Om David, Aku Mau Denganmu Saja!

Om David, Aku Mau Denganmu Saja!

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-05-23
Oleh:  Helen.SkyOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
12Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Divonis putus karena perbedaan usia, Eva tidak pernah menyangka bahwa David yang merupakan mantan kekasihnya ternyata adalah sahabat karib papanya sendiri. Takdir semakin kejam ketika sebuah janji masa lalu memaksa Eva harus bertunangan dengan anak kandung dari pria tersebut. Kini, Eva terjebak dalam sandiwara menjadi calon menantu yang sempurna, sementara di balik pintu yang tertutup, ia terus dijerat oleh pesona dominan David yang kini harus dipanggilnya sebagai calon papa mertua.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Di Luar Kendali

Eva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan.

Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya yang mendadak terasa lemas.

Sialan. Pria itu benar-benar sudah gila.

Eva membuang napasnya perlahan, menikmati kesunyian di dalam toilet yang terasa jauh lebih aman daripada meja makan di luar.

Bagaimana bisa David duduk setenang itu setelah bertingkah gila di bawah meja.

Eva menyalakan keran air, membiarkan gemercik air yang deras menyamarkan suara helaan napas panjangnya yang terdengar begitu frustrasi.

Tindakan lancang laki-laki itu benar-benar membuat isi kepalanya mendidih. Eva benar-benar muak dengan kelakuan kurang ajar David yang sengaja menyenggol betisnya. Sampai kapan ia harus menahan amarah di depan orang berengsek seperti itu.

Ia menghembuskan napas kasar sekali lagi, lalu menegakkan tubuhnya di depan cermin. Kedua tangannya bergerak merapikan lipatan gaunnya yang sedikit kusut, menepuk-nepuk pelan bagian bahunya.

Setelah memastikan tidak ada lagi sisa amarah di wajahnya dan napasnya sudah kembali teratur, ia memasang kembali senyuman manisnya, lalu melangkah membuka pintu toilet.Ia melangkah dengan dagu terangkat, menyusuri lorong panjang berlantai tegel yang sepi dan remang-remang menuju area ruang makan utama restoran.

Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, langkah kakinya mendadak terhenti di tengah lorong ketika melihat sebuah siluet tinggi yang sangat familiar muncul dari arah berlawanan.

David.

Pria itu berjalan dengan langkah yang begitu santai, kedua tangannya terbenam di dalam saku celana kainnya. Ketika jarak di antara mereka hanya tersisa dua meter, David menghentikan langkahnya, membuat keduanya kini berdiri berhadapan.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanya David tenang.

Eva diam. Ia tidak berniat memberi jawaban sedikit pun.

Melihat respons itu, David melangkah maju mendekat. Membuat bahu Eva otomatis tersentak ke belakang, namun kedua kakinya tetap terpaku di lantai.

"Kamu kelihatan sangat cantik malam ini. Gaun itu benar-benar cocok untukmu," ujar David.

Eva tidak langsung membalas ucapan itu, melainkan melipat kedua tangannya di depan dada sambil melemparkan sebuah senyuman dengan matanya menyipit.

"Terima kasih banyak atas pujiannya, Om David," jawab Eva.

"Aku emang secantik ini. Makanya pas banget kalau bersanding di sebelah Rian yang ganteng itu," sahut Eva sembari tertawa kecil.

"Rian pasti seneng denger kamu ngomong begitu," sahut David dengan nada datar.

Pria tua itu sedikit menundukkan kepalanya, menatap Eva dengan sorot mata menilai yang tajam.

"Tapi ingat posisi kamu di sini, Eva. Jangan sampai kelakuan kamu malah ngerusak makan malam berharga ini," bisik David pelan, tepat di samping telinga Eva.

Eva langsung menoleh ke samping, menatap tajam separuh wajah David yang berada sangat dekat dengannya. Ia mengulas senyum tipis yang dingin.

"Om tenang aja, saya tahu cara mainnya kok. Justru Om yang harusnya jaga sikap, biar Rian gak tahu siapa papanya yang sebenarnya," balas Eva dengan nada berbisik yang tidak kalah tajam.

David terdiam sesaat, matanya sedikit menyipit menatap Eva. Setelah beberapa detik saling melempar tatapan penuh ancaman, David akhirnya menarik kembali tubuhnya tegak.

Ia tidak membalas ucapan Eva lagi, melainkan langsung melangkah melewati bahu Eva tanpa menoleh lagi ke belakang.

Eva membiarkan tubuhnya tetap membelakangi David, mendengarkan derap langkah sepatu pantofel pria tua itu yang perlahan-lahan menjauh dan menghilang di ujung lorong toilet.

Setelah memastikan David benar-benar pergi, Eva kembali melangkah menuju meja makan.

Langkah kakinya terhenti tepat di samping kursi makannya yang berlapis kain beludru marun, menarik perhatian Rian yang sejak tadi tampak cemas menantikan kehadirannya.

Eva segera menarik kursinya dan duduk, berusaha keras mengontrol napasnya yang masih sedikit tidak teratur.

"Kamu lama banget di toilet, Va? Kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Rian langsung saat menoleh ke arahnya.

Wajah pria itu tampak cemas, matanya memperhatikan raut wajah Eva yang tampak pucat.

Eva tersentak kecil, namun dengan cepat memaksakan sebuah senyuman tipis.

"Enggak apa-apa, Rian," jawab Eva pelan.

Tangannya di bawah meja meremas gaunnya sendiri, mencoba mengusir sisa kepanikan akibat konfrontasi dengan David di lorong toilet tadi. Ia melirik sekilas ke arah Hendra, memastikan sang papa tidak menyadari perubahan sikapnya.

Eva hampir saja menjatuhkan sendok di tangannya ketika melihat sosok David sudah muncul dari arah lorong. Pria itu berjalan santai, lalu langsung duduk di kursinya.

Rian mengernyitkan alis, menatap sang papa dengan heran. "Cepat banget, Pa? Perasaan tadi baru ke belakang."

Mendengar celetukan anaknya, David tidak langsung menjawab. Ia dengan tenang melipat serbetnya, lalu melirik sedikit ke arah Eva yang kini sedang menatapnya dengan tubuh kaku. Sudut bibir David terangkat, membentuk senyuman miring yang begitu tipis.

David kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Rian.

"Urusan Papa di belakang sudah selesai," ujar David dengan santai sembari melirik lagi ke arah Eva.

Deg.

Jantung Eva seakan berhenti berdetak mendengar jawaban itu.

Pria ini benar-benar sudah kehilangan akal sehat ya?

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status