LOGINSetelah terbangun sebagai antagonis dalam novel yang ia tulis sendiri, Evelyn Blackwell bertekad menghindari kematian tragisnya di tangan tunangannya sendiri. Sebagai gantinya, Evelyn memilih seorang pria yang misterius yang bahkan tak pernah ia kenali sebelumnya. "Ayah, aku ingin menikah dengannya!"
View More“Sudah kukatakan, aku tak ingin menikahimu, Tuan Harold!” tegas Evelyn Blackwell. Suaranya menggema di seluruh ruang tamu yang megah hingga membuat percakapan para tamu terhenti seketika.
Di hadapannya, pria itu tampak kehilangan wajah. Untuk sesaat, ia bahkan terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Berhenti mengatakan omong kosong, Evelyn!” bentak Arthur tak kalah tegas. “Aku sudah membatalkan pertunangan kita kemarin dan kau masih kemari untuk mempertanyakannya?” Evelyn memandang Arthur dengan tatapan takjub, seolah sedang melihat sesuatu yang sulit dipahami. Gadis itu terlihat jelas kesal sekali saat karena orang-orang ini begitu memaksanya. Karena pembatalan pertunangan secara sepihak dari Evelyn, Viscount Harold datang untuk meminta penjelasan mengenai kejadian tersebut. Padahal, Evelyn yang berdiri saat ini bukan lagi Evelyn Blackwell yang sesungguhnya. Jiwanya sudah dihuni oleh Dinda Rianda, seorang penulis novel daring terlaris yang secara misterius terbangun di dalam novel ciptaannya sendiri. Sudah satu bulan berlalu sejak ia menjadi Evelyn, tokoh antagonis yang ditakdirkan mengalami akhir tragis di tangan sang tunangan. Sebagai penulis aslinya, ia tahu betul bagaimana kisah Evelyn akan berakhir. Oleh karena itu, langkah pertama yang ia ambil untuk mengubah takdirnya adalah membatalkan pertunangan dengan Viscount Arthur Harold, pria yang menjadi pusat obsesi Evelyn dalam cerita asli. Namun sampai sekarang, pria ini masih terus mengejarnya karena tak terima pertunangannya dibatalkan begitu saja. “Jangan bercanda denganku, Evelyn!” Arthur melangkah maju satu langkah. “Aku tahu kau orang yang seperti apa! Jika kau terus bersikap seperti ini, aku tidak akan menerimamu lagi!” Nada suaranya meninggi di akhir kalimat, nyaris terdengar seperti teriakan. Evelyn hanya tersenyum sinis. Ia lalu memutar bola matanya dengan ekspresi lelah, seolah tidak memiliki tenaga lagi untuk menghadapi omong kosong yang sama. “Terserah kau saja,” katanya datar dengan nada malas. Reaksi itu membuat Arthur semakin kesal. “Aku sudah memperingatkanmu, Evelyn!” katanya tidak sabar. “Aku bahkan sudah mengabulkan keinginanmu untuk menikah denganku!” Evelyn menarik senyum tipis. “Dan aku juga sudah mengabulkan keinginanmu untuk tidak menikahiku.” Kalimat itu meluncur begitu ringan. Namun bagi Arthur, rasanya seperti tamparan keras di depan umum. “Kau—!” Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Arthur benar-benar kehilangan kata-kata. “Evelyn, jika kau terus seperti ini, tidak akan ada laki-laki bangsawan yang mau menikahimu lagi.” Lady Blackwell akhirnya ikut menengahi. Wanita itu melangkah maju dengan wajah penuh keprihatinan, seolah sedang memberikan nasihat tulus kepada putri tirinya. Evelyn mengalihkan pandangannya ke arah wanita tersebut. Tatapannya penuh ketidakpercayaan. Sudah tepat satu bulan sejak ia terbangun di dunia novel yang pernah ia tulis sendiri. Namun melihat langsung wajah wanita ini dari jarak dekat tetap membuat perutnya mual. Dalam novel aslinya, Evelyn Blackwell adalah pemeran antagonis dalam kisah Putri yang Terluka, sebuah novel romantis yang pernah menjadi karya paling populernya. Karakter Evelyn digambarkan sebagai wanita bangsawan yang terobsesi pada Viscount Arthur Harold hingga kehilangan akal sehatnya sendiri. Obsesi itulah yang pada akhirnya mendorongnya menuju kehancuran. Ia dijebak, difitnah, dikhianati, lalu dieksekusi sebagai penjahat cerita. Dan orang yang paling berperan dalam kejatuhannya adalah wanita yang saat ini berdiri di hadapannya dengan wajah penuh kepedulian palsu. Lady Blackwell. Ibu tirinya yang selama ini diam-diam membenci Evelyn. “Tolong, jangan ikut campur.” Evelyn terdengar kesal namun masih mengatur emosinya dengan baik. Ekspresi Lady Blackwell sempat retak sebelum ia kembali memasang wajah prihatin. “Kau akan menyesalinya,” katanya dingin. Arthur yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran mereka tiba-tiba terdiam sejenak, seolah baru menyadari sesuatu. Kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang membuat Evelyn merasa semakin muak. “Tenang saja, Lady Blackwell,” kata Arthur santai. “Tampaknya Evelyn sengaja bersikap seperti ini hanya untuk mencari perhatianku.” Senyumnya semakin lebar. “Aku mengenalnya lebih baik daripada siapa pun.” Nada suaranya dipenuhi keyakinan. Seolah semua tindakan Evelyn hari ini hanyalah sandiwara murahan yang dibuat untuk membuatnya cemburu atau memohon perhatian. Bagi Arthur, Evelyn tidak lebih dari seorang wanita menyedihkan yang telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk mencintainya. Wanita yang akan selalu kembali, tidak peduli seberapa sering ia ditolak. Dan justru karena pemikiran itulah, Evelyn merasa semakin muak. Bagaimana mungkin Evelyn dalam cerita asli bisa begitu terobsesi pada pria yang bahkan tidak mampu membedakan cinta dengan harga dirinya sendiri. "Tolong, berhentilah menyangkalnya. Aku memang tidak mau menikahimu, dan itu bukan karena aku sedang mencari perhatian!” Evelyn terdengar frustasi sambil memijit keningnya yang mulai pusing. orang-orang saling pandang sambil menertawakan ucapan Evelyn, seolah itu sebuah lelucon. Tatapan mereka seolah mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang menganggap perkataan Evelyn serius. Lady Blackwell bahkan memandangnya dengan sorot meremehkan yang nyaris tidak disembunyikan. “Cara bicaramu seolah-olah masih ada pria lain yang bersedia menikahimu selain Viscount Harold,” ujarnya sambil tersenyum tipis. Nada suaranya terdengar lembut. Namun sindiran yang terkandung di dalamnya begitu tajam hingga membuat beberapa tamu menahan senyum. Evelyn langsung mengertakkan gigi. Wanita itu benar-benar tahu cara menusuk harga diri seseorang. “Tentu saja ada!” balas Evelyn cepat. Ia bahkan tidak memberi waktu bagi siapa pun untuk menyela. “Jangan hanya karena aku pernah buta karena cinta, lalu kalian mengira aku tidak memiliki pilihan lain selain Viscount.” Kepalanya terangkat tinggi saat mengucapkan kalimat itu. Seolah-olah ia benar-benar memiliki puluhan pelamar yang sedang mengantre di luar kediaman Blackwell. Padahal kenyataannya... Evelyn sendiri tidak tahu dari mana kepercayaan diri itu berasal. Ia benar-benar sedang berbicara sembarangan. Namun harga dirinya sudah terlanjur dipertaruhkan. Tidak mungkin ia mundur sekarang. Beberapa orang mulai berbisik pelan. Tatapan tidak percaya, ejekan terselubung, hingga rasa penasaran bercampur menjadi satu. Tak seorang pun tampak yakin dengan ucapan Evelyn. Terutama Arthur. Laki-laki itu mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya. Seolah sedang menghadapi anak kecil yang sedang mengamuk. “Aku benar-benar muak denganmu, Evelyn,” katanya dingin. “Kalau memang ada pria lain yang mau menikahimu, silakan saja. Aku tidak peduli.” Ucapan itu jelas dimaksudkan untuk mempermalukannya. Karena Arthur yakin tidak ada pria seperti itu. Sama sekali tidak ada. Evelyn menatapnya beberapa saat sebelum memutar bola matanya dengan malas. Ia juga mulai lelah menghadapi pria ini. Sudah dua kali ia menolak namun Arthur tetap bersikeras menganggap semuanya sebagai sandiwara untuk menarik perhatiannya. Melihat wajah Arthur yang penuh keyakinan itu, Evelyn merasa kesabarannya hampir habis. Jika mereka semua begitu yakin bahwa tidak ada pria lain yang mau menikahinya, maka sepertinya ia tidak punya pilihan selain membuktikan sebaliknya. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik lalu melangkah cepat ke arah pria tinggi yang sejak tadi berdiri diam di dekat pintu. Pria itu bahkan belum mengucapkan sepatah kata pun sejak tiba. Namun entah mengapa, dibandingkan semua orang di ruangan ini, justru dia tampak paling waras. Evelyn langsung menggandeng lengannya. Gerakan itu begitu mendadak hingga pria tersebut akhirnya menunjukkan sedikit reaksi untuk pertama kalinya. Alisnya terangkat tipis. “Maaf saja,” kata Evelyn sambil menatap Arthur dengan senyum menantang. “Tapi selain dirimu, dialah laki-laki yang selama ini ingin aku nikahi.”Evelyn mengernyitkan kening. Seulas senyum tipis sempat terukir di wajahnya. Bagaimana bisa seseorang yang begitu dingin dan kaku akhirnya membalas surat yang ia kirimkan?Setelah menunggu dengan penuh harap sepanjang hari, ia segera mengambil amplop itu dari tangan Sara. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat saat membuka segelnya. Mungkin Louis meminta bertemu. Mungkin dia ingin mendengar penjelasannya secara langsung.Tanpa berlama-lama, Evelyn segera membuka surat tersebut dan membacanya.Hanya ada selembar kertas kecil di dalamnya.“Jangan melakukan hal yang sia-sia.”Singkat. Padat. Dan sama sekali tidak membantu.Evelyn menatap tulisan itu beberapa saat seolah berharap ada kalimat lain yang tersembnyi di baliknya. Namun tidak ada apa-apa lagi.Ekspresinya langsung berubah kesal.Apakah Sir Louis menganggapnya sedang bercanda?“Apa yang dikatakan oleh Sir Louis, Nona?” tanya Sara penuh rasa penasaran. Wajahnya tampak bersemangat, seolah sedang menantikan kabar baik.Evelyn meng
“Apakah menurutmu dia akan membacanya?” tanya Evelyn ragu saat Sara menyisir rambutnya.Sara menatap pantulan Evelyn dari cermin. “Siapa pun yang menerima pesan mengejutkan seperti itu pasti akan penasaran dengan isinya,” jawabnya yakin.Evelyn terdiam sejenak. Pikirannya dipenuhi dugaan tentang percakapan yang berlangsung kala itu antara ayahnya, Arthur, dan Sir Louis. Apakah mereka membahas masalah pertunangannya?Ia merasa kemungkinan besar memang demikian. Ucapan Arthur kemarin terdengar jelas menyiratkan bahwa Louis bukanlah tipe pria yang ingin menikah.Namun, sekalipun Louis memang tidak tertarik pada pernikahan, dia tetap satu-satunya pria yang bisa Evelyn manfaatkan untuk mengalihkan perhatian semua orang dari obsesinya terhadap Arthur.Hanya saja, ada satu masalah yang terus mengganggunya—pernikahan itu sendiri, yang entah benar-benar akan terjadi atau tidak.“Semoga dia membacanya. Aku harus bicara dengannya sesegera mungkin,” kata Evelyn sambil memijat pelipisnya.Sara men
Baron Blackwell memandang pelayannya dengan ekspresi bingung. Mengapa Louis datang hari ini? “Benarkah?” tanyanya untuk memastikan. “Benar, Tuan,” jawab sang pelayan dengan yakin. “Katakan padanya untuk menunggu. Kami masih makan siang,” perintah Baron Blackwell. “Jangan lupa siapkan teh dan kudapan untuknya.” Pelayan itu membungkuk lalu pergi. Mendengar nama Louis disebut, Evelyn langsung tertegun. Mungkinkah Louis datang karena surat-surat yang telah ia kirimkan? Ia tidak ingin menunggu lebih lama. Lagi pula, makan siang ini terasa begitu melelahkan. “Aku sudah kenyang. Maaf, aku pamit lebih dahulu,” katanya sambil bangkit dari kursinya. Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, Evelyn segera menuju ruang tamu. Louis duduk tegap di sana. Punggungnya lurus, sikapnya kaku, seolah siap berangkat ke medan perang kapan saja. Wajahnya pun nyaris tidak menunjukkan emosi. “Sir Louis,” panggil Evelyn lembut. Louis menoleh dan langsung berdiri dari tempat duduknya. “Nona Blackwell.” S
Evelyn mondar-mandir di dalam kamarnya seperti orang yang kehilangan arah. Seluruh usahanya untuk mengubah alur novel yang ia tulis sendiri terasa sia-sia. Seolah ada tangan tak terlihat yang terus mendorongnya kembali ke jalur cerita utama, meski ia mati-matian berusaha menjauh.Hari ini, Baron Blackwell dengan keras kepala mengurung Evelyn di kamarnya sambil menunggu kedatangan Viscount Harold. Bahkan sebelum pergi, ayahnya sudah berkali-kali mewanti-wanti agar Evelyn meminta maaf atas kejadian di pesta minum teh tempo hari.Tentu saja, Evelyn menolak mentah-mentah.“Nona.” Sara masuk ke dalam kamar sambil membawa beberapa lembar pakaian yang baru disetrika.Dengan tergesa-gesa, Evelyn langsung menghampirinya.“Apakah ada kabar terbaru dari Louis?” tanyanya penuh harap.Sara memandangnya dengan ekspresi menyesal.Melihat wajah itu, Evelyn langsung tahu jawabannya.“Maaf, Nona. Tidak ada kabar apa pun dari Sir Louis untuk Anda,” jawab Sara sambil menundukkan kepala. “Namun saya kemar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.