MasukDivonis putus karena perbedaan usia, Eva tidak pernah menyangka bahwa David yang merupakan mantan kekasihnya ternyata adalah sahabat karib papanya sendiri. Takdir semakin kejam ketika sebuah janji masa lalu memaksa Eva harus bertunangan dengan anak kandung dari pria tersebut. Kini, Eva terjebak dalam sandiwara menjadi calon menantu yang sempurna, sementara di balik pintu yang tertutup, ia terus dijerat oleh pesona dominan David yang kini harus dipanggilnya sebagai calon papa mertua.
Lihat lebih banyakEva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan.
Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya yang mendadak terasa lemas. Sialan. Pria itu benar-benar sudah gila. Eva membuang napasnya perlahan, menikmati kesunyian di dalam toilet yang terasa jauh lebih aman daripada meja makan di luar. Bagaimana bisa David duduk setenang itu setelah bertingkah gila di bawah meja. Eva menyalakan keran air, membiarkan gemercik air yang deras menyamarkan suara helaan napas panjangnya yang terdengar begitu frustrasi. Tindakan lancang laki-laki itu benar-benar membuat isi kepalanya mendidih. Eva benar-benar muak dengan kelakuan kurang ajar David yang sengaja menyenggol betisnya. Sampai kapan ia harus menahan amarah di depan orang berengsek seperti itu. Ia menghembuskan napas kasar sekali lagi, lalu menegakkan tubuhnya di depan cermin. Kedua tangannya bergerak merapikan lipatan gaunnya yang sedikit kusut, menepuk-nepuk pelan bagian bahunya. Setelah memastikan tidak ada lagi sisa amarah di wajahnya dan napasnya sudah kembali teratur, ia memasang kembali senyuman manisnya, lalu melangkah membuka pintu toilet.Ia melangkah dengan dagu terangkat, menyusuri lorong panjang berlantai tegel yang sepi dan remang-remang menuju area ruang makan utama restoran. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, langkah kakinya mendadak terhenti di tengah lorong ketika melihat sebuah siluet tinggi yang sangat familiar muncul dari arah berlawanan. David. Pria itu berjalan dengan langkah yang begitu santai, kedua tangannya terbenam di dalam saku celana kainnya. Ketika jarak di antara mereka hanya tersisa dua meter, David menghentikan langkahnya, membuat keduanya kini berdiri berhadapan. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya David tenang. Eva diam. Ia tidak berniat memberi jawaban sedikit pun. Melihat respons itu, David melangkah maju mendekat. Membuat bahu Eva otomatis tersentak ke belakang, namun kedua kakinya tetap terpaku di lantai. "Kamu kelihatan sangat cantik malam ini. Gaun itu benar-benar cocok untukmu," ujar David. Eva tidak langsung membalas ucapan itu, melainkan melipat kedua tangannya di depan dada sambil melemparkan sebuah senyuman dengan matanya menyipit. "Terima kasih banyak atas pujiannya, Om David," jawab Eva. "Aku emang secantik ini. Makanya pas banget kalau bersanding di sebelah Rian yang ganteng itu," sahut Eva sembari tertawa kecil. "Rian pasti seneng denger kamu ngomong begitu," sahut David dengan nada datar. Pria tua itu sedikit menundukkan kepalanya, menatap Eva dengan sorot mata menilai yang tajam. "Tapi ingat posisi kamu di sini, Eva. Jangan sampai kelakuan kamu malah ngerusak makan malam berharga ini," bisik David pelan, tepat di samping telinga Eva. Eva langsung menoleh ke samping, menatap tajam separuh wajah David yang berada sangat dekat dengannya. Ia mengulas senyum tipis yang dingin. "Om tenang aja, saya tahu cara mainnya kok. Justru Om yang harusnya jaga sikap, biar Rian gak tahu siapa papanya yang sebenarnya," balas Eva dengan nada berbisik yang tidak kalah tajam. David terdiam sesaat, matanya sedikit menyipit menatap Eva. Setelah beberapa detik saling melempar tatapan penuh ancaman, David akhirnya menarik kembali tubuhnya tegak. Ia tidak membalas ucapan Eva lagi, melainkan langsung melangkah melewati bahu Eva tanpa menoleh lagi ke belakang. Eva membiarkan tubuhnya tetap membelakangi David, mendengarkan derap langkah sepatu pantofel pria tua itu yang perlahan-lahan menjauh dan menghilang di ujung lorong toilet. Setelah memastikan David benar-benar pergi, Eva kembali melangkah menuju meja makan. Langkah kakinya terhenti tepat di samping kursi makannya yang berlapis kain beludru marun, menarik perhatian Rian yang sejak tadi tampak cemas menantikan kehadirannya. Eva segera menarik kursinya dan duduk, berusaha keras mengontrol napasnya yang masih sedikit tidak teratur. "Kamu lama banget di toilet, Va? Kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Rian langsung saat menoleh ke arahnya. Wajah pria itu tampak cemas, matanya memperhatikan raut wajah Eva yang tampak pucat. Eva tersentak kecil, namun dengan cepat memaksakan sebuah senyuman tipis. "Enggak apa-apa, Rian," jawab Eva pelan. Tangannya di bawah meja meremas gaunnya sendiri, mencoba mengusir sisa kepanikan akibat konfrontasi dengan David di lorong toilet tadi. Ia melirik sekilas ke arah Hendra, memastikan sang papa tidak menyadari perubahan sikapnya. Eva hampir saja menjatuhkan sendok di tangannya ketika melihat sosok David sudah muncul dari arah lorong. Pria itu berjalan santai, lalu langsung duduk di kursinya. Rian mengernyitkan alis, menatap sang papa dengan heran. "Cepat banget, Pa? Perasaan tadi baru ke belakang." Mendengar celetukan anaknya, David tidak langsung menjawab. Ia dengan tenang melipat serbetnya, lalu melirik sedikit ke arah Eva yang kini sedang menatapnya dengan tubuh kaku. Sudut bibir David terangkat, membentuk senyuman miring yang begitu tipis. David kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Rian. "Urusan Papa di belakang sudah selesai," ujar David dengan santai sembari melirik lagi ke arah Eva. Deg. Jantung Eva seakan berhenti berdetak mendengar jawaban itu. Pria ini benar-benar sudah kehilangan akal sehat ya?"Eva, lebih baik kita sampai di sini aja," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut David.Pria berusia empat puluh lima tahun itu duduk tegap di hadapan Eva, melipat kedua lengan kekarnya di depan dada sambil menatap lurus tepat ke arah sepasang mata gadis itu. Wajahnya tampak begitu dingin, sedingin es batu yang mulai mencair di dalam gelas minuman mereka yang terabaikan sejak tadi.Seketika Eva terdiam kaku di tempat duduknya. Kedua tangannya yang berada di atas meja saling bertautan, wajahnya sedikit memucat karena menahan gejolak di dalam dada."Kenapa tiba-tiba putus?" tuntut Eva sembari menatap lurus ke dalam mata pria yang sudah menemaninya selama lima bulan terakhir ini.David menarik napas dalam-dalam, membiarkan dadanya membusung sejenak di balik setelan kemeja kerja abu-abunya yang masih tampak sangat rapi."Umur kita jaraknya terlalu jauh. Aku merasa kamu lebih cocok jadi anakku daripada pacarku," ucap David.Mendengar alasan menjijikan yang keluar dari mulut pria itu,
Eva langsung menarik napasnya, sementara jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya saat mengenali postur tubuh tegap yang sangat dihafalnya itu. Seluruh isi kepalanya mendadak berputar hebat, mencoba mencerna bagaimana mungkin David bisa berada di dalam rumahnya dan duduk berhadapan dengan sang papa.Dari balik celah pintu, mata Eva tidak berkedip memperhatikan profil samping wajah David yang terpahat tegas. "Kok Mas David bisa tahu rumahku? Padahal seingatku, aku sama sekali belum pernah cerita soal alamat rumahku atau soal Papa ke dia," batin Eva dengan cemas.Ketakutan besar langsung menguasai benak Eva hingga telapak tangannya mendadak dingin. Mengingat status hubungan mereka selama ini disembunyikan rapat-rapat dari sang papa, pikiran buruk Eva langsung tertuju pada satu kesimpulan yang mengerikan."Jangan-jangan dia ke sini mau ngaduin aku ke Papa? Mau bilang kalau aku pacaran sama pria berumur?" tanyanya dalam hati, panik membayangkan amarah papanya jika sampai ra
Eva merasakan seluruh dunianya runtuh dalam sekejap, membuat pandangannya sempat mengabur saat mendengar kata perjodohan keluar dari bibir papanya di depan pria yang dicintainya. "Perjodohan? Maksud Papa apa…?" sahut Eva dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mencari kekuatan dengan berpegangan pada sandaran sofa.Hendra tersenyum lebar, lalu membuka suara untuk memperjelas maksud kedatangan tamunya malam itu tanpa menyadari perubahan raut wajah putrinya."Benar, Eva. Ini memang kesepakatan lama antara Papa dan Om David dari dulu. Kami berdua sudah lama sepakat untuk menjodohkan kamu dengan anak laki-laki Om David yang namanya Rian," ujar Hendra dengan bangga.Mendengar hal itu, kepala Eva langsung menoleh ke arah David.David hanya duduk tegap dan menatap balik ke arah Eva dengan sepasang mata yang begitu datar dan tenang.Begitu kalimat perjodohan itu selesai diucapkan oleh sang papa, Eva berdiri diam dengan tatapan kosong. Mendadak ia kehilangan fokus terhadap sekelilingnya, ke
Eva bersandar pada kursi makannya, mencoba menahan rasa bosan yang mulai menyerang sejak pertama kali tiba di restoran mewah ini. Di atas meja bundar berlapis kain marun di depannya, deretan sendok dan garpu perak sudah tertata rapi, bersanding dengan gelas-gelas anggur yang masih kosong. Hari ini, Eva akhirnya menurut untuk menghadiri makan malam perjodohan ini. Ia tidak punya pilihan lain setelah melihat kerapuhan sang ayah yang menanggung beban utang budi sedemikian besar. Lagipula, kehadiran David di seberang meja yang bersikap teramat acuh, membuktikan bahwa kebersamaan mereka memang sudah tidak ada artinya bagi pria itu.Tepat di sebelah kanannya, Rian duduk sembari merapikan sedikit kerah jas biru gelapnya. Pria itu sedikit memutar tubuhnya agar bisa terus menatap Eva, lalu melempar sebuah senyuman ramah. "Ternyata aslinya jauh lebih cantik dari yang aku bayangkan," puji Rian."Terima kasih atas pujiannya," sahut Eva memutus aliran antusiasme yang coba dibangun oleh pria di s


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.