Home / Historical / Bara Dendam Sang Prabu Boko / Bab 38 Sebuah Kecurigaan

Share

Bab 38 Sebuah Kecurigaan

Author: Alexa Ayang
last update Huling Na-update: 2025-10-12 22:44:23

Di sebuah sudut Wanua yang diliputi rembulan sabit, cahaya remang-remang warung tuak seolah mengundang Rukma. Pesan singkat dari Jentra, seorang panglima utama pasukan Sanditaraparan, telah mengusik ketenangannya. Jentra mendesak Rukma untuk segera merapat ke padepokan pasukan, namun sebuah pertemuan rahasia di warung tuak ini harus terlaksana lebih dahulu, sebelum agenda utama terlaksana. Rukma bergegas meninggalkan pondoknya, hati diburu oleh rentetan pertanyaan.

Tanpa sepengetahuan Rukma, sosok bayangan mungil menyelinap di balik semak dan bayangan pohon. Mayang Salewang, yang jiwanya diusik oleh kepergian suaminya yang mendadak di tengah malam, merasakan firasat buruk menjalari sanubarinya. Ia menyusul dalam senyap, mengikuti jejak langkah suaminya hingga tiba di sebuah warung tuak yang riuh rendah di pinggiran Wanua. Pandangan Mayang membeku.

Warung itu, dengan lampu pelita yang berkelap-kelip, memancarkan aura keramaian yang memilukan hatinya. "Oh, jadi ini tempatmu menghibur di
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 204: Amarah Sang Naga Baruna

    Di balik pintu kayu jati yang kokoh dan tebal, Windri Sageni berdiri dengan tubuh menggigil hebat, bagai daun lontar yang disapu badai tak berkesudahan. Butiran air mata mengalir pilu membasahi pipi yang kini tampak pucat pasi, bercampur dengan butiran keringat dingin yang mengucur deras di dahinya. Setiap rintihan samar, setiap desahan ancaman kejam, dan setiap jeritan tertahan yang berhasil meloloskan diri dari celah pintu yang rapat itu, bagaikan bilah-bilah belati tajam yang tanpa ampun menusuk hingga ke jantungnya, mengoyak jiwanya. Ia mengenal suara-suara itu. Itu adalah suara tuan putrinya, Mayang Salewang, yang kini kembali menjadi tawanan nafsu dan amarah suaminya.Sejak berhari-hari dalam pelarian yang melelahkan, Windri telah dengan setia mendampingi sang putri dengan loyalitas tak tergoyahkan. Ia melihat Mayang tumbuh dari gadis ceria yang polos menjadi wanita yang dipenuhi kepahitan, lalu kini harus kembali menyaksikan wanita yang amat dicintainya itu terpuruk dalam duka

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 203 Sumpah di Atas Nampan Emas

    Pagi di Song Ranu tidak jua mampu membawa kehangatan yang merasuk hingga ke tulang bagi Mayang Salewang. Dalam selubung dingin embun pagi dan gemerisik daun-daun pinus, seolah alam turut meratapi nasibnya. Di kamar utama puri yang dijaga ketat oleh prajurit-prajurit Mahamentri I Halu, ia duduk terpaku, matanya menatap hampa pada lukisan langit-langit berukir. Jiwanya tercabik di antara kebencian yang mendalam dan membara terhadap suaminya, serta kenyataan pahit yang kini kembali menghantamnya: ia terperangkap sebagai permaisuri Balaputeradewa, layaknya burung dalam sangkar emas, terpisah dari kebebasan yang pernah sebentar ia rengkuh. Hati Mayang berteriak, merindukan embusan angin pegunungan yang ia rasakan bersama Rukma dan Gardikaraja, namun kini ia terkurung dalam dinding kemewahan yang terasa seperti nisan hidup.Balaputeradewa berdiri kokoh di dekat jendela tinggi, parasnya memancarkan ketegasan dan otoritas. Pandangannya menerawang ke arah kabut tipis yang menyelimuti permukaan

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 202: Cengkeraman Sang Pangeran

    Langkah kaki pasukan Walaing yang mundur dengan tergesa-gesa terhenti sejenak di perbatasan hutan yang gelap. Debu tipis dari sisa pertempuran sebelumnya masih melayang di udara, membawa aroma amis darah dan kehancuran. Balaputeradewa, pemimpin yang baru saja menerima pengkhianatan pedih dari Jentra dan adiknya, Gagak Rukma, merasakan hatinya terhimpit oleh beban ganda: kekalahan di medan perang dan tusukan penghianatan sanak saudara. Dalam kepahitan itu, matanya yang tajam menyapu tepian rimbun semak, mencari jejak musuh atau sisa-sisa sekutu yang setia. Di balik rerimbunan daun, sesosok wanita dengan keanggunan yang tak bisa disembunyikan tampak terpaku mengamati sisa-sisa pertempuran yang menyayat. Kerudung yang semula membingkai wajahnya telah tersingkap, memperlihatkan rona kulit seputih pualam yang sangat dikenalnya. Hatinya, yang hancur berkeping-keping oleh Jentra dan Rukma, mendadak menajamkan pandangannya pada sosok itu. Kerinduan dan amarah laksana badai yang mengamuk."Jad

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 201: Darah Lebih Kental daripada Amarah

    Medan laga yang menganga luas bak rahang neraka, kini bergetar hebat di bawah injakan kaki ribuan prajurit dan amuk kekuatan sakti. Asap tebal bercampur debu mengepul ke angkasa, mewarnai senja dengan spektrum kelabu nan suram. Di satu sisi arena, seorang pendekar berwibawa, Kunara Sancaka, mengamuk laksana banteng terluka. Setiap sabetan cambuk sakti yang berapi-api miliknya meledak dengan daya hancur luar biasa, menciptakan parit-parit api yang menganga di permukaan tanah. Nyala apinya bagaikan napas naga purba yang murka, melumat apa pun yang dilewatinya. Namun, gempuran dahsyat itu kini dihadapkan pada ketenangan seorang mahaguru strategi sekaligus pendekar tanpa tanding, Jentra Kenanga.Cakram Jentera Biru miliknya berdesing tajam di udara, menari-nari memantulkan cahaya senja yang memudar. Benda pusaka itu, yang bergerak dengan presisi mematikan, beradu dengan setiap lecutan cambuk Kunara, menghasilkan denting logam dan kilatan energi yang menyambar-nyambar. Jentera bagai perwuj

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 200: Bayang-bayang yang Berbalik

    Langit di atas dataran antara Walaing dan Patapan mendadak legam, bukan oleh mendung yang lazim menyelimuti bumi, melainkan oleh benturan energi sakti yang dilepaskan para senopati terkemuka. Aura peperangan yang pekat terasa memilin udara, membebani setiap helaan napas prajurit. Dari kejauhan, terompet perang dari kubu Walaing ditiupkan, menggelegar membelah keheningan, dan tak lama kemudian, gelombang pasukan yang tak terhitung jumlahnya mulai menerjang maju bagai bah lautan, diiringi dentuman tambur yang menghantam relung dada.Di barisan paling depan pasukan Walaing, Panglima Kunara Sancaka memimpin serbuan dengan raungan yang menggetarkan bumi dan memekakkan telinga lawan. Cambuk saktinya yang berpijar merah menyambar-nyambar bagai lidah api naga, menciptakan ledakan api di setiap jengkal tanah yang disentuhnya, membakar semangat dan menebar ketakutan. Di belakangnya, Jentra Kenanga bergerak dengan langkah yang tampak berat dan enggan, setiap pijakannya seolah terbebani

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 199: Barisan Dua Wangsa

    Angin kencang berhembus dari lembah, membawa aroma tanah basah dan logam yang segera akan bersimbah darah. Di padang terbuka yang memisahkan wilayah Patapan dan Walaing, pasukan gabungan Medang telah menggelar barisan perang. Ribuan prajurit bersiaga dengan zirah dan senjata mereka. Namun, pemandangan paling luar biasa terpampang di garis depan: panji-panji Sanjaya dari Giri Watangan berkibar megah, berdampingan dengan panji kebesaran Syailendra. Merah tua Giri Watangan berpadu anggun dengan nila pekat Syailendra, sebuah simbol nyata penyatuan yang telah lama diidamkan, kini terwujud di ambang medan laga yang brutal. Sebuah harapan baru membumbung di atas Bhumi Medang yang bergejolak.Mpu Kumbhayoni, mengenakan baju zirah kebesarannya yang telah tersimpan lama, kini berdiri tegak di garis depan. Zirah tempaan besi hitam membalut tubuh tuanya, namun memancarkan tekad yang membaja. Kilau pantulan cahaya pagi pada permukaan bajunya mencerminkan kobaran api di matanya. Penyesalan atas kek

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status