LOGINTiga tahun lalu, adik laki-laki suamiku hadang peluru untuknya. Karena itu, Gavin Kalil bawa janda saudaranya, Eliza Marzani, ke dalam rumah kita. Sementara aku cuma “Istri” secara status saja. Dalam segala hal, aku harus ngalah demi Eliza. Suatu kali, Eliza pura-pura iris pergelangan tangannya sendiri. Dia tuduh aku sebagai penyebabnya. Gavin langsung cekik leherku. Niat membunuh menyala di matanya. “Pergi. Keluarga Kalil nggak butuh wanita licik dan kejam seperti kamu.” Dia berikan yayasan keluarganya ke Eliza sebagai “penebusan.” Padahal itu seharusnya milikku. Kali ini, aku nggak berkata apa-apa. Waktu dia sedang tanda tangani setumpuk kontrak bisnis, aku selipkan surat perceraian di antaranya. Beberapa hari kemudian, dia sadar aku nggak pulang. Gavin pun cari aku di seluruh Kota Cellini. Namun, dia nggak pernah temukan aku. Saat itulah dia lihat surat putusan perceraian itu. Akhirnya dia ngerti. Aku telah pergi untuk selamanya. Hari itu, raja kota Cellini yang nggak tersentuh … hancur berkeping-keping.
View More“Amara, the man at table three is glaring again. Go charm him before he complains,” her manager hissed from behind the counter, shoving a tray into her hands.
“Charm him? I’m not a magician, Mrs. Kent. If he wants miracles, he should pray, not order coffee,” Amara muttered, straightening her apron. The tray wobbled in her grip, a reflection of the fatigue etched into her bones. She turned, and her eyes locked on the stranger in the corner. He sat impeccably straight, suit pressed like it had never known a wrinkle, his expression sharp enough to cut glass. His watch gleamed under the café lights, probably worth more than her entire year’s rent. And he was glaring at her. Amara swallowed the instinctive roll of her eyes and walked toward him. Another entitled man in an expensive suit. Another evening of swallowing her pride to keep her job. She pasted on the thinnest version of a smile. “Your order, sir.” He barely looked at her as she set the cup on the table. His voice was deep, calm, and utterly unimpressed. “This is late.” Amara blinked. “It’s two minutes, not two years.” His head snapped up, eyes narrowing. Steel-gray eyes, cold as winter rain. The kind that made people flinch. But Amara wasn’t in the mood to flinch tonight. Her mother’s medicine was due, Clara’s tuition deadline was tomorrow, and her feet ached from a double shift. “I don’t pay for late service,” he said smoothly. “You don’t pay for service at all,” she shot back before she could stop herself. “You pay for coffee.” For a second, something flickered across his face - surprise, maybe, or the shadow of a smile - but it vanished as quickly as it came. He leaned back in his chair, studying her the way one might study an insect. Amara’s cheeks warmed, though she lifted her chin higher, refusing to back down. “Name,” he demanded. Her brows furrowed. “Excuse me?” “Your name. Unless you’d like me to continue referring to you as… coffee girl.” Her fists clenched around the tray, but she forced her tone even. “Amara. Amara Blake.” “Amara,” he repeated slowly, as though testing the sound of it. His gaze lingered a beat too long before he looked away, dismissing her with a flick of his hand. “That’ll be all.” The dismissal stung more than it should have. She wanted to retort, to throw the coffee in his smug face, but she bit her tongue. Rent first, revenge later. She turned on her heel and marched back to the counter, muttering under her breath. Mrs. Kent raised her brows. “Well? Did you charm him?” “If by charm you mean resist the urge to drown him in espresso, then yes.” Her manager groaned. “Amara, for heaven’s sake - don’t get yourself fired. Not again.” Amara didn’t answer. She couldn’t afford to be fired again. Not with her family depending on her. When she glanced back at the corner table, the man was gone. Only an untouched cup of coffee remained, steam curling faintly into the air. For reasons she couldn’t name, the sight left her unsettled. By the time she trudged home, the city had grown quiet, its neon signs buzzing lazily against the night sky. Their apartment smelled faintly of disinfectant and boiled rice. Clara, her eighteen-year-old sister, was hunched over textbooks at the kitchen table. “You’re late,” Clara said without looking up. “You’re welcome for keeping the lights on,” Amara replied, dropping her bag with a sigh. Clara smirked faintly, but her eyes softened when she saw Amara’s slumped shoulders. “Bad night?” “Bad customer,” Amara corrected. She slumped into a chair. “The kind who thinks the world owes him a throne and a crown.” Clara giggled. “Maybe he’s just lonely.” Amara rolled her eyes. “If he’s lonely, he can buy a dog. Preferably one with less attitude.” Their laughter faded when their mother coughed from the bedroom. The sound was harsh, rattling, a reminder of the pills Amara still hadn’t picked up from the pharmacy. Her stomach tightened. Tomorrow she’d find a way. She always did. But as she lay awake hours later, the image of steel-gray eyes lingered in her mind, uninvited and unwanted. She hated that she remembered them at all. Somehow, she had the strangest feeling their paths hadn’t truly crossed yet - that tonight had only been the beginning.Sudut Pandang Frida.Setelah makan malam, Gavin tanya dengan ragu, “Apa kamu mau nginap? Kamarmu … aku jaga tetap seperti dulu.”Aku lihat harapan rapuh di matanya, dan gelombang perasaan yang rumit menyapu dadaku.“Nggak usah, hotel lebih praktis,” jawabku sambil berdiri. “Makasih untuk makan malamnya.”Kekecewaan sempat melintas di wajahnya, namun segera dia sembunyikan.“Aku antar kamu pulang.”“Nggak perlu, aku pesan mobil saja.”“Frida,” panggilnya saat aku hendak pergi. “Makasih. Karena mau makan malam denganku malam ini. Ini adalah kebahagiaan terbesar yang aku rasakan dalam lima tahun terakhir ini.”Aku hanya mengangguk, lalu pergi.Kembali di hotel, aku berbaring di tempat tidur, terjaga tanpa kantuk. Malam itu terus terulang di benakku, “Peta Bintang” yang telah diperbaiki, makan malam yang disiapkan dengan penuh perhatian, dan penyesalan tanpa dasar di mata Gavin.Lima tahun. Aku kira aku sudah lupakan semuanya. Namun malam ini buktikan kalau ada beberapa luka nggak akan per
Sudut Pandang Frida.Saat aku terdiam ragu, kilatan kepanikan melintas di wajah Gavin.“Dan Hiro,” tambahnya cepat, suaranya bergetar. “Anjing kita. Dia sudah mati. Tapi dia punya anak anjing yang sangat mirip dengan dia.”Hiro.Aku masih ingat anjing besar yang setia itu. Saat pertama kali aku pindah ke vila, dialah satu-satunya yang temani aku ketika rasa sepi datang.“Kapan dia mati?” tanyaku.“Dua tahun lalu.” Suara Gavin jadi lebih rendah. “Dia terus tunggu kamu pulang. Sampai akhir, dia selalu pergi ke gerbang utama dan tunggu kamu balik.”Dadaku terasa diremas.“Oke,” kataku pelan. “Aku akan datang lihat.”Cahaya yang penuhi mata Gavin seperti seorang yang tenggelam akhirnya temukan udara.“Beneran?” tanyanya nggak percaya.“Cuma untuk lihat,” ulangku.“Iya.” Dia mengangguk berulang kali. “Iya, cuma untuk lihat.”Dua puluh menit kemudian, aku sudah ada di dalam Maserati miliknya. Mobil yang sama seperti lima tahun lalu, hanya bertambah usia.“Kamu masih naik mobil ini?” tanyaku.
Sudut Pandang Frida.Lima tahun kemudian, Kota Cellini masih sama, terasa akrab sekaligus asing secara bersamaan.Aku berdiri di depan jendela kaca setinggi lantai hingga langit-langit kamar hotelku, memandang kota yang dulu selama tiga tahun pernah aku sebut sebagai rumah.Sebuah majalah Forbes tergeletak di meja, wajahku terpampang di sampulnya.[Frida Gutama: Perjalanan Ratu AI Dari Ilmuwan Data Jadi Miliarder.]Akuisisi senilai 128 triliun rupiah telah bawa namaku ke panggung dunia.Namun saat ini, aku hanyalah seorang mantan murid yang pulang untuk hadiri pemakaman mentornya.Upacara pemakaman Profesor Martin diadakan di universitas. Dengan balutan setelan hitam, aku duduk di barisan depan, dengarkan para kolega mengenang pria yang telah ubah hidupku.Kalau nggak ada dia, aku nggak akan pernah punya keberanian untuk tinggalkan Cellini, apalagi capai semua ini.Acara dilanjutkan dengan resepsi di hotel bintang lima nggak jauh dari sana. Aku pegang segelas sampanye, berbasa-basi den
Sudut Pandang Gavin.Selama berminggu-minggu, aku coba tulis surat untuknya.Aku mulai sebuah kalimat, lalu robek itu.[Frida, aku salah .…]Sobek.[Aku tahu kamu nggak bisa maafkan aku, tapi .…]Sobek.[Tolong, kasih aku kesempatan untuk jelaskan .…]Sobek.Apa lagi yang bisa aku katakan? Maaf? Alasan? Permohonan? Semua kata rasanya begitu murahan dan kosong.Pada akhirnya, aku lakukan satu-satunya hal yang diketahui orang Keluarga Kalil.“Transfer 160 miliar ke rekening luar negeri Frida,” perintahku ke kepala keuangan.“Siap, Bos.”Seminggu kemudian.“Tambahkan 320 miliar lagi.”“Bos, jumlah itu ….”“Lakukan saja.”Seminggu berikutnya.“320 miliar lagi.”Kepala keuangan itu ragu. “Bos, totalnya sudah 800 miliar. Tapi .…”“Tapi apa?”“Uang di rekening itu … nggak disentuh 1 rupiah pun.”Hatiku jatuh ke dalam jurang hitam.Dia bahkan nggak mau lihat itu. Bagi Frida, uang itu sama nggak berharganya seperti aku.Malam itu, aku ada di ruang kerja, tenggelamkan diri dalam bir. Apa saja as
Sudut Pandang Gavin.Sepanjang malam aku duduk di ruang kerja, genggam surat cerai itu. Kertasnya lembap oleh keringatku, namun setiap kata sudah terukir dalam benakku.Begitu matahari terbit, aku langsung telepon pengacara keluarga.“Datang ke vila. Sekarang!”Setengah jam kemudian, dia berdiri di
Sudut Pandang Gavin.Jet pribadi itu membelah awan, tinggalkan La Luna jauh di belakang. Aku menatap keluar jendela, sementara sebuah rasa nggak nyaman mengencang di perutku.“Gavin, bisa nggak kita tinggal satu hari lagi?” Eliza berbisik manja, bersandar di bahuku. “Malam ini ada konser yang aku pi
Aku tutup koper itu dengan satu hentakan. Lalu aku berbalik menghadapnya.“Acara gala amal minggu depan .…”Aku mulai jelaskan, namun dia langsung potong dengan nada nggak sabar, “Terserah kamu. Kamu mau kabur lagi, gitu? Pergi saja sana. Kita lihat saja apa kali ini aku akan cari kamu.”Kata-kata i
Rasa nyeri yang tajam tusuk dadaku. Janjinya, semua itu seolah nggak pernah ada. Begitu pula dengan kata “selamanya.”“Maaf. Aku lagi nggak enak badan.” Aku paksakan senyum tipis. Lalu berdiri. “Silakan lanjutkan makan malamnya.”“Frida.” Suara lembut Eliza panggil dari meja utama. “Wajahmu kelihata












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews