共有

Bab 4

作者: Cocojam
Dalam kesadaran yang kabur, aku mendengar suara Alex semakin mendekat.

Apakah dia mengenali kalung itu? Apakah akhirnya dia mengenaliku?

Secercah harapan kecil kembali menyala.

"Jauhkan tandu itu dari Nadira." Suara Alex begitu dingin hingga menghancurkan hatiku.

"Darah wanita itu bisa menodai gaunnya."

Tentu saja .... Seharusnya aku tidak pernah berharap.

Dia tidak mengenaliku. Dia hanya mengkhawatirkan gaun seorang wanita.

"Lewat pintu servis saja," kata Nadira sambil menutup hidungnya dengan wajah penuh rasa jijik. "Bau darahnya memuakkan."

Para petugas medis terpaksa mendorong ranjangku menuju lorong yang gelap dan sempit.

Kegelapan menelanku.

Obat bius meredam rasa sakit fisik, tetapi sesuatu di dalam diriku sudah hancur.

Tidak ada masa depan lagi untukku dan Alex.

Aku teringat malam-malam penuh cinta, dia memelukku di balkon sambil memandangi langit.

"Valentina, aku akan memberimu hidup yang paling indah. Anak kita akan tumbuh dikelilingi cinta."

"Aku akan menjadi suami dan ayah terbaik di dunia."

Semua mimpi dan janji lembut itu berakhir saat anak kami dikeluarkan dari rahimku dan tidak lagi bersuara.

Ambulans melaju menjauh dari dermaga. Lampu depan yang menyilaukan datang dari arah berlawanan.

Rombongan mobil menghalangi jalan kami.

Itu iring-iringan mobil Alex.

Ambulans terpaksa berhenti. Sopir menurunkan jendela.

"Biarkan kami lewat! Ada pasien bersalin yang sekarat di dalam!"

"Istriku akan melahirkan," geram Alex dengan wajah penuh amarah. "Minggir dari jalanku."

Suara benturan keras menggema.

Mobil Alex menabrak ambulans, dan memaksanya terseret ke samping.

Guncangan keras itu membangunkanku dari kesadaranku yang samar. Darah kembali mengucur dari lukaku.

Dengan sisa tenagaku, aku berteriak dari jendela, "Istrimu sudah sekarat!"

Alex mendengarku dan wajahnya semakin dipenuhi amarah.

"Sialan! Pembunuh itu berani-beraninya memakai suara istriku untuk bicara soal kematian! Sudah kubilang, Valentina melahirkan hari ini! Semua harus memberi jalan untuk istriku!"

Suaranya menggema di malam hari, kembali menusuk hatiku yang sudah mati rasa.

"Pembunuh ini sudah berkali-kali menyamar sebagai Valentina!" teriak Nadira dari kursi penumpang. "Menjijikkan!"

"Kepung ambulans itu! Jangan biarkan dia membuat masalah lagi!"

Beberapa mobil hitam mengepung ambulans sementara para pengawal bersenjata turun.

"Ayo, Alex!" desak Nadira. "Rumah sakit masih jauh!"

Rombongan mobil Alex pun melaju pergi, meninggalkan ambulans kami yang sendirian dalam kepungan.

Aku terbaring di ranjang, darah terus mengalir, dan hidupku perlahan memudar.

"Semoga Tuhan menolongmu, Nak," kata dokter sambil menggelengkan kepala. "Kamu bukan cuma membuat iblis marah. Kamu menikah dengannya."

Aku memejamkan mata dengan senyum pahit.

Ya. Aku bukan hanya membuat iblis marah. Aku menikah dengannya.

Jika Alex tahu yang terbaring di sini adalah aku, apakah dia akan menyesal? Atau dia hanya akan menganggap aku pantas mendapatkannya?

Setengah jam kemudian, para pengawal yang mengepung kami menerima perintah mendesak.

"Mundur! Kita punya misi yang lebih penting!"

Mereka pun menghilang dalam malam.

Ambulans akhirnya melaju menuju rumah sakit, dan lampu daruratnya berkedip merah menyilaukan.

"Cepat! Bawa dia ke ruang operasi!"

Para perawat berlarian keluar.

Saat ranjangku hampir memasuki ruang gawat darurat, kami kembali berpapasan dengan Alex.

Dia berdiri di lorong, wajahnya penuh kecemasan.

"Sialan," umpatnya. "Pembunuh jalang ini lagi? Singkirkan dia dari hadapanku."

Aku samar-samar mendengar kata-katanya, lalu benar-benar kehilangan kesadaran.

"Siapa yang memberiku informasi salah?!" teriak Alex pada wakilnya. "Mengirimku ke rumah sakit yang salah! Kamu yakin Valentina ada di sini? Dia sudah masuk ruang operasi?"

Wakilnya gugup menatap ponsel.

"Ya, Bos! Informan memastikan dia dibawa ke sini! Tapi kami belum dapat nomor ruang operasinya!"

"Aku mau tim medis terbaik untuk persalinan Valentina!" Alex mondar-mandir dengan gelisah. "Tidak boleh ada yang salah!"

Para perawat mendorongku masuk ke ruang operasi. Baik Alex maupun wakilnya sama sekali tidak memperhatikan.

Bagi mereka, aku hanyalah pembunuh sialan.

Wakilnya terus menelepon untuk memastikan.

"Nomor ruang operasinya berapa!"

"Kenapa aku tidak bisa menghubungi dokter utamanya!"

Menit demi menit berlalu. Alex semakin tidak sabar.

"Masih belum ada kabar?!"

Dia hampir saja menganggap itu sebagai petunjuk palsu lagi dan pergi.

Saat kesabarannya benar-benar habis, wakilnya tiba-tiba menunjuk ke ruang operasi tempat aku baru saja didorong masuk.

Tangannya gemetar.

"Bos … ruang operasi ini .…"

Kepala Alex terangkat cepat. Lampu di atas pintu ruang operasi berkedip beberapa kali.

Lalu padam.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 10

    Sudut pandang Valentina.Alex hanya menatapku.Lalu, dia perlahan mengeluarkan pistol dari pinggangnya.Dia memeriksa slot peluru. Enam peluru, semuanya terisi."Kamu ingin aku mati, kan?" tanyanya pelan.Bahunya merosot dan tampak menyerah. "Baiklah, Valentina," bisiknya. "Oke."Dia meletakkan pistol itu di tanganku yang hancur. Logam dingin itu membuat tubuhku merinding."Lakukan saja, Valentina," katanya, berlutut di depanku dan menempelkan ujung pistol ke dadanya sendiri. "Akhiri. Akhiri rasa sakitku, dan akhiri penderitaanmu."Aku menatap pistol di tanganku.Sangat mudah.Cukup menekan pelatuk, lalu pria yang menghancurkan hidupku akan hilang.Anakku akan tenang. Sakitku akan berakhir.Tapi aku tidak bergerak.Bukan karena aku masih mencintainya.Tapi membiarkannya mati begitu saja rasanya terlalu mudah."Kamu pikir mati bisa menebus dosa-dosamu?" tanyaku dengan suaraku yang dingin. "Kamu pikir satu peluru bisa menebus nyawa anak kita?"Rasa sakit muncul di mata Alex."Lalu apa ya

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 9

    Sudut pandang Valentina."Kamu masih dalam pemulihan. Nanti kalau sudah lebih kuat, aku akan membawamu ke pemakaman."Alex berbicara hati-hati, seperti berbicara pada boneka porselen yang bisa pecah kapan saja. "Anak kita … aku sudah buatkan batu nisannya yang terbaik. Marmer putih, dan .…""Aku ingin cerai."Aku memotong ucapannya.Alex terpaku, seakan tersambar petir. "Valentina, kamu baru bangun. Jangan bilang hal-hal seperti itu .…""Aku mau surat cerainya ada di mejaku besok," lanjutku. "Dan jangan sentuh aku lagi."Aku pun menundukkan pandangan ke tanganku.Jari-jari panjang dan elegan itu sekarang tertekuk dalam bentuk yang tidak wajar.Bekas luka ungu melintang di kulit.Tangan ini tidak akan bisa main cello lagi.Tidak akan bisa mengelus wajah anakku.Tapi aku tidak menangis. Tidak merasa putus asa. Bahkan tidak merasa marah.Aku hanya … kosong."Valentina, tolong, biarkan aku jelaskan .…" Alex berlutut di samping tempat tidurku.Bos besar yang ditakuti kini berlutut seperti

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 8

    Sudut pandang Valentina.Kegelapan.Kegelapan yang tidak berujung dan menyesakkan.Setelah jantungku mulai berdetak lagi, aku merasa seperti melayang di kehampaan, tidak sepenuhnya hidup, tapi juga tidak mati.Kadang aku bisa mendengar suara Alex, penuh isak putus asa dan pengakuan.Tapi aku tidak bisa kembali.Valentina yang mencintainya sudah mati.Valentina telah mati di bawah hujan di dermaga. Mati karena perburuan yang dia sendiri perintahkan.Mati saat tangisan bayi kami dibungkam.Aku lalu mendengar langkah kaki pelan. Seseorang masuk ke ruangan.Bukan Alex.Langkah orang ini ringan, tapi dipenuhi kebencian."Lucu, kan?" Suara Nadira menggema di ruangan penuh kecemburuan. "Bos besar Valenusa, begitu setia pada sesuatu yang tidak penting. Dia bahkan mengumumkan perang pada keluargaku karena kamu."Aku mendengar dia mendekati tempat tidur.Aku bisa merasakan tatapan penuh kebenciannya yang menempel padaku."Dia sudah tiga hari tidak tidur," bisiknya. "Dia memenuhi ruangan ini deng

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 7

    Sudut pandang Alex."Semua keluar!" teriak dokter, mendorong kerumunan menjauh. "Pasien butuh lingkungan steril! Kosongkan ruangan sekarang!"Aku ditarik keluar dari ruang operasi.Aku pun menempelkan diri pada pintu, berusaha mati-matian melihat lewat jendela kaca kecil.Aku melihat mereka menangani Valentina dan menyambungkannya ke labirin mesin.Wajahnya tampak pucat ....Setengah jam kemudian, pintu ruang operasi akhirnya terbuka.Dokter keluar, kelelahan, dan melepas sarung tangan berlumuran darah.Aku berlari mendekatinya."Bagaimana kondisinya? Bagaimana Valentina?""Kami berhasil mengembalikannya," kata dokter dengan berat. "Tapi .…""Tapi apa?" Aku menggenggam bahunya."Karena kehilangan darah berkepanjangan, trauma emosional parah, dan kurangnya oksigen ke otak .…" Dokter menghela napas. "Dia mungkin akan berada dalam keadaan vegetatif."Kata-kata itu menghantamku seperti pukulan.Keadaan vegetatif ...."Apa ada harapan dia akan sadar?" tanyaku dengan suara bergetar."Sangat

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 6

    Alex mengangkat salib perak itu, tangannya bergetar tak terkendali.Tulisan [Cintaku yang abadi] berkilau di bawah cahaya lampu.Tanda janji untuk melindungiku seumur hidup kini menjadi saksi kejahatan yang telah dia lakukan.Nadira mencoba menenangkannya."Alex … aku tahu kamu sedih, tapi Valentina .…""Menjauh darinya!"Alex mengaum dan mendorong Nadira dengan kekuatan penuh amarah.Nadira terhantam ke dinding, lalu mengerang kesakitan."Jangan berani mendekatinya!" teriak Alex. "Jangan sentuh dia!"Dia menarik pistol dari pinggangnya, larasnya mengarah tepat ke kepala dokter."Kamu lihat rumah sakit ini?" Suara Alex rendah menggeram, pistol tetap menempel di pelipis dokter. "Kalau dia tidak keluar dari sini hidup-hidup, aku akan membakar rumah sakit ini. Denganmu di dalamnya. Sekarang, selamatkan dia."Dokter gemetar ketakutan dari ujung kaki hingga ujung kepala."Tu … Tuan, dia … dia sudah …. Jantungnya berhenti lebih dari sepuluh menit .…""Maka temukan cara untuk membuatnya berde

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 5

    Rasa sakit itu akhirnya berakhir.Aku sadar aku pasti sudah mati.Rasa nyeri yang merobek perut, dan jeritan putus asa, semuanya lenyap saat jantungku berhenti berdetak.Jiwaku melayang di udara, menatap tubuhku sendiri di atas meja operasi.Berantakan.Gaun putihku tercabik, basah oleh hujan dan darah. Bekas gigitan anjing di pergelangan kakiku menjadi daging yang koyak dan terbuka.Luka terbuka di perutku tampak mengerikan.Tapi yang paling menyakitkan adalah tanganku.Jari-jari yang dulu panjang dan anggun kini membiru dan tertekuk, tulangnya menonjol di balik kulit.Inilah tangan yang selalu aku banggakan.Tangan yang memainkan cello.Tangan yang dibiarkan suamiku hancurkan."Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan," kata dokter sambil menggeleng. "Coba lihat apakah keluarganya sudah datang."Baru saja seorang perawat hendak keluar, pintu ditendang hingga terbuka.Alex menerobos masuk, wajahnya diliputi amarah dan ketidakpercayaan."Ini bukan Valentina!" teriaknya dengan suara pecah.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status