Share

Bab 5

Penulis: Cocojam
Rasa sakit itu akhirnya berakhir.

Aku sadar aku pasti sudah mati.

Rasa nyeri yang merobek perut, dan jeritan putus asa, semuanya lenyap saat jantungku berhenti berdetak.

Jiwaku melayang di udara, menatap tubuhku sendiri di atas meja operasi.

Berantakan.

Gaun putihku tercabik, basah oleh hujan dan darah. Bekas gigitan anjing di pergelangan kakiku menjadi daging yang koyak dan terbuka.

Luka terbuka di perutku tampak mengerikan.

Tapi yang paling menyakitkan adalah tanganku.

Jari-jari yang dulu panj
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 10

    Sudut pandang Valentina.Alex hanya menatapku.Lalu, dia perlahan mengeluarkan pistol dari pinggangnya.Dia memeriksa slot peluru. Enam peluru, semuanya terisi."Kamu ingin aku mati, kan?" tanyanya pelan.Bahunya merosot dan tampak menyerah. "Baiklah, Valentina," bisiknya. "Oke."Dia meletakkan pistol itu di tanganku yang hancur. Logam dingin itu membuat tubuhku merinding."Lakukan saja, Valentina," katanya, berlutut di depanku dan menempelkan ujung pistol ke dadanya sendiri. "Akhiri. Akhiri rasa sakitku, dan akhiri penderitaanmu."Aku menatap pistol di tanganku.Sangat mudah.Cukup menekan pelatuk, lalu pria yang menghancurkan hidupku akan hilang.Anakku akan tenang. Sakitku akan berakhir.Tapi aku tidak bergerak.Bukan karena aku masih mencintainya.Tapi membiarkannya mati begitu saja rasanya terlalu mudah."Kamu pikir mati bisa menebus dosa-dosamu?" tanyaku dengan suaraku yang dingin. "Kamu pikir satu peluru bisa menebus nyawa anak kita?"Rasa sakit muncul di mata Alex."Lalu apa ya

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 9

    Sudut pandang Valentina."Kamu masih dalam pemulihan. Nanti kalau sudah lebih kuat, aku akan membawamu ke pemakaman."Alex berbicara hati-hati, seperti berbicara pada boneka porselen yang bisa pecah kapan saja. "Anak kita … aku sudah buatkan batu nisannya yang terbaik. Marmer putih, dan .…""Aku ingin cerai."Aku memotong ucapannya.Alex terpaku, seakan tersambar petir. "Valentina, kamu baru bangun. Jangan bilang hal-hal seperti itu .…""Aku mau surat cerainya ada di mejaku besok," lanjutku. "Dan jangan sentuh aku lagi."Aku pun menundukkan pandangan ke tanganku.Jari-jari panjang dan elegan itu sekarang tertekuk dalam bentuk yang tidak wajar.Bekas luka ungu melintang di kulit.Tangan ini tidak akan bisa main cello lagi.Tidak akan bisa mengelus wajah anakku.Tapi aku tidak menangis. Tidak merasa putus asa. Bahkan tidak merasa marah.Aku hanya … kosong."Valentina, tolong, biarkan aku jelaskan .…" Alex berlutut di samping tempat tidurku.Bos besar yang ditakuti kini berlutut seperti

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 8

    Sudut pandang Valentina.Kegelapan.Kegelapan yang tidak berujung dan menyesakkan.Setelah jantungku mulai berdetak lagi, aku merasa seperti melayang di kehampaan, tidak sepenuhnya hidup, tapi juga tidak mati.Kadang aku bisa mendengar suara Alex, penuh isak putus asa dan pengakuan.Tapi aku tidak bisa kembali.Valentina yang mencintainya sudah mati.Valentina telah mati di bawah hujan di dermaga. Mati karena perburuan yang dia sendiri perintahkan.Mati saat tangisan bayi kami dibungkam.Aku lalu mendengar langkah kaki pelan. Seseorang masuk ke ruangan.Bukan Alex.Langkah orang ini ringan, tapi dipenuhi kebencian."Lucu, kan?" Suara Nadira menggema di ruangan penuh kecemburuan. "Bos besar Valenusa, begitu setia pada sesuatu yang tidak penting. Dia bahkan mengumumkan perang pada keluargaku karena kamu."Aku mendengar dia mendekati tempat tidur.Aku bisa merasakan tatapan penuh kebenciannya yang menempel padaku."Dia sudah tiga hari tidak tidur," bisiknya. "Dia memenuhi ruangan ini deng

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 7

    Sudut pandang Alex."Semua keluar!" teriak dokter, mendorong kerumunan menjauh. "Pasien butuh lingkungan steril! Kosongkan ruangan sekarang!"Aku ditarik keluar dari ruang operasi.Aku pun menempelkan diri pada pintu, berusaha mati-matian melihat lewat jendela kaca kecil.Aku melihat mereka menangani Valentina dan menyambungkannya ke labirin mesin.Wajahnya tampak pucat ....Setengah jam kemudian, pintu ruang operasi akhirnya terbuka.Dokter keluar, kelelahan, dan melepas sarung tangan berlumuran darah.Aku berlari mendekatinya."Bagaimana kondisinya? Bagaimana Valentina?""Kami berhasil mengembalikannya," kata dokter dengan berat. "Tapi .…""Tapi apa?" Aku menggenggam bahunya."Karena kehilangan darah berkepanjangan, trauma emosional parah, dan kurangnya oksigen ke otak .…" Dokter menghela napas. "Dia mungkin akan berada dalam keadaan vegetatif."Kata-kata itu menghantamku seperti pukulan.Keadaan vegetatif ...."Apa ada harapan dia akan sadar?" tanyaku dengan suara bergetar."Sangat

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 6

    Alex mengangkat salib perak itu, tangannya bergetar tak terkendali.Tulisan [Cintaku yang abadi] berkilau di bawah cahaya lampu.Tanda janji untuk melindungiku seumur hidup kini menjadi saksi kejahatan yang telah dia lakukan.Nadira mencoba menenangkannya."Alex … aku tahu kamu sedih, tapi Valentina .…""Menjauh darinya!"Alex mengaum dan mendorong Nadira dengan kekuatan penuh amarah.Nadira terhantam ke dinding, lalu mengerang kesakitan."Jangan berani mendekatinya!" teriak Alex. "Jangan sentuh dia!"Dia menarik pistol dari pinggangnya, larasnya mengarah tepat ke kepala dokter."Kamu lihat rumah sakit ini?" Suara Alex rendah menggeram, pistol tetap menempel di pelipis dokter. "Kalau dia tidak keluar dari sini hidup-hidup, aku akan membakar rumah sakit ini. Denganmu di dalamnya. Sekarang, selamatkan dia."Dokter gemetar ketakutan dari ujung kaki hingga ujung kepala."Tu … Tuan, dia … dia sudah …. Jantungnya berhenti lebih dari sepuluh menit .…""Maka temukan cara untuk membuatnya berde

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 5

    Rasa sakit itu akhirnya berakhir.Aku sadar aku pasti sudah mati.Rasa nyeri yang merobek perut, dan jeritan putus asa, semuanya lenyap saat jantungku berhenti berdetak.Jiwaku melayang di udara, menatap tubuhku sendiri di atas meja operasi.Berantakan.Gaun putihku tercabik, basah oleh hujan dan darah. Bekas gigitan anjing di pergelangan kakiku menjadi daging yang koyak dan terbuka.Luka terbuka di perutku tampak mengerikan.Tapi yang paling menyakitkan adalah tanganku.Jari-jari yang dulu panjang dan anggun kini membiru dan tertekuk, tulangnya menonjol di balik kulit.Inilah tangan yang selalu aku banggakan.Tangan yang memainkan cello.Tangan yang dibiarkan suamiku hancurkan."Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan," kata dokter sambil menggeleng. "Coba lihat apakah keluarganya sudah datang."Baru saja seorang perawat hendak keluar, pintu ditendang hingga terbuka.Alex menerobos masuk, wajahnya diliputi amarah dan ketidakpercayaan."Ini bukan Valentina!" teriaknya dengan suara pecah.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status