登入"Aku pasti hanya terbawa perasaan," gumam Ziandra seraya menegakkan wajahnya, membiarkan aliran air dingin dari shower mengguyur kepalanya demi mengusir bayangan desahan Almira yang masih terngiang jelas.Namun, sial bagi sang komandan. Di bawah sana, juniornya justru masih dalam mode tegak menantang, sama sekali tidak terpengaruh oleh dinginnya air. Ziandra menggeram frustrasi, menatap ke bawah dengan tatapan mengintimidasi yang biasa ia gunakan untuk menakuti musuh—yang sayangnya, kali ini tidak mempan. "Sial, aku jadi harus main solo," geramnya ketat sambil menyambar botol sabun cair dengan gusar.Sementara itu di kamar, Almira duduk di depan meja rias, menatap lekat-lekat pantulan dirinya sendiri di cermin. Kartu perak bertuliskan ‘ ANDREA’ kini tergeletak di samping sisirnya."Kenapa aku nggak ingat apa-apa, ya? Apa bener namaku itu Andrea?" bisik Almira pada dirinya sendiri. Sorot matanya yang biasa jenaka mendadak meredup, menyiratkan dilema dan rasa cemas yang dalam. "Bagaima
"Bang Komandan!"Tidak ada tanggapan berupa kata-kata dari Ziandra. Sebagai jawaban, tangan kekar Ziandra mulai bergerak lancang, menyusup masuk ke balik atasan piyama yang dikenakan Almira, mengusap pinggang rampingnya dengan sentuhan yang membakar kulit."Hemmmph..." Almira mendesah samar tanpa sadar, merasakan sensasi aneh seperti aliran arus listrik bertegangan tinggi yang menyengat seluruh pembuluh darahnya.“Bang Komandan, liar juga tapi aku suka.”Sialnya, suara desahan halus itu justru menjadi pemantik yang membuat Ziandra benar-benar hilang kendali. Pegangannya di pinggang Almira semakin erat, siap membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih jauh."Pak, saya sudah buatkan bubur un—"Bi Sumi yang baru saja datang dari arah dapur dengan membawa senampan bubur ayam hangat mendadak menghentikan ucapannya di udara. Matanya membelalak lebar menyaksikan pemandangan 'panas' di atas sofa pagi-pagi buta.Almira dan Ziandra sama-sama membeku, lalu menoleh ke samping secara bersamaan den
Apa yang terjadi?" gumam Ziandra dengan suara serak yang hampir habis saat kelopak matanya perlahan terbuka.Rasa pening masih menggelayuti kepalanya, namun pandangannya langsung tertuju pada sesosok gadis yang tertidur pulas dalam posisi duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di tepi sofa tepat di samping lengannya. Itu Almira. Ziandra menyentuh keningnya sendiri yang kini tertutup selembar handuk kecil yang sudah mulai mengering.Ia mencoba mengingat kembali kejadian malam hari melalui potongan memori yang samar. “Dia merawatku semalaman?” batin Ziandra. Detak hatinya mendadak mulai bergetar asing. Matanya menatap Almira intens, memindai garis alisnya yang tegas namun cantik, bulu matanya yang lentik, lalu turun pada belahan bibir tipis istrinya yang sedikit terbuka.Glek!Ziandra menelan ludah dengan susah payah saat memori malam itu mendadak berputar lebih jelas. Ia ingat bagaimana Almira mengunci pergelangan tangannya dan mencium bibirnya secara brutal demi menyalurkan air min
"Mimpi apa ya, aku nikah sama Komandan Militer?"Ziandra hanya mengangguk kaku mendengar pesan dari Pak RT dan Pak RW, sebuah gerakan yang lebih mirip seperti robot yang kehabisan baterai daripada sebuah jawaban.Begitu masuk ke dalam mobil SUV hitam yang kedap suara, atmosfer seketika berubah.Ziandra duduk di pojok kanan, Almira di pojok kiri. Jarak di antara mereka cukup luas untuk menampung satu unit motor matic."Bang Ziandra," panggil Almira memecah keheningan."Jangan panggil aku dengan sebutan itu," sahut Ziandra tanpa menoleh, matanya fokus pada layar ponselnya."Terus panggil apa? Sayang? Mas? Hubby? Atau... My Commander?" Almira mencoba berbagai nada suara, mulai dari yang imut sampai yang dibuat-buat seksi.Ziandra memejamkan mata sejenak, tampak sedang mengumpulkan kesabaran yang tersisa di dasar jiwanya. "Panggil namaku atau jangan bicara sama sekali.""Oke, Bang Ziandra. Galak amat sih, padahal kan baru sah. Mana maharnya cuma logam mulia doang, nggak ada cokelat-cokela
"Ulangi panggilan kamu barusan?”“Pak Kulkas dua pintu.”“Beraninya kamu,” geram Ziandra. "Bapak boleh tinggi, boleh ganteng, dikit sih menurut saya, tapi jangan sombong ya. Saya memang kayak anak ayam, tapi saya ini anak ayam petarung! Lagian, saya ke sini karena mau nolongin Nenek saya, dan kebetulan mau nolongin Bapak juga biar nggak dianggap jomblo karatan sama ibu Bapak."Nyonya Stella menutup mulutnya, menahan tawa. Belum pernah ada orang yang berani memanggil Komandan Ziandra dengan sebutan 'Kulkas Dua Pintu'."Ma, keluarkan dia. Aku tidak mau menikah dengan gadis yang otaknya hilang separuh," desis Ziandra tajam."Keputusan sudah bulat, Ziandra. Ingat hutang budi kakekmu pada mendiang suami Nenek Sarmila. Jika kamu menolak, Mama akan pastikan karir kamu di dunia militer selesai dan fokus jadi pengusaha," ancam Nyonya Stella tenang namun mematikan. “Mama sudah mengurus berkas pernikahanmu.”Ziandra terdiam. Rahangnya mengeras hingga otot lehernya terlihat menonjol. Ia menatap
Almira menatap Ziandra dengan sorot mata sendu. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu sebelum ia menjadi istri Ziandra. "Ini surat tagihan pasien atas nama Nenek Sarmila,” ucap salah satu pegawai rumah sakit bagian administrasi.“Makasih, Mbak,” jawab seorang gadis cantik meski wajahnya tanpa make-up dan rambut di kuncir seadanya.Lembaran kertas berlogo Rumah Sakit Medika itu tampak seperti vonis hukuman mati di mata Qiana. Deretan angka yang tercetak di sana membuat matanya yang besar semakin melotot, nyaris keluar dari sarangnya.Rp. 185.000.000,00.Almira menelan ludah. Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Ia memandang pintu ruang ICU tempat Nenek Sarmila terbaring.Nenek Sarmila, satu-satunya manusia di bumi ini yang memberinya nama, memberinya rumah, dan memberinya alasan untuk tetap bernapas setelah ia mengalami kecelakaan setahun lalu tanpa satu pun ingatan di kepalanya."Seratus delapan puluh lima juta..." gumam Almira pada udara kosong. "Gimana cara bayarnya? K
"Tapi itu sama aja maksa, Nyonya. Nanti habis bikin dede bayi, terus efek obatnya hilang, Bang Komandan bisa ngamuk dan langsung nembak saya pakai pistol dinasnya!"Nyonya Stella melipat kedua tangannya di dada, tatapannya mendadak berubah sedingin es, mengingatkan Almira pada sosok Ziandra. "Kamu
"Non Almira mau pergi?" tanya Bi Sumi, matanya membulat cemas melihat Almira yang sudah rapi dan tampak terburu-buru.Almira mengangguk mantap sambil membetulkan tas selempangnya. "Aku mau ketemu sama Nyonya Stella, Bi.""Apa sudah izin sama Pak Ziandra?""Nggak usah, Bi. Aku kan mau ketemu sama i
Ucapan Ziandra meluncur begitu saja, jujur, dingin, dan telak menghantam ulu hati Almira. Kenapa begitu sulit mencairkan bongkahan es yang ada di hadapannya? Suasana kamar yang tadinya dipenuhi candaan absurd mendadak berubah drastis. Atmosfernya mendingin, menyisakan rasa sesak yang tak kasatmata
Fokus Ziandra mendadak terbelah antara gairah dan kecurigaan militer.Almira menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Ziandra dengan kerutan di dahi, tampak heran dengan pertanyaan suaminya."Aku istrimu, Bang. Memangnya siapa lagi?" sahut Almira polos, sebelum ekspresinya berubah sedetik kemu







