Batu Akar Raja

Batu Akar Raja

last update최신 업데이트 : 2026-03-26
에:  sayang ibu방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10
0 평가 순위. 0 리뷰
14챕터
18조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Di abad ke-9 Masehi, Kerajaan Mataram Fiksi yang berada di kawasan sekitar pegunungan Tengger menghadapi bencana besar—kemarau panjang yang menyebabkan kegagalan panen dan serangan misterius dari makhluk gaib yang muncul dari hutan belantara. Raden Jayaningrat, pangeran muda yang menyembunyikan kemampuan istimewa untuk memahami bahasa tumbuhan, mulai menemukan bahwa dirinya terkait erat dengan Batu Akar Raja—batu sakral kerajaan yang hilang dan dipercaya bisa menyelamatkan alam serta masyarakat. Dalam perjalanan mencari kebenaran, Raden bertemu dengan Dewi Shinta Sari, penyihir alam yang menjaga gerbang menuju Bumi Akar—wilayah bawah tanah yang penuh dengan rahasia sejarah kerajaan. Bersama dengan pendeta tua Mbah Ki Semar yang menyimpan rahasia asal-usul kerajaan, mereka memulai perjalanan yang penuh rintangan ke dunia bawah tanah, menghadapi makhluk gaib dan ujian yang menguji tekad serta keikhlasan mereka. Namun, bahaya tidak hanya datang dari alam. Patih Prabu Kala, penasihat raja yang penuh keserakahan, merencanakan untuk mengambil alih kekuasaan dengan memanfaatkan kekuatan batu akar. Ia menguasai kerajaan dan menyebabkan penderitaan rakyat, membuat Raden dan kelompoknya harus berjuang untuk mengembalikan keadilan serta menyelamatkan batu dari tangan yang salah. Setelah melalui pertempuran hebat dan mengorbankan banyak hal, Raden berhasil mengalahkan Patih Kala dan memimpin kerajaan untuk memulihkan keseimbangan alam serta kehidupan masyarakat. Pada akhirnya, ia harus membuat keputusan berat—apakah akan menyimpan kekuatan batu untuk diri sendiri dan kerajaan, atau mengembalikannya ke Bumi Akar untuk menjaga keseimbangan alam semesta yang abadi. Novel ini mengangkat tema hubungan manusia dan alam, tanggung jawab kepemimpinan, konsekuensi keserakahan, serta cinta yang melampaui batas dunia dan waktu—menawarkan kisah mendalam yang menghubungkan sejarah, budaya, dan fantasi dalam karya berkualitas premium untuk pembaca yang menghargai literasi kelas atas.

더 보기

1화

BAB 1: KEMARAU YANG TAK BERAKHIR

Udara di Kerajaan Mataram Fiksi terasa panas dan kering, menusuk hingga ke dalam tulang belulang setiap makhluk yang menghirupnya. Ketika mentari mulai muncul dari balik gunung Tengger pada pagi itu, cahayanya tidak lagi membawa harapan seperti dulu – melainkan hanya menambah beban bagi ribuan warga yang sudah tiga musim berturut-turut bergelut dengan kemarau yang mematikan.

Raden Jayaningrat berdiri di teras tinggi Istana Jayawardhana, matanya memperhatikan hamparan sawah yang dulunya hijau menyala kini hanya tersisa hamparan tanah retak berwarna coklat kemerahan. Garis-garis retakan itu seperti luka yang tidak kunjung sembuh di tubuh kerajaan yang pernah makmur. Dia menyentuh daun sebatang pohon beringin yang tumbuh di sudut teras – daun yang sudah mengering dan pecah hanya dengan sedikit sentuhan. Seperti biasa, dia merasakan getaran lembut dari batang pohon tersebut – sebuah bahasa yang hanya dia yang bisa pahami, berisik tentang rasa haus dan keputusasaan.

“Sudah tiga musim, Tumenggung,” ujar Raden kepada lelaki tua yang berdiri di belakangnya, Tumenggung Wiryatmaja, salah satu pembesar kerajaan yang setia kepada ayahnya, Raja Jayawardhana. “Sawah-sawah di daerah utara sudah tidak ada satu butir pun padi yang bisa dipanen. Sungai Bengawan yang dulu mengalir deras kini hanya tersisa parit kecil yang penuh dengan lumpur kering.”

Tumenggung menghela napas dalam, wajahnya yang keriput menampakkan kesusahan yang dalam. “Betul, Yang Mulia. Malam kemarin saya menerima laporan dari desa-desa di kaki pegunungan – beberapa keluarga sudah mulai mengonsumsi akar pohon dan dedaunan yang masih sedikit tersisa. Ada juga yang mulai meninggalkan desa mereka mencari tempat yang lebih layak huni.”

Raden menoleh ke arah pelabuhan kerajaan yang terletak di muara sungai yang sudah mengering. Beberapa kapal dagang yang dulunya ramai berlayar kini terdampar di dasar parit yang kering, kayu kapal mulai retak karena terpapar panas matahari setiap hari. Dia ingat betul bagaimana pelabuhan itu pernah menjadi jantung perdagangan kerajaan – barang-barang dari berbagai daerah datang dan pergi, membawa kemakmuran bagi semua lapisan masyarakat. Kini, hanya ada beberapa orang pekerja yang berkutat di sekitar kapal, mencoba mencari sesuatu yang bisa dijual atau dimanfaatkan.

Di pelataran istana yang lebih rendah, suara keributan mulai terdengar. Raden dan Tumenggung turun dengan cepat, menemukan sekelompok warga yang datang dari desa-desa sekitar sedang berteriak di depan gerbang istana. Mereka membawa anak-anak yang wajahnya kurus dan mata yang kosong, serta beberapa ikat jerami yang sudah mengering sebagai bukti kegagalan panen.

“Kami ingin bertemu dengan Raja! Kami ingin bertanya, mengapa kerajaan yang dulu makmur kini dibiarkan kelaparan!” teriak seorang pria berkulit gelap dengan janggut kusut. “Kami sudah taat membayar pajak, kami sudah menjaga tanah kerajaan dengan sepenuh hati – tapi mengapa alam kini menyiksa kami?”

Suara protes lainnya mulai menyusul, semakin memaki dan mengancam. Beberapa prajurit istana siap menghadang mereka dengan tombak dan keris, namun Raden segera menghentikannya dengan gerakan tangan. Dia maju ke depan, menghadapi kerumunan dengan wajah yang tenang namun penuh perhatian.

“Saudaraku sekalian,” panggil Raden dengan suara yang jelas dan bisa terdengar di tengah keributan. “Saya mengerti rasa kesusahan kalian. Saya sendiri telah melihat dengan mata kepala saya bagaimana sawah-sawah kita mengering, bagaimana anak-anak kita kelaparan. Ayahanda saya, Raja Jayawardhana, sedang bekerja keras bersama para pembesar untuk mencari solusi. Kami telah mengirim utusan ke kerajaan-kerajaan tetangga untuk meminta bantuan makanan, dan para ahli sedang mencari cara untuk menggali sumur-sumur baru atau membuka saluran air dari pegunungan.”

Namun jawaban itu tidak cukup untuk menenangkan kerumunan. Seorang wanita muda yang membawa bayi di pundaknya melangkah ke depan, matanya penuh dengan air mata. “Yang Mulia, kami sudah mendengar janji-janji itu selama berbulan-bulan. Bantuan dari kerajaan tetangga tidak pernah datang – mereka bilang mereka juga menghadapi kesulitan yang sama. Sumur-sumur yang digali hanya menghasilkan tanah kering dan debu. Beberapa orang mulai berkata bahwa ini bukan sekadar kemarau – ini adalah kutukan karena kerajaan telah melupakan janji dengan alam!”

Kata “kutukan” seperti kilatan petir yang menyambar tengah kerumunan. Suara protes menjadi lebih keras, beberapa orang mulai menyebut nama “Batu Akar Raja” – sebuah nama yang Raden sering dengar dalam cerita rakyat namun tidak pernah mendapatkan penjelasan yang jelas dari orang dewasa di istana.

“Kutukan dari Batu Akar Raja yang hilang!” teriak seseorang dari belakang kerumunan. “Raja telah menyembunyikan pusaka kerajaan, dan alam marah karena itu!”

Dalam sekejap, suasana menjadi semakin tegang. Prajurit istana mulai mengerahkan diri lebih erat di sekitar gerbang, sementara warga semakin menggebu-kebu. Raden mencoba lagi untuk menenangkan mereka, namun sebelum dia bisa berkata apa-apa, suara keras dari balik kerumunan membuat semua orang menjadi hening.

“Ini sudah cukup!”

Raja Jayawardhana muncul dengan berpakaian kerajaan yang megah, meskipun wajahnya yang tua menunjukkan betapa beratnya beban yang dia tanggung. Dia berdiri di atas tangga istana, memandang kerumunan dengan mata yang tajam namun penuh belas kasihan.

“Saudara-saudara saya yang terkasih,” ujar Raja dengan suara yang kuat dan penuh wewenang. “Saya mengakui bahwa kerajaan sedang menghadapi masa sulit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun tidak ada kutukan yang menghantui kita – ini adalah ujian dari alam yang mengingatkan kita akan betapa lemahnya kita jika melupakan hubungan kita dengan bumi yang memberi kita hidup. Saya berjanji, dalam waktu tiga hari lagi, kita akan mengadakan upacara besar untuk memohon restu dari para dewata alam dan mencari jalan keluar bersama-sama. Untuk saat ini, silakan pulanglah – kami akan segera mendistribusikan sisa persediaan makanan yang kami miliki kepada yang paling membutuhkan.”

Dengan kehadiran Raja, kerumunan akhirnya mulai menyebar dengan enggan. Namun ekspresi wajah mereka menunjukkan bahwa kepercayaan yang dulu mereka miliki terhadap pemerintahan sudah mulai goyah. Beberapa orang masih berbisik tentang kutukan dan Batu Akar Raja saat mereka berjalan pulang, membawa beban kesusahan yang semakin berat di pundak masing-masing.

Setelah kerumunan hilang, Raja memanggil Raden masuk ke ruang rapat istana. Di dalam ruangan yang dingin dan penuh dengan buku-buku kuno serta peta kerajaan, Raja duduk di atas kursinya yang besar, wajahnya terlihat lebih tua dari biasanya.

“Kau melihat sendiri, Jayaningrat,” ujar Raja dengan suara yang lemah. “Kekuasaan kita tidak lebih dari debu jika alam memutuskan untuk berbalik menghadapi kita. Para pembesar mulai tidak puas dengan cara saya memimpin – mereka berkata bahwa saya terlalu lemah, bahwa kita harus mengambil langkah yang lebih tegas, bahkan mungkin menggunakan kekuatan yang dilarang untuk mengakhiri kemarau ini.”

“Apakah itu berkaitan dengan Batu Akar Raja, Bapak?” tanya Raden dengan hati-hati. “Warga menyebut nama itu sebagai pusaka kerajaan yang hilang. Apa sebenarnya batu itu?”

Raja terdiam sejenak, matanya memperhatikan layar bambu yang menghadap ke taman istana yang juga sudah mengering. Setelah beberapa saat, dia hanya menggelengkan kepala. “Itu hanya cerita rakyat, anakku. Sebuah legenda yang tidak memiliki dasar nyata. Kita tidak bisa bergantung pada dongeng dalam masa sulit seperti ini. Kita harus mencari solusi dengan cara yang benar, dengan kerja keras dan kesatuan masyarakat.”

Namun ketika Raja berkata demikian, Raden melihat bahwa matanya menunjukkan sesuatu yang lain – sesuatu yang disembunyikan, sebuah rahasia yang berat.

Sore itu, Raden kembali ke kamarnya yang terletak di bagian belakang istana, dekat dengan kebun yang kini hanya tersisa tanaman yang mengering. Dia duduk di atas alas tikar yang sudah aus, mencoba untuk beristirahat setelah hari yang melelahkan. Namun benaknya terus terpikir pada kata-kata warga tentang Batu Akar Raja, dan ekspresi wajah ayahnya yang penuh dengan rahasia.

Ketika malam datang dan kegelapan menyelimuti kerajaan, Raden akhirnya tertidur lelap. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia mengalami mimpi yang akan mengubah seluruh jalannya hidup – sebuah mimpi tentang batu kecil yang bersinar dengan cahaya hijau keemasan, terpajang di tengah hutan yang tidak dikenal. Di sisi batu berdiri seorang wanita berpakaian daun dan akar pohon, yang dengan lembut mengajaknya untuk datang mencari batu tersebut. Suara bisikan yang lembut namun jelas menyebutkan nama yang membuat dirinya terkejut bahkan dalam mimpi – “Batu Akar Raja…”

--- AKHIR BAB 1 ---

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
14 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status