LOGINPukul satu dini hari, Nara masih menatap langit-langit kamar, matanya tak bisa terpejam, hatinya gelisah, entah sudah berapa lama ia merasakan hal ini setiap kali Arga pulang terlambat, ada suatu firasat yang menyesakan dada.
Suara mobil terdengar, Nara bangkit dan mengintip ke jendala kamar , mobil suaminya sudah memasuki halaman rumah. Dengan sedikit kesal Nara melangkah keluar dan membukakan pintu untuk Arga.
Ceklek! Aroma parfum vanila lembut langsung menguar di indera penciuman Nara.
“Habis sama siapa Mas, aroma parfum seorang wanita?”
“Temanku juga kan ada wanita juga, kamu tak melihat storyku?”
“Iya aku tahu, tapi…”
“Kenapa, kamu mulai protes akhir-akhir ini,” gertak Arga menatap ke arah Nara.
“Bagaimana aku tidak protes, aroma itu jelas menempel di kemejamu Mas…sebenarnya aku memendam pertanyaan ini dalam waktu yang lama, apa Mas Arga berselingkuh?” tanya Nara sudah tak kuat memendam pertanyaan yang selama ini membuat sesak di dada Nara.
“Jadi kamu ingin tahu kebenarannya, baik…ini jawaban atas pertanyaanmu!” bentak Arga sambil melempar berkas perceraian di wajah Nara.
Nara meraih berkas dan membacanya, seketika airnya matanya luruh, tubuhnya langsung lemah, Nara terduduk di sofa tangannya kirinya mengusap dadanya yang terasa nyeri sementara tangan kananya masih memegang berkas perceraian.
“Jadi ini jawaban yang aku terima Mas…kamu menceraikan aku…siapa wanita itu?”
“Kanza, kamu pernah ‘kan bertemu dengannya sekarang bandingkan dirimu dengan Kanza. Kamu harus tahu Nar…kehidupan semakin keras, jika kamu ingin meningkatkan derajatmu kamu tidak hanya perlu cantik tapi kamu juga harus pintar, Kanza lebih dari segala-galanya, orang tuanya terhormat, memiliki koneksi orang -orang penting di negeri ini, aku membutuhkan itu untuk meningkatkan level hidupku agar bisa naik,” jelas Arga.
“Mas…ini pernikahan...bukan karir atau politik,” protes Nara.
“Bagiku sama saja, aku ingin menikah dengan wanita yang memiliki level tinggi, maaf Nar..cukup tiga tahun saja, aku bersamamu apalagi kamu tak bisa memberikan aku anak,” hinaan keluar dari mulut Arga tanpa menghiraukan perasaan Nara.
Nara memeluk Arga erat. ”Tidak Mas Arga, jika kamu menceraikanku, bagaimana kehidupanku?”
“Kamu masih muda, menikah lagi dengan laki-laki yang menerima semua kekuranganmu, Arga mengurai kasar pelukan Nara, lalu melangkah meninggalkan Nara yang tergugu di sofa tamu, dengan meremas jari-jemarinya.
“Jahatnya Mas…disaat kamu merayakan kenaikan jabatanmu dengan teman-temanmu, kamu malah memberiku luka ini, apa salahku Mas Arga,” gumam Nara di sela tangisannya.
Malam itu Arga tidur di kamar tamu, sedangkan Nara meratapi nasip di kamar yang dingin hanya dirinya yang hancur saat ini, sedangkan Arga telah bermimpi menikahi Kanza.
Semalaman Nara tak bisa tidur berharap yang terjadi semalam hanya mimpi buruk, atau Arga dalam keadaan mabuk. Tapi pagi itu Arga sudah pergi ke kantor, tanpa menghiraukan istrinya. Nara dengan wajahnya bengkak matanya sembab, belum lagi menenangkan pikirannya pintu depan terbuka, Dewi dan Rena ada di ambang pintu senyum keduanya sinis dan seringai tipis terlihat di wajah keduanya.
“Kamu sudah menerima surat perceraian, ‘kan, tanda tagani dan segera pergi dari rumah ini,” usir Dewi.
“Pergi…aku juga punya hak atas rumah ini Bu…kalau aku dan Mas Arga bercerai, aku mendapatakan harta gono gini ‘kan, aku belum menandatangani berkas, jadi kami belum bercerai,” jawab Nara.
“Kalau begitu tanda tangani dan cepat tinggalkan rumah ini!” timpal Rena, melangkah cepat mendekati Nara dan menarik tangan Nara.
Tangan Nara berpegangan pada daun pintu. ”Aku akan berteriak minta tolong pada warga jika kalian mengusirku, aku belum bercerai dengan Mas Arga!” bentak Nara menahan kakinya sekuat tenaga, karena Rena mendorong tubuhnya.
“Baiklah, kami beri kamu tiga hari, dan jangan berharap mendapatkan bagian dari rumah ini, sertifikat rumah ini sudah ibu simpan, Jika kamu mengugat secara hukumpun percuma karena sertifikat ini atas nama Arga bukan namamu!” jelas Dewi.
Nara terdiam kini ia sadar dirinya hanya korban dari Arga dan keluarganya.
“Ayo Ren, kita pulang, biarkan Nara mengemasi pakaiannya, tiga hari lagi kita akan usir dia,” ajak Dewi.
“Nara...kamu tahu ‘kan keberadaamu disini sudah tak diharapkan lagi, jadi jika kamu punya harga diri lekas tandatangani, jangan banyak drama,” suruh Rena tegas.
Nara tak bergeming, ia masih berdiri ditempatnya sampai ipar dan mertuanya menghilang dari rumahnya.
Nara berjalan pelan menuju dapur di ambilnya gelas, dan di isi air mineral, lalu pelan meneguknya.
Ia menatap rumah minimalis dua lantai, tiga tahun sudah ia berada di rumah itu, rumah yang sertifikatanya atas nama Arga, tapi ia ingat betul, pembelian rumah itu dari hasil penjualan sawah satu-satunya peninggalan mendiang ibunya.
“Ya Tuhan…kenapa waktu itu sertifikat tidak ditulis atas nama berdua,“ gumam Nara merasa di bodohi oleh Arga.
“Mas Arga waktu itu mendesak, agar aku segera menjual sawah dan rumah ibu, untuk tambahan beli rumah ini, dan sekarang…. Mas Arga dan keluarganya mengusirku,” gumam Nara lagi dengan air mata yang bercucuran.
Nara terduduk lemas, bahkan ia tak punya tabungan sepeserpun hanya sebuah celengan kaleng sisa uang belanja, mata beningnya menatap berkas perceraian yang sudah di tandatangani Arga di atas meja.
“Aku akan mempertahankan pernikahan ini, wanita yang bernama Kanza yang harus melepas Mas Arga.“ Nara bangkit dari duduknya, membersihkan diri, lalu meraih tas kecilnya, dia teringat gelang yang bertuliskan Kanza yang masih disimpannya, Nara membuka laci dan mengambil gelang itu lalu menaruhnya dalam tas.
Nara memberanikan diri menelepon Kanza, beberapa waktu yang lalu waktu Kanza berkunjung ke rumah, Nara sempat meminta nomer ponsel dan Kanza memberikannya.
Deringan ponsel, tersambung nada dering, tak lama pemilik nomer yang tak lain Kanza berbicara.
“Hallo siapa ini?”
“Kanza, ini aku Nara istrinya Mas Arga,”
“Oh...” jawaban singkat seakan tak peduli.
“Aku ingin bicara denganmu, dimana kita bisa bertemu?”
“Aku lagi malas keluar apatermen, datang saja, di Green Resident lantai lima nomer unit apartemen 101.”
“Baiklah, aku akan menemuimu,” jawab Nara lalu menutup ponsel. Langkahnya dipercepat karena ojek online yang dipesannya telah menunggunya di depan rumah.
Di sepanjang jalan Nara melamun mengingat tiga tahun yang lalu setelah pernikahan terjadi, ada seorang tetangga Bu Dewi yang menyapa Nara.
“Kamu menantu Bu Dewi istri Arga, Heumm semoga langgeng, ya dari sekian banyak wanita yang menjadi kekasih Arga, kamu yang akhirnya di nikahi, tapi jangan senang dulu Nar..kamu tak kenal macam apa keluarga Arga, mereka dijuluki racun dunia,” kata -kata tentang Dewi masih melekat dalam ingatan Nara, dan saat ini Nara tahu maksud dari perkataan itu.
‘Mas Arga tak pernah benar-benar tulus mencintaiku, ia hanya mengincar sawah peninggalan mendiang ibu yang senilai hampir 5 milyar dan aku yang bodoh ini, termakan oleh rayuan mereka semua untuk menjual sawah dan membeli rumah yang di atas namakan Mas Arga.
Dewi, Rena dan Arga duduk di sofa, semuanya tampak lega telah memakamkan Nara.“Baru kemarin kita usir Nara, kini ia pergi selamanya,” Dewi berucap dengan tersenyum samar“Iya Bu..ini lebih mudah dari yang kita kira.” Senyum kecil terbit di bibir Rena.“Kini statusku duda tanpa harus mengurus proses perceraian dan setelah Kanza sembuh, kami akan menikah.” timpal Arga desahan napas lega terdengar“Aku sudah tak sabar, menjadi besan keluarga terhormat dan konglomerat.“ Dewi tersenyum membayangkan kehidupannya akan berubah.“Aku juga tak sabar tinggal di salah satu apartemen milik Kanza, keluarganya memiliki beberapa apartemen jadi aku bisa dong minta satu.” Rena tertawa kecil.“Derajat kita akan naik ke level yang lebih tinggi, jauh dari yang kita perkirakan, nanti rumah ini ibu yang menempati. Arga dan Kanza tentu akan tinggal di perumahan elit ‘kan jika sudah menikah?”“Iya Bu…karena Kanza bukan hanya putri Direktur Utama, tapi Pak Rama, juga pengusaha property, dan Kanza yang mengelo
Ojek yang ditumpangi Nara berhenti di depan apartemen, Nara pun turun lalu membayar ongkos. Wanita dengan wajah murung itu berjalan ke arah loby apartemen lalu menaiki lift menuju lantai 5, langkah cepat tapi terlihat ragu, apakah ia akan berhasil membuat Kanza meninggalkan Arga?Tapi ini jalan satu-satunya untuk memberi kesempatan pada pernikahannya yang baru tiga tahun.Kaki Nara terhenti di pintu unit apartemen 101, lalu membunyikan bel pintu, wajahnya menegang ketika pintu terbuka dan melihat Kanza, wanita itu menatap dalam Nara.“Masuklah, sebenarnya aku banyak pekejaan, tapi biarlah aku menemuimu dulu, ada perlu apa kamu ingin menemuiku?”“Tinggalkan suamiku Kanza,sebelum hubungan kalian semakin jauh, tolong tinggalkan Mas Arga, kita sama-sama wanita jangan saling menyakiti,” pinta Nara pelan.Kanza tersenyum sinis, bagaimana aku meninggalkannya jika kami sudah berhubungan sangat jauh selama satu tahun ini, lihatlah amati apartemen ini, tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana
Pukul satu dini hari, Nara masih menatap langit-langit kamar, matanya tak bisa terpejam, hatinya gelisah, entah sudah berapa lama ia merasakan hal ini setiap kali Arga pulang terlambat, ada suatu firasat yang menyesakan dada.Suara mobil terdengar, Nara bangkit dan mengintip ke jendala kamar , mobil suaminya sudah memasuki halaman rumah. Dengan sedikit kesal Nara melangkah keluar dan membukakan pintu untuk Arga.Ceklek! Aroma parfum vanila lembut langsung menguar di indera penciuman Nara.“Habis sama siapa Mas, aroma parfum seorang wanita?”“Temanku juga kan ada wanita juga, kamu tak melihat storyku?”“Iya aku tahu, tapi…”“Kenapa, kamu mulai protes akhir-akhir ini,” gertak Arga menatap ke arah Nara.“Bagaimana aku tidak protes, aroma itu jelas menempel di kemejamu Mas…sebenarnya aku memendam pertanyaan ini dalam waktu yang lama, apa Mas Arga berselingkuh?” tanya Nara sudah tak kuat memendam pertanyaan yang selama ini membuat sesak di dada Nara.“Jadi kamu ingin tahu kebenarannya, bai
Jam menunjukkan pukul dua siang, Arga berpamitan pergi ke kantor lagi karena jam istirahat sudah selesai, sedangkan Rena dan Kanza pun pergi, mereka akan berbelanja di mall, Dewi pulang ke rumah yang hanya beda kecamatan dari rumah Arga. Dan saat ini Nara hanya duduk termenung , wajahnya tampak lelah, seteleh seharian mamasak dan membersihkan rumah , matanya masih terbayang oleh wanita yang bernama Kanza, wanita nyaris sempurna, cantik, berkelas, elegan dari keluarga konglomerat, tidak mungkin wanita sempurna seperti Kanza, menjalin hubungan gelap dengan Arga suaminya walau tak bisa dipungkiri jika Arga memiliki pesona yang membuat wanita manapun jatuh hati, tapi Kanza, wanita yang istemewa, pasti banyak pria tampan dan kaya juga lajang yang antri untuk mendapatkan dirinya.Pikiran Nara terus berkelana dan terhenti waktu netranya menemukan sebuah gelang emas yang tergeletak di bawah sofa, tangannya lalu meraih benda kuning keemasan. Diamati ada tulisan ‘Kanza’“Oh…ini milik Kanza yan
Nara cemberut mendengar hinaan sang mertua, wanita itu yang tak pernah setuju akan hubungannya dengan Arga semenjak Arga memperkenalkan Nara sebagai kekasih.“Kenapa kamu cemberut, sana masak ayam goreng asam manis, hari ini adik iparmu akan pulang dari Yogya, kita harus menyambutnya,” suruh Dewi.Nara pergi ke dapur membuka plastik yang tadi dibawa ibu mertuanya daging ayam dua kilo ada di dalamnya, seperti itulah sang mertua, jika ada acara ia pasti akan menyuruh Nara memasak, tapi kali ini Nara sangat malas, walau ia sudah berusaha menjadi istri dan menantu yang baik, tapi keluarga Arga selalu merendahkannya.“Kenapa masak-masak disini, memang acara penyambutan Rena di rumah ini?” nada suara Nara ketus.“Iya …rumah ini luas dari rumah ibu,apalagi Rena akan datang bersama temannya.”“Maksud ibu, kekasih Rena?”“Bukan…udahlah kamu akan tahu nanti.” jawab Dewi.Nara mendesah kesal tapi wanita berparas cantik dan sederhana itu tetap mematuhi perintah mertuanya.Beberapa jam berlalu, Na
Nara terpaku netra beningnya terlihat berkaca, menatap bingkai foto pernikahan sederhana yang terpajang di dinding kamar, tiga tahun sudah pernikahannya dengan Arga mengarungi biduk rumah tangga tapi belum ada tanda-tanda kehamilan dalam rahimnya, setiap ia menatap anak kecil, ada kerinduan yang tak terbendung.“Kamu sudah berobat Nara, barangkali kamu yang bermasalah?” desak ibu mertuanya setiap kali sang mertua berkunjung.“Nara…belum periksa Bu..tapi menurutku rahimku sehat,” jawab Nara dikala itu tapi bentakan dari sang mertua langsung diterimanya.“Arga juga normal, pokoknya kamu harus periksa ke Dokter dan pastikan kamu tidak mandul!” bentak Bu Dewi mertua Nara.Nara menitikan air mata ketika teringat bentakan dari sang mertua, wajahnya tampak lesu, jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Arga sang suami belum juga pulang, tak ada kabar, apakah hari ini lembur atau tidak, Nara pun enggan untuk bertanya, satu tahun ini suasana pernikahannya dingin.Suara mobil berhe







