. Semua orang memandangnya dengan ekspresi syok.
Melihat reaksi itu, Evelyn justru tersenyum puas. Bagus. Kalau mereka terkejut, berarti rencananya berhasil. Namun keheningan itu tidak bertahan lama. Tak sampai beberapa detik, tawa mulai pecah dari berbagai arah. “Astaga, Evelyn!” Arthur tertawa sampai matanya berair. “Haruskah kau bertindak sejauh itu?” Lady Blackwell, ibu tiri Evelyn yang usianya hanya lebih tua sepuluh tahun darinya tampak mencemooh. “Ya, ampun, Evelyn! Tidak tahukah kamu siapa pria yang kamu tunjuk?” tanya Lady Blackwell, terdengar meledek. Evelyn mendadak terdiam, dan seketika ia menyadari sesuatu. Jangan-jangan… pria ini sudah menikah? Kalau benar, bukankah ia baru saja melompat ke lubang kematian lain? “Evelyn! Kembali ke sini! Jangan ganggu Sir Louis!” seru Baron Blackwell mendekati putrinya untuk menghentikannya. Ia tampak mulai sakit kepala melihat tingkah Evelyn. Sir Louis? Evelyn mengernyit. Nama itu terdengar asing. Ia berusaha mengingat-ingat tokoh tersebut dalam novelnya, tetapi semakin dipikirkan, semakin kosong ingatannya. Alih-alih mundur, ia malah mengeratkan pegangan pada lengan pria itu. “Tidak!” bantahnya keras. “Aku hanya mau menikahi Sir Louis apa pun yang terjadi! Aku tidak peduli!” “Evelyn! Kau sudah gila, ya?!” Arthur tampak kehilangan kesabaran. “Hanya karena ingin menolak kebaikan hatiku, kau sampai memaksa dirimu sampai seperti ini?!” “Memaksa diri?!” Evelyn membelalak kesal. “Aku mencintainya. Jujur saja, dia baik dan tidak mempermainkan perasaanku seperti dirimu.” Begitu kalimat itu keluar, Evelyn sendiri merasa seperti sedang muntah. Demi menyelamatkan hidupnya, ia benar-benar mengatakan apa saja. Di sisi lain, wajah Louis mulai terasa panas. Entah karena malu atau karena semua orang tiba-tiba menjadikannya pusat perhatian. Karena tidak ingin terlibat lebih jauh, ia mencoba menarik tangannya. Sayangnya, Evelyn justru semakin erat berpegangan. “Maaf,” kata Louis akhirnya. Suaranya berat, dingin, dan tegas. “Saya tidak ingin ikut campur dalam urusan Anda sekalian. Saya baru kembali dari perbatasan dan harus segera melapor kepada Yang Mulia Kaisar.” Wajahnya yang serius dan nada suaranya yang datar membuat banyak orang langsung terdiam. Pria itu benar-benar memiliki aura yang mengintimidasi. Namun anehnya, Evelyn sama sekali tidak takut. Sebaliknya, ia merasa penolakan Louis terdengar sangat sopan. Semakin ia memandang pria itu, semakin ia yakin bahwa Louis sebenarnya orang baik. Meski anehnya, ia tetap tidak bisa mengingat satu pun peran penting Louis dalam novelnya. "Kalau begitu, biarkan aku mengantarmu, Sir." Nada suaranya berubah menjadi lebih lembut dan begitu perhatian hingga seolah melupakan keributan yang baru saja ia buat. "Anda tidak perlu repot-repot, Nona." kata Louis, tenang. Dari tenangnya Louis, jelas sekali ia sedang menolak Evelyn. Anehnya, Evelyn malah semakin percaya laki-laki ini bisa menolongnya menjauhi alur tragis yang ia ciptakan. Arthur yang melihat itu langsung mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras karena kesal. “Evelyn! Berhentilah bersikap aneh!” bentak Baron Blackwell. “Kalau kau terus seperti ini, tidak akan ada bangsawan yang mau menikahimu!” Evelyn hampir memutar mata. Justru itu yang ia inginkan. Semakin sedikit orang yang tertarik padanya, semakin besar peluangnya untuk hidup tenang. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah keluar dari jalur cerita yang menuju kematiannya. “Sudah cukup.” Louis akhirnya berbicara lagi. Dengan gerakan tenang namun tegas, ia melepaskan pegangan Evelyn dari lengannya. Kemudian, tanpa menunggu siapa pun, ia berbalik dan berjalan keluar dari aula. Evelyn langsung membelalak. “Sir Louis!” Tanpa pikir panjang, ia berlari mengejarnya. Suara protes keluarganya menggema dari belakang, tetapi Evelyn sama sekali tidak peduli. Begitu keluar dari kediaman, ia melihat Louis sudah berjalan cukup jauh menuju halaman depan. “Sir Louis!” panggilnya lagi. Tak disangka, Louis berhenti. Ia langsung berbalik. Evelyn yang sedang berlari hampir saja menabraknya. Ia buru-buru menghentikan langkah dan mengalihkan pandangan karena salah tingkah. “Ada apa?” tanya Louis. Nada bicaranya terdengar santai, tetapi suaranya tetap berat, dingin, dan sulit didekati. Evelyn menelan ludah. Sial. Ia tidak menyangka Louis benar-benar akan berhenti. Dari pengalamannya sebagai penulis—dan selama sebulan hidup sebagai Evelyn—Arthur bahkan tidak akan menoleh meski dirinya berteriak tepat di samping telinganya. “Aku ingin menikah denganmu,” katanya spontan. Louis terdiam. Wajahnya tetap datar, meski ujung telinganya tampak sedikit memerah. Mungkin karena terik matahari siang. “Aku sudah mendengarnya,” jawabnya singkat. Kini giliran Evelyn yang kehabisan kata-kata. Ia berdiri canggung selama beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri lagi. “Aku harap kamu mau menikah denganku,” katanya lebih pelan. “Aku janji tidak akan menyusahkanmu.” Untuk pertama kalinya sejak tadi, nada suaranya terdengar sungguh-sungguh. Louis segera membalikkan tubuhnya, seolah takut percakapan itu berlangsung lebih lama. Namun ia tidak langsung pergi. “Saya mengerti.” Ia menoleh sedikit ke belakang. “Saya izin pamit terlebih dahulu.” Evelyn menatap punggungnya tanpa berkedip. “Dan mohon pikirkan baik-baik ucapan Anda.” Louis berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Saya memang bukan bangsawan. Namun saya tetap memiliki gelar dan harga diri sebagai ksatria kekaisaran.” Setelah mengatakan itu, ia tidak memberi kesempatan pada Evelyn untuk menjawab. Louis menaiki kudanya dengan satu gerakan lincah, menarik tali kekang, lalu memacu kudanya meninggalkan kediaman Blackwell. Evelyn hanya bisa berdiri mematung sambil memandangi sosoknya yang semakin menjauh. Ada rasa aneh yang timbul di wajahnya. Dalam hati, Evelyn mengutuk dirinya sendiri. Sebenarnya, apa yang telah dia lakukan?Evelyn memandangi Jhonny dengan perasaan waswas. Ia menunggu dengan penasaran apa sebenarnya yang ingin disampaikan pria itu. Jhonny menarik napas pelan sebelum akhirnya membuka suara. "Buku yang Lady Anda ciptakan termasuk buku yang ilegal. Kami akan menjual seluruh salinannya ke pasar. Jika masih ada eksemplar yang tidak terjual, semuanya akan kami kembalikan kepada Lady Anda," jelasnya dengan nada tenang. Evelyn menatap Jhonny dengan serius selama beberapa saat. Hanya itu? Kalau memang hanya itu yang ingin disampaikan, ternyata masalahnya tidak semenyeramkan yang sempat ia bayangkan. "Apakah hanya itu?" tanyanya untuk memastikan. Jhonny mengangguk singkat. "Hanya itu saja." Sara yang sedari tadi diam perlahan mendekat. Ia sedikit membungkukkan badan agar suaranya hanya terdengar oleh Evelyn. "Kalau bukunya nanti dikembalikan, kita harus menyembunyikannya di mana?" bisiknya pelan. Pertanyaan itu langsung menyadarkan Evelyn pada persoalan yang jauh lebih penting. Tidak mungkin
Rombongan itu mulai muncul perlahan dari kejauhan. Semakin lama mereka mendekat, semakin tidak karuan pula debaran di dada Evelyn.Tanpa sadar, jemarinya saling menggenggam erat. Rasa penasaran memenuhi benaknya. Siapa yang akan muncul?"Hidup Pedang Kaisar!" Seruan itu menggema dari segala penjuru.Orang-orang bersahut-sahutan sambil melemparkan bunga ke jalan, membuka jalan bagi rombongan yang perlahan memasuki pusat kota. Begitu barisan itu semakin dekat, mata Evelyn langsung membelalak. Dadanya berdegup begitu kencang hingga seolah hendak melompat keluar.Ia nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Louis. Pria itu tampak berantakan. Seragam militernya dipenuhi debu dan noda tanah, beberapa bagian bahkan terlihat robek akibat pertempuran. Wajahnya tampak lelah, sementara rambut hitamnya sedikit berantakan karena perjalanan panjang.Namun, di atas kudanya, ia tetap terlihat gagah. Louis menunggang paling depan, memimpin iring-iringan kereta yang membawa para perampok yang tela
Valentine Douglas menghampiri mereka dengan tatapan penuh rasa penasaran. Dari sorot matanya saja, Evelyn sudah bisa menebak bahwa gadis itu sedang mencium aroma gosip baru. Bibir Valentine bahkan tampak nyaris tak bisa berhenti tersenyum, seolah telah menemukan hiburan yang sangat menarik."Astaga! Apakah kalian kembali bersama? Bukankah Anda bilang Anda sudah tidak tertarik padanya lagi?" tanya Valentine dengan wajah penuh keterkejutan.Orang-orang di sekitar mereka yang semula hanya melirik kini mulai memperlambat langkah. Beberapa bahkan sengaja mendekat untuk mendengar percakapan mereka dengan lebih jelas.Dalam sekejap, Evelyn menjadi pusat perhatian. Ia mengembuskan napas panjang. Rasanya seluruh tenaganya terkuras habis hanya karena kejadian ini."Tidak, tidak! Kami hanya kebetulan bertemu, dan Viscount menolongku karena aku hampir terjatuh," jelas Evelyn berusaha tetap tenang.Wajah Valentine sempat menunjukkan raut kecewa. Jawaban itu jelas tidak memuaskannya. Namun hanya se
Tiga hari telah berlalu sejak batalnya penyerangan Sir Louis terhadap kelompok perampok di Pegunungan Lox. Selama tiga hari itu pula, Louis dinyatakan menghilang tanpa jejak. Pasukan terus melakukan penyisiran di kaki Gunung Lox hingga Pegunungan Nox, berharap dapat menemukan keberadaannya. Namun, sejauh ini, pencarian itu belum membuahkan hasil. Di dalam kamarnya, Evelyn terus mondar-mandir tanpa henti. Langkahnya terdengar pelan di atas lantai kayu, sementara wajahnya dipenuhi kecemasan. Sudah tiga hari berlalu, tetapi Louis masih belum juga ditemukan. Beruntung, kalung berlian hitam yang selama ini begitu ia khawatirkan tidak menimbulkan masalah apa pun. Setidaknya, hal itu sedikit menenangkan pikirannya di tengah berbagai kemungkinan buruk yang terus bermunculan. "Nona, duduklah sebentar. Anda sudah mengelilingi kamar ini sejak pagi!" ujar Sara dengan nada khawatir, matanya mengikuti setiap langkah Evelyn yang tampak semakin gelisah. Evelyn mengembuskan napas panjang sebelum
Pedang tajam berkilat di bawah cahaya bulan, lalu menebas leher seseorang dalam satu gerakan yang begitu cepat. Darah memercik ke tanah.Louis bergerak bak kilatan cahaya, tidak memberi lawannya sedikit pun kesempatan untuk bernapas atau membalas serangan. Meskipun salah satu kakinya masih terjepit perangkap hewan, ketenangannya sama sekali tidak goyah. Dalam keadaan terdesak sekalipun, ia tetap mampu menghabisi pria itu hanya dalam hitungan detik.Begitu tubuh pria itu ambruk tak bernyawa, Louis mengembuskan napas pelan. Perasaannya masih belum tenang. Ada sesuatu yang terasa tidak beres.Perkemahan mereka sebenarnya tidak begitu jauh dari tempat itu, tetapi seseorang berhasil membuntutinya hingga ke sini. Itu bukan pertanda yang baik.Louis membungkukkan tubuh, lalu mengambil kepala pria yang tergeletak tak jauh dari sisinya. Ia mengamatinya dengan saksama, memperhatikan setiap guratan wajah yang mungkin pernah ia lihat sebelumnya.Tampilannya lebih menyerupai seorang perampok darip
"Oh, tidak! Seharusnya aku mengatakannya saat aku berada sana bersamanya!" Evelyn semakin panik. Ia bahkan sudah tidak lagi mendengarkan perkataan Sara.Pikirannya menjadi kacau. Ia berusaha mati-matian mengingat kembali alur cerita yang pernah ia tulis. Namun, semakin keras ia mencoba mengingatnya, semakin kosong kepalanya terasa. Seolah-olah otaknya memilih lumpuh tepat ketika ia paling membutuhkannya."Perang nanti... akan terjadi sebuah pengkhianatan besar. Tapi, sialnya, aku sama sekali tidak ingat bentuk pengkhianatannya seperti apa ataupun siapa dalang di balik semua itu! Seharusnya aku memperingatkan Louis!" gumam Evelyn dengan wajah dipenuhi kecemasan.Sepengetahuan Evelyn, perang ini merupakan salah satu titik balik yang membawa kerugian besar bagi wilayah Baron Blackwell. Dampaknya bukan hanya pada rakyat, tetapi juga menjadi awal kejatuhan keluarga Blackwell. Dalam novel yang ia tulis, peristiwa itu menjadi salah satu penyebab nasib tragis yang akhirnya menimpa Evelyn Blac
Evelyn mondar-mandir di dalam kamarnya seperti orang yang kehilangan arah. Seluruh usahanya untuk mengubah alur novel yang ia tulis sendiri terasa sia-sia. Seolah ada tangan tak terlihat yang terus mendorongnya kembali ke jalur cerita utama, meski ia mati-matian berusaha menjauh.Hari ini, Baron Bl
Tanpa memedulikan tatapan horor dari orang-orang di sekelilingnya, Evelyn tetap berdiri di hadapan Louis sambil memeluknya. Ia mendongakkan wajah, berusaha menatap pria itu meski sebagian besar wajahnya tertutup helm perang dari besi. “Kenapa Anda tidak membalas surat-suratku?” tuntut Evelyn tan
Seminggu telah berlalu sejak pesta minum teh keluarga Blackwell. Hari ketika Evelyn dengan tegas menolak Arthur untuk kedua kalinya di hadapan para bangsawan.Sejak hari itu pula, Evelyn memilih mengurung diri di kamarnya. Sebagian karena protes terhadap desakan keluarganya yang terus mendorongnya
“Sudah kukatakan, aku tak ingin menikahimu, Tuan Harold!” tegas Evelyn Blackwell. Suaranya menggema di seluruh ruang tamu yang megah hingga membuat percakapan para tamu terhenti seketika. Di hadapannya, pria itu tampak kehilangan wajah. Untuk sesaat, ia bahkan terlihat tidak percaya dengan apa yan







