Masuk[BUKAN NOVEL TERJEMAH] "Tiada kasta dalam cinta." *** Dewi Harnum adalah seorang pelayan di suatu kerajaan. Ia selalu menggunakan selendang untuk menutupi wajah cantiknya, karena takut, jika kecantikannya akan menimbulkan perpecahan di masa depan. Ia menerima takdirnya sebagai reinkarnasi dari Mahadewi. Dialah satu-satunya gadis yang mampu membuat Putra Mahkota dari Kekaisaran Alaska bertekuk lutut di bawah kakinya. Sang pangeran begitu mencintai Dewi Harnum. Pertemuan pertama mereka membuatnya mengklaim gadis itu sebagai miliknya. Permaisurinya~ *** "Menikahlah. Denganku!" Alih-alih meminta, ucapan Pangeran Leonard terdengar seperti titah yang harus dipatuhi. Khas seorang penguasa. "Sa-saya hanya seorang pelayan, Pangeran," ujar Dewi Harnum lirih. "Aku tidak peduli karena hatiku yang telah memilihmu, Permaisuriku~" ***
Lihat lebih banyakSeorang gadis belia berusia tujuh tahun tengah mengumpulkan kayu bakar di hutan. Usai semua kayu bakar terkumpul, ia mengikatnya menjadi satu. Tak banyak oleh karena itu ia bisa membawanya tanpa kesulitan yang berarti. Di tengah perjalanan menuju rumah, ia mendengar suara geraman kesakitan.
“Suara apa itu?” Matanya berpendar, mencari sumber suara saat telinganya kembali mendengar suara yang sama namun jauh lebih keras. Gadis itu meletakkan kayu bakar miliknya ke tanah, meninggalkannya begitu saja untuk mencari sumber suara karena penasaran. Lalu ia melihat seekor singa putih tengah berbaring lunglai di tanah. Kepalanya bergerak-gerak sambil menggeram kesakitan. Tampak kaki kirinya terluka karena sebuah perangkap yang sepertinya dipasang oleh para pemburu.
Gadis itu mendekati Sang singa lalu duduk di sampingnya tanpa rasa takut sedikitpun. Tatapannya terpusat pada luka di kaki singa, menatapnya sedih sekaligus khawatir. “Kau terluka, Raja Singa.” Sayangnya, sang singa beringsut menjauh sambil menggeram marah. “Jangan takut. Aku takkan melukaimu. Tenanglah, Raja Singa.”
Sang singa menggeram keras agar gadis itu menjauh hingga berlari ketakutan. Sayangnya, gadis itu tak merasa takut sedikitpun. Gadis itu bahkan dengan berani mengusap bulu yang menghiasi kepalanya dengan senyuman lebar seolah mendapat mainan baru. Sang singa berkedip saat melihat wajah bahagia tersebut. Anehnya, sentuhan gadis itu membuatnya kecanduan. Ia meliukkan kepalanya manja kearah gadis itu untuk mencari kenyamanan. Moncongnya berada di lekukan leher Si gadis.
Ada sebuah tanda lahir bersimbol mahkota kecil di leher kanannya. Sang singa mengendus aroma tubuh yang mengundang rasa laparnya itu rakus. Sesekali ia menjilati area itu hingga membuat siempunya terkikik kegelian.
Menyadari sang singa telah luluh, senyum gadis itu kian melebar. Tangan mungilnya melingkari kepala singa itu, memeluknya gemas. “Kau ternyata sangat manja, Raja Singa.”
Sang singa membuka mulutnya lebar-lebar, menunjukkan giginya yang bersih nan rapi serta taring panjang yang runcing di masing-masing sisinya. Ia membuka mulut dan bersiap memakan santapan lezat di hadapannya. Namun mulutnya tertutup rapat saat suara gadis itu kembali mengudara.
“Nenek salah. Kau sama sekali tak jahat. Kau bahkan tak memakanku.” Saat gadis itu mengurai pelukannya, sang singa menggeram tak suka. “Aku akan mengobati lukamu,” ujar gadis itu menenangkan sambil membuka benda yang menjepit dan melukai kaki sang singa dengan hati-hati.
Sang singa menggeram kesakitan sebelum merasa lega.
“Maaf jika aku melukaimu. Aku akan mencari dedaunan untuk mengobati lukamu.”
Singa itu berbaring dengan anggun. Kepalanya berdiri tegak bak seorang raja. Ekornya bergerak kesana kemari seolah menjadi tanda jika ia tengah senang.
Manik bulat keemasan miliknya memperhatikan gadis cantik yang tengah bergerak kesana kemari, mencari obat untuk mengobati kakinya dengan sorot bersahabat. Dia sangat baik, pikirnya.
Usai menemukan semua yang dibutuhkan, gadis itu mulai menghaluskannya dengan batu berukuran sedang yang terdapat di hutan. “Apakah kau tahu, Raja Singa?” Gadis itu kembali bersuara, tanpa menoleh.
Singa itu menyahut dengan menggeram kecil.
“Nenekku adalah seorang tabib kerajaan. Jadi aku mengerti sedikit tentang dunia pengobatan. Oleh karena itu, aku bisa mengobati lukamu.” Gadis itu menatap singa itu dengan senyuman. Setelah dirasa cukup halus, ia pun tersenyum senang. “Lihat, lihat, Raja Singa! Obat untuk kakimu telah siap!”
Sang singa mengangguk kaku. Ia memerhatikan wajah ayu gadis yang tengah mengobati luka di kakinya itu lekat. Gadis itu pun mengikat kakinya yang telah diobati dengan sebuah sapu tangan berwarna putih.
“Ini adalah sapu tangan pemberian Nenekku. Di sapu tangan ini terdapat ukiran namaku dan sapu tangan ini untukmu, Raja Singa. Anggap sebagai hadiah kecil dariku,” ujar Si gadis menatap singa itu dengan senyum manis. Usai mengobati luka di kaki singa itu, ia mengusap kepala hewan buas yang telah jinak itu lembut. “Sekarang pergilah, Raja Singa. Kakimu akan segera sembuh.”
Singa itu menggeram penuh protes.
“HARNUM! DIMANA KAU, ANAK NAKAL?!”
Sontak gadis itu berdiri dengan tubuh yang bergetar ketakutan saat mendengar suara keras yang sangat familiar tersebut. Singa itu menyadari gelagat takut dari gadis itu pun segera bangkit dan bersikap waspada sambil menggeram marah.
“A-aku melupakan kayu bakarnya. A-ayah pasti akan memarahiku lagi.” Gadis itu menunduk, menatap sang singa khawatir. “A-ayahku adalah seorang pemburu. Kau harus segera pergi, Raja Singa. Pergilah yang jauh. Aku akan menahan ayahku,” ujar gadis itu sebelum berlari lalu menghilang seiring cepatnya kaki mungil itu dibawa pergi oleh pemiliknya.
Sang singa menggeram pelan dengan tatapan tajam penuh kesedihan. Ia sangat benci dengan perpisahan mereka tersebut.
“Pangeran .... Anda di mana? Segeralah kembali. Ibu Ratu mencari Anda.”
“Ya, Jenderal.”
Sang singa menggeram sendu namun matanya berkilat dingin. Ia bergumam penuh keseriusan sebelum berlari cepat, meninggalkan hutan barat Alaska dengan membawa kenangan manis gadis itu bersamanya.
Akan kutemukan dirimu kembali, Permaisuriku~
***
"Mereka yang gila dalam mencinta akan sanggup melakukan apa pun demi yang dicinta."~StarSea25~***"Kallistei ...."Lain dengan semua orang yang tampak kebingungan mendengarnya, Dewi Harnum merasakan tubuhnya membeku sesaat dengan mata membulat saat mendengar nama panggilan tersebut.Kallistei, panggilan sayang dari suami kelima Dewi Hanum; Dewa Ares.Bagaimana mungkin Pangeran Arjuna mengetahui nama panggilan tersebut?Tubuh Dewi Harnum bergetar pelan saat mendapat sebuah kesimpulan yang cukup menyakinkan sekaligus mengejutkan; Pangeran Arjuna adalah reinkarnasi Dewa Ares.Ia teringat jika kakaknya, Dhan Arya juga merupakan reinkarnasi Dewa Ankhises.Apakah itu berarti Pancabharata yang lain juga turut bereinkarnasi di bumi? Jika benar, tersisa tiga reinkarnasi dewa lainnya yang belum terungkap.
"Pada akhirnya mengulur-ngulur waktu selama mungkinpun tak dapat mencegah takdir yang telah terukur."~StarSea25~***Usai kembali dari pantai biru, Pangeran Leonard tak mengizinkannya menjauh sedikitpun. Ia diikuti kemana pun dirinya melangkah pergi. Mereka menghabiskan banyak waktu sepanjang siang dan malam untuk terus berduaan dan bermesraan.Pangeran Leonard mengalihkan semua tanggung jawabnya begitu saja sebagai Putra Mahkota pada adik lelakinya, Pangeran Matias. Seolah mengerti, Pangeran Matias tak banyak membantah seperti biasanya. Bahkan para istri suaminya tiada yang berani mengganggu mereka yang tengah memadu cinta dan kasih.Mereka tampak jelas memberi Pangeran Leonard waktu lebih banyak bersamanya ... sebelum mereka berpisah, saling merasa kehilangan, haus akan kerinduan dan pertemuan.Bahkan saat sinar sang surya mulai menampakkan diri ke permuka
Usai 'terbebas' dari Selir Rashi, Dewi Harnum bergegas menuju ke kamar utama Putra Mahkota untuk membujuk sang suami yang tengah merajuk, karena Selir Rashi telah jujur, ia harus terbuka dan segera menjelaskan segalanya pada lelaki tersebut. Mungkin jika beruntung, lelaki itu akan berbaik hati turut serta membantunya.Kini ia melihat suami tercintanya itu tengah duduk di kursi panjang yang empuk sambil membaca sebuah buku kuno tebal. Tatapannya fokus sekali, tetapi sesekali mendengkus kasar. Ia turut duduk di sampingnya, namun ia tampak sedih saat lelaki itu bergeser posisi hingga duduk di ujung kursi."Suamiku ...."Pangeran Leonard bergeming."Selir Rashi telah memberitahuku ..." Dewi Harnum mengembuskan napas panjang. Tatapannya lurus, menatap suaminya serius. "Ya. Aku dan Pangeran Ageel memang bertemu. Kami membicarakan tentang ...."Lalu mengalirlah cerita dari mulut sang de
Suara rakyat yang menghina Dewi Harnum sebagai 'Permaisuri buruk rupa' kian menjadi-jadi. Mereka merasa sang dewi tak pantas bersama dengan Putra Mahkota mereka yang tercinta. Mereka semua terdiam saat anggota kekaisaran datang dan berdiri di balkon istana.Dewi Harnum sangat gugup. Namun genggaman tangan Pangeran Leonard yang berdiri di sampingnya seakan menguatkan dan menyakinkannya jika suaminya itu selalu ada untuknya.“Bicara.”"Saya mewakili semua yang hadir di sini, meminta kebijakan Anda atas kehadiran Kaalillya, Baginda. Putra Mahkota tak pantas bersama perempuan yang buruk rupa.""Dari manakah pemikiran dangkal itu berasal?" tanya Pangeran Leonard datar."Hati kami menyakininya, Yang Mulia, karena Kaalillya selalu menutupi wajahnya dengan kain! Pastilah wajahnya sangat buruk rupa!""Jaga bicara kalian!" desis Pangeran Dhan. Rasanya ia in
Pangeran Leonard menyerang membabi buta saat perasaan sesak menghimpit dadanya kuat karena tak kunjung menemukan Permaisurinya. Penantian ini benar-benar menyiksa.Pangeran Arjuna menukik alis sambil menangkis semua serangan Pangeran Leonard dengan lihai. Keduanya hanya berperang dengan menggunakan
“Usir pelayan itu, Baginda!”“Ganti nama terlarang pelayan itu!”“Kami menolak kehadiran pelayan itu di Alaska!”“Dia tak pantas berada di sini, Baginda!”....Seluruh petinggi Kekaisaran Alaksa hadir di ruang rapat istana untuk menentang kehadiran Dewi Harnum. Suasana menegangkan sangat terasa.“S
Langkah Dewi Harnum terhenti di sebuah kuil dewa dari para dewa yang bercorak Yunani Kuno yang terdapat di tengah alun-alun kota Kekaisaran Alaska. Ia sedikit mengangkat kepala dan mata di balik selendang tersebut menginvasi seluruh kuil dengan sorot tertarik. Dewi Harnum menatap patung yang dibawa
Sang rembulan dan sang mentari kembali bergantian tugas yang telah menjadi ketetapan alam. Hangatnya sang mentari tak kalah dengan kehangatan yang Dewi Harnum dapatkan dari keluarga kecilnya. Mata indahnya tampak berkaca-kaca mengingat ia akan pergi kembali untuk menjalankan titah sang ratu Kerajaa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan