تسجيل الدخول"Kenapa aku berharap ingatannya tidak pernah kembali sekarang?"Pertanyaan retoris itu keluar begitu saja dari mulut Ziandra, terdengar sangat getir dan sarat akan emosi yang tertahan. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi mobil taktis, menatap hampa ke luar jendela di mana deretan ruko pinggir jalan bergerak mundur dengan cepat.Dave yang duduk di kursi kemudi melirik atasannya dari kaca spion tengah. Ia berdehem kecil, memecah keheningan yang mendadak mencekam. "Ini berkas mengenai kecelakaan Nona Almira satu tahun yang lalu, Komandan," ujar Dave seraya mengulurkan sebuah map tebal berwarna merah setelah mobil mereka berhenti di lampu merah.Ziandra menerima map itu, membukanya dengan gerakan taktis. Mata elangnya dengan cepat memindai lembar demi lembar dokumen."Setelah ditelusuri lebih dalam oleh tim siber kita, ada manipulasi data yang sangat rapi di kepolisian tempat kecelakaan terjadi," lanjut Dave dengan nada serius. "Di berkas resmi, tertulis itu adalah kecelakaan mobil pr
"Aku pasti hanya terbawa perasaan," gumam Ziandra seraya menegakkan wajahnya, membiarkan aliran air dingin dari shower mengguyur kepalanya demi mengusir bayangan desahan Almira yang masih terngiang jelas.Namun, sial bagi sang komandan. Di bawah sana, juniornya justru masih dalam mode tegak menantang, sama sekali tidak terpengaruh oleh dinginnya air. Ziandra menggeram frustrasi, menatap ke bawah dengan tatapan mengintimidasi yang biasa ia gunakan untuk menakuti musuh—yang sayangnya, kali ini tidak mempan. "Sial, aku jadi harus main solo," geramnya ketat sambil menyambar botol sabun cair dengan gusar.Sementara itu di kamar, Almira duduk di depan meja rias, menatap lekat-lekat pantulan dirinya sendiri di cermin. Kartu perak bertuliskan ‘ ANDREA’ kini tergeletak di samping sisirnya."Kenapa aku nggak ingat apa-apa, ya? Apa bener namaku itu Andrea?" bisik Almira pada dirinya sendiri. Sorot matanya yang biasa jenaka mendadak meredup, menyiratkan dilema dan rasa cemas yang dalam. "Bagaima
"Bang Komandan!"Tidak ada tanggapan berupa kata-kata dari Ziandra. Sebagai jawaban, tangan kekar Ziandra mulai bergerak lancang, menyusup masuk ke balik atasan piyama yang dikenakan Almira, mengusap pinggang rampingnya dengan sentuhan yang membakar kulit."Hemmmph..." Almira mendesah samar tanpa sadar, merasakan sensasi aneh seperti aliran arus listrik bertegangan tinggi yang menyengat seluruh pembuluh darahnya.“Bang Komandan, liar juga tapi aku suka.”Sialnya, suara desahan halus itu justru menjadi pemantik yang membuat Ziandra benar-benar hilang kendali. Pegangannya di pinggang Almira semakin erat, siap membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih jauh."Pak, saya sudah buatkan bubur un—"Bi Sumi yang baru saja datang dari arah dapur dengan membawa senampan bubur ayam hangat mendadak menghentikan ucapannya di udara. Matanya membelalak lebar menyaksikan pemandangan 'panas' di atas sofa pagi-pagi buta.Almira dan Ziandra sama-sama membeku, lalu menoleh ke samping secara bersamaan den
Apa yang terjadi?" gumam Ziandra dengan suara serak yang hampir habis saat kelopak matanya perlahan terbuka.Rasa pening masih menggelayuti kepalanya, namun pandangannya langsung tertuju pada sesosok gadis yang tertidur pulas dalam posisi duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di tepi sofa tepat di samping lengannya. Itu Almira. Ziandra menyentuh keningnya sendiri yang kini tertutup selembar handuk kecil yang sudah mulai mengering.Ia mencoba mengingat kembali kejadian malam hari melalui potongan memori yang samar. “Dia merawatku semalaman?” batin Ziandra. Detak hatinya mendadak mulai bergetar asing. Matanya menatap Almira intens, memindai garis alisnya yang tegas namun cantik, bulu matanya yang lentik, lalu turun pada belahan bibir tipis istrinya yang sedikit terbuka.Glek!Ziandra menelan ludah dengan susah payah saat memori malam itu mendadak berputar lebih jelas. Ia ingat bagaimana Almira mengunci pergelangan tangannya dan mencium bibirnya secara brutal demi menyalurkan air min
"Mimpi apa ya, aku nikah sama Komandan Militer?"Ziandra hanya mengangguk kaku mendengar pesan dari Pak RT dan Pak RW, sebuah gerakan yang lebih mirip seperti robot yang kehabisan baterai daripada sebuah jawaban.Begitu masuk ke dalam mobil SUV hitam yang kedap suara, atmosfer seketika berubah.Ziandra duduk di pojok kanan, Almira di pojok kiri. Jarak di antara mereka cukup luas untuk menampung satu unit motor matic."Bang Ziandra," panggil Almira memecah keheningan."Jangan panggil aku dengan sebutan itu," sahut Ziandra tanpa menoleh, matanya fokus pada layar ponselnya."Terus panggil apa? Sayang? Mas? Hubby? Atau... My Commander?" Almira mencoba berbagai nada suara, mulai dari yang imut sampai yang dibuat-buat seksi.Ziandra memejamkan mata sejenak, tampak sedang mengumpulkan kesabaran yang tersisa di dasar jiwanya. "Panggil namaku atau jangan bicara sama sekali.""Oke, Bang Ziandra. Galak amat sih, padahal kan baru sah. Mana maharnya cuma logam mulia doang, nggak ada cokelat-cokela
"Ulangi panggilan kamu barusan?”“Pak Kulkas dua pintu.”“Beraninya kamu,” geram Ziandra. "Bapak boleh tinggi, boleh ganteng, dikit sih menurut saya, tapi jangan sombong ya. Saya memang kayak anak ayam, tapi saya ini anak ayam petarung! Lagian, saya ke sini karena mau nolongin Nenek saya, dan kebetulan mau nolongin Bapak juga biar nggak dianggap jomblo karatan sama ibu Bapak."Nyonya Stella menutup mulutnya, menahan tawa. Belum pernah ada orang yang berani memanggil Komandan Ziandra dengan sebutan 'Kulkas Dua Pintu'."Ma, keluarkan dia. Aku tidak mau menikah dengan gadis yang otaknya hilang separuh," desis Ziandra tajam."Keputusan sudah bulat, Ziandra. Ingat hutang budi kakekmu pada mendiang suami Nenek Sarmila. Jika kamu menolak, Mama akan pastikan karir kamu di dunia militer selesai dan fokus jadi pengusaha," ancam Nyonya Stella tenang namun mematikan. “Mama sudah mengurus berkas pernikahanmu.”Ziandra terdiam. Rahangnya mengeras hingga otot lehernya terlihat menonjol. Ia menatap
"Saya, Mayor Ziandra. Suami dari gadis ini. Dan saya rasa, istri saya tidak butuh kenalan dengan dokter yang terlalu ramah seperti Anda."Dokter Adrian tidak langsung menarik tangannya. Alih-alih gentar oleh cengkeraman kuat Ziandra yang bisa saja meremukkan tulang pergelangan tangan pria biasa, ia
Rahang Ziandra mengeras. Urat di lehernya tampak menonjol. "Tidak bisa, Ma. Ini urusan sangat penting."Di seberang sana, Nyonya Stella sama sekali tidak terdengar gentar. "Padahal Mama ingin bertemu dengannya.""Masalah ini tidak boleh Almira tahu sedikit pun.""Kenapa?""Mama masih bertanya kena
“Red Viver tidak pernah melepas siapa saja yang sudah termasuk radar mereka, Mayor. Jangan biarkan ingatan gadis itu kembali”Kata-kata dari pesan teks terenkripsi yang masuk ke ponsel rahasianya membuat bola mata Ziandra melebar. Pesan tanpa nama itu begitu singkat, namun mampu menjungkirbalikkan
“Pak Ziandra. Ada satu hal yang ingin saya sampaikan.”“Soal?” tanya Ziandra, matanya kembali menajam.Dokter itu terdiam beberapa detik seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Ia lalu melepaskan kacamatanya dan mengusap pangkal hidung dengan wajah yang terlihat lelah.“Sejujurnya, Nyonya Stella su







