LOGINSuara desahan terdengar di ruang kerja suamiku, dan saat aku membuka pintu, ternyata David suamiku sedang bersama dengan Lidia sahabatku. Pria yang begitu kucintai. Pria yang selama ini menjadi pusat duniaku. Pria yang selalu kupercaya tidak akan pernah mengkhianatiku. Tanganku perlahan membuka pintu. Dan dunia seolah berhenti berputar. David sedang bersama seorang perempuan lain di dalam ruangannya. Perempuan yang selama ini juga kupercaya. Lidia. Sahabat yang selalu berada di sisiku. Rasa mual langsung menyerang perutku. Bagaimana mungkin David melakukan ini kepadaku? Di hari ulang tahun pernikahan kami yang kelima? Saat aku datang untuk memberinya kejutan? SINOPSIS Amora kehilangan nyawanya di tangan suami yang dicintainya setelah mengetahui bahwa David dan selingkuhannya hanya mengincar kekayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir. Amora terbangun dalam tubuh Bella, gadis 20 tahun bertubuh plus-size yang selama ini dianggap bodoh dan tidak berguna. Dengan kehidupan kedua, Amora bertekad mengubah nasib Bella sekaligus membalas pengkhianatan David. Namun, rencananya berubah ketika ia harus menikah dengan Alvaro Del Pino, CEO dingin yang sejak awal membenci Bella. Dulu, Bella mati-matian mengejar Alvaro. Kini, Bella bahkan tidak peduli padanya. Dan justru ketika Amora berhenti mengejar… Alvaro mulai mengejar Bella. Semakin Alvaro jatuh cinta, semakin besar rahasia yang harus Amora sembunyikan. Karena bagaimana jika pria yang dicintainya mengetahui bahwa perempuan di hadapannya bukan lagi Bella?
View MorePov Amora
“Mau saya bantu, Nyonya?”
“Tidak perlu, aku akan mengerjakannya sendiri,” jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari apa yang aku kerjakan.
Yah, aku sedang membuat sebuah kue ulang tahun. Aku tahu aku bisa membeli kue yang bagus dan mahal. Tapi, aku memilih untuk membuatnya dengan tanganku sendiri.
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku dengan David, pria yang begitu aku cintai. Pria yang membuatnya menjadi satu-satunya pusat duniaku.
Sudah lima tahun kami menikah, dan sudah lima tahun pula aku berusaha menjadi istri yang baik dan sempurna untuknya.
Aku rela meninggalkan karierku yang sedang cemerlang. Aku rela memberikan seluruh harta warisanku padanya.
Orang bilang aku bodoh, tapi aku tidak peduli. Selama David ada di sisiku, selama David tidak meninggalkanku, aku akan melakukan apa saja yang dia sukai.
Aku yang awalnya anak manja dan tidak bisa memasak, kini berubah menjadi istri yang pintar memasak.
Bahkan, aku mempelajari hal-hal yang membuatnya senang di ranjang.
Aku malu jika menceritakan itu, tapi aku ingin membuatnya puas setiap kali kita melakukan hubungan seks.
“Saya berdoa, semoga Nyonya dan Tuan David selalu hidup bahagia, dan secepatnya mendapatkan momongan.”
Aku menghentikan tanganku yang sedang mengaduk tepung, menatap pelayan yang selama ini menjadi temanku. Mengingat, aku bahkan jarang keluar rumah selama lima tahun ini.
“Aamiin, terima kasih. Aku juga berharap di pernikahan kami ini segera ada malaikat kecil,” jawabku dengan penuh harapan.
“Nyonya dan Tuan orang baik, Tuhan pasti akan mengabulkan permintaannya.”
Hatiku menghangat mendengar itu. Lalu, aku kembali melanjutkan membuat kue.
Tidak terasa sudah hampir tiga jam aku berada di dapur, dan sekarang kue itu sudah jadi dengan begitu indah.
Berwarna biru gelap, warna kesukaan David.
Lalu, aku menuliskan ucapan dan harapan untuk kami berdua.
Aku tersenyum melihat hasilnya yang begitu cantik.
“Sempurna. Dia pasti akan menyukai ini,” kataku, lalu menyimpannya ke dalam lemari pendingin sambil menunggu dia pulang.
Pulang? Semoga saja dia pulang malam ini. Aku sudah sangat merindukannya, juga merindukan belaiannya.
Sudah hampir satu minggu aku tidak bertemu dengannya. Yang tentunya satu minggu juga aku tidak melakukan hubungan seks denganya.
Aku melangkah saat mendengar ponselku berdenting. Sejak tadi aku sudah mengirim pesan pada David, berharap malam ini dia pulang dari perjalanan bisnis.
“Aku sudah kembali dari luar kota. Tapi aku tidak bisa pulang, aku harus tetap berada di kantor karena ada masalah.”
Aku menatap lama pesan yang dikirimnya.
Masalah? Apakah masalahnya sangat berat?
“Baik, jangan lupa jaga kesehatan kamu, David. Aku mencintaimu.”
Setelah membalas pesannya, aku tersenyum kecil. Sebuah ide terlintas di kepalaku.
Alih-alih menunggunya di rumah, kenapa aku tidak mendatangi kantornya saja?
Aku juga bisa membantu kalau dia kesulitan dalam masalahnya—mengingat dulu itu adalah perusahaanku, meskipun sekarang David yang memegang kendali semuanya.
“Aku harus memberinya kejutan. Siapa tahu kita nanti bisa melepas rindu di kantor juga,” kataku pelan, membayangkan yang tidak-tidak saat mendatangi kantor tanpa memberitahunya.
Karena hampir satu minggu tidak bertemu, aku harus menyiapkan diri. Aku memilih untuk membersihkan tubuhku.
Berendam dengan air hangat, mencukur bulu halus di kemaluanku yang sedikit tumbuh.
David sangat suka kalau milikku bersih, katanya.
Lalu, aku mengambil lingerie berwarna merah—warna yang katanya membuatku terlihat sangat cantik dan berani.
Aku memakainya tanpa menggunakan celana dalam dan bra.
Aku bercermin, melihat pantulan tubuhku.
Sangat sempurna.
Iya, aku selalu menjaga pola makan dan menjaga agar tubuhku tetap sempurna di mata David.
Aku melakukan apa saja yang membuatnya selalu memujaku.
Lekuk tubuh yang sempurna, itulah yang selalu dia katakan.
Aku mengambil gaun merah muda untuk menutup tubuhku yang berbalut lingerie seksi ini.
Tidak mungkin aku berpakaian seperti ini ke kantor. Orang-orang akan menganggapku gila, meskipun hari sudah malam.
Aku lalu mengambil make-up—memakai bedak, eyeshadow, maskara, dan terakhir perona bibir.
Aku bahkan memilih warna merah menyala, senada dengan warna lingerie-ku.
“Dia pasti akan menyukainya,” gumamku, membayangkan reaksi David saat melihatku.
Terlebih, kami sudah satu minggu tidak bertemu.
“Mau saya antar, Nyonya?”
Aku menoleh saat sopir menawarkan diri untuk mengantarku ke kantor. “Aku mau menggunakan mobil sendiri.”
“Baik, hati-hati, Nyonya.”
Aku hanya mengangguk, lalu memasuki mobilku untuk segera bertemu dengan David.
Aku menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Aku tidak ingin terburu-buru, masih ada beberapa menit lagi menuju jam dua belas malam.
Sesekali aku menoleh pada kue yang ada di sebelahku. Bibirku mengukir senyum lebar, merasa begitu bahagia. Sampai tidak lama mobilku sampai di parkiran perusahaan.
Aku menatap bangunan tinggi di depanku.
Sepi. Benar, kantor sudah sangat sepi, bahkan lampu-lampunya sudah mati. Hanya ada satu yang menyala, itu pun di bagian paling atas—tempat David berada.
Aku melangkah dengan yakin, lalu menatap sekeliling yang saat itu tidak ada siapa-siapa.]
“Tumben tidak ada penjaga?” gumamku, lalu memilih untuk tetap melangkah menuju ruangan David.
Tanpa rasa takut aku masuk ke dalam kantor dan melangkah ke dalam lift yang hanya diisi olehku seorang.
Aku menekan tombol menuju lantai paling atas.
Lift berdenting dan berhenti tepat di lantai ruangan David. Keadaannya sepi, tidak ada siapa-siapa lagi. Lagipula, siapa juga yang masih berada di kantor tengah malam begini?
Kecuali suamiku yang merupakan pimpinannya.
Aku melangkah pelan menuju ruangan suamiku yang berada di ujung. Dari semua ruangan, hanya ruangan itu yang lampunya menyala.
Aku sudah tidak sabar untuk memberinya kejutan.
Namun, langkah kakiku terhenti saat mendengar sebuah suara desahan di dalam ruangan.
“Apa kamu menyukai ini?”
“Hm, aku menyukainya. Aku selalu menyukainya.
“Lebih cepat, David... aku mau…!”
Suara itu...?
Aku memejamkan mata di dalam bak mandi, merasakan air hangat yang membasahi kulitku. Aku berpikir sejenak, bagaimana caranya agar tidak terlibat dengan Alvaro.Dan yang paling penting adalah mengungkap semua kejahatan Mira dan Elena selama ini. Bukti yang berupa vitamin penambah nafsu makan saja belum cukup, mengingat Bella mengatakan kalau selama ini Mira pandai memutar balikkan fakta.Atau aku berpura-pura bodoh lagi? Atau aku berpura-pura menjadi Bella yang dulu untuk mencari petunjuk?Aku menghembuskan napas pelan. Ternyata apa yang kubayangkan tidak semudah ini.Lalu, bayangan orang tuaku semasa hidup berputar di kepalaku. Di mana aku yang selalu diajari bagaimana bisa bertahan hidup, bagaimana caranya aku harus bisa berjuang sendiri kalau mereka pergi.Orang tuaku seakan tahu kalau hidup mereka tidak lama. Jadi sejak kecil aku selalu diajarkan mandiri, selalu diajarkan bagaimana caranya berdiri di kakiku sendiri.Tapi semua berubah saat aku mengenal David.Dadaku terasa sesak sa
Aku tentu kaget mendengar ucapan Alvaro. Bukannya dia sangat membenci Bella? Bukannya dia punya perempuan yang dicintai? Tapi kenapa dia malah setuju dengan perjodohan ini?Apakah ada sesuatu yang sedang direncanakan? Ah, aku merasa rencanaku untuk membalas dendam pada David dan Lidia semakin sulit. Bahkan sampai sekarang aku belum tahu bagaimana kabar mereka. Lalu, bagaimana mereka menjawab pertanyaan para wartawan soal kematianku? Apakah mereka menyembunyikan mayatku?“Varo, kenapa kamu mau menikah dengan Bella? Bukannya kamu sangat membencinya? Bukannya kamu tidak suka dengan perempuan gendut dan bodoh? Tapi kenapa kamu mau menikahinya?” tanya Elena yang juga ikut terkejut.Alvaro sama sekali tidak memedulikan Elena, bahkan seakan tidak mendengar apa yang dikatakannya.Pria itu melangkah maju dan langsung menarik tanganku.“Apa-apaan, sih?! Kamu tidak lihat aku sedang makan?” bentakku karena tidak suka dengan cara Alvaro.“Makan terus saja yang ada di otakmu! Aku mau bicara serius
Aku tersenyum sinis saat pelayan itu memegang gelas dengan tangan gemetar. Aku yang menatapnya dengan tatapan tajam membuatnya terpaksa langsung menyodorkan jus itu ke dalam mulutnya.“Ayo minum, sekarang juga!” bentakku.“I-iya, Nyonya... Saya... saya minum ini, kok,” jawabnya gugup.“Bella, apa-apaan ini?!”Aku seketika menoleh saat mendengar suara Mira. Wajahnya terlihat panik dengan apa yang dilihatnya. Minuman yang harusnya untukku, sekarang justru hampir diminum oleh pelayan.“Ini bukannya kamu yang meminta jus tanpa gula? Terus kenapa sekarang kamu tidak mau? Ini sudah sesuai dengan apa yang kamu inginkan, Bella!” katanya lagi.“Tapi aku sekarang tidak mau. Jadi daripada terbuang sia-sia, mending dia yang minum. Atau... Ibu Mira mau meminumnya?” tantangku langsung.Wajah Mira terlihat sangat pucat, menunjukkan bahwa di dalam jus itu memang sudah diberi sesuatu.“Kenapa diam? Ayo minum, dan habiskan!” kataku memberi instruksi, yang jelas saja langsung membuat pelayan itu meminum
Pagi itu aku berniat untuk berolahraga. Dari dulu aku suka sekali dengan olahraga fisik, mulai dari berlatih tinju sampai menggunakan alat-alat gym di rumah.Tapi sekarang aku tidak bisa melakukan itu. Jantung di tubuh Bella terlalu lemah. Jadi, aku harus melakukan olahraga yang ringan dulu.Seperti jalan pagi... Ya, karena hanya itu olahraga yang paling dianjurkan dokter untukku sekarang.Beruntung Bella mempunyai baju olahraga. Yah, meskipun warnanya masih pink, tapi kali ini bukan pink yang mencolok, masih ada warna putih di celana dan bajunya.Aku melangkah dengan perasaan riang, dan aku juga ingin melihat-lihat rumah Bella ini, siapa tahu aku dapat petunjuk.“Nyonya Bella mau ke mana?” tanya pelayan yang waktu itu mengantar makanan ke kamarku.Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya namanya dengan berpura-pura lupa agar pelayan itu tidak menyadari kalau aku bukanlah Bella. “Kamu... kamu...” kataku sambil sedikit memegang kepala, berpura-pura pusing.“Saya Stefi, Nyonya. Kenap






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.