ログインCahaya dari Gunung Akar menyilaukan mata saat pertempuran antar Raden dengan Patih Prabu Kala siap meletus. Namun sebelum sihir hitam dari tangan Patih Kala bisa menyentuh tanah, sebuah tirai cahaya hijau keemasan muncul dengan tiba-tiba di antara kedua pihak, membentang luas seperti dinding tak terlihat yang memisahkan mereka. Suara gemuruh lembut seperti getaran akar pohon menggema ke seluruh medan, dan angin yang membawa aroma bunga langka Bumi Akar mulai berhembus lembut.“Patih Prabu Kala,” suara yang tenang namun penuh dengan kekuasaan terdengar dari balik tirai cahaya. “Kekuatanmu tidak akan bisa menyentuh mereka di medan yang telah menjadi saksi janji kuno. Kau telah melanggar batas antara dunia atas dan bawah tanah dengan membawa kekerasan ke wilayah Bumi Akar – hukuman akan menimpamu jika kau terus berusaha menerobos.”Patih Kala mencoba menerobos tirai cahaya dengan serangan sihir hitamnya, namun energi tersebut hanya terpantul kembali dan membuatnya terjatuh beberapa langk
Sinar keemasan dari buku-buku kuno dan prasasti batu menerangi ruangan bawah tanah yang masih utuh di bawah reruntuhan istana Kota Batu Akar yang Hilang. Kelompok beristirahat sambil mempelajari catatan-catatan kuno tersebut, sementara suara nyanyian sihir hitam dari kejauhan semakin jelas – Patih Prabu Kala dan pasukannya sudah memasuki kawasan kota, menghancurkan reruntuhan yang menghalangi jalur mereka dengan kekuatan sihir yang kasar dan tidak mengenal batas.“Informasi di buku ini menjelaskan bahwa sebelum mencapai Gunung Akar, setiap calon pemegang Batu Akar Raja harus melalui tiga tahap ujian yang terletak di jalur utama menuju gunung,” ujar Ki Ageng Akarwana sambil menunjuk pada sebuah halaman yang dihiasi dengan gambar pola akar yang saling terjalin. “Ujian ini tidak menguji seberapa kuat kamu secara fisik, Raden, melainkan seberapa dalam kamu memahami makna dari perjanjian kuno dan seberapa tulus hatimu untuk menjaga keseimbangan alam.”Raden mendekat dan melihat gambar-gamb
Langkah kaki kelompok semakin mantap saat menjauhi Taman Pertumbuhan Akar, dengan cahaya dari Batu Akar Raja menerangi jalan yang kini tampak lebih jelas di antara reruntuhan akar dan batu yang mengelilingi lorong bawah tanah. Suara langkah kaki besar dan nyanyian sihir hitam dari kejauhan masih terdengar, namun kini mereka bisa merasakan bahwa getaran energi dari sumber tersebut bukan hanya ancaman – melainkan juga sebuah panggilan untuk menghadapi kesalahan masa lalu yang telah menyebabkan kehancuran.“Jarak ke Kota Batu Akar yang Hilang semakin dekat,” ujar Ki Ageng Akarwana sambil mengamati pola cahaya yang menyala di langit bawah tanah. Cahaya keperakan yang mereka lihat sebelumnya kini semakin jelas, membentuk kontur puncak bangunan yang tampak megah meskipun sudah terlupakan. “Kita akan segera tiba di tempat di mana perjanjian kuno antara manusia dan alam hampir hancur karena keserakahan yang tidak terkendali.”Raden menatap ke arah cahaya tersebut, merasakan bagaimana tanda ak
Guncangan dari bawah tanah semakin kuat, dan nyala api sihir hitam yang mengikuti jejak mereka mulai menjilat ujung-ujung akar pohon yang menyilang lorong baru yang dibuka Ki Ageng Akarwana. Cahaya dari Batu Akar Raja di tangan Raden menyala lebih terang untuk menerangi jalan yang licin dan penuh dengan reruntuhan batu yang terus bergeser seiring dengan gemuruh yang menggema.“Kita perlu berhenti sebentar di tempat yang aman!” teriak Shinta Sari sambil mengamati keadaan sekitar dengan cermat. Matanya yang terpapar cahaya hijau dari gelangnya menangkap sinyal energi yang tenang di seberang sebuah lembah kecil yang dikelilingi oleh pepohonan dengan akar yang menjalar seperti tali yang terjalin rapi. “Di sana – Taman Pertumbuhan Akar yang pernah kubicarakan. Hanya ada di sini saat alam merasa kita membutuhkan pelajaran tentang kekuatan yang sebenarnya.”Ki Ageng Akarwana mengangguk dan mengarahkan tongkatnya ke arah lembah tersebut. “Benar sekali, putri. Kita tidak bisa melanjutkan perja
Dengan Ki Ageng Akarwana memimpin di depan, kelompok memasuki lorong batu yang dilingkupi akar-akar kayu besar yang menjulang seperti tiang penyangga. Cahaya samar berwarna ungu yang menyinari jalan mereka tampak semakin redup seiring dengan setiap langkah yang mereka tempuh, dan udara menjadi semakin dingin serta penuh dengan aroma tanah basah dan akar-akar tua yang membusuk. Raden merasakan bagaimana Batu Akar Raja di telapak tangannya mulai bergetar dengan lembut, seolah merespons sesuatu yang ada di sekitar mereka yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.“Perhatikan setiap langkah kalian,” ujar Ki Ageng Akarwana dengan suara yang rendah namun jelas, sambil menggerakkan tongkat akar-nya ke arah kanan dan kiri seolah membaca arus energi di sekitar lorong. “Kita tidak sendirian di sini. Bayangan dari musuh kita telah menyebar ke setiap sudut kota yang hilang ini – mereka yang tidak bisa melihat cahaya alam akan mudah tersesat dan terjebak dalam ilusi yang mereka ciptakan.”Shinta
Sosok lelaki tua yang berdiri di tengah kubah utama reruntuhan Kota Batu Akar yang Hilang mulai bergerak perlahan menjauhi bayangan, dengan langkahnya yang tenang namun penuh bobot seolah membawa seluruh sejarah di pundaknya. Rambut dan janggutnya yang putih seperti kapas mengalir menutupi bahunya, dan pakaiannya yang terbuat dari kulit pohon tua dan anyaman akar tampak telah ada selama berabad-abad. Cahaya emas dari balik reruntuhan menyinari wajahnya yang penuh dengan kedalaman dan kebijaksanaan, serta bekas luka kecil di dahinya yang berbentuk seperti pola akar pohon – sama seperti yang ada pada Batu Akar Raja di tangan Raden.“Kamu adalah Raden Jayaningrat, cucu ketujuh dari Raja Jayaputra,” ujar lelaki tua dengan suara yang dalam namun lembut, seperti getaran yang merambat melalui akar-akar di bawah tanah. “Saya adalah Ki Ageng Akarwana, penjaga memori Kota Batu Akar dan saksi dari perjanjian kuno antara dunia atas dan Bumi Akar.”Raden segera mengangkat tangan dengan hormat, sem







