LOGIN“Setelah memanfaatkan tubuhku semalaman, kau kabur begitu saja?” — Cedric Infernox Niat Hailey Valderon sederhana, yaitu menyembunyikan identitasnya dan berbaur sebagai manusia biasa di Akademi Velmor. Namun, takdir berubah menjadi neraka ketika rahasianya terbongkar di tangan Cedric—calon Duke berdarah ras tertinggi sekaligus Pemburu Vampir Kekaisaran yang paling ditakuti. Gigitan tak sengaja itu justru melahirkan bonding gaib terlarang, mengikat darah dan menyulut gairah fisik yang membakar tubuh keduanya. Di antara benturan harga diri, sindiran tajam, dan aksi saling benci, jerat intim itu perlahan mengikis benteng pertahanan mereka—menautkan hasrat serta hati yang tak tersadarkan.
View More“Dua pilihan, Hailey. Gigit leherku sekarang, atau biarkan rahasiamu jadi bahan obrolan para pengawal akademi besok pagi.”
Suara Cedric mengalun santai, bahkan terlalu santai untuk situasi saat seorang vampir sedang terpojok di sudut kelas di dunia manusia. Tidak ada nada membentak atau intonasi yang membuat Hailey merasa terancam. Justru itulah yang membuatnya takut.
Pria itu hanya berdiri di sana dengan postur tubuh tegap khas aristokrat, menatap Hailey dengan binar jenaka yang teramat tipis. Ia tampak baik dan tidak berniat menyakiti, tetapi kalimatnya itu terasa seperti vonis mati.
Punggung Hailey menghantam sudut lemari kayu yang keras. Napasnya tersengal, dadanya kembang-kempis menahan rasa panas yang merambat dari tenggorokannya.
Di hadapannya, Cedric, putra tunggal Duke sekaligus ketua murid yang paling ia hindari selama tiga tahun ini tampak begitu tenang.
Napas hangat pria itu menerpa wajah Hailey, membuat jantung gadis itu rasanya terlepas dari rongga dada.
Tanpa mengalihkan pandangan, Cedric mencabut jepit rambut perak yang terpasang di rambut pirang Hailey. Dengan santai, ia menggoreskan ujung tajam jepit itu ke lehernya sendiri.
Sret.
Goresan halus. Namun, itu cukup untuk memancing setetes darah pekat mencuat ke permukaan kulitnya, perlahan mengalir melewati garis leher yang kokoh.
Aroma darah murni langsung menginvasi udara.
Detik itu juga, benteng pertahanan yang dibangun Hailey selama tiga tahun runtuh tanpa sisa.
Impiannya padahal begitu sederhana. Hailey hanya ingin melarikan diri dari desanya yang terisolasi, melepaskan gelar putri Baron miskin yang tiap hari hanya mengawasi ladang kentang di perbatasan, dan mengecap kehidupan normal di akademi kekaisaran.
Ia rela membendung nalurinya sampai mati demi melindungi keluarganya dari pemusnahan oleh Kekaisaran.
Namun, malam ini, aroma darah segar di leher Cedric membakar habis logikanya. Matanya yang semula biru hangat berubah memerah liar.
Cedric sedikit memiringkan kepala, memperjelas akses ke lehernya yang terluka.
“Masih mau pura-pura jadi manusia?”
Logika Hailey mati total. Tubuhnya bergerak di luar kendali. Ia maju, merapat, dan menancapkan taring kecilnya tepat di atas luka itu.
Sebuah sentakan halus merambat di sepanjang tulang belakang Cedric ketika taring kecil Hailey merobek kulitnya. Sensasinya bukan sekadar perih, melainkan denyutan panas yang menjalar cepat hingga ke ujung jarinya.
Cengkraman jemari Cedric di pinggang Hailey spontan mengencang, menekan tubuh lunak gadis itu makin rapat ke dada bidangnya. Ia bisa merasakan napas Hailey yang memburu dan hawa panas yang menguar dari kulit lehernya sendiri.
Tegukan demi tegukan yang diambil Hailey menciptakan desakan ritmis yang aneh, membuat dada Cedric bergemuruh hebat dan jalan napasnya menyempit, terhanyut dalam kenikmatan samar yang berbahaya di bawah remang cahaya bulan.
“Ah...” tanpa sadar, desahan itu lolos dari bibir Cedric.
Beberapa detik kemudian, kesadarannya mendadak kembali.
Hailey menarik diri dengan napas memburu. Keduanya bertatapan dalam jarak teramat dekat.
Melihat noda merah di sudut bibirnya sendiri dan bekas gigitan di leher Cedric, air mata Hailey menetes tanpa bisa ditahan.
Selesai sudah.
“Kau...” suara Hailey parau, jemarinya gemetar hebat di dada Cedric. “Kenapa kau lakukan ini.?” Tersirat penyesalan yang kental di hati Hailey.
Cedric mengusap lehernya yang menyisakan sedikit rasa perih, lalu menyapu air mata di pipi Hailey dengan ibu jarinya. Sebuah gestur asing yang membuat jantung Hailey berdesir pelan.
“Karena aku tidak suka melihatmu pura-pura lemah setiap hari,” sahut Cedric tenang. Matanya terkunci pada manik mata Hailey yang masih merona merah. “Lagipula, kau butuh ini, bukan?”
Hailey menepis pelan tangan Cedric, tatapannya sarat kekecewaan. “Kau bisa melaporkanku ke Kekaisaran kapan saja.”
“Kalau aku mau melaporkanmu, aku tidak perlu membiarkanmu minum darahku malam ini, Hailey,” potong Cedric. Senyum tipis yang tak bisa dibaca mengukir bibirnya.
“Bagaimana kalau kau memberi aku imbalan yang pantas untuk rahasia sebesar ini?”
“Apa yang kau mau?” tanya Hailey lirih.
Cedric menunjuk dada Hailey dengan ujung jarinya.
“Kau.”
Hailey mengernyit. “Apa maksudmu ?”
“Mulai besok, kau adalah miliku. Jadilah pelayanku,” ujar Cedric tanpa memberi ruang tawar-menawar. “Selama kau menurut, rahasiamu aman denganku.”
Ia mundur selangkah, merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan, lalu menyisir rambutnya ke belakang.
“Istirahatlah. Wajahmu pucat sekali,” tambah Cedric kasual sebelum berbalik menuju pintu. “Sampai jumpa besok pagi, Hailey.”
Pintu kelas tertutup rapat.
Hailey terduduk lemas di atas meja, meremas rambutnya dengan rasa frustrasi yang membuncah.
Ia menyentuh bibirnya sendiri yang masih basah oleh sisa darah Cedric. Kehangatan itu masih tertinggal di lidahnya. Sebuah rasa manis memabukkan yang juga menjadi kunci kebebasannya.
“Tidak! Apa yang baru saja aku lakukan?” desis Hailey sambil meremas dadanya.
Bumi seakan berhenti berputar, berganti dengan mual hebat yang membuat perut Hailey serasa dikocok dalam mesin peremas sihir. Udara hangat Kastil Infernox menyapu kulitnya saat Cedric menurunkannya begitu saja di atas ranjang king-size berkanopi megah.Sentuhan kasur berbahan bulu angsa yang terlalu empuk itu bukannya membuat Hailey nyaman, melainkan makin menyadarkannya pada aroma cedarwood dan tanah basah yang pekat—aroma khas Cedric yang menguasai seluruh penjuru kamar ini.Saat Hailey berusaha mengumpulkan kesadarannya yang koyak, telinganya menangkap suara kekehan bernada cemooh dari depan ranjang.“Kau tidak pernah memakai gelang teleportasi mahal seperti ini, ya?” Cedric bersedekap, menatap kondisi Hailey yang payah dengan pandangan penuh olokan.Nada cemooh itu sukses memicu kedutan tajam di dahi Hailey. Gadis itu memegang kepalanya yang berdenyut, berusaha menatap Cedric dengan pijaran permusuhan. “Ke mana... kau membawaku, Pria Sinting? Kenapa rasanya kepalaku akan terpisah?
Logika Hailey rasanya akan pecah. Di satu sisi, ia baru saja panik luar biasa akibat gejolak gairah tak masuk akal yang mendadak membakarnya—sebuah hawa panas liar yang tak seharusnya ia rasakan saat berhadapan dengan pria yang sangat dibencinya. Di sisi lain, aura bahaya dari Cedric begitu pekat hingga naluri terdasarnya menyuarakan satu perintah mutlak: LARI! “TIDAK!” Bagai melihat hantu di siang bolong, Hailey berbalik dan berlari sekencang yang ia bisa. Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu kenapa begitu takut pada Cedric. Jika masalahnya hanya soal pelukan intim di tenda semalam, mereka mungkin bisa sama-sama menguburnya, mengingat ego keduanya sama-sama setinggi langit. Namun, ketika Cedric menatapnya dengan iris hazel pekat yang dipenuhi hasrat berburu seperti tadi, Hailey merasa pria itu benar-benar akan menelannya bulat-bulat di tempat. “HAILEY!” Gema teriakan itu memekakkan telinga. Saat menoleh sekilas, mata Hailey melebar mendapati Cedric mengejarnya dengan langkah-langka
Sebuah lengan kekar melingkar erat di pinggangnya, menarik panggulnya rapat menempel pada bagian bawah tubuh seorang pria yang mengeras hangat di belakangnya. Napas berat dan teratur milik Cedric mengembus hangat di tengkuknya. Kicauan burung keesokan paginya menyegarkan kesadaran Hailey, membuat matanya terbuka perlahan. Ia mengerjap, lalu membeku kaku. “Astaga... apa-apaan ini?” batin Hailey menjerit panik. Tadi malam, setelah bersusah payah memancing ikan untuk Cedric, Hailey ketiduran begitu saja akibat kelelahan usai menghabiskan tiga ekor ikan panggang buatan pria itu. Seingatnya, ia bersandar di pohon lalu kesadarannya ambruk. Ia sama sekali tidak mengingat bagaimana bisa terbangun di dalam tenda sihir yang hangat ini, apalagi dalam posisi intim seperti ini. Sedikit pun ia tidak menyadari bahwa saat ia terlelap semalam, insting vampirnya sempat bangkit akibat aroma setetes darah di jari Cedric—membuatnya menunggangi pria itu, menyesap darahnya kembali, hingga mereka melewa
Ancaman Cedric tentang rasa darah di lidahnya membakar habissisa kesabaran Hailey. Bibir bawahnya masih terasa panas oleh bekas belaianjempol pria itu, mengirimkan getaran liat yang membuat dadanya kembang-kempis.“Argh!”Hailey berteriak frustrasi. Dengan napas memburu, iamemungut kembali gagang pancingnya dan menendang kerikil-kerikil di tepi sungaidengan kesal.Semua orang di akademi yang memilih Cedric sebagai ketuamurid mungkin tak tahu betapa iblis dan serigala berbulu domba pria itu.Di depan umum, Cedric adalah pesona yang dipuja. Namun, di hadapannya berdua ditengah hutan terasing ini pria itu melepas topeng anggunnya dan mengusiknyatanpa ampun.Waktu bergulir hingga tengah malam menyapa.Usai menghabiskan ikan bakar hasil tangkapannya, rasa lelahyang luar biasa menghantam Hailey. Tingkah usil Cedric yang terus mengurasenerginya membuat matanya berat. Ia bersandar pada batang pohon oak, dan hanya butuh beberapamenit sampai kesadaran gadis itu benar-benar tenggelam.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews