INICIAR SESIÓN[BUKAN NOVEL TERJEMAH] "Tiada kasta dalam cinta." *** Dewi Harnum adalah seorang pelayan di suatu kerajaan. Ia selalu menggunakan selendang untuk menutupi wajah cantiknya, karena takut, jika kecantikannya akan menimbulkan perpecahan di masa depan. Ia menerima takdirnya sebagai reinkarnasi dari Mahadewi. Dialah satu-satunya gadis yang mampu membuat Putra Mahkota dari Kekaisaran Alaska bertekuk lutut di bawah kakinya. Sang pangeran begitu mencintai Dewi Harnum. Pertemuan pertama mereka membuatnya mengklaim gadis itu sebagai miliknya. Permaisurinya~ *** "Menikahlah. Denganku!" Alih-alih meminta, ucapan Pangeran Leonard terdengar seperti titah yang harus dipatuhi. Khas seorang penguasa. "Sa-saya hanya seorang pelayan, Pangeran," ujar Dewi Harnum lirih. "Aku tidak peduli karena hatiku yang telah memilihmu, Permaisuriku~" ***
Ver más“Wong lanang itu ya, enggak bisa apa sebentar saja menduda. Baru 100 hari istrinya meninggal, sekarang sudah nikah lagi,” cibir Yu Warni, penjual lontong kupang. Dagangannya hari ini dipesan oleh keluarga Kiai Salman, sebagai salah satu menu hidangan acara walimah akad nikah putri keduanya, Arisha Luana.
“Denger-denger, Yu, ini itu bukan pernikahan biasa, loh. Tapi demi tetap mendapat dukungan Kiai Salman. Wis ngerti toh kalo Gus Akhtar itu bakal maju di pilkada sesuk?” ungkap asisten Yu Warni yang ikut menata lontong di atas piring.
“Sssst …” Yu Warni menempelkan jari telunjuk di bibirnya, memperingatkan asistennya agar diam. Kedua wanita paruh baya itu kini mengunci rapat-rapat mulutnya begitu calon mempelai putri melintasi mereka. Rombongan keluarga Kiai Salman bergerak menuju masjid pondok. Tempat melangsungkan janji suci itu masih satu halaman dengan kediaman Kiai Salman. Pun dengan rombongan mempelai putra. Dua mobil yang membawa mereka sudah memasuki pelataran komplek yayasan.
Sabtu, 22 Agustus 2020 pukul 10.00 WIB, dalam suasana pandemi virus korona, prosesi pernikahan ini akan dilangsungkan. Tak ada acara walimah mewah yang digelar. Undangan dibatasi 50 orang persesi. Keluarga pengiring pengantin pun diberlakukan aturan yang sama. Protokol kesehatan dilakukan dengan tertib agar tidak dibubarkan Satgas covid-19. Termasuk menyediakan tempat cuci tangan dan alat pengukur suhu di depan pintu masuk tenda pengantin.
Semua pihak yang terlibat dalam prosesi akad nikah telah menempati posisinya masing-masing di dalam masjid. Dengan baju pengantin warna putih tulang, putra Kiai Mansur itu menghadap penghulu dan Kiai Salman.
“Sudah siap, Gus Akhtar?” tanya Pak Penghulu memastikan.
“Insyaallah,” jawab Akhtar tenang.
Sementara itu, Arisha terus menunduk diapit Umi Anis dan calon ibu mertuanya. Kedua jemarinya saling bertaut, berharap bisa menetralisir rasa gugup. Saat jari lentik itu dipegang ibunya, terasa dingin bak bongkahan es. Arisha meresapi detik-detik mengakhiri status lajangnya yang tak sesuai impian.
“Baik, kita mulai, inggih!” Pak Penghulu menyisirkan pandangan ke sekitar, memastikan semua pihak sudah siap. “Yang akan menikahkan langsung wali dari mempelai putri,” tegasnya.
Tak ada hadirin yang berbicara. Semua mata tertuju pada tiga orang di tengah-tengah ruang utama masjid, kecuali Arisha. Ia tetap menunduk. Ibunya memeluknya lembut, seolah memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Lalu suara dari mikrofon yang hanya menjangkau area dalam masjid terdengar.
“Saudara Muhammad Akhtar, mau menggunakan lafaz bahasa Indonesia atau Arab?” tanya Pak Penghulu.
“Bismillah, bahasa Arab, Pak.”
“Baik, kita mulai.” Semua orang serasa menahan napas, tak terkeculi kedua mempelai.
Akhtar meraih uluran tangan Kiai Salman. Tangan pemuda itu dipegang kuat, lalu beliau berucap, “Ankahtuka w* zaww*jtuka makhtubataka Arisha Luana Binti Muhammad Salman al Farisi ‘ala mahri ‘ishrot dananir haalan.”
“Qobiltu nikahaha w* tazwijaha 'alal mahril madzkuur w* rodhiitu bihi, w*llahu w*liyyut taufiq,” jawab Akhtar tegas tanpa jeda.
“Bagaimana hadirin … apakah sah?” tanya Pak Penghulu kepada para saksi dan segenap keluarga yang ikut menyaksikan perjanjian yang mengguncang langit itu.
“Sah!” jawab semua orang yang hadir. Gemuru suaranya terdengar hingga ke luar masjid.
“Alhamdulillah!” Kemudian Pak Penghulu melantunkan doa untuk mempelai berdua, "Barokallohu laka w* baroka 'alaika w*jama'a bainakuma fii khoir.”
Para pengunjung pun serentak mengulang lafadz doa tersebut. Sementara Akhtar dan Arisha, keduanya mengucapkan “Aamiin …”
“Saudari Arisha, silakan maju untuk tanda tangan buku nikah dan foto bersama!” panggil salah seorang petugas KUA. Dengan gemetar, perempuan bergaun putih tulang yang dilapisi brukat tile dengan kombinasi payet itu melangkah. Kini ia sudah duduk sejajar dengan Akhtar. Buku nikah sudah ditandatangani. Mereka melakukann foto bersama dengan menunjukkan buku nikah masing-masing.
Fotrogafer mengarahkan Arisha untuk mencium tangan suaminya. Dengan gugup, tangan yang tak pernah tersentuh lelaki bukan mahrom itu melakukan perintah sang juru foto. Karena ada instruksi untuk menahan adegan itu beberapa saat, Akhtar juga merasakan dinginnya tangan perempuan yang sudah sah menjadi istrinya.
“Sekarang cium keningnya!”
Perintah itu membuat Arisha mendongakkan kepala dan menahan napas. Ia tak menyangka Akhtar menuruti dengan sigap. Perempuan setinggi 165 cm itu sedikit menundukkan kepala. Saat tangan Akhtar memegang ujung kepala dan mendaratkan bibirnya di kening, Arisha seperti menaiki balon udara yang melayang di angkasa.
Intensitas reaksi emosional dan fisik yang tidak dikehendaki menghantam perempuan itu dengan begitu kuat dan membuatnya terpedaya. Perpaduan berbahaya antara simpati dan hasrat. Terutama hasrat. Arisha buru-buru berpaling saat Akhtar sudah menarik wajahnya. Untungnya ia masih bisa menahan tubuhnya tetap berdiri tegak. Ia mencemooh diri. Bagaimana mungkin akan berhasil menggagalkan rencana Akhtar mencalonkan diri sebagai wakil bupati jika mendapat sentuhan sedikit saja tubuhnya sudah lengah?
Ucapan selamat dan ajakan foto bersama keluarga menyelamatkan Arisha dari situasi yang membuatnya sangat canggung. Bahkan ia tak dapat membayangkan bagaimana rona mukanya saat ini. Perempuan berwajah tirus itu tetap tersenyum. Dengan begitu ia berusaha menutupi gemuruh dalam dirinya.
Usai prosesi akad nikah disusul serah terima serta tausiyah, keluarga diarahkan untuk menikmati aneka hidangan yang sudah tertata di tenda samping masjid. Ada Soto Lamongan, lontong kupang, lontong kikil, sate gule, gado-gado, tak tertinggal menu khas Jawa Timur, rawon. Juga menu penutup lainnya seperti bubur ketan, rujak manis, es krim, dan es sop buah.
Tempat jamuan yang dipisah antara tamu laki-laki dan perempuan itu menjadikan Arisha bisa bernapas lega. Ia masih butuh penyesuaian saat berdekatan dengan Akhtar. Hingga sebuah sapaan membuyarkan lamunannya, “Assalamu’alaikum pengantin baru, ngelamun saja.” Fatimah, teman kuliah Arisha termasuk dalam daftar nama yang diundang.
“Hm … mendadak sekali. Baru sebulan menginjak tanah air, sudah nikah saja. Gimana nasib Musthofa? Bukannya di bandara kemarin dia minta alamatmu? Kukira kalian berdua akan menikah?” cerca Fatimah yang masih syok dengan keputusan sahabatnya.
“Kalo aku ceritakan semuanya sekarang, kamu enggak jadi makan. Padahal setiap tamu hanya dibatasi durasinya sejam, gantian sama sesi berikutnya. Yuk, kita makan saja. Kamu mau apa?” Arisha bangkit dari kursi pelaminannya lalu menarik tangan Fatimah menuju deretan menu.
Gadis berwajah manis itu menggeleng pendek. Jujur ia merasa takjub dengan keputusan sahabatnya yang mengakhiri masa lajang dengan mantan kakak ipar. Sesuatu yang mungkin tak akan sanggup ia lakukan. “Oke, janji suatu saat nanti kamu akan cerita, ya.” Fatimah menggenggam erat kedua tangan sahabatnya. Lalu Arisha mengangguk. “Dan kamu bahagia ‘kan, Sha, menjalani ini?”
Pertanyaan yang terlalu dini. Bahkan Arisha pun tak mampu mendeteksi apakah dirinya bahagia atau tidak saat ini. Namun satu yang pasti. Arisha bukanlah gadis muda yang bodoh dengan pikiran konyol. Ia tetap punya impian mengabdikan ilmunya untuk kebaikan umat, meski bukan dengan pria yang selama ini memenuhi mimpinya menjadi mitra sejati dalam hidup dan cinta.
.
.
Bersambung
"Mereka yang gila dalam mencinta akan sanggup melakukan apa pun demi yang dicinta."~StarSea25~***"Kallistei ...."Lain dengan semua orang yang tampak kebingungan mendengarnya, Dewi Harnum merasakan tubuhnya membeku sesaat dengan mata membulat saat mendengar nama panggilan tersebut.Kallistei, panggilan sayang dari suami kelima Dewi Hanum; Dewa Ares.Bagaimana mungkin Pangeran Arjuna mengetahui nama panggilan tersebut?Tubuh Dewi Harnum bergetar pelan saat mendapat sebuah kesimpulan yang cukup menyakinkan sekaligus mengejutkan; Pangeran Arjuna adalah reinkarnasi Dewa Ares.Ia teringat jika kakaknya, Dhan Arya juga merupakan reinkarnasi Dewa Ankhises.Apakah itu berarti Pancabharata yang lain juga turut bereinkarnasi di bumi? Jika benar, tersisa tiga reinkarnasi dewa lainnya yang belum terungkap.
"Pada akhirnya mengulur-ngulur waktu selama mungkinpun tak dapat mencegah takdir yang telah terukur."~StarSea25~***Usai kembali dari pantai biru, Pangeran Leonard tak mengizinkannya menjauh sedikitpun. Ia diikuti kemana pun dirinya melangkah pergi. Mereka menghabiskan banyak waktu sepanjang siang dan malam untuk terus berduaan dan bermesraan.Pangeran Leonard mengalihkan semua tanggung jawabnya begitu saja sebagai Putra Mahkota pada adik lelakinya, Pangeran Matias. Seolah mengerti, Pangeran Matias tak banyak membantah seperti biasanya. Bahkan para istri suaminya tiada yang berani mengganggu mereka yang tengah memadu cinta dan kasih.Mereka tampak jelas memberi Pangeran Leonard waktu lebih banyak bersamanya ... sebelum mereka berpisah, saling merasa kehilangan, haus akan kerinduan dan pertemuan.Bahkan saat sinar sang surya mulai menampakkan diri ke permuka
Usai 'terbebas' dari Selir Rashi, Dewi Harnum bergegas menuju ke kamar utama Putra Mahkota untuk membujuk sang suami yang tengah merajuk, karena Selir Rashi telah jujur, ia harus terbuka dan segera menjelaskan segalanya pada lelaki tersebut. Mungkin jika beruntung, lelaki itu akan berbaik hati turut serta membantunya.Kini ia melihat suami tercintanya itu tengah duduk di kursi panjang yang empuk sambil membaca sebuah buku kuno tebal. Tatapannya fokus sekali, tetapi sesekali mendengkus kasar. Ia turut duduk di sampingnya, namun ia tampak sedih saat lelaki itu bergeser posisi hingga duduk di ujung kursi."Suamiku ...."Pangeran Leonard bergeming."Selir Rashi telah memberitahuku ..." Dewi Harnum mengembuskan napas panjang. Tatapannya lurus, menatap suaminya serius. "Ya. Aku dan Pangeran Ageel memang bertemu. Kami membicarakan tentang ...."Lalu mengalirlah cerita dari mulut sang de
Suara rakyat yang menghina Dewi Harnum sebagai 'Permaisuri buruk rupa' kian menjadi-jadi. Mereka merasa sang dewi tak pantas bersama dengan Putra Mahkota mereka yang tercinta. Mereka semua terdiam saat anggota kekaisaran datang dan berdiri di balkon istana.Dewi Harnum sangat gugup. Namun genggaman tangan Pangeran Leonard yang berdiri di sampingnya seakan menguatkan dan menyakinkannya jika suaminya itu selalu ada untuknya.“Bicara.”"Saya mewakili semua yang hadir di sini, meminta kebijakan Anda atas kehadiran Kaalillya, Baginda. Putra Mahkota tak pantas bersama perempuan yang buruk rupa.""Dari manakah pemikiran dangkal itu berasal?" tanya Pangeran Leonard datar."Hati kami menyakininya, Yang Mulia, karena Kaalillya selalu menutupi wajahnya dengan kain! Pastilah wajahnya sangat buruk rupa!""Jaga bicara kalian!" desis Pangeran Dhan. Rasanya ia in
Sang rembulan dan sang mentari kembali bergantian tugas yang telah menjadi ketetapan alam. Hangatnya sang mentari tak kalah dengan kehangatan yang Dewi Harnum dapatkan dari keluarga kecilnya. Mata indahnya tampak berkaca-kaca mengingat ia akan pergi kembali untuk menjalankan titah sang ratu Kerajaa
Sebuah pedang biasa mengayun ke sana-kemari mengikuti gerak sang pengendali. Permainan pedang yang begitu apik tersebut menjadi soroton beberapa anggota istana yang melewati barak pelatihan dan menatap penuh kekaguman pada sang ahli pedang. Pedang itu digerakkan sekali lagi dan menancap ke tanah ya
“Kebun bunga yang sangat indah. Pantas usai meminum teh, Anda sangat bersikeras mengajak saya kemari.”Putri Arianna tersenyum malu. “Saya hanya tak ingin Anda melewatkan apa pun selama di sini. Sebagai seorang tuan putri, saya bertanggungjawab menjamu Anda dengan baik, Yang Mulia.”“Apakah Anda m
Celotehan Putri Arianna mengiringi setiap langkahnya bersama Pangeran Arjuna. Sesekali ia akan tersenyum puas saat lelaki itu tampak sangat menikmati dan menanggapi ucapannya. Meski dalam hati ia masih kesal karena Pangeran Arjuna bersikukuh ingin keluar istana. Kini mereka menyusuri jalan setapak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas