LOGINGua Selogiri terletak jauh di seberang selatan Bengawan Sigarada (kini Sungai Brantas). Penduduk Kerajaan Jenggala dan juga Panjalu lebih mengenal kawasan itu dengan sebutan Brang Kidul.
Pada masa lalu, kerajaan-kerajaan di kawasan Brang Kidul merupakan bawahan Kerajaan Medang. Ketika Sri Prabu Dharmawangsa Teguh tewas mengenaskan dalam penyerangan keji yang dilakukan oleh pasukan gabungan Lwaram dan Sriwijaya, satu demi satu kerajaan-kerajaan di Brang Kidul melepaskan diri.
Namun begitu Sri Prabu Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan, menantu Sri Prabu Dharmawangsa Teguh itu berhasil menyatukan kembali seluruh bekas wilayah kekuasaan Medang. Ketika kemudian Kahuripdan dibagi dua, kawasan Brang Kidul turut dibelah pula untuk Jenggala dan Panjalu.
Begitu memastikan puteranya tak terselamatkan dari kobaran api dan tewas dalam rumah yang terbakar habis, Seta segera menuju ke Brang Kidul.
Dari Hantang, sang prajurit harus menempuh jarak lebih jauh lagi ke selatan. Tak ada pilihan lain, Seta tetap pada tekadnya. Dengan memacu kudanya sekencang mungkin, ia akan tiba di gua tersebut dalam waktu kurang dari tiga kali penanakan nasi.
Awalnya niat itu sempat dicegah oleh Darpa, rekan sesama prajurit yang mengantar ke Hantang. Namun tentu saja Seta berkeras pergi, atau isterinya yang bakal jadi korban Ranajaya berikutnya.
"Aku tidak punya pilihan lain, Darpa. Aku harus mendatangi gua itu guna menyelamatkan isteriku," ujar Seta setengah mendesis.
Suara prajurit Jenggala tersebut masih bercampur isak tangis. Sisa-sisa air mata juga masih membasahi kedua pipinya. Itu sebab Darpa mencegah Seta langsung menuju ke Gua Selogiri.
"Aku dapat memahami keadaanmu, Seta. Tapi setidaknya tenangkan dirimu terlebih dahulu ..."
"Bagaimana aku dapat menenangkan diri, Darpa! Isteriku diculik penjahat, anakku dibakar hidup-hidup!" tukas Seta, setengah menjerit.
Setelah itu sang prajurit menggeram keras, sembari meninju telapak tangannya sendiri untuk melampiaskan kemarahan.
Darpa terdiam. Selama beberapa saat ia hanya membisu, seolah memberi kesempatan pada Seta untuk menuntaskan kekesalannya.
"Aku akan memburu mereka, Darpa! Aku tak akan pernah melepaskan mereka semua. Orang-orang keparat itu harus mati di tanganku!" ujar Seta kemudian, setengah mendesis.
"Ya, kau memang harus membalaskan semua perbuatan biadab mereka, Seta" sahut Darpa buru-buru. Ia merasa dapat kesempatan baik untuk mengingatkan temannya itu.
"Tapi, ingatlah, agar berhasil melakukan itu kau harus dapat bersikap tenang. Kau tak akan mampu memenangkan pertarungan melawan para penjahat itu jika masih dikuasai amarah begini rupa."
Seta mengangguk membenarkan, meski wajahnya masih tampak tegang oleh amarah.
"Kau benar, Darpa. Aku akan coba tenangkan diri sepanjang perjalanan menuju ke sana," katanya setelah menghembuskan satu napas berat.
"Kau yakin tidak butuh bantuan? Aku dapat melaporkan kejadian ini pada Ki Bekel atau bahkan pada Ki Senopati agar kau dikawal sepasukan prajurit," tanya Darpa.
Yang ditanya pandangi Darpa sebentar, lalu gelengkan kepala.
"Sebaiknya jangan. Lelaki keparat bernama Ranajaya itu memintaku datang sendiri. Aku khawatir dia akan mengambil tindakan yang dapat membahayakan nyawa isteriku jika dilihatnya aku datang bersama pasukan Jenggala," katanya.
Darpa menghela napas panjang. Ini persoalan rumit. Entah apa yang telah disiapkan para penjahat itu di Gua Selogiri, tak ada yang tahu. Pada pikirnya akan lebih baik jika Seta dikawal. Namun ancaman Ranajaya tentunya juga tak boleh diabaikan begitu saja.
Sementara Darpa berpikir begitu, Seta sudah melompat naik ke atas punggung kuda.
"Aku berangkat sekarang, Darpa," ujar prajurit berkumis lebat itu.
Kedua tangan Seta menarik tali kekang untuk memutar arah hewan tunggangannya. Kuda tersebut meringkik kaget.
"Jika aku tidak kembali lagi ke Kotaraja besok, itu artinya aku sudah mati," tambah Seta lagi. Belum sempat Darpa menjawab, prajurit muda berkumis lebat itu sudah menggebah kudanya kencang-kencang.
Ucapan itu membuat Darpa tercekat. Tidak, tidak! Prajurit yang baru saja naik pangkat itu tidak boleh dibiarkan mati! Kerajaan Jenggala masih membutuhkan tenaganya.
Seketika itu pula Darpa merencanakan sesuatu.
***
Menjelang senja, Seta sudah memasuki Desa Lawadan(*) di kawasan Brang Kidul yang masuk ke dalam wilayah kekuasaan Panjalu. Gua Selogiri tidak terlalu jauh lagi dari sana.
Namun sejak melewati Lawadan medan perjalanan berubah menanjak dan berbatu-batu. Lalu rapatnya rimbunan daun pepohonan membuat sinar matahari tak leluasa menerangi permukaan tanah.
Seta terpaksa harus mengendalikan kudanya dengan sangat perlahan dan berhati-hati. Setelah menyusuri sepanjang punggungan satu pebukitan kapur, tibalah ia di muka gua yang ditandai dengan deretan beberapa obor tinggi.
"Hmmm, agaknya Ranajaya sengaja memberi tanda dengan jejeran obor itu, sehingga aku tak kesulitan menemukan gua yang dia maksudkan," ujar Seta pada dirinya sendiri.
Dengan tatapan tajam Seta edarkan pandangannya ke sekeliling. Sepi. Tak seorang pun terlihat di sekitaran mulut gua.
Sepasang telinganya lantas dipentang lebar-lebar, pendengarannya ditajamkan. Namun juga tak ada suara-suara mencurigakan yang tertangkap olehnya.
Seta lantas turun dari punggung kuda, lalu menambatkan hewan tersebut di sebatang pohon tak jauh dari mulut gua. Setelah mengambil sebatang obor yang berderet, prajurit Jenggala itu pun masuk ke dalam.
Suara ramai cericit kelelawar yang terkejut melihat cahaya menyambut kedatangan Seta. Semakin dalam ia masuk, semakin gelap suasana di sekelilingnya. Namun, nun di depan terlihat satu bagian yang terang benderang.
"Mereka pasti berada di sana," ujar Seta dalam hati.
Dengan sangat hati-hati sang prajurit menapaki batu-batu cadas yang tersusun sedemikian rupa menjadi lantai gua. Setapak demi setapak menuju ke arah bagian terang tersebut. Bertambah dekat ke sana, telinganya mulai mendengar suara-suara manusia. Semakin lama semakin jelas saja.
Ketika akhirnya dapat menangkap suara-suara itu dengan lebih jelas, wajah Seta berubah tegang. Itu suara seorang perempuan tengah merintih sambil menangis! Ditingkahi tawa bergelak memuakkan beberapa lelaki.
"Isteriku!" desis Seta dengan napas yang seketika berubah memburu. Rahangnya mengeras.
Tanpa sadar genggamannya pada batang obor jadi lebih kencang, sehingga kraaak! Bambu panjang itu hancur dan patah, sumbu apinya jatuh ke bawah.
Seta tak peduli. Dalam keremangan cahaya obor yang terjatuh di lantai gua ia percepat langkah. Setengah berlari prajurit tersebut menuju ke bagian terang yang tinggal beberapa langkah di muka.
Benar saja!
Begitu sampai di bagian yang ternyata sangat luas tersebut, sepasang mata Seta mendapati satu pemandangan keji. Tindakan yang membuat darahnya seketika mendidih, membuat napasnya semakin memburu kencang.
"Keparat!" teriak Seta.
Suara si prajurit menggema di dinding-dinding gua, mengagetkan tiga lelaki yang tengah mengerubuti seorang perempuan tanpa busana di atas permukaan datar sebuah batu besar. Tidak salah lagi, mereka adalah Ranajaya dan gerombolannya.
Sedangkan perempuan yang dalam keadaan telanjang, telentang di atas permukaan batu, adalah isteri Seta. Perempuan malang itu diculik dari rumahnya menjelang siang tadi. Bersamaan dengan kedatangan Ranajaya di kotaraja.
Belum hilang gema suara teriakannya, Seta sudah mencabut pedang dari pinggang lalu menyerbu ke depan. Dalam kedapnya gua, suara berkesiuran sabetan senjata tajam tersebut terdengar sangat jelas. Begitu menggidikkan di telinga.
Wuuuuttt!
Dua dari tiga lelaki tersebut bergerak menyambut serangan Seta. Di tangan mereka terhunus sebilah parang besar. Dua bilah parang itu langsung digerakkan ke muka, menghadang sambaran pedang lawan.
Traanggg!
Suara dentrang senjata menggema di dalam gua. Seta mengernyit kesakitan. Biar bagaimana pun, tenaga satu orang kalah dari dua orang sekaligus.
Namun prajurit Kerajaan Jenggala itu tak peduli. Dengan menahan rasa sakit ia kembali menyerang. Pedangnya sekali lagi disabetkan.
"Hiiiaaaaattt!"
Dua lelaki bercambang bauk saling pandang sembari menyeringai tipis. Keduanya sama-sama kembangkan kuda-kuda, lalu pelintangkan parang di tangan ke depan dada. Diam menunggu. Sama sekali tak ada tanda-tanda hendak menghindar maupun menangkis.
Hal ini membuat Seta curiga. Namun serangannya sudah kepalang tanggung, tak mungkin lagi ditarik balik. Lagipula tajamnya mata pedang sang prajurit tinggal sedikit lagi mengenai kulit lawan.
Sebuah keputusan salah!
)|(
FAJAR baru saja menyingkap langit timur ketika Seta keluar dari kediamannya di sisi barat istana. Udara dingin menusuk kulit, membawa aroma embun dan bunga kenanga dari taman permaisuri. Ia berjalan cepat melewati lorong panjang berlapis ubin batu. Di tangan kirinya tergenggam secarik kertas lusuh — catatan kecil yang ia temukan di dapur setelah Nini menghilang malam tadi.Tulisan di atasnya hampir pudar, tapi satu kalimat masih terbaca jelas: “Yang datang lewat pintu timur, bukan utusan, melainkan bayangan.”Seta memutar kalimat itu di kepalanya. Ia tahu, pintu timur istana jarang dipakai, hanya dibuka untuk tamu kerajaan tertentu atau untuk keluar masuk para pengawas kebun belakang. Tapi seminggu terakhir, penjaga di sisi timur mendadak diganti dengan wajah-wajah baru — prajurit muda yang tak pernah ia lihat sebelumnya.“Hamba mesti periksa sendiri,” desisnya.Lorong berakhir di pelataran kecil. Beberapa daya
MALAM itu angin berembus lirih melewati pepohonan taman istana. Bayangan lentera bergoyang di dinding bata, menimbulkan kesan seolah ada arwah yang menari di antara kelam. Seta berdiri di tepi kolam, menatap permukaannya yang bergemericik diterpa angin. Di bawah sinar bulan, wajahnya tampak letih, matanya dalam, menyimpan beban yang semakin berat dari malam ke malam.Sudah tiga hari ia menyelidiki dari balik bayang. Setiap langkah berhitung, setiap kata ditimbang. Ia tahu betul bahwa mata dan telinga Dyah Srengga bertebaran di seluruh penjuru istana Panjalu. Tak satu langkah pun boleh keliru, sebab kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat lehernya melayang.“Bukti yang nyata,” gumamnya perlahan. “Hamba mesti temukan itu, sebelum Gusti Permaisuri celaka.”Ia memejamkan mata, mengingat kembali pertemuannya terakhir dengan Sasi Kirana siang tadi. Wajah sang permaisuri yang biasanya teduh tampak resah, suaranya bergetar ketika memerintah agar
MALAM itu langit Panjalu berawan berat. Angin berembus pelan membawa bau bunga kenanga dari taman belakang istana, bercampur samar dengan hawa lembap tanah setelah hujan sore tadi. Seta belum tidur. Matanya menatap tajam ke arah jendela, mendengarkan setiap langkah yang melintas di luar biliknya.Sejak kematian Lira, perasaannya tak pernah benar-benar tenang. Ada sesuatu yang janggal. Ia telah bertanya ke beberapa emban, tapi tak satu pun tahu mengapa perempuan itu keluar dari dapur tengah malam. Lira dikenal rajin, sopan, dan jarang berbuat aneh—tidak mungkin ia mati hanya karena terpeleset.Suara langkah halus terdengar melewati lorong. Seta menegakkan tubuh, beringsut ke pintu. Dari celah bilik, ia melihat dua sosok lewat dengan membawa bakul kecil tertutup kain putih. Mereka berpakaian seperti abdi dapur, tapi langkahnya terlalu berhati-hati, terlalu sunyi.Naluri seorang prajurit bekerja lebih cepat dari pikirannya. Seta mengenakan ikat kepala dan kel
MALAM itu, angin bertiup pelan dari arah hutan utara, membawa bau lembap tanah dan rerumputan. Istana Panjalu tampak tenteram di permukaan, tapi di bawah permukaannya ada arus gelap yang mulai berputar—dan Seta berdiri tepat di tepinya.Sejak menemukan surat rahasia itu di bawah lantai bangsal timur, pikirannya tak pernah tenang. Kata-kata dalam pesan itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra yang sulit lenyap: “Tunggumu di batu bundar. Malam saat rembulan ganjil.”Dan malam ini, rembulan itu sedang ganjil—bulan purnama menyorot miring, menimbulkan bayang panjang di atas taman belakang istana.Ia melangkah pelan di antara deretan pohon tanjung dan kamboja. Taman belakang itu berada di sisi timur tembok, jarang dilalui orang kecuali para abdi yang menyapu daun di pagi hari. Di tengah taman ada sebuah batu besar berbentuk bulat pipih, hampir tertutup lumut—itulah yang diyakininya sebagai “batu bundar” dalam pesan.Seta menunggu dari balik semak. Dari kejauhan, ia bisa melihat jalan
Seta menunggu hingga matahari tergelincir dari ubun-ubun. Saat itu, kebanyakan abdi dalem akan sibuk di bangsal tengah—membersihkan ruangan utama setelah santap siang para pembesar. Waktu yang tepat untuk menyusup ke bangsal timur, tempat Wadu tinggal sebelum ia menghilang entah ke mana.Seta memilih jalan belakang, melalui lorong-lorong sempit yang biasa dilalui pengangkat air dan pemikul kayu. Langkahnya ringan, tubuhnya setengah bersembunyi di balik tiang dan tabir. Ia tahu betul, satu kesalahan kecil bisa membuatnya diadili karena menyusup ke ruang kediaman abdi dalem tanpa izin.Bangsal timur sunyi. Di luar, hanya ada satu penjaga yang duduk malas sambil mengunyah sirih. Seta menunggu sampai penjaga itu lengah, lalu menyelinap masuk lewat pintu samping.Ruangan itu gelap, lembap, dan penuh bau keringat. Tikar pandan digelar berderet, menunjukkan bahwa tempat itu dihuni beberapa orang sekaligus.Seta melangkah pelan, menyusuri sudut demi sudut h
Langkah Seta tak langsung menuju ke barak. Pagi itu, setelah meninggalkan kediaman permaisuri, ia berputar arah ke sisi belakang istana.Di sanalah dapur besar kerajaan berdiri, nyaris tak pernah sepi sejak fajar. Asap tipis mengepul dari tungku tanah liat, aroma rebusan daging dan beras merah bercampur dengan harum dedaunan segar yang baru dipotong.Seta menyusup di antara para pelayan yang sibuk, menyapa sekadarnya agar tak tampak mencurigakan. Pandangannya mencari satu nama—Ni Lastri, juru masak kepala yang sudah puluhan tahun mengabdi di istana permaisuri.Tak lama, ia menemukan orang yang dicari-cari di balik anyaman tikar bambu, tengah membersihkan lembaran-lembaran daun pisang.“Ni Lastri…” Seta menyapa dengan suara rendah.Perempuan tua itu menoleh cepat, sedikit heran. “Oh, Raden Seta? Ada angin apa pagi-pagi kemari?”“Tidak usah panggil raden. Aku… aku hanya abdi bi







