LOGIN“Hnnggh …! Haah!”
Nafas Stevia mulai terengah-engah padahal dia yang selalu membanggakan diri ketika berciuman dengan pengalamannya yang cukup banyak. Namun, di hadapan Bayu ternyata dirinya bisa kalah. Kepiawaian Bayu dalam berciuman sangat menakjubkan.Padahal setahu Stevia dulu Bayu masih merasa sangat canggung ketika mereka berciuman. Seolah masih belum berpengalaman. Namun, bagaimana bisa dia menjadi lebih pandai. Mungkinkah Bayu sering melakukan ciuman atau berhubung“Hnnggh …! Haah!” Nafas Stevia mulai terengah-engah padahal dia yang selalu membanggakan diri ketika berciuman dengan pengalamannya yang cukup banyak. Namun, di hadapan Bayu ternyata dirinya bisa kalah. Kepiawaian Bayu dalam berciuman sangat menakjubkan. Padahal setahu Stevia dulu Bayu masih merasa sangat canggung ketika mereka berciuman. Seolah masih belum berpengalaman. Namun, bagaimana bisa dia menjadi lebih pandai. Mungkinkah Bayu sering melakukan ciuman atau berhubungan dengan wanita lain di belakangnya? Pikiran Stevia penuh tanda tanya sehingga membuatnya tanpa sadar mengerutkan alis. Ia juga menjadi tidak fokus saat berciuman dengan Bayu.Sedangkan Bayu yang menyadari kalau Stevia memang tidak fokus. Ia pun segera menekan belakang leher Stevia lebih dekat membuat ciuman mereka terasa lebih dalam.“Haah … hah, hngmmh!” Stevia hampir kewalahan menghadapi ciuman Bayu yang semakin lihai.Tangan Stevia memukul dada bidang Ba
“Apa Nona? Kamu kenapa memang—”“Shuut …!” Potong Bayu. “Bagaimana jika nanti mereka datang dan melihat, terus mendengar aku yang memanggilmu dengan sebutan kamu bukan Nona. Mereka akan menganggap aku tidak sopan.”.Apa yang dikatakan Bayu itu masuk akal bagi Stevia setelah mendengarnya. “Iya juga ya, kalau begitu panggil nona saja.”“Nah kalau begitu minggir, biar aku yang masakin mi nya. Kayaknya dari tadi masaknya nggak selesai-selesai.” Bayu melangkah maju sampai depan kompor gas.Dengan menggeser Stevia yang tadinya menguasai area dapur. Jadi Bayu berdiri menggantikannya di sana.“Tadi aku sempat bingung bumbunya duluan yang dimasukkan ke panci atau mienya duluan?” Sambil menggaruk lehernya Stevia tersenyum canggung atas ketidak tahuannya dalam memasak mie instan.“Ini bumbunya nggak dimasukin ke dalam panci tapi cukup mie nya aja. Kalau bumbu ini cukup dibukan dan dituangkan ke dalam mangkuk mie.” Bayu menjelaskan
Tap, tap!Suara langkah kaki mendekat dari belakang ketika Bahu menoleh ternyata itu Basri yang baru saja keluar dari ruangan Soma. Dia datang dengan amplop di tangannya lalu menyerahkannya pada Bayu.“Ini ambil gajimu. Tadi menang jadi Boss Soma kasihin ini padamu,” ucap Basri. “Ah iya, makasih ya Bang!” jawab Bayu lali mengambil amplop di tangan Basri. “Hampir saja barusan aku ke ruangan Boss Soma.”“Iya tadi aku ke sana jadi sekalian. Kek biasanya.” Basri mulai berjalan dan Bayu ikut berjalan di sampingnya.Mereka melangkah bersama menuju lantai satu di atas tempat ini. Langkah bergema di tangga besi baik dari belakang maupun depan ada beberapa orang juga yang melewati area tangga.Sesampainya di atas saat menuju pintu keluar dari gedung. Basri sempat berhenti saat beberapa teman judinya menghampiri dan melihat ke arah Bayu.“Jadi ini Bas, temenmu yang main di bawah tadi?” tanya Eko.“Iya, kalian udah p
Bayu yang melihat itu tentu saja tersenyum ikut senang atas kemenangan yang diraih Arjuna di atas ring. Namun, ternyata setelah pertandingan Arjuna selesai nama Bayu pun dipanggil untuk naik sebagai peserta selanjutnya.“Selanjutnya Bayuu …! Akan melawan Nasirrr …!” teriak wasit dengan mikrofon.Dengan langkah pasti Bayu pun melangkah maju karena namanya sudah dipanggil. Tidak lama setelah itu orang bernama Nasir, yang menjadi lawan Bayu pun ikut menaiki arena.Di sana Nasir tampak percaya diri dengan kemampuannya. Soal penampilan dan bentuk tubuhnya yang tinggi, besar dan berotot dengan wajahnya yang beringas ia menatap tajam pada Bayu.Namun, dengan sombongnya Nasir berbicara, “Lebih baik kamu menyerah lebih awal. Dan biarkan aku menang! Toh, aku memang pasti menang!” Bayu belum membalas ia hanya mengangkat wajahnya menatap Nasir tanpa rasa takut sedikitpun.“Menang atau kalah bukankah harus dicoba?” balas Bayu akhirnya.
“Habis putaran ini kamu main dong sama kita,” ajak Tomang dengan girang kepada Bayu.Bayu mengangguk. “Boleh, tapi satu putaran saja ya.” “Hah … satu saja?” protes Tomang.“Kalo Bang Tomang nggak mau aku nggak jadi main deh!” Mendengar itu Tomang tidak bisa membiarkan Bayu tidak ikut main. Dengan terpaksa akhirnya ia pun setuju meski Bayu hanya main satu putaran.“Iya-iya satu putaran saja. Jadi kamu ikut main ya!”“Kalo gitu aku jadi ikut main!” Bayu langsung setuju.Permainan yang baru saja selesai kini baru akan dimulai lagi putaran berikutnya. Bayu mulai membantu mengumpulkan kartu yang berserakan di atas meja.Basri memundurkan kursi tempat duduknya agak ke belakang sedikit sedangkan Bayu geser maju ke depan. Saat semua kartu sudah dikumpulkan ia menunggu giliran kartunya dibagikan ke depan.Lembaran demi lembaran kini sudah pas dibagikan oleh bandar. Permainan sudah dimulai beberapa pemain mula
Suara dari tembakan sangat keras memekakan telinga. Meski memakai penutup telinga tetap saja Bayu bisa mendengar lebih jelas seperti tidak memakai penutup telinga. Namun, Alex memperhatikannya dengan seksama setiap peluru yang ditembakkan Bayu.Alex berdiri di samping dengan melipat kedua tangannya sambil terus mengamati. Dari gerakan Bayu, caranya mengarahkan senjatanya, posisi berdirinya. Semuanya memiliki proporsi yang bagus.Latihan Bayu berlanjut terus sampai akhirnya senjata yang di atas meja sudah dicobanya semua. Barulah ia berhenti lalu menoleh ke arah Alex. “Ini lap pakai handuk ini keringatmu. Lalu ambil air di meja itu.” Alex menunjuk letak air berada.“Terima kasih,” sahut Bayu.Kain handuk kecil itu langsung digunakannya. Tubuh Bayu memang bercucuran keringat meski tidak terlalu banyak. Mereka sama-sama duduk di kursi yang berada di samping rak. Ada dua kursi dan satu meja yang di atasnya sudah tersedia air botol







