LOGINDi suatu malam, suamiku tiba-tiba mengigau dalam tidurnya. "Anakku sayang, besok Papa akan bawa kamu dan Mama ke rumah baru." Padahal kami selalu pakai pengaman. Jadi, dari mana anak itu muncul? Aku pun membuka ponselnya. Di sana ada riwayat transfer uang ke wanita lain, dihabiskan untuk segala macam kemewahan dan sebuah rumah. Album fotonya penuh dengan gambar wanita itu yang mengenakan pakaian penari telanjang yang minim, dengan perut yang sedikit membuncit. Foto terakhir adalah hasil USG. Sepertinya sudah empat bulan. Aku tidak mengeluarkan suara apa pun. Hanya menyimpan semua buktinya. Sebentar lagi mereka akan belajar, sebesar apa akibat yang akan ditanggung karena mengkhianati seorang putri mafia.
View MoreAku duduk di bangku taman sekolah, menikmati sejuknya udara pagi. Tiba-tiba, bayangan-bayangan gelap muncul, menutupi sinar matahari. Razik, Ojan, Febri, dan Teddy. Mereka datang, dan aku tahu hari ini tidak akan menjadi hari yang baik.
"Apa yang kau lihat?" kata Razik, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Kau pikir kau bisa melarikan diri dari kami?" Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk, mencoba menyembunyikan rasa takutku. Tapi mereka tidak peduli mereka terus mengejekku, menertawaiku, dan menghina orang tuaku. Aku merasa sakit, dan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan mereka. Aku membeku di tempatku, tak bisa bergerak, tak bisa berucap. Kata-kata mereka terasa seperti batu yang dilemparkan ke dadaku. Razik menendang tas punggungku hingga isinya berhamburan. Teddy menertawakan buku-buku yang jatuh. Ojan dan Febri mendorongku sampai aku tersungkur di tanah. Mereka menertawakanku, melihatku yang tak berdaya. Aku merasa begitu kecil dan tak berguna. Aku menutup mata, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun, saat aku membuka mata, aku tidak lagi melihat mereka sebagai monster. Aku melihat mereka sebagai orang-orang bodoh yang tidak punya hati. Rasa sakit yang kurasakan berubah menjadi kemarahan. Aku tahu, aku tidak bisa melawan mereka, tapi aku tidak akan membiarkan mereka mengalahkan ku. Aku bangkit, mengambil buku-buku yang berserakan lalu berjalan menjauh. Mereka menertawakan ku, mengira aku menyerah tapi mereka salah, aku tidak menyerah aku hanya mundur, dan aku tidak akan pernah kembali. Aku masuk ke ruang kelas dan duduk di bangku ku. Napasku masih memburu, tapi aku berusaha terlihat tenang, aku mengeluarkan buku dan alat tulisku mencoba mengabaikan tatapan sinis dari Razik dan teman-temannya. Bel berbunyi, dan guru pun masuk. Pelajaran pun dimulai. Aku merasa lega. Setidaknya, untuk sementara waktu aku aman dari mereka. Mereka tidak akan berani melakukan apa pun di depan guru. Aku tahu, ini hanya sementara setelah pelajaran selesai, mereka akan kembali. Tapi aku tidak akan menyerah, aku akan menemukan cara untuk melawan mereka tanpa harus berhadapan langsung. Bel istirahat berbunyi nyaring seperti yang kuduga, itu adalah aba-aba bagi mereka untuk melanjutkan teror. Aku melihat mereka berdiri dengan senyum mengejek di wajah mereka, bersiap menghampiriku. "Sekarang, tidak ada guru," bisik Razik. "Mau lari kemana kau?" Aku tidak menjawab aku menunduk, pura-pura membereskan buku-buku ku, mencoba mengulur waktu. Jantungku berdebar kencang aku tahu, jika aku tidak melakukan sesuatu, ini akan menjadi mimpi buruk. Pikiranku berputar cepat aku harus melakukan sesuatu. Apakah aku akan lari ke guru bimbingan konseling? Atau aku akan mencari bantuan dari teman-temanku? Tapi siapa yang mau membantu anak lemah sepertiku? Tidak, aku tidak bisa lari. Itu hanya akan membuat mereka semakin kuat, aku harus melawan mereka, tapi bagaimana? Mereka mengelilingiku, masing-masing melontarkan kata-kata yang menusuk hati. "Dasar lemah!" ejek Razik. "Beraninya cuma di kelas!" timpal Febri. Sementara Ojan dan Teddy menepuk-nepuk pundakku dengan keras, seolah aku adalah boneka mereka. Aku mencoba menahan diri, tapi rasanya seperti ada gunung berapi di dalam dadaku yang siap meletus. Setiap sentuhan, setiap kata, membuatku semakin tertekan. Aku mengepalkan tanganku, kukunya menusuk telapak tanganku sendiri. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku berdiri tegak aku tidak lagi menunduk, aku menatap mata Razik. Keheningan menyelimuti ruangan mereka terkejut, mereka tidak menyangka aku akan berani menatap mereka. Wajah Razik berubah menjadi marah ia melangkah maju, siap untuk melayangkan pukulan. Tapi aku tidak peduli aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, aku hanya ingin membebaskan diri dari mereka. Razik menatapku dengan mata penuh amarah, namun wajahnya tetap menampilkan senyum sombong. Ia melangkah mendekat, tubuhnya yang lebih besar membuatku merasa kecil. "Kenapa diam?" bisiknya, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Kau mau bilang apa? Mau mengadu pada guru? Ayolah, katakan sesuatu!" Aku hanya bisa terdiam. Aku ingin membalasnya, aku ingin mengatakan bahwa aku tidak akan menyerah. Tapi suaraku tidak mau keluar, aku hanya bisa menatap matanya dan di matanya aku melihat bayangan diriku yang penuh amarah. Aku tak tahan lagi, aku sudah muak, aku tak mau lagi hidup dalam ketakutan. Aku melayangkan tinjuku sekuat tenaga, wajah sombong Razik yang semula penuh ejekan berubah menjadi terkejut. Pukulan ku mendarat di wajahnya, membuat ia terhuyung mundur. "Jangan pernah sentuh aku lagi!" teriakku, suaraku serak dan penuh amarah. "Atau akan kubun*h kalian semua!" Keempatnya terdiam mereka tak menyangka aku akan melawannya. Mata mereka kini dipenuhi rasa takut dan aku tahu, aku telah menang. Sejenak, ada keheningan. Wajah mereka yang terkejut membuatku merasa menang. Tapi itu hanya berlangsung sepersekian detik. Tiba-tiba, senyum-senyum mengerikan muncul di bibir mereka. "Ohhh, dia berani juga ya," kata Razik sambil menyeka darah dari sudut bibirnya. Matanya menyala penuh amarah, bukan ketakutan. "Bagus. Aku suka anak yang berani." "Habisi dia!" teriak Teddy. Mereka berempat maju serentak pukulan dan tendangan datang dari segala arah. Aku mencoba melawan, tapi aku kalah jumlah dan kekuatan aku jatuh terhuyung, mencoba melindungi wajahku, tapi mereka terus menghajarku. Aku merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku hanya bisa meringkuk di lantai, menerima setiap pukulan rasa sakit ini, rasa takut ini, semuanya terlalu nyata. Mereka tidak peduli jika aku terluka, atau bahkan jika aku m*ti. Aku merasa kalah semua keberanianku menguap, digantikan oleh keputusasaan. Aku tidak bisa mengalahkan mereka, aku terlalu lemah. Tiba-tiba, suara bel sekolah berbunyi, menandakan jam istirahat telah berakhir. Mereka berhenti lalu pergi, meninggalkan aku tergeletak di lantai. Aku mencoba bangkit, tapi tubuhku terasa terlalu sakit. Sisa jam pelajaran terasa kabur aku hanya duduk di bangku, mencoba mengabaikan sakit di sekujur tubuhku dan pandangan sinis dari Razik dan teman-temannya. Aku tidak bisa berkonsentrasi, pikiranku terus kembali ke momen di mana aku dikeroyok. Bel pulang berbunyi, dan semua orang berhamburan keluar. Aku berjalan perlahan, mencoba menyembunyikan luka-lukaku. Aku tidak tahu harus ke mana, aku takut jika mereka kembali menghajarku.Pintu ruang rapat terbuka menghantam dinding dan Carmen terhuyung masuk. Wajahnya pucat pasi, matanya dipenuhi air mata dan amarah. Di tangannya, dia mencengkeram sebuah laporan medis."Bella! Dasar monster!" Dia menjerit, suaranya pecah oleh keputusasaan. "Gimana kamu bisa melakukan ini padaku?"Vincent menatapnya dengan kaget. "Carmen? Gimana kamu ....""Laporan genetik itu!" Carmen membanting kertas-kertas itu ke lantai. "Aku pergi ke rumah sakit, Vincent! Laporannya palsu! Dipalsukan! Nggak ada yang salah dengan bayi kita!"Seluruh ruangan itu langsung sunyi. Sunyi yang mematikan.Aku menoleh ke arahnya, senyum dingin perlahan merekah di wajahku. "Sepertinya akhirnya kamu menyadarinya.""Ini ulahmu!" Carmen menunjukku dengan jari gemetar. "Kamu memalsukan laporan itu! Kamu sengaja menjebak Vincent!""Benar." Aku mengaku tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Semuanya adalah sandiwara. Sebuah ujian, untuk melihat pria seperti apa Vincent sebenarnya."Vincent menatap kami bergantian, waja
Ruang makan dipenuhi cahaya lilin dan aroma hidangan yang disiapkan Vincent dengan begitu hati-hati. Dia mengenakan setelan terbaiknya, senyum memohon yang menyedihkan terpampang di wajahnya. Tak akan ada yang menyangka pria ini adalah bajingan dingin yang baru kemarin menelantarkan anaknya sendiri."Bella sayang." Dia menarikkan kursi untukku, kepura-puraan ksatria yang murahan. "Kurasa kita perlu bicara."Aku duduk, mengamatinya mondar-mandir mengurusi meja. Bodoh sekali. Dia benar-benar mengira semuanya sudah terkendali, bahwa krisis ini telah berlalu."Kamu kelihatan puas sekali, Vincent," kataku sambil meneguk anggur sedikit. Suaraku datar."Tentu saja. Karena kita akhirnya bisa memulai dari awal." Dia duduk di depanku, tampak kilatan licik di matanya. "Bella, aku harus jujur. Soal Carmen, aku akui, dia sempat memengaruhiku. Tahu nggak, seorang pria kadang tergoda oleh sesuatu yang baru?""Sesuatu yang baru?" Aku mengulanginya sambil tersenyum dingin."Iya, sesuatu yang baru. Kita
"Tes DNA? Untuk apa?" suara Vincent bergetar."Karena kamu meragukan siapa ayah bayi itu, biar sains yang memastikannya," kataku sambil menuntun Carmen duduk di sofa. "Ini yang terbaik. Untuk semua pihak."Sambil menghapus air mata, Carmen mengangguk. "Aku setuju. Aku akan membuktikan bayi ini anak Vincent!"Vincent sempat membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi. Menolak tes sekarang hanya akan membuatnya tampak semakin bersalah.Dokter Martin datang dengan cepat membawa peralatannya."Aku perlu sampel darah dan usapan bukal dari kalian berdua," jelasnya. "Hasilnya akan keluar besok."Sepanjang proses itu, Vincent terlihat kacau. Dia tahu bayi itu memang anaknya, yang berarti seluruh sandiwara yang dia mainkan sebentar lagi akan terbongkar."Kamu terlihat tegang, Vincent," kataku sambil menyerahkan segelas air. "Kalau bayi itu bukan anakmu, bukankah itu kabar baik?""Aku cuma nggak suka drama seperti ini," katanya dengan senyum lemah.Carmen menatapnya. Cinta di matanya mul
Di kamar Hotel Season.Carmen datang tepat waktu, mengenakan gaun hamil berwarna merah muda yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan perutnya yang semakin membesar. Dia terlihat gugup, jemarinya gelisah memainkan tas desainer di pangkuannya."Silakan duduk," kataku sambil memberi isyarat ke sofa di depanku."Bu Bella, terima kasih sudah bersedia menemuiku.""Panggil saja aku Bella. Lagian, kita berbagi pria yang sama, bukan?"Semua sikap sombong yang dia tunjukkan pada temannya lenyap seketika. Wajahnya memerah. "Aku tahu ini rumit, tapi aku mencintai Vincent, dan dia mencintaiku. Bayi kami adalah hasil dari cinta itu.""Cinta?" Aku terkekeh pelan. "Carmen, kamu tahu apa yang terjadi di kasino-kasino Vincent kemarin?"Dia menggeleng."Dia kehilangan semua perlindungan dan semua pendanaannya. Bisnisnya akan segera hancur. Bahkan kemungkinan besar dia nggak akan sanggup mempertahankan vila di Malaba itu."Wajah Carmen langsung pucat. "Itu nggak mungkin. Vincent bilang bisnisnya sedang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews