LOGINDi depan gedung rumah sakit Bayu mendapatkan pesan dari Selvi yang sedang berada di luar rumahnya.
“Kamu di mana?” tanya Selvi dalam pesan singkatnya.Bayu tentu langsung menjawab dan memberikannya alamat rumah sakit tempatnya berada. Setelah mengirim pesan Bayu berdiri di depan sana beberapa menit sebelum akhirnya mobil Selvi berhenti di depan rumah sakit.“Ayo masuk!” ajaknya.Selvi keluar dari mobil dan duduk di kursi samping kemudi. Berbeda dengan BayuTeo ikut duduk di bagian sampingnya. “Jadi, anda adalah Nona Wijaya?”“Iya, aku Dian Wijaya. Terima kasih sudah datang ke sini untuk menyelamatkanku,” jawab Dian.“Ya … sama-sama, tapi ini sudah menjadi tugas kami semua. Ayah Nona yang menyewa jasa kami jadi itulah mengapa kamu semua ada di sini.”Meski mendengar itu, wajah Dian tidak berubah ia tetap senang. “Aku tetap saja akan berterima kasih. Karena tidak semua orang bisa menemukanku. Ternyata ayah sangat khawatir, aku benar-benar sudah membuat banyak orang bersusah payah.”Dian terlihat begitu pengertian dan bahkan sangat rendah hati. Padahal ia bisa saja memarahi mereka semua karena tidak menyelamatkannya secepatnya. Tapi di ternyata dia sangat berbudi luhur tidak seperti nona muda kaya yang lainnya.“Eh, Sandro dan Rian naik speedboat?” tanya Dion yang sedang mengemudikan perahu.“Iya, mereka pergi berdua duluan,” sahut Joni.“Pantesan, Sandro tiba-tiba nggak ada.
“Jangan bergerak atau aku akan menembakmu!” tekan Bayu saat situasi mulai berbalik menguntungkannya.Tidak ada pilihan lain Danang langsung terdiam membeku. “Lepaskan pisau di tanganmu itu sekarang juga. Atau nanti kamu mau aku yang paksa lepas beserta tangan-tanganmu?!”Danang menatap ujung pistol yang diarahkan ke arahnya. Setiap kali suara pelatuk yang seakan ditarik membuat jantungnya terasa hampir mau copot.“Bayu, cepat tangani dia!” Joni melepaskan ikatan, dan penutup mulut hingga dengan sigap langsung mengamankannya korban.Wanita itu berdiri di dengan memegang punggung Joni dan bersembunyi di baliknya. Dengan tangan yang masih terasa dingin saat tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan.Pisau dijatuhkan oleh Danang lalu setelah itu barulah Bayu lari mendekat dan memukul wajah Danang.Bugh!Dengan kekuatan penuh Bayu memukulnya dibagian titik lemah hingga Danang mulai kehilangan keseimbangan.Bu
Maka dari itu Bayu mendekatkan telinganya dengan menempelkan di dinding gubuk. “Hmph … hmph! Hhhh!” Suara seorang wanita yang sedang ditutup paksa mulutnya sedang berusaha untuk berteriak. “Diam, jangan berisik! Kalau berisik pun percuma. Kamu tahukan kita di mana? Tidak mungkin ada yang mau nolongin kamu!” bentak suara pria. Plak! Suara tamparan terdengar, hingga suara piring yang digeserkan ke arahnya. “Jika aku membukakan penutup mulutmu sebaiknya kamu diam. Jika tidak, kamu tidak akan bisa makan dan aku juga tidak akan memberimu minum lagi. Mengerti!” Lagi-lagi suara bentakan dari dalam terdengar. Bayu merasa semakin geram, rahangnya mulai mengeras, serta kedua tangannya mengepal di kedua sisi. Namun, karena tidak tahu kondisi seperti apa yang terjadi di dalam. Bayu semakin tidak sabar untuk menerobos masuk. Akan tetapi, ia tidak bisa terburu-buru membuka pintu. Sebaliknya B
Sementara Joni menunggu si nelayan yang dimaksud si penjual. Sedangkan di telepon Bayu berbicara dengan Teo.“Hah, pulau?” suara Teo melengking di telepon.Bayu mengangguk sambil menatap ke laut. “Benar, aku dan Joni akan pergi ke sana. Ini cuman masih dugaanku saja, tadinya aku mau pergi ke sana sendiri tapi Joni bilang kalau dia mau ikut. Itulah mengapa kami akan pergi ke sana berdua.”“Jadi di kawasan pemukiman di pesisir pantai tidak ada sama sekali ya?”“Iya, seperti yang aku katakan tadi kalau kami sudah mengelilingi tempat ini bersama Joni. Bahkan penduduknya juga mengatakan kalau mereka tidak mengenali Danang,” jawab Bayu.Teo mulai mempersiapkan diri dan mulai mengajak anggota lainnya. “Dalam waktu lima belas menit aku dan yang lainnya akan datang ke sana untuk memantau. Jika kalian tidak ada kabar saat matahari terbenam maka kami akan menyusul.” “Ya, kami pasti akan mengabari tapi jika tidak bisa berarti sinyal tidak b
Informasi ini mereka dapatkan sebelum menerima misi ini. Misi mereka kali ini adalah menyelamatkan wanita yang diculik itu.Beberapa polisi sudah melacak penculikan itu sebelumnya tetapi tidak dapat menemukan jejak si pelaku dan keberadaan korban. Karena hal itu Bayu dan Joni baru saja ke tempat area pinggiran kota di bagian pantai, sesuai seperti yang dilacak oleh Teo sebelumnya.Karena Teo ahli dalam bidang Ilmu Teknologi dan bisa dengan mudah melacak keberadaan mantan napi itu melalui kamera-kamera cctv jalan dari data diri dan fotonya. Namun, posisi tempat di mana tinggal pria itu tidak diketahui.Jadi saat pria itu baru saja keluar dan sedang membeli perlengkapan kebutuhan sehari-hari untuk rumahnya. Dia pun terlihat di CCTV minimarket terdekat.Diam-diam Bayu dan Joni sudah menunggu di luar. Setelah memastikan pria bernama Danang itu keluar dari sana. Mereka pun diam-diam mengikuti. Namun karena motor lebih cepat saat di jalanan banyak mobil
“Aahh … aahnggg! Bayu, pelan-pelan akh!” Selvi sampai mencengkram kuat-kuat pada sprei ranjang.Keringat mereka mulai mengucur padahal AC sedang menyala. Tetapi rasa gerah dan panas di antara mereka tidak kunjung reda. “Hangggh … ahhh! Ahh!” Plak, plok! Plak, plok!Bayu mempercepat goyangannya hingga membuat ranjang bersuara berderit karena guncangan. Kemudian ia membalikkan tubuh Selvi dan menusuknya dengan cara menunggingkan tubuh wanita itu.Plak, plak!Bayu memukul bokong Selvi hingga permukaannya bergetar. Di saat yang sama ternyata Selvi menikmati sampai mengencangkan dinding dalam lubangnya. Bayu merasa keenakan. “Ugh … kamu hampir memutuskan batangku! Memangnya, seenak itu ya?” “Ahh hum … yah, ini sangat nikmat!” Wajah Selvi terbenam di atas kasur.“Enak, aku mau lebih cepat!” teriak Selvi.“Heh … tadi bukannya kamu yang minta pelan-pelan sekarang cepat-cepat. Gimana sih?” Bayu ten







