Chapter: Bab 135. Kelahiran si kembar“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Ivander dari balik kamera.“Perutku … rasanya sangat mulas, aku harus matikan dulu ya Sayang!” Syafana menjawab dengan napas terengah-engah, segera menutup sambungan video call sebelum Ivander bisa bertanya lagi.Nyonya Anindita terkejut, matanya melebar melihat cairan bening yang terus merembes dari bawah tubuh Syafana dan membentuk noda basah di lantai keramik mall.Bu Salsa juga tak kalah panik. “Cairan ketubanmu pecah!” teriak mereka secara bersamaan."Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa mendadak begini?"Tanpa berlama-lama, Ghaisa langsung berlari cepat menghampiri meja informasi, sambil berteriak pada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga dekat lift. “Pak tolong! Tolong hubungi ambulans segera! Saudaraku sedang mengalami pecah ketuban dan akan melahirkan!” teriaknya dengan suara nyaring hingga menarik perhatian pengunjung sekitar yang mulai berkerumun.Sedangkan, Nyonya Anindita benar-benar kalut, jari-jarinya gemetar saat mencari nomor Tua
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab 134. Jadwal lahiranBeberapa bulan kemudianUdara di ruangan praktik Dokter Maria terasa lebih padat dari biasanya, bahkan kipas angin yang berputar pelan tak mampu mengusir getaran yang menggeliat di setiap sudut. Syafana duduk tegak di atas meja pemeriksaan, kain steril putih menutupi perutnya yang mulai membengkak. Di sebelahnya, Ghaisa menyandarkan telapak tangannya.Bu Salsa berdiri di sisi kiri, napasnya terdengar pelan namun teratur, sementara Nyonya Anindita yang berada di sisi kanan mengpegang erat tangan Syafana, ujung bibirnya sedikit menggigil tak disadari.“Tumben sekali, para suami tidak ikut datang menemani saat kontol?” tanya Dokter Maria seraya mempersiapkan alat-alatnya. “Mereka berdua ada urusan bisnis di luar negeri, Dok,” sahut Ghaisa. Dokter Maria hanya mengangguk saja, tangannya mulai mengoleskan gel dingin di atas perut Syafana. Setelah itu, ia menempatkan alat transducer di atasnya dan mulai menggerakkannya perlahan.Cahaya dari layar monitor USG menerangi wajah mereka semua, m
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab 133. Carina gila"Meski mereka jahat tapi aku ikut sedih melihat keadaan Tante Carina," gumam Syafana lirih."Mereka menuai apa yang sudah mereka tanam. Rasa iri, dengki dan serakah membuat mata hati mereka buta," kata Ivander."Seandainya mereka mau berubah, aku juga tidak akan bertindak sejauh ini," tambah Tuan Alexander.Setelah pemakaman Celina yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman, waktu tampaknya berjalan dengan sangat lambat bagi Carina. Setiap hari yang lewat hanya membuat kondisi dirinya semakin menyedihkan dan memprihatinkan hingga akhirnya Ivander dan keluarga memutuskan untuk membawanya tinggal di rumah mereka, karena tidak tega melihat wanita itu sendirian dalam kesusahan.Kini, Carina tengah terduduk di salah satu sudut teras rumah Ivander. Badannya membungkuk ke depan, tangan kanan dan kiri menggenggam erat sebuah bantal putih. “Celina … nak mama sudah siapin sarapanmu yang kamu suka!” teriaknya dengan nada tinggi yang membuat beberapa orang di ruang tamu terlihat
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 132. KarmaPRANG! Gelas kristal yang hendak digerakkan ke bibir Carina terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan suara pecah yang menusuk. Potongan kaca kecil berserakan di atas permukaan yang mengkilap. Tanpa menghiraukan reruntuhan di bawah kakinya, tangannya refleks menyentuh bagian dada yang tiba-tiba terasa sesak. Denyut jantungnya berdebar kencang, jauh lebih cepat dari biasanya. “Kenapa kok tiba-tiba begini? Perasaan ku tidak enak, seolah ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi,” gumamnya pelan, suara penuh dengan kekhawatiran yang tidak jelas sumbernya. "Kenapa Celina belum pulang juga?" Baru saja dia mengangkat kepala, pikiran masih bingung mencari jawaban, ketika dering ponsel di atas meja tamu terdengar. Carina bergerak dengan langkah tergesa-gesa untuk menjawabnya, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh layar sentuh yang menunjukkan nomor tidak dikenal. “Permisi, ini dengan Nyonya Carina?” suara dari ujung saluran terdengar dengan nada yang hati-hati namun te
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 131. Celina meninggal"Kalian harus mati!" teriak Celina penuh amarah dan dendam.“Syafana, Ivander!”Suara Nyonya Anindita dan Bu Salsa menerjang udara sore, nada histeris menusuk. Kedua wanita itu masih berdiri kaku di tepi jalan raya, pandangan keduanya terpaku pada mobil putih yang melesat dengan kecepatan tak masuk akal.Tanpa berpikir dua kali, Ivander langsung mencengkeram lengan Syafana dengan kuat, lalu menariknya dengan sekuat tenaga ke arah trotoar sebelah kiri. Sedangkan, mobil yang dikemudi oleh Celina bergerak cepat. Kakinya menginjak pedal rem dengan sekuat mungkin, namun mobil hanya meluncur lebih cepat, menggeliat seperti makhluk hidup yang hilang kendali.“Arghh!” teriak Celina histeris. Sebelum akhirnya, mobil wanita itu menghantam pembatas beton jalan hingga retak berantakan. Mobil meluncur terus lalu menghantam dinding parkiran dengan pukulan kencang, membuat semua orang menyaksikan terhenti sejenak.Tanah seolah bergoyang akibat benturan hingga membuat orang-orang berhamburan mendek
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 130. Wanita berhati batu"Mau aku gendong?" tanya Ivander menawarkan diri. "Tidak, terima kasih. Aku masih bisa jalan sendiri," tolak Syafana.Koridor rumah sakit yang tadinya ramai mulai sepi seiring berjalannya waktu. Ivander, Syafana, dan Nyonya Anindita melangkah keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah yang jelas menunjukkan kegembiraan dan rasa lega. Ketika mereka tiba di area parkiran yang cukup luas, lampu penerangan jalanan mulai menyala redup karena senja mulai menjelma. Tiba-tiba, sebuah suara melengking terdengar dari arah samping, memecah kesunyian yang mulai menyelimuti tempat itu.“Ivander!”Semuanya spontan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka bergerak mencari sosok yang memanggil hingga akhirnya seorang wanita yang begitu familiar berdiri disana. "Dia ...!"Rahang Ivander langsung mengeras. Tanpa berpikir dua kali, ia menggeser tubuhnya perlahan agar benar-benar berada di depan Syafana, menjadikannya penghalang yang melindungi istrinya.Nyonya Anindita menatap Celina dengan tatapa
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 26. Terbongkarnya kejahatan MelyMalam yang dinanti tiba. Acara makan malam yang telah dirancang dengan begitu matang akhirnya digelar. Sejak sore, Bu Fatma tak henti-hentinya mengawasi persiapan, menata hidangan, dan memberi perintah pada para pekerja agar semuanya sempurna. Ia seolah lupa bahwa kemarin ia berpura-pura jatuh.Sementara itu, Tania hanya mengamati dari kejauhan. Ia memastikan semua berjalan sesuai rencananya. Tanpa sepengetahuan Bu Fatma, ia telah meminta para pekerja untuk menyiapkan proyektor dan papan putih di ruang makan.“Rania ..., apa maksudnya semua ini?” tanya Bu Fatma, matanya menatap tajam ke arah Tania, curiga dengan keberadaan proyektor dan papan putih itu.“Oh, itu sengaja aku pasang untuk menonton drama, Ma. Biar acara makan malam kita lebih seru dan ada tontonan yang menghibur,” jawab Tania dengan nada meyakinkan, menyembunyikan maksud sebenarnya.Bu Fatma mendengus, namun ide Tania terdengar cukup menarik. Ia pun memutuskan untuk menyetujuinya.“Oke, kali ini Mama setuju! Tapi, awas s
Last Updated: 2025-11-04
Chapter: Bab 25. Rencana Tania“Mas, boleh tidak besok malam kita mengadakan makan malam dan mengundang seluruh keluarga?” tanya Tania tiba-tiba, memecah keheningan kamar.Malik, yang tengah bersandar di ranjang sambil menggenggam iPad, sontak menoleh. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan atas permintaan Tania yang tak terduga.“Apa kamu sedang bercanda?"“Astaga, aku serius kali ini. Lagipula, acara ini kan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga,” kata Tania, berusaha meyakinkan suaminya.Malik terdiam, tampak menimbang-nimbang permintaan Tania. Melihat itu, Tania tak mau menyerah. Ia beranjak dari tempatnya, mendekati Malik dan duduk di tepi ranjang.“Ini juga keinginan bayi kita,” ucap Tania, terpaksa berbohong demi melancarkan rencananya. “Boleh ya, Mas?”“Ya sudah, nanti aku bicara dengan Mama dulu,” jawab Malik akhirnya, luluh dengan bujuk rayu istrinya.Senyum bahagia merekah di bibir Tania, membuat Malik ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Ia pun bangkit, bersiap menuju kamar Bu Fatma untuk men
Last Updated: 2025-10-20
Chapter: Jika aku pergi, hiduplah bahagiaTania melangkah tergesa melewati gerbang, jejak kakinya seolah tak sabar menginjak tanah pekarangan rumah Paman David. “Assalamulaikum, Paman, Rania,” sapanya, suaranya sedikit bergetar, “Aku punya berita untuk kalian.”Paman Burhan dan Rania, yang semula bersantai di bangku panjang halaman, sontak menoleh. Raut wajah mereka menyiratkan keheranan. Kedatangan Tania menjelang senja, seorang diri, bukanlah pemandangan yang biasa.Rania bangkit dengan terhuyung, wajahnya sepucat kapas, tubuhnya tampak kurus dan rapuh, seolah embusan angin saja bisa merobohkannya. Paman Bruhan segera menyongsong, memapah bahu keponakannya itu, dan menuntunnya mendekat ke arah Tania.“Kalian tetap di sana saja! Jangan mendekatiku,” seru Tania, nadanya tegas namun ada gurat cemas di matanya.“Sebaiknya kita bicara di dalam,” putus Paman Burhan sembari menuntun Rania perlahan. Tania mengangguk patuh, melangkah mengikuti, menyelaraskan langkahnya dengan Rania yang tertatih. Semakin dekat ia melihat kembarann
Last Updated: 2025-10-04
Chapter: Sebuah rencanaBAB 1“Mas.”Suara langkah kaki yang menuruni anak tangga memecah keheningan, menarik perhatian Malik. Raut wajah pria itu seketika menegang, sarat akan kekhawatiran. Tanpa membuang waktu, Malik bergegas mendekat, diikuti Tania yang setia melangkah di sisinya, tangannya tak lepas dari genggaman hangat sang suami.“Ada apa, Mel? Apa Mama butuh sesuatu,” tanya Malik, nadanya dipenuhi cemas, namun genggaman tangannya pada Tania justru semakin mengerat, seolah memberi kekuatan dan jaminan.Mely tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata. “Tante sudah tidak apa-apa, kok. Dia sedang istirahat sekarang di kamarnya. Aku izin pulang lebih dulu ya, Mas. Ada hal penting yang tidak bisa kutunda.”Malik mengangguk, ekspresinya sedikit melembut. “Iya, silakan saja, Mel. Kamu tidak perlu repot-repot datang lagi. Di sini sudah ada saya dan Rania yang akan menjaga Mama.”Sejenak, Mely terdiam. Tatapannya berubah tajam, menghunjam lurus ke arah Tania yang berdiri di sebelah Malik. Sebuah tatapan
Last Updated: 2025-10-03
Chapter: Bab 22. Tujuan Mely sebenarnya "Malik. Kamu tidak bisa mendidik istri kamu dengan baik. Lihatlah apa yang dia lakukan pada mama," ujar Bu Fatma memanas-manasi Malik. "Mas!" panggil Tania pelan. Malik menoleh ke arah Tani seraya mengulas senyum lembut penuh cinta seperti biasanya. "Mas percaya sama kamu." "Malik! Setelah apa yang dia lakukan pada Mama. Kamu masih percaya padanya? Kamu pikir Mama mengarang cerita," bentak Bu Fatma. "Ma. Bisa saja Mama jatuh karena menendang botol minyak urut ini. Ini minyak zaitun yang bisa dipakai Mama untuk mengurut bukan?" Malik menunjuk botol yang terlempar di sudut tangga. Tania tersenyum lega. Sementara Bu Fatma semakin meradang. Dia kembali mengucapkan kata-kata yang menjelekan Tania agar membuat wanita itu tersudut. Namun, Malik tetap pada pendiriannya. Tidak mungkin istrinya tega melakukan hal tersebut. Tidak berapa lama, tiba-tiba saja Mely datang bersama seorang dokter gadungan yang sengaja dia bawa untuk memperlancar rencana mereka. Bu Fatma pura-pu
Last Updated: 2023-10-30
Chapter: Bab 21. Rencana terakhir Bu Fatma Bu Fatma dan Mely masih ada di dalam mobil. Keduanya belum beranjak pergi meski kini Tania dan Sheli sudah menghilang sejak insiden tadi.Mata Melly menatap nanar kaca mobil yang terkesan gelap. "Tante, jika sudah begini maka hanya ada satu cara terakhir yang harus kita lakukan." Kalimat lirih itu membuat Bu Fatma menatapnya cepat. "Apa maksudmu?" tanya Bu Fatma penasaran. Dengan segera Melly memutar arah duduknya. Menghadap Bu Fatma langsung agar bisa didengar dengan saksama. "Jika cara seperti ini juga tak bisa mencelakai Rania, maka kita harus menjebaknya agar Malik mulai meragukan kebaikan hatinya." "Tolong kau jelaskan dengan benar, agar Tante bisa paham," pinta Bu Fatma. Mely menunda kalimatnya, membuat sosok itu tak mengalihkan pandangan sedikit pun. "Tante harus menjebak Rania. Buat seolah-olah Tante terluka karena ulahnya, dengan begitu maka Malik mungkin akan mulai kecewa pada kebaikan hatinya." Bu Fatma cukup terkejut mendengar saran Mely b
Last Updated: 2023-10-29
Chapter: Bab 13. Kenapa Zavira mirip Kanaya?"Restorannya benar-benar seperti istana," gumam Zavira dalam hati. Semua orang yang berpapasan seperti memberi ruang tanpa diminta. Dan tiba-tiba Zavira merasa seperti orang asing di dunia itu. Ia melirik Xagier sekilas lalu menunduk sedikit, menghela nafas. “Seperti Upik Abu jalan sama pangeran.”Pria di sampingnya bukan cuma tampan. Dia punya aura yang membuat orang segan. Kharisma yang kuat. Orang yang melihatnya pasti tahu, dia bukan orang sembarangan. Sedangkan dirinya? Zavira menarik napas pelan.Hanya gadis kampung yang mengadu nasib di ibu kota. Dan bahkan nasibnya sendiri pun terasa menyedihkan. Menjadi istri simpanan karena kehormatannya direnggut paksa.“Selamat siang, Tuan Xafier.”Seorang pria berkemeja putih mendekat dengan senyum ramah. Ia sedikit membungkuk.“Selamat datang kembali.”Xafier mengangguk tipis. “Ruangan biasa.”“Baik, Tuan.”Pria itu lalu melirik Zavira sekilas dengan senyum sopan. “Silahkan ikut saya.”Zavira justru sibuk melihat sekeliling. Matanya b
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Bab 12. Hanya Istri SimpananPertemuan akhirnya selesai. Kursi-kursi bergeser. Orang-orang mulai berdiri meninggalkan ruang Meeting. Tinggal Xafier dan Samuel berjalan mendekati ke arah seorang pria dengan dua asistennya.“Terima kasih atas kunjungannya,” ucap Xafier pada pria di hadapannya.“Sama-sama, Tuan Xafier. Saya harap kerjasama kita bisa berjalan dengan lancar. Kami permisi karena masih ada urusan.”“Silahkan.” Xafier mengangguk dengan seulas senyum samar.Rombongan di depannya sudah pergi ke luar ruangan meninggalkan ruang meeting. Salah satu karyawan mengantar mereka dengan wajah ramah penuh senyum. Bayangan Zavira muncul lagi memenuhi pikirannya. Lagi dan lagi. Xafier menyambar jas yang tersampir di kursi lalu bergegas keluar dengan langkah cepat. Samuel yang berdiri di luar ruangan langsung mengikutinya. Keningnya mengkerut melihat Xafier berjalan menuju lift. “Tuan, Anda mau kemana?”“Tetap di kantor,” potong Xafier.Samuel mengerutkan kening. “Tapi Tuan—”“Itu perintah.” Samuel langsung menganggu
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Bab 11. Cinta bertepuk sebelah tangan“Yang kemarin aja masih ngilu. Jangan dulu minta jatah. Aku takut nggak bisa jalan!”Bruk! Zavira membenturkan kepala pelan ke permukaan meja kerjanya. Ia mengerang kecil sambil memegangi dahinya sendiri, rambut yang diikat seadanya jatuh berantakan menutupi wajahnya yang sudah merah padam.“Kenapa sih pria es balok itu selalu seenaknya?”Di depan meja itu, Donita dan Jeni alias Johan saling berpandangan. Kening mereka sama-sama mengerut. Donita pelan-pelan mendekat lalu menyentuh kening Zavira.Zavira langsung mengangkat kepala. “Apaan sih?”Donita menatapnya serius. “Kamu demam?”Jeni alias Johan ikut mendekat. “You kesambet setan, Neng?”Zavira melotot. “Kenapa nanya gitu?!”Donita dan Johan kompak menjawab. “Kita yang harusnya nanya!”Zavira langsung kaku. Wajahnya makin merah. Ia langsung duduk tegak, salah tingkah, lalu membereskan berkas di depannya tanpa arah.“Nggak ada apa-apa!”Johan menyipitkan mata. “Barusan ngomong soal jatah siapa?”“NGGAK ADA!” pekik Zavira cepat.Don
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Bab 10. Harga yang harus dibayarDi kantor lain."Kalian kenapa?" Zavira duduk dengan wajah kebingungan. Alisnya mengerut dalam saat melihat dua kartu ATM yang disodorkan ke hadapannya. “Aku tanya maksud kalian apa?” tanya Zavira lagi dengan nada pelan, suaranya terdengar ragu.Di depannya, Johan atau yang lebih sering dipanggil Jeni yang memiliki bulu mata lentik dan alis rapi melebihi perempuan, tersenyum dengan gaya khasnya. Kepalanya sedikit dimiringkan, tangannya masih terulur sambil menjepit kartu ATM itu di antara dua jarinya yang berkutek merahn“Mince denger Neng Nong lagi butuh duit 'kan? Pake aja punya Mince,” katanya dengan nada gemulai. “Di dalamnya ada sedikit tabungan. Nggak banyak sih, cuma dua jetong. Tapi siapa tahu bisa bantu Neng Nong dikit.”Zavira langsung menggeleng cepat.“Nggak, aku nggak bisa—”Belum sempat kalimatnya selesai, Donita ikut menyodorkan kartu ATM miliknya.“Kamu pakai punyaku juga,” katanya pelan. “Memang nggak banyak tapi lumayan buat bantu kamu sementara. Sisanya nanti kita
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab 9. Jangan lupa pengaman!"Untuk apa dia ada di kantorku sepagi ini?" Xafier berjalan dengan langkah cepat, sementara Samuel mengikuti setengah langkah di belakangnya sambil membawa beberapa berkas.Begitu mereka melewati lorong utama, beberapa karyawan yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis langsung menegakkan punggung. Namun begitu Xafier lewat beberapa meter dari mereka, bisik-bisik pelan mulai terdengar.“Pak Xafier makin kelihatan ganteng ya,” bisik salah satu karyawan perempuan sambil menatap punggung pria itu dengan mata berbinar.“Iya auranya beda banget. Wibawanya itu loh,” sahut yang lain pelan.“Tapi serem juga sih. Kemarin aku telat lima menit aja langsung ditegur,” celetuk yang lain sambil meringis.“Ih tapi kalau ditegur Pak Xafier mah aku rela,” bisik seorang lagi setengah bercanda.Mereka terkikik pelan agar tidak terdengar. Namun tiba-tiba Samuel menoleh ke belakang. Tatapannya tajam, membuat semua karyawan itu langsung membeku di tempat. Senyum mereka hilang seketika. “Selamat pagi,
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab 8. Ciuman"Aku dimana?" gumam Zavira saat membuka mata.Ia mengdarkan pandang di kamar yang luas itu. Terlalu luas untuk ukuran kamar biasa. Tirai panjang menjuntai dari jendela besar. Karpet tebal menutupi lantai, dan ranjang yang ia tiduri bahkan lebih besar dari kasur di rumahnya.Zavira langsung menoleh ke samping. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Ia menghela napas panjang.“Alhamdulillah,” bisiknya lega. “Nggak ada makhluk menyebalkan itu di sini.”Cklek!Suara pintu kamar mandi terbuka membuat tubuhnya menegang. Perlahan, Zavira menoleh. Dan seketika matanya membulat.Xafier keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya masih basah, beberapa tetes air menetes dari ujungnya ke bahu. Tubuh bagian atasnya terbuka membuat Zavira langsung memalingkan wajah dengan cepat.“Istighfar, astaghfirullah, astaghfirullah,” gumamnya cepat dalam hati. Ia langsung menarik selimut dan menutup kepalanya rapat-rapat.“Ya Allah jauhkan hamba dari godaan pria menyebalkan in
Last Updated: 2026-02-25