Share

3 - Rencana Keji

Penulis: Kebo Rawis
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-09 22:33:28

Pukulan jarak jauh tersebut menghantam dinding warung. Terus melaju cepat melabrak warung-warung lain di sebelah.

Suara ledakan keras terdengar. Diiringi kepulan asap bercampur debu dari hancurnya sekat-sekat anyaman bambu yang hancur lebur. Menjadi remah-remah.

Suara ledakan keras itu mengagetkan semua orang yang ada di sekitar tempat perkelahian. Membuat para pedagang dan orang-orang yang sedang makan-minum di warung-warung lain berhamburan keluar.

Awalnya orang-orang itu diliputi rasa penasaran. Lalu berbondong-bondong datang. Mendekat untuk mencari tahu arah sumber suara.

Namun setelah menyaksikan apa yang tengah terjadi, seketika mereka berlarian. Lintang pukang menjauh sembari menjerit-jerit. Suasana berubah kacau mencekam.

Seta menghela napas panjang. Sang prajurit menyadari keadaan sudah menjadi gawat. Mereka telah berkelahi di pinggiran kotaraja. Hanya sejarak lima ratus depa (sekitar satu kilometer) dari istana raja!

"Kalian telah membuat kekacauan di kotaraja. Bersiaplah kepala kalian dipenggal di alun-alun!" ujar sang prajurit mengancam ketiga lawan.

Mendengar itu Ranajaya keluarkan dengusan pendek.

"Sudah kepalang tanggung, prajurit keparat. Sebelum kepala kami dipenggal, kau dulu yang akan aku buat mati!" balasnya.

Saudara gembong rampok Surajaya itu lantas gerakkan tangannya dengan cepat. Parang besar disabetkan ke muka dengan cepat. Menyasar pangkal leher Seta dalam satu serangan bengis.

Wuuuutt! Wuuuutt!

Diserang begitu rupa Seta jadi menggembor marah. Tangannya yang memegang pedang digerakkan tak kalah cepat.

Senjata itu berkiblat. Bergulung-gulung membentuk sebuah lingkaran perak menuju ke arah lawan. Gerakan tersebut menimbulkan suara mengaung menggidikkan.

Traaangg! Traaangg!

Dua senjata beradu. Suasana siang terkoyak oleh suara berdentrangan keras. Percik-percik bunga api muncul dari titik-titik beradunya mata tajam parang besar dan pedang tersebut.

Karena baik Seta maupun Ranajaya sama-sama kerahkan tenaga dalam, benturan itu menyebabkan tangan keduanya merasakan kesemutan hebat. Dari pergelangan tangan hingga ke siku. Separuh tangan mereka seolah mati rasa.

Seta berdiri tergontai-gontai dengan napas memburu. Rasa geram yang memuncak ia luapkan dengan meludah ke tanah.

"Kalian tidak perlu mati di alun-alun, bajingan tengik! Karena aku, Seta sang wira tamtama, yang akan memenggal kepala kalian di sini sekarang juga!" bentak prajurit Jenggala gagah.

Seta tutup ucapannya dengan satu serangan. Pedang di tangannya kembali berputar-putar sebat. Membuat senjata itu hanya terlihat sebagai sebuah gulungan keperakan memanjang. Ujung tajam pedang mengarah lurus ke dada lawan.

"Hiiaaaatt!"

Ranajaya mendengus dengan sepasang mata terpentang lebar. Parang besar di tangannya dipelintangkan di depan dada. Begitu ujung pedang Seta mendekat, senjata tersebut digerakkan sedemikian rupa.

Parang besar berputar-putar bagai kitiran diiringi suara desauan angin. Dengan gerakan tersebut Ranajaya menyongsongkan senjata di tangannya ke arah datangnya serangan lawan.

Traaangg!

Lagi-lagi suara berdentrangan keras memecah udara. Namun kali ini Ranajaya tampak meringis kesakitan. Kakinya terjajar mundur beberapa langkah.

Sementara itu tangan Ranajaya yang memegang parang terlihat bergetar. Paras lelaki ini berubah ketika menyaksikan mata parangnya gompal di beberapa bagian!

Seta tertawa melihat perubahan raut muka lawan. Ia sudah dapat membaca bahwa kemampuannya berada di atas lelaki bercambang bauk itu. Meski hanya setingkat lebih tinggi.

"Bersiaplah, bajingan tengik! Sebab kau dan dua temanmu ini akan kubuat menyusul Surajaya ke neraka!" ujar Seta dalam suara menggeram kasar.

Di luar dugaan Ranajaya justru turut tertawa pula. Parang besarnya yang gompal tak karuan enak saja dilempar ke tanah. Kedua tangannya lantas ditekuk ke pinggang.

"Aku belum mau mati sekarang, prajurit tengik! Tidak sebelum aku puas menikmati hangatnya tubuh isterimu yang halus mulus," balasnya. Lalu lepaskan tawa lebih keras dari sebelumnya.

Seta tersurut mundur beberapa langkah. Wajahnya seketika memucat seputih kapas. Sedangkan kedua ujung alisnya bertaut rapat.

"K-kau ..?"

"A-apa maksud ucapanmu?" desis Seta tertahan dalam suara yang jelas sekali terdengar kaget. "Apa yang telah kau lakukan terhadap isteriku?"

Ranajaya masih terus tertawa terbahak-bahak. Dua lelaki temannya ikut tertawa pula. Membuat Seta semakin diliputi penasaran, sekaligus hawa amarah yang bertambah-tambah.

"Katakan, apa yang telah kalian lakukan terhadap isteriku?!" bentak Seta dengan sepasang mata berkilat-kilat.

"Dengar, Prajurit, mulai malam ini isterimu yang cantik itu akan menemaniku tidur. Oh, tidak, tidak ... bukan cuma aku. Menemani kami bertiga, maksudku," jawab Ranajaya sembari terus menyungging seringai.

Selepas itu Ranajaya dan kedua temannya kembali tertawa terbahak-bahak. Suara tawa mereka bertiga keras membahana.

Seta kertakkan rahang. "Bangsat! Berani kau berbuat macam-macam ..."

"Sssshhh!" Ranajaya menukas sambil goyang-goyangkan telunjuk di depan wajah.

"Kami memang tidak bermaksud berbuat macam-macam terhadap isterimu, Seta. Yang kami inginkan hanyalah satu macam saja dari isterimu itu. Cukup satu macam!" tambahnya.

Usai berkata begitu, Ranajaya menjilati bibir sendiri dengan sepasang mata merem-melek. Setelah itu lalu lelaki bercambang bauk lebat tersebut kembali tertawa keras.

Seta langsung paham apa maksud orang. Gerahamnya seketika beradu kencang, sedangkan wajahnya berubah kelam membesi.

"Iblis! Kau harus mati!" Seta menjerit keras. Tubuhnya melesat ke depan, melepas satu sabetan pedang ke arah Ranajaya.

Wuuuttt!

Pedang di tangan Seta bergerak cepat. Mengeluarkan suara mengaung nan menggidikkan. Kembali datang menyambar ke arah Ranajaya dan dua temannya.

Sayang, pikiran sang prajurit diliputi hawa amarah setelah mendengar ucapan lawannya tadi. Akibatnya, serangan yang dilancarkan prajurit Kerajaan Jenggala itu menjadi sangat serampangan. Sabetan pedangnya tak terlalu membahayakan lawan.

Melihat gelagat itu Ranajaya beri kesempatan pada dua rekannya untuk ganti meladeni lawan. Sementara ia menepi ke satu sudut warung. Menyaksikan pertempuran yang segera kembali pecah.

"Pengecut! Beraninya hanya main keroyok," dengus Seta mengejek.

Tentu saja dua kambrat Ranajaya tak ambil peduli. Lagi pula mereka mengeroyok bukan karena takut kalah. Tapi lebih disebabkan ingin segera menyudahi pertarungan tersebut. Dan selanjutnya menyuguhkan kejutan tambahan bagi sang prajurit.

Secara berbarengan kedua lelaki itu meladeni serangan Seta dengan sabetan parang besar. Dua bilah senjata berkelebat cepat, menimbulkan suara berdesing. Lalu berdentrangan keras saat beradu dengan pedang sang prajurit Jenggala.

"Hiaaaatt!"

Wuuuutt! Wuuuutt!

Meski kelebatan parang di tangan mereka tampak begitu ganas, tetapi kedua anak buah Ranajaya sama sekali tidak berniat menghabisi Seta. Tugas mereka bukan membunuh prajurit itu. Melainkan hanya membuatnya tak berdaya.

Setelah itu, seperti yang telah mereka rancang sejak awal, Ranajaya akan memberi tahu sesuatu yang tak pernah disangka-sangka oleh si prajurit.

Karena itu, sasaran pertama setiap serangan yang mereka lakukan adalah untuk melucuti pedang di tangan Seta. Baru kemudian membuatnya menyerah kalah. Sebelum memberi serangan pamungkas yang jauh lebih menyakitkan dari kematian.

"Hiaaaattt!"

Jika tidak sedang dikuasai amarah, sebetulnya Seta akan dapat dengan mudah mengatasi dua penjahat bercambang bauk lebat itu. Kemampuan kedua anak buah Ranajaya di bawah kemampuan miliknya.

Namun cerita menjadi berbeda karena sang prajurit tengah menggelegak darahnya. Hawa amarah menguasai dirinya, membuat setiap gerakannya tak lagi didasarkan pada pikiran jernih.

Itu sebabnya prajurit yang baru saja naik pangkat menjadi wira tamtama tersebut lambat laun keteteran. Ia hanya dapat mengimbangi kedua lawannya dalam empat-lima jurus awal. Memasuki jurus-jurus berikutnya, sang prajurit sudah kehilangan pedang.

Trraaaanggg!

Ketika Seta berusaha menangkis serangan salah satu penyerang, lelaki yang satu lagi berhasil mendaratkan pukulan ke tangannya. Kemudian diikuti dengan satu gerakan menggaet lepas pedang. Senjata itu pun mencelat mental entah kemana.

Paras Seta berubah. Ia menyadari dirinya semakin terdesak, tetapi ledakan amarah membuatnya terus bertahan dan melawan.

Hal itu tidak berlangsung lama. Karena dalam satu kesempatan kelebat parang besar lawan tak kuasa dihindari Seta. Tajamnya mata parang salah satu pengeroyok menyayat dada sang prajurit.

Craasss!

)|(

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 207

    FAJAR baru saja menyingkap langit timur ketika Seta keluar dari kediamannya di sisi barat istana. Udara dingin menusuk kulit, membawa aroma embun dan bunga kenanga dari taman permaisuri. Ia berjalan cepat melewati lorong panjang berlapis ubin batu. Di tangan kirinya tergenggam secarik kertas lusuh — catatan kecil yang ia temukan di dapur setelah Nini menghilang malam tadi.Tulisan di atasnya hampir pudar, tapi satu kalimat masih terbaca jelas: “Yang datang lewat pintu timur, bukan utusan, melainkan bayangan.”Seta memutar kalimat itu di kepalanya. Ia tahu, pintu timur istana jarang dipakai, hanya dibuka untuk tamu kerajaan tertentu atau untuk keluar masuk para pengawas kebun belakang. Tapi seminggu terakhir, penjaga di sisi timur mendadak diganti dengan wajah-wajah baru — prajurit muda yang tak pernah ia lihat sebelumnya.“Hamba mesti periksa sendiri,” desisnya.Lorong berakhir di pelataran kecil. Beberapa daya

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 206

    MALAM itu angin berembus lirih melewati pepohonan taman istana. Bayangan lentera bergoyang di dinding bata, menimbulkan kesan seolah ada arwah yang menari di antara kelam. Seta berdiri di tepi kolam, menatap permukaannya yang bergemericik diterpa angin. Di bawah sinar bulan, wajahnya tampak letih, matanya dalam, menyimpan beban yang semakin berat dari malam ke malam.Sudah tiga hari ia menyelidiki dari balik bayang. Setiap langkah berhitung, setiap kata ditimbang. Ia tahu betul bahwa mata dan telinga Dyah Srengga bertebaran di seluruh penjuru istana Panjalu. Tak satu langkah pun boleh keliru, sebab kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat lehernya melayang.“Bukti yang nyata,” gumamnya perlahan. “Hamba mesti temukan itu, sebelum Gusti Permaisuri celaka.”Ia memejamkan mata, mengingat kembali pertemuannya terakhir dengan Sasi Kirana siang tadi. Wajah sang permaisuri yang biasanya teduh tampak resah, suaranya bergetar ketika memerintah agar

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 205

    MALAM itu langit Panjalu berawan berat. Angin berembus pelan membawa bau bunga kenanga dari taman belakang istana, bercampur samar dengan hawa lembap tanah setelah hujan sore tadi. Seta belum tidur. Matanya menatap tajam ke arah jendela, mendengarkan setiap langkah yang melintas di luar biliknya.Sejak kematian Lira, perasaannya tak pernah benar-benar tenang. Ada sesuatu yang janggal. Ia telah bertanya ke beberapa emban, tapi tak satu pun tahu mengapa perempuan itu keluar dari dapur tengah malam. Lira dikenal rajin, sopan, dan jarang berbuat aneh—tidak mungkin ia mati hanya karena terpeleset.Suara langkah halus terdengar melewati lorong. Seta menegakkan tubuh, beringsut ke pintu. Dari celah bilik, ia melihat dua sosok lewat dengan membawa bakul kecil tertutup kain putih. Mereka berpakaian seperti abdi dapur, tapi langkahnya terlalu berhati-hati, terlalu sunyi.Naluri seorang prajurit bekerja lebih cepat dari pikirannya. Seta mengenakan ikat kepala dan kel

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 204

    MALAM itu, angin bertiup pelan dari arah hutan utara, membawa bau lembap tanah dan rerumputan. Istana Panjalu tampak tenteram di permukaan, tapi di bawah permukaannya ada arus gelap yang mulai berputar—dan Seta berdiri tepat di tepinya.Sejak menemukan surat rahasia itu di bawah lantai bangsal timur, pikirannya tak pernah tenang. Kata-kata dalam pesan itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra yang sulit lenyap: “Tunggumu di batu bundar. Malam saat rembulan ganjil.”Dan malam ini, rembulan itu sedang ganjil—bulan purnama menyorot miring, menimbulkan bayang panjang di atas taman belakang istana.Ia melangkah pelan di antara deretan pohon tanjung dan kamboja. Taman belakang itu berada di sisi timur tembok, jarang dilalui orang kecuali para abdi yang menyapu daun di pagi hari. Di tengah taman ada sebuah batu besar berbentuk bulat pipih, hampir tertutup lumut—itulah yang diyakininya sebagai “batu bundar” dalam pesan.Seta menunggu dari balik semak. Dari kejauhan, ia bisa melihat jalan

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 203

    Seta menunggu hingga matahari tergelincir dari ubun-ubun. Saat itu, kebanyakan abdi dalem akan sibuk di bangsal tengah—membersihkan ruangan utama setelah santap siang para pembesar. Waktu yang tepat untuk menyusup ke bangsal timur, tempat Wadu tinggal sebelum ia menghilang entah ke mana.Seta memilih jalan belakang, melalui lorong-lorong sempit yang biasa dilalui pengangkat air dan pemikul kayu. Langkahnya ringan, tubuhnya setengah bersembunyi di balik tiang dan tabir. Ia tahu betul, satu kesalahan kecil bisa membuatnya diadili karena menyusup ke ruang kediaman abdi dalem tanpa izin.Bangsal timur sunyi. Di luar, hanya ada satu penjaga yang duduk malas sambil mengunyah sirih. Seta menunggu sampai penjaga itu lengah, lalu menyelinap masuk lewat pintu samping.Ruangan itu gelap, lembap, dan penuh bau keringat. Tikar pandan digelar berderet, menunjukkan bahwa tempat itu dihuni beberapa orang sekaligus.Seta melangkah pelan, menyusuri sudut demi sudut h

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 202

    Langkah Seta tak langsung menuju ke barak. Pagi itu, setelah meninggalkan kediaman permaisuri, ia berputar arah ke sisi belakang istana.Di sanalah dapur besar kerajaan berdiri, nyaris tak pernah sepi sejak fajar. Asap tipis mengepul dari tungku tanah liat, aroma rebusan daging dan beras merah bercampur dengan harum dedaunan segar yang baru dipotong.Seta menyusup di antara para pelayan yang sibuk, menyapa sekadarnya agar tak tampak mencurigakan. Pandangannya mencari satu nama—Ni Lastri, juru masak kepala yang sudah puluhan tahun mengabdi di istana permaisuri.Tak lama, ia menemukan orang yang dicari-cari di balik anyaman tikar bambu, tengah membersihkan lembaran-lembaran daun pisang.“Ni Lastri…” Seta menyapa dengan suara rendah.Perempuan tua itu menoleh cepat, sedikit heran. “Oh, Raden Seta? Ada angin apa pagi-pagi kemari?”“Tidak usah panggil raden. Aku… aku hanya abdi bi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status