"Maaf, Nona. Pak Ziandra sudah berangkat," jawab Sumi pelan. Senyum di wajah Almira langsung runtuh. Secepat kilat, bibir mungil yang tadi melengkung indah itu kini berubah menjadi cemberut minor. Bahunya sedikit turun, seperti balon yang kempes perlahan. "Sudah berangkat?" ulangnya, masih tidak percaya. "Jam segini? Bukannya dia biasanya berangkat jam delapan?" "Tadi katanya buru-buru, Nona." Almira menggigit bibir bawahnya. Ia berjalan ke arah jendela, mengintip ke garasi. Benar saja, mobil hitam Ziandra sudah tidak ada di sana. Hanya bekas ban yang masih membekas di aspal. "Pria es balok," gumam Almira, cukup keras hingga Sumi mendengarnya. Sumi tersenyum kecil sambil kembali melanjutkan bersih-bersih. "Nona Almira, Bi Sumi bikinkan sarapan dulu, ya. Mau roti bakar?" "Nggak usah, Bi. Udah nggak nafsu makan, " jawab Almira, masih dengan wajah cemberut. Almira menggeleng, lalu melangkah gontai menuju ruang tamu. Ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang, memeluk bonek karakter
Last Updated : 2026-05-21 Read more