Chapter: 60. Kembalinya pedang kaisarRombongan itu mulai muncul perlahan dari kejauhan. Semakin lama mereka mendekat, semakin tidak karuan pula debaran di dada Evelyn.Tanpa sadar, jemarinya saling menggenggam erat. Rasa penasaran memenuhi benaknya. Siapa yang akan muncul?"Hidup Pedang Kaisar!" Seruan itu menggema dari segala penjuru.Orang-orang bersahut-sahutan sambil melemparkan bunga ke jalan, membuka jalan bagi rombongan yang perlahan memasuki pusat kota. Begitu barisan itu semakin dekat, mata Evelyn langsung membelalak. Dadanya berdegup begitu kencang hingga seolah hendak melompat keluar.Ia nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Louis. Pria itu tampak berantakan. Seragam militernya dipenuhi debu dan noda tanah, beberapa bagian bahkan terlihat robek akibat pertempuran. Wajahnya tampak lelah, sementara rambut hitamnya sedikit berantakan karena perjalanan panjang.Namun, di atas kudanya, ia tetap terlihat gagah. Louis menunggang paling depan, memimpin iring-iringan kereta yang membawa para perampok yang tela
Terakhir Diperbarui: 2026-08-01
Chapter: 59. Rumor liar yang berkembangValentine Douglas menghampiri mereka dengan tatapan penuh rasa penasaran. Dari sorot matanya saja, Evelyn sudah bisa menebak bahwa gadis itu sedang mencium aroma gosip baru. Bibir Valentine bahkan tampak nyaris tak bisa berhenti tersenyum, seolah telah menemukan hiburan yang sangat menarik."Astaga! Apakah kalian kembali bersama? Bukankah Anda bilang Anda sudah tidak tertarik padanya lagi?" tanya Valentine dengan wajah penuh keterkejutan.Orang-orang di sekitar mereka yang semula hanya melirik kini mulai memperlambat langkah. Beberapa bahkan sengaja mendekat untuk mendengar percakapan mereka dengan lebih jelas.Dalam sekejap, Evelyn menjadi pusat perhatian. Ia mengembuskan napas panjang. Rasanya seluruh tenaganya terkuras habis hanya karena kejadian ini."Tidak, tidak! Kami hanya kebetulan bertemu, dan Viscount menolongku karena aku hampir terjatuh," jelas Evelyn berusaha tetap tenang.Wajah Valentine sempat menunjukkan raut kecewa. Jawaban itu jelas tidak memuaskannya. Namun hanya se
Terakhir Diperbarui: 2026-08-01
Chapter: 58. Hati yang tidak tenangTiga hari telah berlalu sejak batalnya penyerangan Sir Louis terhadap kelompok perampok di Pegunungan Lox. Selama tiga hari itu pula, Louis dinyatakan menghilang tanpa jejak. Pasukan terus melakukan penyisiran di kaki Gunung Lox hingga Pegunungan Nox, berharap dapat menemukan keberadaannya. Namun, sejauh ini, pencarian itu belum membuahkan hasil. Di dalam kamarnya, Evelyn terus mondar-mandir tanpa henti. Langkahnya terdengar pelan di atas lantai kayu, sementara wajahnya dipenuhi kecemasan. Sudah tiga hari berlalu, tetapi Louis masih belum juga ditemukan. Beruntung, kalung berlian hitam yang selama ini begitu ia khawatirkan tidak menimbulkan masalah apa pun. Setidaknya, hal itu sedikit menenangkan pikirannya di tengah berbagai kemungkinan buruk yang terus bermunculan. "Nona, duduklah sebentar. Anda sudah mengelilingi kamar ini sejak pagi!" ujar Sara dengan nada khawatir, matanya mengikuti setiap langkah Evelyn yang tampak semakin gelisah. Evelyn mengembuskan napas panjang sebelum
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: 57. Kabar mengejutkanPedang tajam berkilat di bawah cahaya bulan, lalu menebas leher seseorang dalam satu gerakan yang begitu cepat. Darah memercik ke tanah.Louis bergerak bak kilatan cahaya, tidak memberi lawannya sedikit pun kesempatan untuk bernapas atau membalas serangan. Meskipun salah satu kakinya masih terjepit perangkap hewan, ketenangannya sama sekali tidak goyah. Dalam keadaan terdesak sekalipun, ia tetap mampu menghabisi pria itu hanya dalam hitungan detik.Begitu tubuh pria itu ambruk tak bernyawa, Louis mengembuskan napas pelan. Perasaannya masih belum tenang. Ada sesuatu yang terasa tidak beres.Perkemahan mereka sebenarnya tidak begitu jauh dari tempat itu, tetapi seseorang berhasil membuntutinya hingga ke sini. Itu bukan pertanda yang baik.Louis membungkukkan tubuh, lalu mengambil kepala pria yang tergeletak tak jauh dari sisinya. Ia mengamatinya dengan saksama, memperhatikan setiap guratan wajah yang mungkin pernah ia lihat sebelumnya.Tampilannya lebih menyerupai seorang perampok darip
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29
Chapter: 56. Di danau berkilau"Oh, tidak! Seharusnya aku mengatakannya saat aku berada sana bersamanya!" Evelyn semakin panik. Ia bahkan sudah tidak lagi mendengarkan perkataan Sara.Pikirannya menjadi kacau. Ia berusaha mati-matian mengingat kembali alur cerita yang pernah ia tulis. Namun, semakin keras ia mencoba mengingatnya, semakin kosong kepalanya terasa. Seolah-olah otaknya memilih lumpuh tepat ketika ia paling membutuhkannya."Perang nanti... akan terjadi sebuah pengkhianatan besar. Tapi, sialnya, aku sama sekali tidak ingat bentuk pengkhianatannya seperti apa ataupun siapa dalang di balik semua itu! Seharusnya aku memperingatkan Louis!" gumam Evelyn dengan wajah dipenuhi kecemasan.Sepengetahuan Evelyn, perang ini merupakan salah satu titik balik yang membawa kerugian besar bagi wilayah Baron Blackwell. Dampaknya bukan hanya pada rakyat, tetapi juga menjadi awal kejatuhan keluarga Blackwell. Dalam novel yang ia tulis, peristiwa itu menjadi salah satu penyebab nasib tragis yang akhirnya menimpa Evelyn Blac
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29
Chapter: 55. Bertemu di danau berkilauBerbekal sebuah lampu lilin, Evelyn mengambil jalan pintas melewati taman kediaman Blackwell menuju Danau Berkilau. Cahaya kecil dari lampu di tangannya bergoyang pelan mengikuti setiap langkahnya, menerangi jalan setapak yang hanya diselimuti sinar bulan. Di tangan satunya, ia menggenggam erat secarik surat yang menjadi penunjuk sekaligus alasan mengapa ia nekat datang ke tempat ini. "Dasar tidak waras!" gerutu Evelyn pelan kepada dirinya sendiri saat langkahnya semakin mendekati tepian danau. Entah apa yang sedang ia pikirkan hingga berani menemui Louis pada larut malam seperti ini. Bagi seorang lady bangsawan, bertemu laki-laki yang bukan kerabat ataupun suaminya di tempat sepi adalah tindakan yang sama sekali tidak pantas. Untungnya ia datang dengan menyamar sebagai laki-laki. Meski begitu, pakaian yang dikenakannya masih terasa sedikit kebesaran. Itu karena pakaian tersebut adalah milik kakak laki-lakinya, Christian. Hingga kini Evelyn bahkan belum pernah benar-benar bertemu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-28
Chapter: 121. Melabrak Jihan“Sudah saya katakan, apa yang saya bawakan sangat berharga bagi Anda, Nyonya,” ujar laki-laki bertubuh tinggi tegap itu dengan nada percaya diri.Jihan tersenyum tipis. Ia berdiri di dekat jendela besar, memandang keluar dengan tenang sambil melipat kedua tangannya di dada. Sorot matanya tajam, penuh kepuasan, seolah semua berjalan sesuai rencananya.“Bagus. Kerjamu sangat bagus,” katanya sambil berbalik perlahan menghadap laki-laki itu. “Aku akan memberikanmu upah untuk apa yang sudah kamu lakukan.”“Sesuai dengan perjanjian yang Anda tawarkan, bukan?” tanya laki-laki itu, nada suaranya terdengar sedikit ragu, meski matanya tetap waspada.Jihan tertawa pelan—tawa yang terdengar aneh, hampir seperti kehilangan kendali. Namun hanya sekejap. Ia segera menenangkan dirinya, ekspresinya kembali dingin dan terkendali.“Tentu saja,” jawabnya singkat.Ia mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat di layar, lalu berhenti sejenak sebelum menekan sesuatu.Tak lama, ponsel laki-laki itu berbun
Terakhir Diperbarui: 2026-03-18
Chapter: 120. Memberitahukan FabioRani memandang Fabio sejenak, berusaha mengumpulkan kata-kata yang paling tepat untuk diucapkan. Napasnya terasa sedikit berat, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.“Aku sudah menceritakan soal kehamilanku pada Bima dan mertuaku tadi,” katanya akhirnya, menatap Fabio dengan serius.Jantung Rani berdebar kencang. Ia menunggu reaksi laki-laki itu—mencari tanda, sekecil apa pun, tentang apa yang sebenarnya Fabio rasakan.“Benarkah? Akhirnya!” Fabio tersenyum lebar, tampak benar-benar bahagia. Ia menggenggam tangan Rani, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. “Aku senang kamu mengatakannya. Aku bersyukur kamu tidak menahan semuanya sendirian dan membuat dirimu kewalahan menyembunyikan kehamilan ini.”Rani sedikit tertegun melihat reaksi itu. Hangat. Tenang. Tidak ada nada tinggi, tidak ada kemarahan seperti yang biasa ia terima dari Bima. Entah kenapa, perasaan lega langsung memenuhi dadanya.“Terima kasih banyak,” ucapnya tulus, menatap Fabio dengan mata yang sedikit berka
Terakhir Diperbarui: 2026-03-18
Chapter: 119. Pesan AncamanRani segera membuka pesan yang ia terima. Nama pengirimnya anonim, membuatnya tak yakin siapa orang iseng yang mengirim pesan itu.Begitu melihat isinya, tangan Rani langsung gemetar. Matanya seolah tak percaya hingga ia harus membacanya dua kali.Kumpulan foto kedekatannya dengan Fabio—foto terbaru. Termasuk tespek yang ia buang dan momen ketika Fabio menunjukkan tespek itu padanya.“Tidak mungkin .…” Rani lemas. Tubuhnya gemetar, kepalanya mendadak pusing, dan rasa mual menyerang.Bagaimana mungkin foto-foto ini dikirimkan tepat setelah ia membagikan kabar bahagia pada suami dan mertuanya?Tanpa pikir panjang, Rani segera meneruskan pesan itu pada Fabio. Tak butuh waktu lama hingga pesan tersebut terbaca. Sesaat kemudian, ponselnya bergetar—Fabio langsung menelepon.“Halo .…” suara Rani terdengar lemah.“Kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan? Aku akan segera ke sana!” suara Fabio terdengar panik dan terburu-buru.“Aku di rumah. Aku …, baik-baik saja, Kak,” jawab Rani, berusaha terd
Terakhir Diperbarui: 2026-03-18
Chapter: 118. Kelembutan Yang Mengejutkan“Kamu beneran hamil?!” Bima tampak tak percaya, namun ekspresinya perlahan berubah dari kaget menjadi bahagia.Rani menelan ludah. Ia hanya tersenyum, tak mampu berkata-kata. Ada rasa takut yang sempat menggelayut—seolah kabar ini bisa saja berubah menjadi mimpi buruk.Mata Rani langsung melirik ke arah ibu mertuanya yang tampak diam seribu bahasa. Wanita itu terlihat sulit ditebak. Meski jelas terkejut, ada sesuatu yang tetap terasa dingin dari sorot matanya.Mungkinkah kabar ini benar-benar bisa meluluhkan hati semua orang?“Ibu! Rani akhirnya hamil!” seru Bima penuh semangat.Rani sendiri ikut terkejut dengan reaksi Bima. Kalau diingat-ingat, selama ini Bima selalu menjadi orang yang membelanya setiap kali ibunya menyinggung soal anak.Rani kembali membaca raut wajah ibu mertuanya yang misterius. Entah mengapa, wanita itu tetap tak berkata apa-apa. Padahal, selama ini ia selalu menuntut cucu dan kerap menyulitkan Rani karena hal itu.Sekarang ketika Rani benar-benar mengandung, aka
Terakhir Diperbarui: 2026-03-18
Chapter: 117. Berita BahagiaRani merasakan cahaya lampu yang menusuk matanya ketika perlahan terbuka.Silau.Ia menyipit, berusaha menyesuaikan penglihatannya sambil mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.Kepalanya masih terasa berat. Tubuhnya lemas. Perlahan, kesadarannya kembali. Rani kini sudah berada di dalam kamarnya. Ia menoleh pelan ke kanan dan kiri, mendapati seorang dokter, Bima, dan ibu mertuanya duduk mengelilinginya.“Hati-hati,” ujar dokter dengan lembut sambil membantu Rani untuk duduk. Tangannya menopang bahu Rani agar tidak kembali terjatuh.Rani mengernyit pelan, menahan pusing yang masih tersisa.“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung setelah berhasil duduk bersandar.“Kamu pingsan,” jawab Bima cepat. “Aku panggil dokter karena kebetulan dia kenalanku,” lanjutnya, seolah tidak memberi ruang bagi Rani untuk mencerna keadaan.Rani menoleh ke arah ibu mertuanya.Tatapan Bu Dina tampak kesal, jelas tidak senang dengan situasi itu. Rani langsung merasa tidak enak. Ia pasti sudah merep
Terakhir Diperbarui: 2026-03-18
Chapter: 116. Kedatangan Bu DinaBunyi benda-benda di meja jatuh terdengar keras.Bima tiba-tiba melempar tutup panci yang digunakan untuk menutup jagung dan ubi rebus di meja. Tutup panci itu melayang dan menghantam dinding dengan suara nyaring sebelum jatuh ke lantai.“Kenapa kalau aku pilih Rani sebagai istri?!” teriak Bima dengan suara menggelegar.Teriakan itu membuat ibunya langsung menegang.“Bima …?” Bu Dina terkejut, matanya melotot melihat reaksi putranya yang tiba-tiba meledak seperti itu.“Emang kenapa!?” Bima balas berteriak. “Aku tahu aku bukan yang paling pintar dan berhasil kayak saudara-saudaraku yang lain! Kalau ibu gak suka aku, gak usah datang!”Amarah Bima meledak begitu saja, tanpa bisa ditahan.Seperti biasa, Bima paling tidak suka diperlakukan seperti itu. Ia tidak tahan direndahkan, apalagi dibandingkan dengan saudara-saudaranya.Dulu, justru sifat inilah yang membuat Rani jatuh cinta pada Bima. Bima pernah cukup berani—bahkan cukup gila—untuk membelanya di depan orang lain.Namun seiring wak
Terakhir Diperbarui: 2026-03-16