Share

Bab 3

Author: Cocojam
Pintu ruang interogasi ditendang hingga terbuka.

Alex menerobos masuk.

Genangan darah di bawah tubuhku semakin melebar, menodai seluruh kursi menjadi merah.

"Alex!" Aku meraih ke arahnya dengan tanganku yang sudah hancur.

Tapi Nadira cepat-cepat berdiri di antara kami.

"Jangan dekati dia!" teriaknya sambil mencengkeram lengan Alex. "Pembunuh ini sudah memahamimu dengan sangat baik!"

"Dia mungkin lakukan operasi plastik supaya mirip Valentina! Bahkan suaranya pun dia tiru!"

Alex berhenti.

"Kamu melindungi Valentina begitu ketat, mereka tahu itu titik lemahmu," desak Nadira. "Begitu kamu mendekat, mereka akan cari cara untuk membunuhmu!"

"Tidak!" Aku berteriak putus asa. "Aku Valentina! Aku istrimu!"

Nadira berbalik dan berjalan mendekat.

Tangannya mulai meraba-raba tubuhku.

"Benar seperti dugaanku!"

Dia menarik sebuah benda logam kecil dari pakaianku.

"Bom berpelat tekanan!"

Dia mengangkatnya tinggi-tinggi agar Alex bisa melihat.

Lalu dia menampar wajahku dengan keras.

"Pembunuh sialan! Berani-beraninya mau mencelakai pria milikku!"

Wajah Alex langsung berubah muram.

Dia memalingkan muka dengan jijik, seolah melihat sesuatu yang kotor.

"Bagaimana aku bisa tertipu trik seperti itu?"

"Mungkin bahkan tidak ada bayi di perutnya." Nadira berkata dengan nada penuh kebencian. "Atau mungkin bayinya sudah mati dan tubuhnya dipasangi bahan peledak. Kita harus membedahnya dan memastikan."

Kali ini, Alex tidak mengatakan apa pun.

Keheningannya berarti persetujuan.

"Dokter!" teriak Nadira.

Seorang dokter bermasker masuk, membawa pisau bedah dan anestesi.

"Tanpa anestesi." Nadira menghentikannya. "Aku mau dia tetap sadar."

Dokter itu ragu sesaat, lalu mengangguk.

Alex berbalik hendak pergi.

Tiba-tiba, ponselnya berdering.

"Bos?" Suara kepala pelayan terdengar dari seberang. "Nyonya menghilang dalam perjalanan ke gedung konser."

Alex tertawa.

"Hari ini jadwal persalinannya. Kemungkinan dia sudah masuk proses melahirkan dan dibawa ke rumah sakit."

Suaranya penuh kegembiraan dan antisipasi.

"Kosongkan semua toko perhiasan! Cari setiap dokter di kota ini! Temukan di rumah sakit mana istriku berada! Sekarang!"

"Aku akan jadi ayah!"

Dia segembira anak kecil.

Dia tidak menyadari bahwa di belakangnya, pisau bedah sudah mengiris perutku.

"Aaaargh!"

Rasa sakitnya hampir membuatku pingsan.

Dokter itu segera menyuntikkan adrenalin.

"Ini akan membuatmu tetap benar-benar sadar," gumamnya.

Pisau itu mengiris dalam ke perutku. Darah menyembur keluar.

Aku merasa nyawaku seperti terkuras sedikit demi sedikit.

Saat aku pikir aku akan mati, aku mendengarnya.

Tangisan bayi.

Lemah, tapi jelas.

Jantungku hampir berhenti berdetak.

"Bayiku!" Aku menjerit dengan sisa tenagaku. "Biarkan aku melihat bayiku!"

Tapi Nadira menutup mulut dan hidung bayi itu dengan tangannya.

Tangisannya berhenti.

Dia lalu melempar tubuh kecil itu ke dalam kantong sampah.

"Tidak ada yang perlu dilihat," ejeknya. "Terlambat. Bayinya tidak selamat saat dilahirkan."

Hatiku mati.

Air mataku mengering.

Jiwaku hancur.

Nadira mengeluarkan bom palsu yang sudah dia siapkan dan mengolesinya dengan darahku, lalu berlari keluar mencari Alex.

"Aku benar! Dia melahirkan bayi mati, dan dia memang dipasangi bom!"

Di luar pintu, Alex masih berbicara di telepon dan terdengar begitu gembira.

"Belikan Valentina perhiasan terbaik! Dan atur konser pribadi! Berikan apa pun yang dia mau!"

Apa pun yang dia mau?

Aku terbaring di meja operasi dan tertawa pahit.

Tidak ada lagi yang kuinginkan. Kisah kami sudah berakhir. Ditulis dengan darah.

Layar detak jantung di sebelahku berbunyi makin pelan dan makin melemah.

Suara Alex dan Nadira makin menjauh.

Aku pikir aku akan mati.

"Aku tidak bisa membiarkanmu mati begitu saja." Tiba-tiba dokter itu berbisik.

Dia memberiku suntikan obat bius.

"Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit."

Suara sirene semakin mendekat.

Saat mereka mendorongku keluar dari ruang interogasi, kesadaranku sudah mulai menghilang.

Tetesan hujan membasahi wajahku.

Lalu aku merasakan sesuatu yang dingin di leherku.

Kalung itu.

Yang baru saja diberikan Alex untuk ulang tahunku.

Di atasnya terukir tulisan: [Cintaku].

Cintaku? Betapa ironis.

Suara Alex yang keras dan tajam terdengar tepat ketika tandu hampir dinaikkan ke ambulans.

"Tunggu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 10

    Sudut pandang Valentina.Alex hanya menatapku.Lalu, dia perlahan mengeluarkan pistol dari pinggangnya.Dia memeriksa slot peluru. Enam peluru, semuanya terisi."Kamu ingin aku mati, kan?" tanyanya pelan.Bahunya merosot dan tampak menyerah. "Baiklah, Valentina," bisiknya. "Oke."Dia meletakkan pistol itu di tanganku yang hancur. Logam dingin itu membuat tubuhku merinding."Lakukan saja, Valentina," katanya, berlutut di depanku dan menempelkan ujung pistol ke dadanya sendiri. "Akhiri. Akhiri rasa sakitku, dan akhiri penderitaanmu."Aku menatap pistol di tanganku.Sangat mudah.Cukup menekan pelatuk, lalu pria yang menghancurkan hidupku akan hilang.Anakku akan tenang. Sakitku akan berakhir.Tapi aku tidak bergerak.Bukan karena aku masih mencintainya.Tapi membiarkannya mati begitu saja rasanya terlalu mudah."Kamu pikir mati bisa menebus dosa-dosamu?" tanyaku dengan suaraku yang dingin. "Kamu pikir satu peluru bisa menebus nyawa anak kita?"Rasa sakit muncul di mata Alex."Lalu apa ya

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 9

    Sudut pandang Valentina."Kamu masih dalam pemulihan. Nanti kalau sudah lebih kuat, aku akan membawamu ke pemakaman."Alex berbicara hati-hati, seperti berbicara pada boneka porselen yang bisa pecah kapan saja. "Anak kita … aku sudah buatkan batu nisannya yang terbaik. Marmer putih, dan .…""Aku ingin cerai."Aku memotong ucapannya.Alex terpaku, seakan tersambar petir. "Valentina, kamu baru bangun. Jangan bilang hal-hal seperti itu .…""Aku mau surat cerainya ada di mejaku besok," lanjutku. "Dan jangan sentuh aku lagi."Aku pun menundukkan pandangan ke tanganku.Jari-jari panjang dan elegan itu sekarang tertekuk dalam bentuk yang tidak wajar.Bekas luka ungu melintang di kulit.Tangan ini tidak akan bisa main cello lagi.Tidak akan bisa mengelus wajah anakku.Tapi aku tidak menangis. Tidak merasa putus asa. Bahkan tidak merasa marah.Aku hanya … kosong."Valentina, tolong, biarkan aku jelaskan .…" Alex berlutut di samping tempat tidurku.Bos besar yang ditakuti kini berlutut seperti

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 8

    Sudut pandang Valentina.Kegelapan.Kegelapan yang tidak berujung dan menyesakkan.Setelah jantungku mulai berdetak lagi, aku merasa seperti melayang di kehampaan, tidak sepenuhnya hidup, tapi juga tidak mati.Kadang aku bisa mendengar suara Alex, penuh isak putus asa dan pengakuan.Tapi aku tidak bisa kembali.Valentina yang mencintainya sudah mati.Valentina telah mati di bawah hujan di dermaga. Mati karena perburuan yang dia sendiri perintahkan.Mati saat tangisan bayi kami dibungkam.Aku lalu mendengar langkah kaki pelan. Seseorang masuk ke ruangan.Bukan Alex.Langkah orang ini ringan, tapi dipenuhi kebencian."Lucu, kan?" Suara Nadira menggema di ruangan penuh kecemburuan. "Bos besar Valenusa, begitu setia pada sesuatu yang tidak penting. Dia bahkan mengumumkan perang pada keluargaku karena kamu."Aku mendengar dia mendekati tempat tidur.Aku bisa merasakan tatapan penuh kebenciannya yang menempel padaku."Dia sudah tiga hari tidak tidur," bisiknya. "Dia memenuhi ruangan ini deng

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 7

    Sudut pandang Alex."Semua keluar!" teriak dokter, mendorong kerumunan menjauh. "Pasien butuh lingkungan steril! Kosongkan ruangan sekarang!"Aku ditarik keluar dari ruang operasi.Aku pun menempelkan diri pada pintu, berusaha mati-matian melihat lewat jendela kaca kecil.Aku melihat mereka menangani Valentina dan menyambungkannya ke labirin mesin.Wajahnya tampak pucat ....Setengah jam kemudian, pintu ruang operasi akhirnya terbuka.Dokter keluar, kelelahan, dan melepas sarung tangan berlumuran darah.Aku berlari mendekatinya."Bagaimana kondisinya? Bagaimana Valentina?""Kami berhasil mengembalikannya," kata dokter dengan berat. "Tapi .…""Tapi apa?" Aku menggenggam bahunya."Karena kehilangan darah berkepanjangan, trauma emosional parah, dan kurangnya oksigen ke otak .…" Dokter menghela napas. "Dia mungkin akan berada dalam keadaan vegetatif."Kata-kata itu menghantamku seperti pukulan.Keadaan vegetatif ...."Apa ada harapan dia akan sadar?" tanyaku dengan suara bergetar."Sangat

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 6

    Alex mengangkat salib perak itu, tangannya bergetar tak terkendali.Tulisan [Cintaku yang abadi] berkilau di bawah cahaya lampu.Tanda janji untuk melindungiku seumur hidup kini menjadi saksi kejahatan yang telah dia lakukan.Nadira mencoba menenangkannya."Alex … aku tahu kamu sedih, tapi Valentina .…""Menjauh darinya!"Alex mengaum dan mendorong Nadira dengan kekuatan penuh amarah.Nadira terhantam ke dinding, lalu mengerang kesakitan."Jangan berani mendekatinya!" teriak Alex. "Jangan sentuh dia!"Dia menarik pistol dari pinggangnya, larasnya mengarah tepat ke kepala dokter."Kamu lihat rumah sakit ini?" Suara Alex rendah menggeram, pistol tetap menempel di pelipis dokter. "Kalau dia tidak keluar dari sini hidup-hidup, aku akan membakar rumah sakit ini. Denganmu di dalamnya. Sekarang, selamatkan dia."Dokter gemetar ketakutan dari ujung kaki hingga ujung kepala."Tu … Tuan, dia … dia sudah …. Jantungnya berhenti lebih dari sepuluh menit .…""Maka temukan cara untuk membuatnya berde

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 5

    Rasa sakit itu akhirnya berakhir.Aku sadar aku pasti sudah mati.Rasa nyeri yang merobek perut, dan jeritan putus asa, semuanya lenyap saat jantungku berhenti berdetak.Jiwaku melayang di udara, menatap tubuhku sendiri di atas meja operasi.Berantakan.Gaun putihku tercabik, basah oleh hujan dan darah. Bekas gigitan anjing di pergelangan kakiku menjadi daging yang koyak dan terbuka.Luka terbuka di perutku tampak mengerikan.Tapi yang paling menyakitkan adalah tanganku.Jari-jari yang dulu panjang dan anggun kini membiru dan tertekuk, tulangnya menonjol di balik kulit.Inilah tangan yang selalu aku banggakan.Tangan yang memainkan cello.Tangan yang dibiarkan suamiku hancurkan."Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan," kata dokter sambil menggeleng. "Coba lihat apakah keluarganya sudah datang."Baru saja seorang perawat hendak keluar, pintu ditendang hingga terbuka.Alex menerobos masuk, wajahnya diliputi amarah dan ketidakpercayaan."Ini bukan Valentina!" teriaknya dengan suara pecah.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status