Home / Pendekar / Bara Dendam di Perbatasan / 4 - Bara di Hantang

Share

4 - Bara di Hantang

Author: Kebo Rawis
last update Huling Na-update: 2024-08-09 22:35:03

Terdengar suara daging mentah teriris, diiringi keluhan tertahan Seta. Prajurit itu merasakan sesuatu yang dingin merayapi dadanya. Lalu kejap berikutnya berganti rasa perih yang amat sangat.

Pikiran bawah sadar Seta memerintahkan tangannya untuk meraba luka itu. Hangat dan basahnya darah segera terasa di jemari dan telapak tangannya.

Belum lagi sempat sang prajurit menguasai diri, Ranajaya sudah kembali masuk ke kalangan pertempuran. Lelaki itu mengirim sebuah tendangan mengarah ke dada.

Buuukk!

Yang diserang tak dapat mengelak. Tendangan keras mendarat telak di dada Seta. Tubuh wira tamtama itu dibuat terpental beberapa langkah ke belakang.

Lalu, bruaakk! Pinggang Seta menghantam permukaan meja warung. Membuat rangkaian dari kayu itu hancur berkeping-keping.

Seta coba bangkit, namun segera batalkan niatnya dan kembali terkapar lemah. Pinggangnya yang tadi menghantam meja terasa sangat nyeri. Wajahnya yang dipenuhi keringat tampak meringis kesakitan.

Di tempatnya, Ranajaya menyeringai lebar melihat lawan tak berdaya. Dengan langkah perlahan lelaki itu mendatangi Seta yang tergeletak diam. Hanya dapat menggeliat di atas serpihan-serpihan kayu reruntuhan meja. Kembali terdengar lelaki itu tertawa.

"Prajurit malang," ujarnya dengan nada mengejek. "Andai saja rajamu melihat keadaanmu saat ini, aku rasa sang raja akan langsung mencabut anugerah prajurit terbaik darimu sekarang juga."

Ucapan Ranajaya diikuti ledakan tawa dari dua rekannya. Bertiga mereka berdiri mengelilingi Seta yang meringkuk tanpa dapat bergerak.

Seta merasakan sekujur tubuhnya sangat sakit, sekaligus lemas bukan main. Bahkan sekedar untuk mendongak pun tak kuat.

Ranajaya melangkah ke arah dekat kepala Seta. Orang ini lantas berjongkok. Seringai keji terus terpampang di wajahnya yang bengis.

"Dengar baik-baik olehmu, Prajurit Tengik. Kalau kau ingin mengambil kembali isterimu dari kami, datanglah seorang diri ke Gua Selogiri hari ini juga sebelum malam datang," ujar Ranajaya setengah mendesis.

"Ingat, Seta, datanglah seorang diri saja! Dan jangan datang terlalu malam. Sebab, kalau sudah malam aku pasti akan sangat sibuk ...."

Lelaki bercambang bauk lebat itu sengaja potong kalimatnya. Perlahan ia bungkukkan badan, sehingga kepalanya mendekat ke kepala Seta. Mulutnya berada tepat di atas daun telinga sang prajurit.

"... Sibuk menikmati tubuh isteri cantikmu yang halus mulus," lanjutnya, lalu diikuti dengan tawa terbahak-bahak. Dua temannya ikut menimpali tawa tersebut.

Seta menggeram keras. Susah payah dikumpulkannya sisa-sisa tenaga, lalu ayunkan tangan sekuat mungkin hendak meninju Ranajaya. Namun gerakan yang dikiranya cepat itu bagi yang diserang tak ubahnya lambaian biasa. Sehingga dapat dengan mudah ditangkap.

"Ah, sebaiknya kau hemat-hemat tenagamu, Seta," ujar Ranajaya mendesis. Tangannya menggenggam erat-erat pergelangan tangan si prajurit.

"Sebelum pergi ke Gua Selogiri, ada baiknya kau terlebih dahulu menengok anakmu di rumah. Siapa tahu karena ibunya tidak ada, anak kecil itu hangus terbakar menjadi abu," sambung Ranajaya.

Usai berkata begitu dengan kasar Ranajaya lepaskan tangan Seta yang tadi dipegangnya. Sementara sepasang mata Seta seketika terbelalak mendengar ucapan tersebut. Wajah sang prajurit menjadi begitu tegang dan pucat.

"A-apa maksudmu?" tanya Seta dengan napas tersengal-sengal.

Ranajaya tak menanggapi. Lelaki bercambang bauk lebat itu bangkit berdiri, lalu memberi isyarat kepala pada kedua temannya. Kejap berikutnya mereka bertiga melesat pergi, menghindari kedatangan tiga orang prajurit Jenggala dari arah pasar.

Tiga prajurit tersebut melihat kepergian Ranajaya dan dua temannya. Mereka berusaha mengejar, tapi tubuh ketiga penjahat sudah keburu menghilang entah ke mana.

Mereka pun memilih masuk ke dalam warung yang sudah porak poranda untuk melihat keadaan. Seruan tertahan langsung keluar dari mulut tiga prajurit begitu berada di dalam warung.

Mula-mula pandangan mata ketiganya tertuju pada mayat wanita pemilik warung dengan luka besar di leher. Kemudian beralih ke arah Seta karena wira tamtama itu keluarkan rintihan tertahan.

"Seta! Apa yang terjadi?" tanya salah seorang dari ketiga prajurit sembari melompat mendekat.

Yang ditanya tak menjawab. Hanya wajah meringis kesakitan yang ia tunjukkan saat berusaha bangkit dan duduk. Ketiga prajurit bergegas membantu. Mereka menyandarkan sang wira tamtama ke salah satu tiang warung.

"An-antarkan aku ... T-tolong antarkan aku ke Hantang," ujar Seta kemudian dengan susah payah.

Hantang adalah nama daerah di mana kediaman Seta berada. Tempat tersebut terletak di barat laut Kutaraja, berbatasan langsung dengan Kerajaan Panjalu. Berjarak sejauh lebih dari dua puluh delapan ribu depa (sekitar 52 kilometer).

Tiga prajurit yang baru datang tidak banyak bertanya. Mereka langsung berbagi tugas.

Yang seorang mengantar Seta ke Hantang. Sedangkan dua lainnya mengurusi mayat wanita pemilik warung, sekaligus melaporkan kejadian di sana kepada atasan di istana.

Setelah berkuda selama dua penanakan nasi (sekitar 1,5 jam) berselang, Seta dan prajurit pengantar sudah tiba di Hantang. Kedatangan keduanya disambut dengan suasana riuh rendah nan mencekam.

Terdengar suara-suara orang-orang berteriak panik. Lalu banyak pula yang berlarian menuju satu rumah di ujung jalan yang tengah terbakar hebat.

"Cepat padamkan apinya! Ada anak kecil di dalam rumah itu!" Terdengar satu teriakan. Lalu disusul teriakan lain yang tak begitu jelas didengar.

Seta berseru tertahan. Wajahnya seketika menjadi tegang. Kuda tunggangannya langsung dipacu lebih kencang lagi, mendahului orang-orang yang berlarian.

Sesampainya di depan rumah tersebut tangis Seta langsung pecah. Tubuhnya jatuh memeluk leher kuda, lalu melorot turun ke bawah dan berlutut di tanah.

"Anakku!" desis Seta bergetar.

Tatapan mata sang prajurit nanar memandangi rumah yang keseluruhannya diselimuti api berkobar-kobar. Sekali pandang saja prajurit itu tahu, siapa pun yang berada di dalam rumah tersebut tak akan bisa selamat.

Dengan demikian, anaknya di dalam rumah itu pastilah sudah hangus terbakar dilalap api.

Tubuh Seta seketika menggigil hebat, menahan hawa amarah yang tahu-tahu saja membuncah. Darahnya seolah menggelegak. Dari mulutnya keluar teriakan menggelegar.

"Ranajaya keparat! Tunggu balasanku!"

)|(

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 207

    FAJAR baru saja menyingkap langit timur ketika Seta keluar dari kediamannya di sisi barat istana. Udara dingin menusuk kulit, membawa aroma embun dan bunga kenanga dari taman permaisuri. Ia berjalan cepat melewati lorong panjang berlapis ubin batu. Di tangan kirinya tergenggam secarik kertas lusuh — catatan kecil yang ia temukan di dapur setelah Nini menghilang malam tadi.Tulisan di atasnya hampir pudar, tapi satu kalimat masih terbaca jelas: “Yang datang lewat pintu timur, bukan utusan, melainkan bayangan.”Seta memutar kalimat itu di kepalanya. Ia tahu, pintu timur istana jarang dipakai, hanya dibuka untuk tamu kerajaan tertentu atau untuk keluar masuk para pengawas kebun belakang. Tapi seminggu terakhir, penjaga di sisi timur mendadak diganti dengan wajah-wajah baru — prajurit muda yang tak pernah ia lihat sebelumnya.“Hamba mesti periksa sendiri,” desisnya.Lorong berakhir di pelataran kecil. Beberapa daya

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 206

    MALAM itu angin berembus lirih melewati pepohonan taman istana. Bayangan lentera bergoyang di dinding bata, menimbulkan kesan seolah ada arwah yang menari di antara kelam. Seta berdiri di tepi kolam, menatap permukaannya yang bergemericik diterpa angin. Di bawah sinar bulan, wajahnya tampak letih, matanya dalam, menyimpan beban yang semakin berat dari malam ke malam.Sudah tiga hari ia menyelidiki dari balik bayang. Setiap langkah berhitung, setiap kata ditimbang. Ia tahu betul bahwa mata dan telinga Dyah Srengga bertebaran di seluruh penjuru istana Panjalu. Tak satu langkah pun boleh keliru, sebab kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat lehernya melayang.“Bukti yang nyata,” gumamnya perlahan. “Hamba mesti temukan itu, sebelum Gusti Permaisuri celaka.”Ia memejamkan mata, mengingat kembali pertemuannya terakhir dengan Sasi Kirana siang tadi. Wajah sang permaisuri yang biasanya teduh tampak resah, suaranya bergetar ketika memerintah agar

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 205

    MALAM itu langit Panjalu berawan berat. Angin berembus pelan membawa bau bunga kenanga dari taman belakang istana, bercampur samar dengan hawa lembap tanah setelah hujan sore tadi. Seta belum tidur. Matanya menatap tajam ke arah jendela, mendengarkan setiap langkah yang melintas di luar biliknya.Sejak kematian Lira, perasaannya tak pernah benar-benar tenang. Ada sesuatu yang janggal. Ia telah bertanya ke beberapa emban, tapi tak satu pun tahu mengapa perempuan itu keluar dari dapur tengah malam. Lira dikenal rajin, sopan, dan jarang berbuat aneh—tidak mungkin ia mati hanya karena terpeleset.Suara langkah halus terdengar melewati lorong. Seta menegakkan tubuh, beringsut ke pintu. Dari celah bilik, ia melihat dua sosok lewat dengan membawa bakul kecil tertutup kain putih. Mereka berpakaian seperti abdi dapur, tapi langkahnya terlalu berhati-hati, terlalu sunyi.Naluri seorang prajurit bekerja lebih cepat dari pikirannya. Seta mengenakan ikat kepala dan kel

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 204

    MALAM itu, angin bertiup pelan dari arah hutan utara, membawa bau lembap tanah dan rerumputan. Istana Panjalu tampak tenteram di permukaan, tapi di bawah permukaannya ada arus gelap yang mulai berputar—dan Seta berdiri tepat di tepinya.Sejak menemukan surat rahasia itu di bawah lantai bangsal timur, pikirannya tak pernah tenang. Kata-kata dalam pesan itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra yang sulit lenyap: “Tunggumu di batu bundar. Malam saat rembulan ganjil.”Dan malam ini, rembulan itu sedang ganjil—bulan purnama menyorot miring, menimbulkan bayang panjang di atas taman belakang istana.Ia melangkah pelan di antara deretan pohon tanjung dan kamboja. Taman belakang itu berada di sisi timur tembok, jarang dilalui orang kecuali para abdi yang menyapu daun di pagi hari. Di tengah taman ada sebuah batu besar berbentuk bulat pipih, hampir tertutup lumut—itulah yang diyakininya sebagai “batu bundar” dalam pesan.Seta menunggu dari balik semak. Dari kejauhan, ia bisa melihat jalan

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 203

    Seta menunggu hingga matahari tergelincir dari ubun-ubun. Saat itu, kebanyakan abdi dalem akan sibuk di bangsal tengah—membersihkan ruangan utama setelah santap siang para pembesar. Waktu yang tepat untuk menyusup ke bangsal timur, tempat Wadu tinggal sebelum ia menghilang entah ke mana.Seta memilih jalan belakang, melalui lorong-lorong sempit yang biasa dilalui pengangkat air dan pemikul kayu. Langkahnya ringan, tubuhnya setengah bersembunyi di balik tiang dan tabir. Ia tahu betul, satu kesalahan kecil bisa membuatnya diadili karena menyusup ke ruang kediaman abdi dalem tanpa izin.Bangsal timur sunyi. Di luar, hanya ada satu penjaga yang duduk malas sambil mengunyah sirih. Seta menunggu sampai penjaga itu lengah, lalu menyelinap masuk lewat pintu samping.Ruangan itu gelap, lembap, dan penuh bau keringat. Tikar pandan digelar berderet, menunjukkan bahwa tempat itu dihuni beberapa orang sekaligus.Seta melangkah pelan, menyusuri sudut demi sudut h

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 202

    Langkah Seta tak langsung menuju ke barak. Pagi itu, setelah meninggalkan kediaman permaisuri, ia berputar arah ke sisi belakang istana.Di sanalah dapur besar kerajaan berdiri, nyaris tak pernah sepi sejak fajar. Asap tipis mengepul dari tungku tanah liat, aroma rebusan daging dan beras merah bercampur dengan harum dedaunan segar yang baru dipotong.Seta menyusup di antara para pelayan yang sibuk, menyapa sekadarnya agar tak tampak mencurigakan. Pandangannya mencari satu nama—Ni Lastri, juru masak kepala yang sudah puluhan tahun mengabdi di istana permaisuri.Tak lama, ia menemukan orang yang dicari-cari di balik anyaman tikar bambu, tengah membersihkan lembaran-lembaran daun pisang.“Ni Lastri…” Seta menyapa dengan suara rendah.Perempuan tua itu menoleh cepat, sedikit heran. “Oh, Raden Seta? Ada angin apa pagi-pagi kemari?”“Tidak usah panggil raden. Aku… aku hanya abdi bi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status