Home / Urban / Badai Sang Pemberani / 008. Gemerlap yang Membara

Share

008. Gemerlap yang Membara

Author: Iq Nst
last update Huling Na-update: 2025-08-15 08:44:24

Lampu-lampu neon sebuah club malam bernama Estrella berpendar liar, memantul di meja-meja kaca dan botol-bottol minuman yang berjajar rapi.

Lantunan musik berdentum keras, membuat siapa pun tak akan pernah tahu bahwa malam itu, bukan hanya tawa yang biasa, tapi sebuah peristiwa yang berakhir dengan darah akan terjadi.

Di sudut ruang VIP, Migul Cortez tampak sedang duduk santai, mengenakan setelan premium dan ditemani dua wanita muda cantik menggoda di sebelahnya.

Di atas meja beberapa botol brand mahal berjejer rapi, segelas whiskey di tangan, dan senyum kepalsuan menghias wajahnya.

Jam sudah 21. 01 WIB. Calvin masuk ke dalam club malam dengan langkah mantap. Matanya dingin, tatapannya membelah kerumunan. Dia menuju ke tempat Miguel berada.

"Calvin! Duduklah," kita berpesta dulu malam ini," sapa Miguel ramah, seperti biasanya, seolah tak ada masalah apa pun antara mereka berdua.

Calvin menatapnya sesaat.

Miguel kembali membalas dengan ramah. "Ayo, Calvin, kita akan bicara soal_"

Tak ada waktu basa-basi atau sekedar menyelesaikan kalimat. Calvin meraih SINGLE MALT berharga ribuan dolar dari meja, dan dalam satu gerakan cepat.

BRAK!!

Botol itu pecah menghantam kepala Miguel.

Darah bercampur cairan alkohol mengucur, membuat Miguel terhuyung. Ia bahkan belum sempat berdiri ketika Calvin, dengan tatapan mata seperti singa yang memburu mangsanya, menggenggam leher baju Miguel, menariknya mendekat.

"Aku bukan datang untuk minum dan tertawa. Tapi aku kesini untuk mengirimmu ke neraka," Suaranya serak namun penuh dendam dan kemarahan.

Tanpa rasa ragu. Ia mengangkat pecahan botol yang masih dalam genggamannya, lalu gerigi tajamnya menusuk.

CRESSS!!

Menembus dalam ke dada Miguel. SATU KALI--DUA KALI sampai TIGA KALI, darah kental membanjiri sofa kulit dan lantai marmar ruang VIP room itu. jeritan samar terdengar. Namun dentuman keras suara musik menelan semuanya.

Miguel terkulai, matanya terbelalak, seolah terkejut menyaksikan kengerian yang di alaminya sendiri malam itu. Nafasnya tersengal-sengal sebelum akhirnya berhenti selamanya. Bau alkohol bercampur amis darah memenuhi udara.

Calvin berdiri, dadanya naik turun, memandang tubuh tak bernyawa itu tanpa sedikitpun rasa penyesalan. Di sekelilingnya, beberapa orang mulai menyadari apa yang terjadi. Ada yang menjerit, ada yang mundur dengan wajah pucat.

Bagi Calvin, malam itu bukan hanya pembalasan dendam. Malam itu adalah malam keadilan... yang harus dibayar dengan darah.

Cahaya lampu strob yang berkedip-kedip di langit-langit membuat pemandangan itu terasa seperti mimpi buruk yang terpotong-potong. Darah di sofa VIP mengkilap setiap kali sinar cahaya neon mengenainya, membentuk kilauan merah yang anehnya terlihat indah--namun menebar aroma mengerikan.

Calvin masih berdiri tegak, napasnya tampak tenang, namun jemarinya bergetar menggenggam pecahan botol yang kini sudah tumpul basah oleh merahnya darah. musik DJ dengan irama disco yang terus berdentum terasa seperti nada detak jantungnya sendiri, menghantam dada dari dalam.

Beberapa pengunjung berteriak, sebagian terpaku, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi dalam suasana gemerlap malam itu. Apakah semua itu nyata atau hanya bagian atraksi malam yang mencekam. Seorang pelayan wanita menjatuhkan nampan koktail, kaca-kaca pecah berhamburan di lantai.

Dua pengawal klub malam yang berdiri tak jauh dari pintu VIP segera bergerak cepat. Salah satunya berusaha meraih Calvin dari belakang, tapi dengan refleks seorang petarung hebat, Calvin memutar badan, menghantamkan sikunya tepat ke rahang pengawal itu hingga tersungkur dan ambruk. Pengawal kedua maju, namun Calvin langsung menendang meja ke arahnya, membuat pria itu kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke lantai.

Kepala Miguel terkulai di sandaran sofa, matanya masih terbuka lebar namun kosong. Alkohol mahal terlihat menetes di rambut ikalnya, bercampur darah yang terus meresap turun mewarnai jas mewahnya. Bagi Calvin, pemandangan itu adalah jawaban dari semua luka yang pernah ia tanggung sejak kepergian Nadya.

Sirene samar terdengar dari kejauhan, menandakan seseorang sudah menghubungi polisi. Calvin meletakkan pecahan botol itu di atas meja, seolah mengembalikan benda yang telah menjalankan misi terakhirnya. Tanpa terburu-buru, ia melangkah melewati kerumunan yang membuka jalan, sebagian orang melihat dengan rasa takut, dan sebagian karena terpaku pada sosok pria yang baru saja mengakhiri nyawa seseorang di depan mata mereka.

Saat keluar dari pintu klub malam, udara malam dingin menyambutnya. Calvin menarik napas panjang, merasakan beban di dadanya sedikit berkurang, meski ia sadar bahwa perburuan berikutnya akan dimulai.

Dengan langkah cepat, Calvin menaiki motor sportnya. Lampu-lampu neon kota berpendar di kaca helem Calvin, ketika ia menyalakan motor sport hitamnya. Raungan mesin menggema memecah malam. Di arah belakang, suara sirene polisi meraung semakin dekat. Mereka mengetahui bahwa pembunuhan brutal telah terjadi di club malam, dan Calvin adalah sang pelaku utama.

Dengan kecepatan penuh, ia melesat membelah jalan raya, memotong setiap kendaraan yang menghalangi. Angin malam menampar wajahnya, tetapi pikirannya fokus hanya pada satu hal: lolos atau mati. Rasa sakit kehilangan Nadya dan darah Miguel di tangannya--membuat adrenalin mengalir lebih deras dari sebelumnya.

Polisi semakin agresif, beberapa mobil mencoba memblokir jalan. Calvin memelintir gas hingga jarum spidometer menembus batas, motor meliuk tajam nyaris bersentuhan dengan aspal. Dentuman peluru mendesing, memantul di bodi motor. Jalanan mulai menurun menuju arah pelabuhan, dan di sanalah ia melihat kesempatan terakhirnya.

Sebuah dermaga di ujung jalur terlihat samar, diapit laut yang berkilau di terpa cahaya bulan. Calvin menurunkan gigi, kecepatan semakin gila. Polisi menjerit lewat pengeras suara memintanya untuk menyerah. Tapi ia hanya tersenyum dari balik Helem, senyum getir yang menyimpan kemarahan dan kebebasan.

Roda depan motor menginjak papan dermaga yang rapuh, suara kayu berderak keras. Lalu, tanpa rasa ragu, ia memacu motor hingga ujung dermaga--dan melompat. Dalam sepersekian detik, tubuh Calvin dan motornya melayang ke udara, seperti peluru yang melesat cepat. Angin malam menusuk, suara sirene memudar dari arah belakang.

Cahaya lampu jalan berubah menjadi gelap pekat ketika Calvin dengan motornya menghantam air laut dengan hentakan keras. Ombak menelan semuanya, hanya meninggalkan riak yang cepat menghilang dalam kegelapan samudra yang membentang luas.

Polisi yang tiba di dermaga hanya bisa menatap ke laut yang sunyi. Tak ada jejak Calvin. Tak ada motor. Hanya samudra yang kini menyimpan rahasia tentang ke mana sang pembalas dendam itu menghilang.

LAUT ADALAH RAHASIA YANG TAK PERNAH SEPENUHNYA TERUNGKAP. MENYIMPAN BERIBU KISAH SUKA ATAUPUN DUKA. OMBAKNYA SELALU BERBISIK TENTANG JIWA-JIWA YANG HILANG. ANGINNYA MEMBAWA PESAN YANG TAK PERNAH SAMPAI KEPERMUKAAN.

DI BIRUNYA SAMUDRA, ADA BERIBU JANJI YANG TELAH TERKUBUR, DAN DI SETIAP DEBUR OMBAK YANG MENGHEMPAS KARANG, TERDENGAR PANGGILAN UNTUK MEREKA KEMBALI ATAU PERGI TANPA KEMBALI.

*****

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Badai Sang Pemberani   095. Suasana Penuh Cinta

    Sebulan telah berlalu sejak semua badai itu mereda. Kota kini kembali menjadi tenang. Kehidupan perlahan berjalan seperti semula. Namun di hati Badai dan Valeri, gema dari perjalanan panjang, pertarungan nyawa, dan persahabatan yang tumbuh tak akan pernah hilang. Hari itu, langit sore Jakarta begitu cerah, dihiasi semburat jingga yang hangat. Di pusat kota, sebuah kafe kecil bergaya Eropa berdiri anggun di sudut jalan, dengan jendela kaca yang memantulkan cahaya senja. Aroma kopi dan kue manis berpadu menciptakan rasa damai yang sempurna. Badai duduk di sudut dekat jendela, mengenakan kemeja putih dan jas biru muda sederhana..Wajah tampannya terlihat tegas, namun ada kegugupan yang tak biasa yang tak mampu disembunyikan. Pintu kafe terbuka pelan. Valeri melangkah masuk dengan balutan gaun merah muda yang menawan, rambutnya terurai lembut, dan senyum manis langsung membuat hati Badai bergetar. Tatapan mereka bertemu, dan waktu seperti berhenti sesaat. "Maaaaf, aku sedikit terlambat

  • Badai Sang Pemberani   094. Kembali Ke Tanah Air

    Langit Jakarta sore itu berwarna jingga keemasan ketika roda pesawat khusus yang membawa Badai Lesmana, Valerie Marcel, Mellisa, Nilam dan dua perwira tinggi kepolisian, menyentuh landasan. Suara deru mesin terasa seperti menghapus semua kepenatan perjalanan panjang yang mereka tempuh dari Mumbai. Di balik pintu kaca bandara, beberapa wajah penuh rindu tampak gelisah. Hilda, Rayhan, dan beberapa teman kuliah Valeri berdiri sambil memegang buket bunga dan poster bertuliskan "Welcome Back Valeri!" Wajah mereka berseri-seri walau sedikit sembap bekas tangis bahagia. Tak jauh dari sana, Badai juga telah dinanti Pak Hendra dan Ibu Lestari - orang tua angkatnya yang sederhana namun penuh cinta. Hilda dan Faisal, adik-adik Badai, ikut berdiri sambil menatap penuh harap ke arah landasan. Ketika pintu pesawat terbuka, udara Jakarta yang hangat menyapa mereka. Badai, melangkah turun lebih dulu dengan langkah mantap, meski ada bekas perban di bahu kirinya. Valeri menyusul di belakang, sen

  • Badai Sang Pemberani   093. Pertemuan dan Sahabat

    Tiga hari telah berlalu sejak malam penuh darah dan peluru itu. Senja Mumbai kini terasa hangat, seakan kota ini ikut merayakan hadirnya babak baru setelah badai panjang.Ballroom megah di pusat kota dipenuhi tamu-tamu penting, diplomat, pejabat tinggi, hingga awak media yang menunggu momen bersejarah malam itu.Badai dan Valeri hadir dengan pakaian formal elegan. Luka-luka mereka belum pulih sepenuhnya, namun sorot mata keduanya sudah kembali tajam - bukan lagi sebagai buronan, tetapi sebagai pahlawan yang diakui oleh dua negara.Di sudut ruangan , Mellisa berdiri bersama Nilam, wajahnya penuh haru saat melihat putrinya kini menjadi simbol keberanian.Acara dimulai dengan pidato penuh wibawa dari Kepala Menteri Maharashtra, Vinod Kapor. Suaranya mantap, tapi ada getaran emosi yang tak bisa ia sembunyikan."Malam ini, kita bukan hanya merayakan keberhasilan membongkar sindikat yang mengancam negara ini. Kita juga memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada seorang sahabat... Ashok

  • Badai Sang Pemberani   092. Akhir Kejahatan

    Tiba-tiba suara langkah kaki cepat terdengar. Valeri muncul dari sisi kontainer dengan pistol teracung."Waktumu berakhir disini, Dinesh. Jangan coba-coba melarikan diri."Dinesh memutar tubuh, menembakkan pelurunya secara liar. Peluru menghantam tiang besi, memercikkan api. Valeri melompat ke arah samping, berguling, dan melesatkan dua peluru yang mengenai lengan Dinesh, membuat senjatanya terlepas.Dinesh mengerang, tapi sebelum sempat bergerak, Sunil Khan muncul dari sisi lain. "Kau tidak punya jalan untuk lolos dari hukum, Dinesh!"Putus asa, Dinesh berlari sambil menyerang Sunil Khan dengan tinju keras. Mereka bertarung sengit di tepi dermaga - pukulan, tendangan, hingga kepala Dinesh nyaris menghantam pagar besi.Sunil yang terluka sempat terdesak, tapi Valeri dengan gerakan cepat menendang punggung Dinesh, menjatuhkannya ke lantai kayu dermaga.Dinesh berusaha meraih pisau di ikat pinggangnya, namun kaki Valeri sudah lebih cepat, , menendang pisau itu jatuh ke laut. Dalam hitu

  • Badai Sang Pemberani   091. Serbuan Terakhir

    Badai dan Valeri menyerbu masuk, senjata terarah pada tiga sosok di ujung ruangan: Manoj Shetty, Dinesh Verma, dan Rakit Sharma yang pucat ketakutan.Manoj menggenggam pistol, matanya merah penuh kebencian. Dinesh, dengan darah menetes di pelipisnya, menatap Badai dan Valeri dengan amarah membara."Kalian..."desis Dinesh. "Buronan sialan! Kalian pikir sudah menang?"Badai menarik napas panjang. "Tidak ada yang menang malam ini, Dinesh. Semua tentang keadilan dan kebenaran sesungguhnya."Manoj mengangkat pistol nya, tapi Valeri lebih cepat.Bang!Tembakannya mengenai senjata Manoj, membuat pistol itu terlempar.Sunil Khan masuk bersama beberapa polisi, mengepung ruangan. "Turunkan senjata kalian! Ini perintah!"Namun Manoj hanya tertawa, gila."Kalian pikir ini sudah selesai? Lihat saja permainan selanjutnya!""BUNUH MEREKA!!" teriak Manoj Shetty. wajahnya dipenuhi kebencian. Dinesh dan Rakit, sudah dalam posisi bertahan, senjata serbu di tangan mereka meluncurkan rentetan peluru mema

  • Badai Sang Pemberani   090. Starategi Bukan Sekedar Misi

    Seminggu setelah Tewasnya Dorna Dee dalam Pertarungan di Dermaga.Di sebuah gedung tua di pinggiran Mumbai, Manoj Shetty duduk di kursi kulit yang tampak lusuh namun masih menyisakan aroma cerutu mahal. Asap rokok memenuhi ruangan, menari di bawah cahaya lampu redup yang menggantung. Di depannya, Dinesh Verma mondar-mandir gelisah, sementara Rakit Sharma, asisten pribadi Vinod Kapor yang berkhianat duduk dengan wajah pucat pasi."Situasi kita semakin buruk," Dinesh membuka suara dengan nada geram. "Alvaro dan Desi sudah tertangkap di Jakarta. Vinod Kapor berhasil diselamatkan. Sekarang pemerintah pusat turun tangan langsung. Kita sudah jadi buronan."Rakit angkat bicara dengan suara gemetar, "Tapi... Polisi sudah menemukan beberapa gudang senjata kita. Mereka akan menyerang markas ini kapan saja. Kita harus keluar dari India."Manoj menatapnya tajam hingga Rakit tak berani menatap balik. "Keluar? Tidak. Aku tidak akan lari seperti pengecut. Kita hancurkan mereka dulu sebelum mereka sa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status