LOGINOjek yang ditumpangi Nara berhenti di depan apartemen, Nara pun turun lalu membayar ongkos. Wanita dengan wajah murung itu berjalan ke arah loby apartemen lalu menaiki lift menuju lantai 5, langkah cepat tapi terlihat ragu, apakah ia akan berhasil membuat Kanza meninggalkan Arga?
Tapi ini jalan satu-satunya untuk memberi kesempatan pada pernikahannya yang baru tiga tahun.
Kaki Nara terhenti di pintu unit apartemen 101, lalu membunyikan bel pintu, wajahnya menegang ketika pintu terbuka dan melihat Kanza, wanita itu menatap dalam Nara.
“Masuklah, sebenarnya aku banyak pekejaan, tapi biarlah aku menemuimu dulu, ada perlu apa kamu ingin menemuiku?”
“Tinggalkan suamiku Kanza,sebelum hubungan kalian semakin jauh, tolong tinggalkan Mas Arga, kita sama-sama wanita jangan saling menyakiti,” pinta Nara pelan.
Kanza tersenyum sinis, bagaimana aku meninggalkannya jika kami sudah berhubungan sangat jauh selama satu tahun ini, lihatlah amati apartemen ini, tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana kami menghabiskan malam-malam berdua,“ jelas Kanza tanpa merasa bersalah.
Nara menatap sejenak ruangan, bahkan ada foto mesra dipajang di dinding seakan mereka pasangan suami istri.
“Kamu ingin melihat kamar di mana pergulatan cinta kami selalu menghangatkan hubunganku dengan Mas Arga, ayo kita ke kamar kamu akan tahu sejauh mana hubungan kami.”
Kanza menarik tangan Nara membawanya ke dalam kamar, membuka isi almari disana ternyata ada baju-baju Arga.
“Kamu paham ‘kan sekarang , berkas perceraian sudah kamu terima ‘kan, sekarang saat ini kamu yang pergi dari kehidupan Arga, dan biarkan aku menggantikanmu,” ujar Kanza.
Netra bening Nara berkaca-kaca, hatinya hancur melihat kenyataan jika Arga dan Kanza telah lama berhubungan dan ia bisa membayangkan mereka berkali-kali berhubungan badan, sangat menjijikan.
“Kamu menjijikan Kanza, aku tak habis pikir, wanita yang tumbuh di keluarga terhormat, bisa berbuat sehina itu,“ umpat Nara mengusap air mata yang hampir jatuh.
“Aku mencintai Arga…sangat mencintainya, aku tak bisa melepaskanya sedetikpun satu tahun kami jalani hubungan gelap ini dan sudah saatnya kami go public,“ balas Kanza.
“Plak! dasar pelakor! gertak Nara dengan emosi sekaligus kesedihan yang mendalam.
Nara melapaskan cincin pernikahan dari jari manisnya.
“Pakailah, cincin bekasku ini dan menikahlah dengan Arga, Aku sudah jijik dengannya.” Nara meraih tangan Kanza dan memasukan cicin di jarinya.
Kanza tertawa nyaring, “lihat Nara, cincin inipun merestui hubunganku dengan Arga, lihatlah sangat pas di jariku, tak mengapa jika cincin ini bekas darimu aku akan terima,”
Nara mengambil gelang milik Kanza yang tersimpan didalam tas. ”Aku juga akan mengembalikan gelangmu yang terjatuh di rumahku,“ ucap Nara pelan menahan sakit di hatinya dan menyadari pernikahan tiga tahun dengan Arga sudah kandas.
Nara menyodorkan gelang kepada Kanza, wanita itu tersenyum meraih gelang miliknya, tapi ia memakaikannya di tangan Nara.
“Untukmu, anggap saja, itu sedekah dariku,“ ujar Kanza.
Tiba-tiba alarm kebakaran berbunyi nyaring, membuat Kanza panik.
“Nara kita harus keluar dari apartemen ini,” ajak Kanza sambil berlari keluar.
Bukannya lari keluar mengikuti Kanza, Nara memilih duduk di lantai, airnya matanya semakin deras mengalir di pipinya.
‘Tak ada gunanya aku hidup, hatiku sudah terbakar, jika tubuhku terbakar dan mati mungkin itu lebih baik,‘ batin Nara.
Asap kebakaran semakin tebal, api sudah menguasai lantai 3 lantai yaitu lantai 4, 5 dan 6, penghuni apartemen berlarian mencoba menyelamatkan diri suara jeritan minta tolong silih berganti, ada beberapa orang terjebak, dalam kebakaran, api semakin membesar, suara sirene ambulan dan pemadam kebakaran suduh barada di luar gedung.
Hiruk pikuk petugas pemadam dan perawat yang segera memeriksa keadaan beberapa orang yang berhasil keluar gedung.
Pak Rama ayah dari Kanza, tiba di apartemen, pria tengah baya itu terlihat panik. “Lantai berapa yang terbakar?” tanyanya pada security.
“Lantai 4, 5 dan 6,“ jawab security seketika wajah Rama pucat ia hanya bisa menatap dari bawah, kobaran api yang menjilat-jilat. Ada beberapa petugas pemadam yang menerobos masuk mencari para korban.
Arga yang mendengar kabar kebakaran di Green Residence apartemen pun tak kalah panik, ia melajukan mobilnya menuju lokasi. Mencari tahu keberadan Kanza, ponsel Kanza tak bisa dihubungi semakin membuatnya khawatir.
Beberapa jam berlalu, api sudah bisa dipadamkan, para korban selamat di bawa ke rumah sakit. Rama dan Arga mencari keberadan Kanza. satu persatu korban selamat mendapatkan perawatan.
“Apa bapak ingin mengidetifiaksi korban, ada satu korban wanita belum diketahui identidatasnya tapi dari keterangan korban ini wanita tinggal di unit apartemen nomer 101,” jelas staf rumah sakit.
Arga dan Rama bernapas lega. ”Kanza” ucapnya bersamaan.
“Di mana dia sekarang ?” tanya Rama.
“Di kamar perawatan, mari saya antar pak,” jawab perawat.
Rama dan Arga berjalan cepat mengikuti langkah perawat, lalu masuk ke dalam ruangan, disana terlihat wanita dengan wajah diperban, sedang terbaling tak sadarkan diri.
“Apa benar ini putri bapak Rama? Kami akan mancatat identitasnya.
“Betul ini putriku Kanza tinggal di apartemen 101, ia juga masih memakai gelangnya yang bertuliskan Kanza, ini Kanza putriku,” balas Rama dengan yakin.
“Oh...syukurah Kanza selamat,” gumam Arga.
“Bagaimana keadaan Kanza?” tanya Rama.
“Kanza, mengalami luka bakar serius dibagian wajah, ia juga menghirup asap terlalu banyak, butuh waktu lama untuk pemulihan.” jelas dokter.
“Aku ingin putriku dibawa ke rumah sakit Singapura untuk menjalani operasi plastik, wajah cantiknya tak boleh berubah sedikitpun, aku akan membawanya ke dokter bedah terbaik,” pinta Rama.
“Iya Pak Rama, saya akan membantu mengurus kepindahannya di rumah sakit Singapura, saat Kanza sadar, ia tidak boleh tahu jika wajahnya rusak terbakar,” sahut Arga.
Saat itu juga Kanza dibawa ke rumah sakit Singapura.
Sementara ada jenazah wanita tanpa identitas masih terbujur di kamar jenazah, wajahnya tidak dikenali, beberapa jenazah yang sudah terindentifikasi oleh keluarga sudah dibawa pulang.
“Apa keluarganya belum datang?“ tanya dokter.
“Belum Dok, kalau begitu laporkan pada polisi, satu jenazah belum terindentifikasi,‘ suruh dokter.
***
Satu hari berlalu, Arga kebingungan mencari Nara. Kemana Nara, dari kemarin pergi dan belum menandatangani berkas perceraian,” gumamnya.
“Arga… apa ponsel Nara sudah aktif, kenapa wanita itu menghilang begitu saja, kira-kira kemana ia pergi?” tanya Dewi.
“Pakaian masih ada di dalam almari, tidak mungkin ia pergi jauh, apalagi ia sebatang kara tak memiliki siapapun,“ timpal Rena juga gelisah karena Nara tak bisa dihubungi.
Akhirnya Arga mengecek cctv komplek di pos keamanan, dan ia melihat Nara pergi menaiki ojek.
“Kemana Nara pergi naik ojol,” gumam Arga tak tahu kemana harus mencari Nara.
“Ah sial, kenapa kamu pergi sebelum menandatangi berkas perceraian Nara!” umpat kesal Arga.
Dua hari berlalu, akhirnya Arga melaporkan hilangnya Nara.
“Kami memang sedang ada masalah, tapi ia pergi tidak membawa pakaian, bisa bapak melacaknya terakhir kali terlihat di cctv komplek, ia pergi menaiki ojol,” ucap Arga memberi keterangan laporan.
Polisi mengecek cctv komplek, seteleh mengetahui nomer plat montor ojol, polisi menemukan sang driver ojol, dan memberi keterangan jika ia mengantarkan Nara ke Green Resident di hari terjadi kebakaran lebih tepatnya beberapa menit sebelum terjadi kebakaran.
“Nara pergi ke Green Residence di hari kebakaran?” Arga terkejut.
“Betul Pak,” jawab Ojol.
“Ada laporan satu jenazah wanita tanpa identitas masih di rumah sakit, mungkin itu Nara,” jelas polisi.
“Jika begitu saya akan memastikannya.” Argapun bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya disana ia langsung di antar di kamar jenazah, untuk memastikannya.
Dengan jantung berdegup kencang, ia memberanikan diri membuka kain putih penutup, tubuh dan wajah jenazah terbakar, tak dapat dikenali tapi dari postur tubuhnya memang seperti Nara. Apalagi ketika di jari manis ada cincin pernikahannya.
“Jenazah ini Nara istriku,” ucap Arga pelan.
“Baik Pak, apa anda akan mengajukan tes DNA, untuk memastikannya , membawa sampel dari sikat giginya,” jelas staf rumah sakit.
“Tidak perlu, aku yakin itu Nara, cincin yang dipakainya itu adalah cicin pernikahan kami, lagi pula hanya ini ’kan satu- satunya jenazah yang belum terindentifikasi?”
“Betul,” jawab perawat.
“Aku akan segera memakamkan Nara,” Arga menutup kembali kain putih, ada perasaan lega karena ia terbebas dari pernikahan tanpa proses cerai.
‘Sepertinya alam semesta merestui percerainku dengan Nara,’ batin Arga terkekeh kecil di sudut ruang.
Dewi, Rena dan Arga duduk di sofa, semuanya tampak lega telah memakamkan Nara.“Baru kemarin kita usir Nara, kini ia pergi selamanya,” Dewi berucap dengan tersenyum samar“Iya Bu..ini lebih mudah dari yang kita kira.” Senyum kecil terbit di bibir Rena.“Kini statusku duda tanpa harus mengurus proses perceraian dan setelah Kanza sembuh, kami akan menikah.” timpal Arga desahan napas lega terdengar“Aku sudah tak sabar, menjadi besan keluarga terhormat dan konglomerat.“ Dewi tersenyum membayangkan kehidupannya akan berubah.“Aku juga tak sabar tinggal di salah satu apartemen milik Kanza, keluarganya memiliki beberapa apartemen jadi aku bisa dong minta satu.” Rena tertawa kecil.“Derajat kita akan naik ke level yang lebih tinggi, jauh dari yang kita perkirakan, nanti rumah ini ibu yang menempati. Arga dan Kanza tentu akan tinggal di perumahan elit ‘kan jika sudah menikah?”“Iya Bu…karena Kanza bukan hanya putri Direktur Utama, tapi Pak Rama, juga pengusaha property, dan Kanza yang mengelo
Ojek yang ditumpangi Nara berhenti di depan apartemen, Nara pun turun lalu membayar ongkos. Wanita dengan wajah murung itu berjalan ke arah loby apartemen lalu menaiki lift menuju lantai 5, langkah cepat tapi terlihat ragu, apakah ia akan berhasil membuat Kanza meninggalkan Arga?Tapi ini jalan satu-satunya untuk memberi kesempatan pada pernikahannya yang baru tiga tahun.Kaki Nara terhenti di pintu unit apartemen 101, lalu membunyikan bel pintu, wajahnya menegang ketika pintu terbuka dan melihat Kanza, wanita itu menatap dalam Nara.“Masuklah, sebenarnya aku banyak pekejaan, tapi biarlah aku menemuimu dulu, ada perlu apa kamu ingin menemuiku?”“Tinggalkan suamiku Kanza,sebelum hubungan kalian semakin jauh, tolong tinggalkan Mas Arga, kita sama-sama wanita jangan saling menyakiti,” pinta Nara pelan.Kanza tersenyum sinis, bagaimana aku meninggalkannya jika kami sudah berhubungan sangat jauh selama satu tahun ini, lihatlah amati apartemen ini, tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana
Pukul satu dini hari, Nara masih menatap langit-langit kamar, matanya tak bisa terpejam, hatinya gelisah, entah sudah berapa lama ia merasakan hal ini setiap kali Arga pulang terlambat, ada suatu firasat yang menyesakan dada.Suara mobil terdengar, Nara bangkit dan mengintip ke jendala kamar , mobil suaminya sudah memasuki halaman rumah. Dengan sedikit kesal Nara melangkah keluar dan membukakan pintu untuk Arga.Ceklek! Aroma parfum vanila lembut langsung menguar di indera penciuman Nara.“Habis sama siapa Mas, aroma parfum seorang wanita?”“Temanku juga kan ada wanita juga, kamu tak melihat storyku?”“Iya aku tahu, tapi…”“Kenapa, kamu mulai protes akhir-akhir ini,” gertak Arga menatap ke arah Nara.“Bagaimana aku tidak protes, aroma itu jelas menempel di kemejamu Mas…sebenarnya aku memendam pertanyaan ini dalam waktu yang lama, apa Mas Arga berselingkuh?” tanya Nara sudah tak kuat memendam pertanyaan yang selama ini membuat sesak di dada Nara.“Jadi kamu ingin tahu kebenarannya, bai
Jam menunjukkan pukul dua siang, Arga berpamitan pergi ke kantor lagi karena jam istirahat sudah selesai, sedangkan Rena dan Kanza pun pergi, mereka akan berbelanja di mall, Dewi pulang ke rumah yang hanya beda kecamatan dari rumah Arga. Dan saat ini Nara hanya duduk termenung , wajahnya tampak lelah, seteleh seharian mamasak dan membersihkan rumah , matanya masih terbayang oleh wanita yang bernama Kanza, wanita nyaris sempurna, cantik, berkelas, elegan dari keluarga konglomerat, tidak mungkin wanita sempurna seperti Kanza, menjalin hubungan gelap dengan Arga suaminya walau tak bisa dipungkiri jika Arga memiliki pesona yang membuat wanita manapun jatuh hati, tapi Kanza, wanita yang istemewa, pasti banyak pria tampan dan kaya juga lajang yang antri untuk mendapatkan dirinya.Pikiran Nara terus berkelana dan terhenti waktu netranya menemukan sebuah gelang emas yang tergeletak di bawah sofa, tangannya lalu meraih benda kuning keemasan. Diamati ada tulisan ‘Kanza’“Oh…ini milik Kanza yan
Nara cemberut mendengar hinaan sang mertua, wanita itu yang tak pernah setuju akan hubungannya dengan Arga semenjak Arga memperkenalkan Nara sebagai kekasih.“Kenapa kamu cemberut, sana masak ayam goreng asam manis, hari ini adik iparmu akan pulang dari Yogya, kita harus menyambutnya,” suruh Dewi.Nara pergi ke dapur membuka plastik yang tadi dibawa ibu mertuanya daging ayam dua kilo ada di dalamnya, seperti itulah sang mertua, jika ada acara ia pasti akan menyuruh Nara memasak, tapi kali ini Nara sangat malas, walau ia sudah berusaha menjadi istri dan menantu yang baik, tapi keluarga Arga selalu merendahkannya.“Kenapa masak-masak disini, memang acara penyambutan Rena di rumah ini?” nada suara Nara ketus.“Iya …rumah ini luas dari rumah ibu,apalagi Rena akan datang bersama temannya.”“Maksud ibu, kekasih Rena?”“Bukan…udahlah kamu akan tahu nanti.” jawab Dewi.Nara mendesah kesal tapi wanita berparas cantik dan sederhana itu tetap mematuhi perintah mertuanya.Beberapa jam berlalu, Na
Nara terpaku netra beningnya terlihat berkaca, menatap bingkai foto pernikahan sederhana yang terpajang di dinding kamar, tiga tahun sudah pernikahannya dengan Arga mengarungi biduk rumah tangga tapi belum ada tanda-tanda kehamilan dalam rahimnya, setiap ia menatap anak kecil, ada kerinduan yang tak terbendung.“Kamu sudah berobat Nara, barangkali kamu yang bermasalah?” desak ibu mertuanya setiap kali sang mertua berkunjung.“Nara…belum periksa Bu..tapi menurutku rahimku sehat,” jawab Nara dikala itu tapi bentakan dari sang mertua langsung diterimanya.“Arga juga normal, pokoknya kamu harus periksa ke Dokter dan pastikan kamu tidak mandul!” bentak Bu Dewi mertua Nara.Nara menitikan air mata ketika teringat bentakan dari sang mertua, wajahnya tampak lesu, jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Arga sang suami belum juga pulang, tak ada kabar, apakah hari ini lembur atau tidak, Nara pun enggan untuk bertanya, satu tahun ini suasana pernikahannya dingin.Suara mobil berhe







