Chapter: 16. Tamu tak terdugaEvelyn berlari menuruni tangga kastel menuju ruang tamu. Ia benar-benar terkejut saat pelayan memberitahukan siapa tamu yang mencarinya malam-malam begini.Begitu tiba di sana, yang pertama kali ia lihat adalah sosok tinggi dengan punggung lebar yang berdiri menghadap ke arah jendela. Posturnya tegap seperti biasa, seolah tak pernah benar-benar beristirahat dari tugasnya sebagai seorang ksatria.“Sir Louis?” serunya terkejut.Louis berbalik. Wajahnya tetap tenang dan nyaris tanpa ekspresi.“Salam, Nona,” ucapnya sambil memberi hormat.Evelyn segera membalas salam itu.“Ada perlu apa?” tanyanya heran. Ia masih belum bisa percaya pria yang selama ini terlihat selalu menghindarinya justru datang lebih dulu mencarinya.“Saya ingin mengembalikan ini.” Louis mengulurkan sebuah benda kecil.Evelyn langsung terkejut saat melihatnya. Itu adalah hiasan rambut miliknya yang hilang sejak sore tadi.“Oh, Astaga! Aku bahkan tidak sadar benda ini hilang!” katanya sambil segera mengambil hiasan terse
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: 15. Tidak menyangkalinyaDari kejauhan, Evelyn memicingkan mata untuk melihat sosok ksatria itu dengan lebih jelas. Seketika matanya membelalak.“Sir Louis?!” serunya kaget.Tanpa berpikir panjang, ia langsung menarik lengan Sara dan keluar dari toko buku. Mereka bergegas menembus kerumunan menuju tempat Louis berdiri bersama beberapa ksatria lainnya.“Sir Louis!” panggil Evelyn begitu berhasil mendekat.Mendengar namanya dipanggil, Louis menoleh. Untuk sesaat, ia tampak terkejut melihat Evelyn dan Sara berada di sana.“Nona Blackwell,” sapanya datar seperti biasa.“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Evelyn cepat. “Kau terlihat sangat...” Ia terdiam, kesulitan mencari kata yang tepat.Seragam Louis tampak berantakan. Debu menempel di beberapa bagian pakaiannya, dan bekas perkelahian masih terlihat jelas.“Saya baik-baik saja, Nona,” jawab Louis tenang.Namun mata Evelyn terus mengamati dirinya. Lalu ia menemukan sebuah luka kecil di pipi Louis.“Astaga!” serunya spontan. “Lihat wajahmu! Apakah kau yakin baik-b
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: 14. Toko Buku“Sir Louis!?” Evelyn berseru kaget begitu melihat sosok Louis berdiri di hadapannya.Louis menatapnya seperti biasa, dingin dan tanpa ekspresi. “Mengapa Anda duduk sendirian di sini?” tanyanya.Entah mengapa, melihat Louis justru membuat Evelyn merasa sedikit lega. “Aku tidak sendirian. Pelayanku sedang mengantre roti.” Ia menunjuk ke arah antrean panjang di depan toko.Louis mengikuti arah pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Evelyn.“Tidak baik bagi seorang wanita bangsawan yang belum menikah untuk duduk sendirian seperti ini,” katanya datar.Evelyn tersenyum kecil. “Kalau begitu, Sir Louis bisa menemaniku.” Ia mengatakannya sebagai candaan. Namun alih-alih mengabaikannya, Louis justru membeku.Tiba-tiba saja, wajah pria itu tampak sedikit memerah. Rahangnya mengeras dan ekspresinya menjadi semakin kaku.Evelyn langsung merasa tidak enak. Jangan-jangan Louis menganggap candaan itu tidak sopan.
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: 13. Jalan-jalan sebelum pulang Mendengar pertanyaan itu, Evelyn sempat terkejut. Namun di saat yang sama, ia juga merasa sedikit lega. Tanpa disadari, pertanyaan Arthur justru membantunya membuat orang-orang berhenti melihatnya sebagai gadis yang masih terobsesi padanya.“Itu urusan pribadi,” jawab Evelyn santai.Beberapa wanita bangsawan tampak terkejut. Evelyn sudah bisa membayangkan betapa besarnya gosip yang akan beredar setelah ini. Ia menyesap tehnya yang mulai dingin sambil menyembunyikan ekspresinya.“Kau tahu, tidak etis bagi tunangan seorang bangsawan untuk bertemu dengan pria lain,” kata Arthur tiba-tiba.Evelyn hampir tersedak.Ia memandang Arthur dengan kesal. Apa maksud pria itu mengatakan hal seperti itu di hadapan sekumpulan bangsawan yang gemar bergosip? Arthur seolah sedang mendorongnya langsung ke dalam sarang singa.“Tolong jangan membuat kesimpulan yang tidak benar!” balas Evelyn kesal.Pria ini benar-benar menyebalkan.A
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: 12. Kedatangan yang mengejutkan Menyadari orang yang paling ingin ia hindari juga hadir di sana, Evelyn berusaha tetap tenang. Ia hanya tersenyum lalu ikut tertawa kecil.“Benar sekali, Nona. Siapa yang tidak mengenalku?” katanya santai. “Aku cukup terkenal di kalangan sosial, jadi memang sering menjadi bahan pembicaraan.”Beberapa wanita bangsawan saling berpandangan.“Kalau boleh tahu, siapa nama Anda?” tanya Evelyn seolah benar-benar tidak mengenalnya.Seketika suasana menjadi hening. Bahkan Lavender tampak terkejut. Evelyn menahan senyum. Ia tahu persis apa yang baru saja dilakukannya. Dan wanita yang sedang ia hadapi bukanlah sembarang orang.“Marina Bridget, Nona,” jawab gadis itu setelah terdiam sesaat.Meski masih tersenyum, jelas terlihat bahwa Marina tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.Evelyn mengangguk pelan. Tentu saja ia mengenal Marina Bridget.Dalam cerita aslinya, Marina adalah debutan paling bersinar musim i
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: 11. Pesta teh LavenderTanpa berpikir panjang, Evelyn langsung membuka surat itu dan membacanya perlahan. Saat mencapai bagian akhir, senyum kecil muncul di wajahnya.“Lavender Bellamy mengundangku untuk minum teh? Apa ini tidak salah?” gumamnya, nyaris tertawa.Lavender Bellamy adalah seorang bangsawan dari keluarga sederhana yang hidup berkecukupan. Tidak cukup kaya untuk menjadi pusat perhatian kalangan aristokrat, tetapi juga tidak miskin hingga dipandang rendah. Dalam novel yang ditulis Evelyn, Lavender adalah tokoh utama wanita.Dan lebih penting lagi, dialah orang yang paling dibenci oleh Evelyn Blackwell dalam cerita asli.“Apakah Nona tidak menyukainya?” tanya Sara saat melihat ekspresinya. “Masih ada banyak surat undangan lain yang datang. Mungkin Nona bisa memusatkan perhatian pada yang lain.”Evelyn menggeleng.Sejujurnya, setelah lebih dari sebulan hidup di dalam novel ini, ia sangat penasaran dengan sosok tokoh utama yang dahulu ia ciptakan sendiri. Selain itu, bertemu Lavender mungkin bisa me
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: 121. Melabrak Jihan“Sudah saya katakan, apa yang saya bawakan sangat berharga bagi Anda, Nyonya,” ujar laki-laki bertubuh tinggi tegap itu dengan nada percaya diri.Jihan tersenyum tipis. Ia berdiri di dekat jendela besar, memandang keluar dengan tenang sambil melipat kedua tangannya di dada. Sorot matanya tajam, penuh kepuasan, seolah semua berjalan sesuai rencananya.“Bagus. Kerjamu sangat bagus,” katanya sambil berbalik perlahan menghadap laki-laki itu. “Aku akan memberikanmu upah untuk apa yang sudah kamu lakukan.”“Sesuai dengan perjanjian yang Anda tawarkan, bukan?” tanya laki-laki itu, nada suaranya terdengar sedikit ragu, meski matanya tetap waspada.Jihan tertawa pelan—tawa yang terdengar aneh, hampir seperti kehilangan kendali. Namun hanya sekejap. Ia segera menenangkan dirinya, ekspresinya kembali dingin dan terkendali.“Tentu saja,” jawabnya singkat.Ia mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat di layar, lalu berhenti sejenak sebelum menekan sesuatu.Tak lama, ponsel laki-laki itu berbun
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: 120. Memberitahukan FabioRani memandang Fabio sejenak, berusaha mengumpulkan kata-kata yang paling tepat untuk diucapkan. Napasnya terasa sedikit berat, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.“Aku sudah menceritakan soal kehamilanku pada Bima dan mertuaku tadi,” katanya akhirnya, menatap Fabio dengan serius.Jantung Rani berdebar kencang. Ia menunggu reaksi laki-laki itu—mencari tanda, sekecil apa pun, tentang apa yang sebenarnya Fabio rasakan.“Benarkah? Akhirnya!” Fabio tersenyum lebar, tampak benar-benar bahagia. Ia menggenggam tangan Rani, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. “Aku senang kamu mengatakannya. Aku bersyukur kamu tidak menahan semuanya sendirian dan membuat dirimu kewalahan menyembunyikan kehamilan ini.”Rani sedikit tertegun melihat reaksi itu. Hangat. Tenang. Tidak ada nada tinggi, tidak ada kemarahan seperti yang biasa ia terima dari Bima. Entah kenapa, perasaan lega langsung memenuhi dadanya.“Terima kasih banyak,” ucapnya tulus, menatap Fabio dengan mata yang sedikit berka
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: 119. Pesan AncamanRani segera membuka pesan yang ia terima. Nama pengirimnya anonim, membuatnya tak yakin siapa orang iseng yang mengirim pesan itu.Begitu melihat isinya, tangan Rani langsung gemetar. Matanya seolah tak percaya hingga ia harus membacanya dua kali.Kumpulan foto kedekatannya dengan Fabio—foto terbaru. Termasuk tespek yang ia buang dan momen ketika Fabio menunjukkan tespek itu padanya.“Tidak mungkin .…” Rani lemas. Tubuhnya gemetar, kepalanya mendadak pusing, dan rasa mual menyerang.Bagaimana mungkin foto-foto ini dikirimkan tepat setelah ia membagikan kabar bahagia pada suami dan mertuanya?Tanpa pikir panjang, Rani segera meneruskan pesan itu pada Fabio. Tak butuh waktu lama hingga pesan tersebut terbaca. Sesaat kemudian, ponselnya bergetar—Fabio langsung menelepon.“Halo .…” suara Rani terdengar lemah.“Kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan? Aku akan segera ke sana!” suara Fabio terdengar panik dan terburu-buru.“Aku di rumah. Aku …, baik-baik saja, Kak,” jawab Rani, berusaha terd
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: 118. Kelembutan Yang Mengejutkan“Kamu beneran hamil?!” Bima tampak tak percaya, namun ekspresinya perlahan berubah dari kaget menjadi bahagia.Rani menelan ludah. Ia hanya tersenyum, tak mampu berkata-kata. Ada rasa takut yang sempat menggelayut—seolah kabar ini bisa saja berubah menjadi mimpi buruk.Mata Rani langsung melirik ke arah ibu mertuanya yang tampak diam seribu bahasa. Wanita itu terlihat sulit ditebak. Meski jelas terkejut, ada sesuatu yang tetap terasa dingin dari sorot matanya.Mungkinkah kabar ini benar-benar bisa meluluhkan hati semua orang?“Ibu! Rani akhirnya hamil!” seru Bima penuh semangat.Rani sendiri ikut terkejut dengan reaksi Bima. Kalau diingat-ingat, selama ini Bima selalu menjadi orang yang membelanya setiap kali ibunya menyinggung soal anak.Rani kembali membaca raut wajah ibu mertuanya yang misterius. Entah mengapa, wanita itu tetap tak berkata apa-apa. Padahal, selama ini ia selalu menuntut cucu dan kerap menyulitkan Rani karena hal itu.Sekarang ketika Rani benar-benar mengandung, aka
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: 117. Berita BahagiaRani merasakan cahaya lampu yang menusuk matanya ketika perlahan terbuka.Silau.Ia menyipit, berusaha menyesuaikan penglihatannya sambil mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.Kepalanya masih terasa berat. Tubuhnya lemas. Perlahan, kesadarannya kembali. Rani kini sudah berada di dalam kamarnya. Ia menoleh pelan ke kanan dan kiri, mendapati seorang dokter, Bima, dan ibu mertuanya duduk mengelilinginya.“Hati-hati,” ujar dokter dengan lembut sambil membantu Rani untuk duduk. Tangannya menopang bahu Rani agar tidak kembali terjatuh.Rani mengernyit pelan, menahan pusing yang masih tersisa.“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung setelah berhasil duduk bersandar.“Kamu pingsan,” jawab Bima cepat. “Aku panggil dokter karena kebetulan dia kenalanku,” lanjutnya, seolah tidak memberi ruang bagi Rani untuk mencerna keadaan.Rani menoleh ke arah ibu mertuanya.Tatapan Bu Dina tampak kesal, jelas tidak senang dengan situasi itu. Rani langsung merasa tidak enak. Ia pasti sudah merep
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: 116. Kedatangan Bu DinaBunyi benda-benda di meja jatuh terdengar keras.Bima tiba-tiba melempar tutup panci yang digunakan untuk menutup jagung dan ubi rebus di meja. Tutup panci itu melayang dan menghantam dinding dengan suara nyaring sebelum jatuh ke lantai.“Kenapa kalau aku pilih Rani sebagai istri?!” teriak Bima dengan suara menggelegar.Teriakan itu membuat ibunya langsung menegang.“Bima …?” Bu Dina terkejut, matanya melotot melihat reaksi putranya yang tiba-tiba meledak seperti itu.“Emang kenapa!?” Bima balas berteriak. “Aku tahu aku bukan yang paling pintar dan berhasil kayak saudara-saudaraku yang lain! Kalau ibu gak suka aku, gak usah datang!”Amarah Bima meledak begitu saja, tanpa bisa ditahan.Seperti biasa, Bima paling tidak suka diperlakukan seperti itu. Ia tidak tahan direndahkan, apalagi dibandingkan dengan saudara-saudaranya.Dulu, justru sifat inilah yang membuat Rani jatuh cinta pada Bima. Bima pernah cukup berani—bahkan cukup gila—untuk membelanya di depan orang lain.Namun seiring wak
Last Updated: 2026-03-16