author-banner
Lailiela
Lailiela
Author

Novels by Lailiela

Batu Akik Penakluk Wanita

Batu Akik Penakluk Wanita

“Jadi … apa kamu setuju menjadi simpananku?” Tawaran itu mengubah hidup Bayu Saputra, kuli kasar yang tak pernah dianggap. Setelah mendapatkan batu akik misterius, wajahnya menjadi memikat, auranya memabukkan, dan kekuatannya melampaui nalar. Kini wanita yang dulu menghina justru berebut mendekat. Namun, Bayu tidak tahu ada harga timbal balik, di balik kekuatan itu.
Read
Chapter: Bab 342
Menulis “Heh... lihat itu!” Ray menyeringai penuh kemenangan. “Pasti orang-orang ketua kami mulai bergerak. Sebentar lagi kantor ini bakal gempar!” Ia tertawa keras bersama anak buahnya. Namun, beberapa detik kemudian, senyum para polisi yang semula santai perlahan memudar. “Ya... baik, Pak!” Seorang anggota polisi yang menerima telepon langsung berdiri tegak. Wajahnya berubah pucat. Belum sempat ia meletakkan gagang telepon, sambungan lain kembali berdering. “Siap, Jenderal!” Kali ini suara polisi itu bahkan terdengar bergetar. Ray mulai mengernyitkan dahi. "Ada apa?" gumamnya pelan. Belum selesai rasa penasarannya, telepon di meja kepala komisaris ikut berdering. Kepala komisaris menghela napas, lalu mengangkatnya dengan wajah kesal. “Ya, saya sendiri.” Beberapa detik kemudian... Ekspresinya berubah drastis. “Ba-Baik, Pak! Siap laksanakan!” Tangannya gemetar saat menutup telepon. Ruangan yang tadi dipenuhi suara tawa kini berubah sunyi. Kepala k
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: Bab 341
Tetapi Bambang juga berpikir bagaimana jika para rekan bisnisnya merasa risih terlalu banyak bodyguard di sampingnya jadi itulah mengapa dia ingin yang lainnya mengawasi dari jarak yang tidak terlalu dekat tapi tidak juga terlalu jauh. Brak! Suara meja yang dibanting seorang pria datang sambil menghembuskan asap rokok ia tidak sendirian melainkan satu rombongan masuk ke dalam restoran lalu mereka melihat ke arah Bambang yang sedang duduk baru saja menandatangani kontraknya dengan Hendra. “Mana yang namanya Bambang?!” teriak pria sarkas yang sedang menuju ke meja tempat Bambang duduk. Semua orang yang ada di ruangan itu langsung menggigil ketakutan. Mereka takut para pria itu akan menyerang mereka semua. “Kamu Bambang? Huh!” Pria berbadan besar tinggi itu menarik seorang pria di antara pelanggan yang tidak tahu apa-apa. “Bu-bukan, ampun pak!” Pria berbadan besar bernama Ray itu l
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: Bab 340
Mereka bersama selama beberapa hari saat menenani Bambang tidak hanya Bayu saja tapi ada satu orang lagi yaitu sekretarisnya. Jadi kemanapun mereka pergi Bayu dan sekretarisnya tetap ikut menemani Bambang.“Di sini tempatnya?” tanya Bambang pada sekretarisnya yang sedang menyetir saat mobil akan sampai di sebuah restoran cepat saji untuk pertemuannya dengan seorang pengusaha setempat.Pria berkacamata dengan tubuh tinggi kurus, ia beranam Romi sang sekretaris seorang pegawai setia di perusahaan Bambang dan sekarang usianya sudah tiga puluhan tahun.“Ya, Pak! Ini sudah sesuai dengan alamat yang diberikan pada kita. Jadi aku akan berhenti di sini lali Pak Bambang bisa masuk ke dalam lebih dulu bersama Bayu karena aku akan memarkirkan mobil setelahnya.” Setelah mobil berhenti Romo keluar untuk membukakan pintu untuk Bambang. Sedangkan Bayu sudah keluar bersamaan dengannya dan selalu siaga, berjaga memantau kondisi sekitar.“Bayu gimana
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Bab 339
“Kalian sudah sampai!” Joni menghampiri Sandro, Rian, Doni.“Iya dong, kan misi kita udah selesai. Kalian gimana? Kapan sampainya?” tanya Sandro sambil menoleh pada Bayi dan Teo setelah melihat Joni.“Sampai kemarin malam. Jadi kalian kenapa baliknya lama?” Joni duduk sambil balik bertanya.“Itu karena mobil yang menjemput kami lama. Kan mobilnya kalian yang pakai,” sindir Doni.“Hehehe … iya juga ya!” Joni malah tertawa.Rian melihat ke arah Teo dan Bayu. “Kalian habis dari mana?” “Dari kantin kok, biasa sarapan.” Bayu menjawab cepat.“Ah, iya kami lupa sarapan di bawah.” Doni menepuk jidatnya lalu menoleh ke arah Rian dan Sandro. “Kita turun yuk!” ajaknya.“Turun?” Rian menoleh.“Kita belum sarapan, cepat nanti kita kehabisan makanan di bawah!” Rian segera bergegas lalu mengajak Sandro. “Aku juga mau sarapan! San, ayo cepat kamu juga belum makan kan?”“Tapi aku mau masaka masa kali
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: Bab 338
Melihat itu Bayu juga ikut karena mumpung ada di bawah sekalian saja makan di kantin. “Aku juga mau sarapan, ah!” Mereka sama-sama mengambil makanan secara prasmanan. Jadi bisa pilih sendiri mau makan lauk yang mana. Makanan yang tersaji di atas meja semuanya masih panas karena baru matang, uap panasnya mengepul tipis di usaha tepat di setiap atas makanannya. Sedangkan Bayu ambil yang lauk daging tumis dan seporsi nasi, lalu ada buah pisang. Tidak lupa air mineral diambilnya juga membuat di kedua tangannya penuh pegangan.“Ayo kita duduk di sini saja lebih dekat!” Joni yang tidak mau lama-lama pilih tempat duduk.“Ya aku rasa sebaiknya kita duduk dekat sini. Aku udah laper banget.” Melihat Teo dan Joni, Bayu pun ikut duduk berhadapan dengan mereka berdua. Mereka mulai makan sarat masing-masing sambil mengunyah.“Tadi kamu makan sayur sawi nggak?” tanya Teo saat menepikan sayur sawi di piringnya.Melihat sayur itu Bayu lan
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: Bab 337
Makanan yang dipesan Bayu tadi koni sudah diletakkan di atas meja dengan sangat rapi. Setelah itu barulah pelayan hotel keluar dari kamar mereka.Klek!Di saat yang sama Rara pun akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang sengaja belum mengelap karena membiarkan sisah air.“Sini cepat duduk di sini kita mau makan. Sebaiknya kamu cepat ke sini b_-_–;¡¡iar nanti aku bantu keringkan rambutmu.” Bayu menggeser kursi di depannya agar Rara bisa langsung duduk.Drek!Suara tarikan kursi yang baru saja digeser Bayu, kemudian Rara akhirnya mendudukinya kursi tersebut Mereka mulai menikmati makan malamnya sambil menikmati pemandangan kota dari balik jendela.“Gimana, makanannya?” Bayu bertanya setelah dirinya selesai makan.Rara mengangguk. “Enak, banget rasanya. Aku sampai kenyang sekali setelah makan.” “Karena makannya sudah selesai sini aku akan batu kamu mengeringkan rambutmu.” Bayu segera mengambil handuk kecil lalu berdiri di belakang Rara yang masih duduk di kursinya.Den
Last Updated: 2026-07-26
Mbah Dukun Dambaan Wanita

Mbah Dukun Dambaan Wanita

"Aku berubah pikiran... Aku ingin keturunan dari Mbah Damar!" ucap Laras sambil mendekat. "Tidak bisa! Giliranku lebih dulu!" Sekar langsung menarik lengan Damar, tak mau mengalah. Damar Wisesa adalah dukun sakti yang hidup sejak ratusan tahun lalu. Sebuah ritual terlarang yang gagal mengutuknya menjadi lelaki tua dalam sekejap dan membuatnya tertidur selama berabad-abad. Saat terbangun di era modern, kutukan itu belum berakhir. Ia hanya bisa kembali menjadi pria muda yang tampan dan perkasa saat malam tiba. Kini, satu per satu wanita datang mencari pertolongannya, tanpa menyadari bahwa setiap kehidupan baru yang ia bantu lahirkan membawa Damar selangkah lebih dekat untuk mematahkan kutukannya.
Read
Chapter: Bab 128
Sehingga mereka bisa bicara dengan serius. Damar melihat Dewi yang sepertinya agak kedinginan setelah berjalan masuk ke hutan malam-malam sendirian.Damar mengambilkan selimut berukuran sedang lalu memberikannya kepada Dewi.“Pakai ini, kamu pasti kedinginan pergi ke sini malam-malam.”Tangan Dewi pun dengan cepat mengambil selimut itu dan memakainya. Rasa hangat langsung dirasakannya setelah itu.“Uhm … makasih ya, Mar.”Pandangan Dewi melihat sekeliling ruang tengah, dia sama sekali tidak melihat siapa pun di sana dan hanya ada Damar seorang.“Di sini nggak ada siapa-siapa, maksudnya kakek atau gadis bernama Sekar itu nggak ada?”Damar pun kembali beralasan, “Kakekku, dia ada urusan. Kalau Sekar, dia pergi kuliah ke Kota. Jadi di sini hanya aku seorang saja.”“Ah, begitu. Kebetulan sekali sebenarnya aku datang ingin bertemu denganmu.”Dewi pindah tempat duduk tepat di samping Damar. Dengan sengaja Dew
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: Bab 127
“Jadi kiriman mantra guna-guna pemikat itu akan teralihkan pada boneka ini?”“Benar, boneka itu akan menyerap dan menanggung guna-guna pemikat itu. Maka secepatnya adik iparmu akan segera sadar dari pengaruh guna-guna dan akan kembali pada istrinya.”“Itu beneran, kan, Mbah?” tanya Joko memastikan.Damar menyentuh jenggotnya sambil mengangguk dengan yakin,“Iya, itu benar adanya, jadi kamu bisa tunggu saja. Akan tetapi, jika adik iparmu itu tidak juga kunjung pulang dan tidak ada yang terjadi, maka kamu bisa datang lagi ke sini.”Mendengar itu tentu saja membuat Joko jadi lebih tenang dan pastinya percaya pada Damar. Karena jika tidak berhasil maka ia hanya perlu datang ke sini lagi untuk menuntutnya.“Kalau begitu saya akan pulang ke rumah adik saya dulu. Untuk hasilnya akan ditunggu sampai dua hari ke depan, jika tidak berhasil maka saya akan datang lagi ke sini.”Damar dengan santai menjawab, “Ya, aku akan selalu
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: Bab 126
“Hah, apa maksud Mbah Dukun? Mungkinkah adik ipar saya dalam bahaya?” tanya Joko.“Itu bisa saja terjadi, saat ini adik iparmu juga sering mengingat kembali istrinya. Namun, wanita itu tidak mau membiarkannya begitu saja. Karena hal itu dia terus menekan ingatan dengan ritual ilmu hitam.”Damar kembali menjelaskan, “Jika wanita itu terus melakukan hal itu secara terus-menerus. Maka hal itu akan membuat kondisi dari adik iparmu dalam bahaya. Jadi sebelum terlambat kita harus adakan ritual khusus itu secepatnya.”Joko sempat terdiam beberapa saat dan memikirkan kondisi adik iparnya dan juga adiknya jika dia sampai kehilangan suaminya.“Aku … tidak bisa membiarkan adik iparku dalam bahaya hanya karena wanita perebut itu!”Dengan tangan yang mengepal kuat Joko bertekad akan membuat adik iparnya kembali pada adiknya.Damar segera memanggil Ririn yang berada jauh dari pondok. Kemudian dia kembali melihat ke arah Joko.
Last Updated: 2026-10-06
Chapter: Bab 125
“Ya, aku harus mencari cara untuk mengeluarkannya. Apa sebaiknya aku gunakan artefak saja, ya?”“Uhm … bukankah maaf itu adalah milik para penyihir? Di zaman sekarang, bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan benda itu dari para penyihir.”Wurip kembali melanjutkan, “Bahkan aku dengar keturunan penyihir itu sudah punah. Aku rasa tidak akan ada kesempatan bagimu untuk memiliki artefak itu.”Damar tidak bisa menyangkal ucapan Wurip karena benar adanya.“Itu benar, tetapi aku masih ingin mencoba untuk mencari. Jika tidak bisa dapat maka aku akan mengambil paksa jasad itu dari Gunung Lewi.” Damar sudah bertekad akan mengeluarkan jasad itu, maka hanya menunggu masalah waktu saja.----Beberapa hari berlalu semenjak kunjungan ke Gunung Lewi waktu itu. Damar juga sudah semakin berlatih keras untuk melepaskan benang kutukan yang masih berada di tangannya.Meski sudah retak, tapi kekuatan dari kutukan itu masih mengikat, menahan 9
Last Updated: 2026-10-05
Chapter: Bab 124
Demi menghindari beberapa murid dari para tetua gunung yang jumlahnya lumayan banyak.Damar sampai menggerutu saat melihat beberapa anak murid yang hampir saja memergokinya,“Sial, mereka ada di mana-mana!”Sampai akhirnya Damar mempercepat langkah sampai ia tiba di sebuah ruangan yang mana saat menerawang dari jarak dekat.Maka ia bisa melihat ada jalur masuk yang tersambung dari dalamnya sampai ke gua batu. Namun, saat mencoba menerawang lebih jauh Damar tidak melihat apa-apa selain warna hitam pekat.“Akhh … sial, aku tidak bisa melihat lagi! Tapi bagaimana caranya agar aku bisa masuk?”Melihat di depan pintu ada anak murid mereka yang menjaga di depannya. Hal itu membuat Damar agak kesusahan.Tapi untungnya pergantian jam waktu istirahat makan siang. Jadi mereka meninggalkan tempat itu dan mencari yang lainnya untuk mengganti posisi jaga sementara.Celah itu dimanfaatkan oleh Damar untuk masuk. Namun, t
Last Updated: 2026-10-04
Chapter: Bab 123
Saat mereka sudah berada dalam perjalanan, di jalan raya Damar mulai fokus untuk menyetir mobilnya.Namun, sesekali ia melirik ke arah Wurip.“Jadikan kamu kan, sudah sering pergi ke Gunung Lewi. Jadi sebaiknya tunjukkan saja arahnya.”“Eh, tadi bukannya kamu bilang Sekar sudah memberitahumu cara memakai GPS di ponsel itu?”Wurip menunjuk ke arah ponsel Damar yang sudah diletakkan di samping setir.Tetapi, jujur saja Damar sendiri masih bingung memahami peta di GPS.Karena itu Damar berniat untuk jujur saja pada Wurip,“Aku rasa tidak bisa, aku belum memahaminya.”“Begitu, baiklah aku akan menunjukkan tempatnya padamu …” Wurip mulai mengarahkan lokasi Gunung Lewi pada Damar.Sehingga dia hanya tinggal fokus menyetir saja sampai mereka berdua akhirnya sampai di bawah kaki gunung.Damar mencari tempat untuk parkir di sana dan akhirnya sampai di sebuah area lahan kosong di mana beberapa kenda
Last Updated: 2026-10-03
You May Also Like
Kebangkitan Sang Patriark
Kebangkitan Sang Patriark
Urban · Galih Rembulan
34.4K views
Menantu Tak Ternilai
Menantu Tak Ternilai
Urban · Falisha Ashia
30.8K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status