LOGINWarning! Bacaan untuk dewasa. Fatih tidak punya pilihan. Demi biaya pengobatan ibunya, pemuda miskin itu menerima tawaran Bu Rosa, pemilik pabrik gula terkaya di kota, untuk menikahi Laras—putri bisunya. Namun, malam pertama mereka menjadi awal petaka. Di tengah malam, suara gamelan menggema dari gudang pabrik gula. Seorang wanita menari di antara aroma tebu dan darah. Fatih dibawa masuk ke istana gaib milik bangsa siluman ular. Sejak malam itu, Fatih dinyatakan mati. Namanya bahkan telah terukir di batu nisan. Akan tetapi, kematian justru membangkitkan kekuatan yang selama ini tersembunyi. Tanda lahir berbentuk bulan sabit di bahu kanannya memancarkan kekuatan cahaya yang ditakuti para siluman, sekaligus diburu oleh makhluk-makhluk gaib yang mengincarnya. Saat Laras akhirnya mampu berbicara, tabir kelam pun tersingkap. Kesuksesan pabrik gula Bu Rosa ternyata dibangun di atas tumbal para pemuda. Dan Fatih adalah korban ketujuh dalam ritual mengerikan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kini Fatih harus bertarung melawan bangsa siluman, membongkar rahasia kutukan yang mengikat keluarganya, sekaligus melindungi wanita-wanita yang perlahan hadir dalam hidupnya. Namun, di balik cinta yang mereka tawarkan, tersimpan rahasia, pengkhianatan, dan takdir yang dapat menghancurkan segalanya. Di antara teror dunia gaib, pertarungan mematikan, dan para wanita cantik yang memperebutkan hatinya, siapakah yang akan menjadi pelabuhan cinta terakhir Fatih ... jika ia berhasil selamat dari kutukan yang telah menuliskan namanya sebagai orang mati?
View MoreSedari kecil, Fatih selalu merasa hidupnya sedikit berbeda.
Di bahunya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit. Karena tanda itulah, guru silatnya melatihnya lebih keras daripada siapa pun. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu bermain, Fatih menghabiskan harinya mempelajari berbagai jurus dan teknik bertarung. Ia pernah bertanya kenapa harus berlatih sekeras itu. Namun gurunya hanya menjawab, "Sembunyikan kekuatanmu. Jangan pernah menunjukkannya kepada siapa pun." Fatih tidak pernah mendapat penjelasan lebih dari itu. Dan selama bertahun-tahun, ia memilih menurutinya. Sampai hari itu tiba. Bruk! "Aww!" rintih Fatih saat keningnya membentur sesuatu yang keras. Jiwanya seperti baru kembali pada raganya. Fatih mengusap dahinya yang terasa nyeri. Saat ia melihat telapak tangannya, tampak bercak darah di sana. "Sial! Berdarah," rutuk Fatih, pelan. Fatih mengerutkan keningnya, saat menatap sekeliling, ternyata dia berada di sebuah pemakaman. Lalu, tatapannya beralih ke batu nisan yang ada di hadapannya. Ia mengucek matanya beberapa kali, untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Namun, setelah melihatnya lagi, seketika mata Fatih terbelalak lebar dengan mulut menganga. Ia melihat jelas nama yang terukir di batu nisan itu. "Fatih Alfa Rizky." Tubuh Fatih mendadak menegang. Dengan napas memburu, ia membaca tulisan di bawahnya. Tahun kelahiran dan tanggal wafat. Semuanya sama persis dengan identitas miliknya. Degh! Jantungnya berdetak kencang saat sadar ia jatuh di atas kuburan, dengan batu nisan atas nama dirinya. Belum juga keterkejutannya hilang, samar-samar ia mendengar derap langkah dan obrolan orang-orang menjauh dari area pemakaman. Tatapan Fatih beralih ke arah pintu keluar pemakaman. Ia melihat rombongan berpakaian serba hitam seperti habis mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhir. Fatih kembali melihat batu nisan yang bertuliskan namanya. Lalu, melihat tumpukan tanah merah di hadapannya yang terlihat baru ditimbun. Dan taburan bunga-bunganya masih terlihat segar. "Apa aku sudah meninggal?" tanya Fatih, sambil menepuk-nepuk pipinya. "Ini pasti ada yang salah." Fatih kembali melihat ke arah rombongan yang semakin menjauh. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menyusul rombongan. "Tunggu!" Rombongan warga yang tengah berjalan, mendadak berhenti saat mendengar teriakkan Fatih. Mereka serentak menoleh ke arah sumber suara. Tubuh mereka langsung membeku. Perlahan , mata mereka membelalak lebar dengan napas tertahan. "Fa-Fatih!" gagap warga. Fatih berlari semakin mendekat dengan penampilan kotor oleh tanah merah. "Ha-hantu!" jerit warga, lari terbirit-birit ketakutan. "Tolong! Jangan lari! Mana ibuku?!" teriak Fatih. Saat semua warga lari menjauh. Tiba-tiba seorang gadis dengan selendang hitam menutupi kepalanya datang mendekati Fatih. "A Fatih!" Fatih menoleh. "Fatimah! Syukurlah, kamu tidak ikut lari bersama mereka. Mana ibuku, apa dia baik-baik saja?" "Ini beneran Aa? Ya ampun ... Aa masih hidup?!" tanya Fatimah, menutup mulutnya tak percaya. "Iya. Aku masih hidup." Fatimah terlihat menitikkan air mata harunya. "Ibu Aa ada di rumah, dia tidak sanggup berjalan ke sini." Ustaz Hamdan yang merupakan ustaz setempat, datang menghampiri mereka. "Kamu ... beneran Fatih?" tanyanya ragu. "Iya, Pak Ustaz. Saya Fatih." "Allohu Akbar! Sungguh Maha besar kuasamu, ya Allah ..." ujar Pak Ustaz, kagum. Ustaz Hamdan pun segera memeriksa keadaan Fatih, untuk meyakinkan kalau dia benar-benar masih hidup. Beberapa warga yang sudah menjauh, menghentikan langkahnya, lalu memperhatikan Fatih, masih dalam keraguan dan ketakutan. Sebagian bapak-bapak yang masih membawa cangkul, langsung mendekati Fatih dengan langkah ragu. "Tunggu Pak Ustaz, kami masih meragukan Fatih ini. Karena Pak Ustaz pun tahu, kan, kita baru saja menguburkan jenazahnya? Masa tiba-tiba dia bangkit dan hidup lagi?" Fatih menggelengkan kepalanya. "Saya belum meninggal, Bapak-bapak. Saya masih hidup." "Iya, Pak. Ini beneran A Fatih," tegas Fatimah meyakinkan. "Kalau begitu, kita harus buktikan dulu. Bagaimana kalau kita gali lagi kuburan kamu?" usul salah satu warga. Warga yang lain tampak saling pandang dengan teman di sampingnya, lalu mengangguk setuju. "Iya. Sebaiknya begitu. Biar kami tidak dihantui ketakutan." Ustaz Hamdan mengangguk. "Baiklah, ayo kita ke pemakaman." Semuanya mengangguk. Lalu melangkah kembali menuju pemakaman. Fatimah berjalan di samping Fatih. Tak berselang lama, mereka sampai di depan tumpukan tanah merah dengan nisan bertuliskan nama Fatih. Bapak-bapak yang memegang cangkul, langsung menggali lagi kuburan yang baru mereka tutup. Warga desa yang penasaran, perlahan mendekat, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semakin lama, galian tanah semakin dalam. Dan papan kayu penutup liang lahat mulai terlihat. Bapak-bapak cepat mengangkat kayu-kayu itu, hingga menyisakan jenazah yang tadi diyakini jenazah Fatih, terbujur kaku di dalam lubang. Semuanya menahan napas dengan raut wajah ketakutan. Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Bapak-bapak mengangkat jenazah itu dengan hati-hati. Lalu mempersilahkan Pak Ustaz untuk membukanya. "Silahkan, Pak Ustaz." Ustaz Hamdan mengangguk dan segera berjongkok membuka tali pocong jenazah itu. Seketika, suasana mendadak hening. Hanya hembusan angin sore yang menerpa daun-daun pohon bunga kenanga yang berjejer di pemakaman itu. Semua mata warga tertuju pada satu titik, yaitu jenazah yang diyakini jenazah Fatih. Begitu tali pocong terlepas. Pak Ustaz segera membuka kain kafan yang menutupinya. Degh! Semua warga langsung menutup mulut mereka yang hendak menganga. "Innalilahi ..." Mata mereka terbelalak saat melihat jenazah yang tadi mereka kubur dan mereka yakini jenazah Fatih, hanyalah batang pohon pisang yang dibungkus kain kafan. Perlahan, tatapan mata warga tertuju pada Fatih. "Apa jangan-jangan ... kamu korban pesugihan?" tanya seorang warga. Degh! "Pesugihan?" gumam Fatih, sambil mengerutkan keningnya. Fatimah yang ada di sampingnya, segera menggenggam tangan Fatih. "Tapi siapa yang berani menumbalkan si Fatih?" tanya salah satu warga. Semua orang yang ada di sana tampak saling pandang, tidak ada yang berani menjawab. Fatih juga terdiam. Ia mencoba mengumpulkan kembali ingatannya. Namun, Fatimah segera menarik tangan Fatih dan mengajaknya pulang ke rumah. BERSAMBUNGDegh!Mendengar kata 'ngidam' Laras tanpa sadar meremas daun pintu yang masih ditahannya.Lalu menatap wajah Bu Rosa. Dan tatapannya sedikit berubah."Dulu ... setiap kali kamu sakit atau sedih, Ibu selalu memasakkan makanan kesukaanmu," lanjut Bu Rosa, dengan suara semakin lirih"Hari ini ... Ibu hanya ingin sekali lagi memasak untuk anak Ibu."Laras menggigit bibir bawahnya.Kenangan masa kecilnya perlahan bermunculan. Sebelum semua keserakahan itu menguasai hati Bu Rosa, wanita itu memang pernah menjadi ibu yang sangat menyayanginya.Namun luka yang ditinggalkan terlalu dalam untuk dilupakan begitu saja."Aku ... belum bisa memaafkan Ibu," balas Laras, jujur.Bu Rosa mengangguk pelan. "Ibu mengerti.""Aku tidak tahu kapan bisa memaafkan semua yang sudah Ibu lakukan.""Tak apa." Bu Rosa tersenyum tipis meski matanya kembali berkaca-kaca. "Ibu tidak memaksa. Yang penting ... Ibu bisa melihatmu sehat."Hening beberapa saat.Lalu Bu Rosa kembali berbicara."Kalau boleh, Ibu ingin memin
Laras masih berada di kamar mandi saat Fatih harus bisa menghibur pusakanya yang berdemo, karena tidak jadi berendam di lembah hangat sang istri. Beberapa kali bibirnya memanggil nama Laras, sedangkan matanya terpejam rapat. Sebelah tangannya naik turun merayu pusakanya agar tidak marah dan menuntunnya menuju puncak kenikmatan sendiri.Hingga ... "Aaaahhhh ..."Suara erangan panjang lolos dari kerongkongannya saat kenikmatan itu meledak seketika. Rasa hangat yang memuncak membuat seluruh tubuhnya bergetar pelan, pusakanya menyemburkan cairan panas yang membasahi kain seprai di bawahnya.Di ambang pintu, Laras yang baru saja keluar dari kamar mandi tertegun kaku. Matanya membulat menatap pemandangan di hadapannya, wajahnya seketika merona merah padam.Dengan napas yang masih tersengal-sengal, Fatih melirik ke arah Laras yang masih diam mematung. Ia segera merapikan pakaiannya, lalu menyunggingkan senyum tipis."Ayo sini, sayang. Istirahatlah," ajaknya lembut sambil menepuk-nepuk tempa
Mendengar desahan Laras, Fatih semakin bersemangat untuk memberikan sentuhan-sentuhan di tubuhnya.Kini, tangan Fatih merayap ke dada Laras yang mulai berdebar cepat, memberikan sedikit remasan di bukit kembar yang masih tertutup itu. Lalu turun melewati perut rata Laras hingga mencapai pinggul besarnya.Gairah Fatih yang memang sangat sensitif langsung naik ke ubun-ubun.Tanpa aba-aba lagi, Fatih mengangkat tubuh Laras dalam gendongan, lalu membawanya perlahan menuju kamar. Rasa yang tadi sempat tertahan kini meluap begitu saja, tak sanggup lagi ia tahan. Keraguan yang sempat menggelayut di benaknya seketika lenyap, hilang terbawa oleh gairah yang semakin memuncak.Di dalam hatinya, ia mencoba meyakinkan diri sendiri. Persetan dengan segala beban dan rahasia yang selama ini membelenggunya. Apa yang akan ia lakukan ini bukanlah kesalahan, bukan pula dosa. Wanita yang kini dalam gendongannya, yang memandangnya dengan penuh cinta dan kepercayaan, adalah istri sahnya. Segala haknya atas
"Lagi mikirin apa, Kang? Kok melamun?"Suara lembut Laras seketika membuyarkan lamunan Fatih.Fatih tersentak. Ia segera mengangkat wajah dan menatap istrinya yang berdiri di hadapannya."E-eh ... enggak. Aku tidak melamun, kok, Ras," sangkalnya sambil memaksakan seulas senyum, meski nada suaranya terdengar sedikit gugup.Laras menatapnya beberapa saat, seolah berusaha membaca isi hati suaminya. Kemudian, ia tersenyum tipis dan duduk di samping Fatih."Kang ..." panggilnya lirih. "Aku cuma berharap, kamu tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku."Kalimat sederhana itu membuat dada Fatih terasa sesak. Sejenak ia hanya terdiam, sebelum akhirnya merangkul pundak Laras dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya."Iya, Ras," ucapnya pelan. "Aku mengerti."Fatih sengaja mengalihkan pembicaraan."Oh iya ... selama aku pulang ke kampung kemarin, kamu tidak pernah menemui ibumu, kan?"Laras menggeleng pelan."Tidak."Tatapannya perlahan berubah sendu."Aku sudah tidak ingin bertemu den
Gudang di hadapannya tidak gelap seperti ruangan pabrik lainnya. Justru sebaliknya. Puluhan lilin menyala mengelilingi ruangan, sesajen tersusun di atas nampan, sementara aroma kemenyan dan melati memenuhi udara. Di tengah ruangan, beberapa pria berpakaian hitam menabuh gamelan dengan wajah datar.
Fatih tersentak. Alisnya langsung berkerut."Siapa yang mengetuk pintu?" gumamnya dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.Grep!Tiba-tiba tangan Laras meraih lengan Fatih dengan erat.Fatih menoleh. Kepala Laras menggeleng pelan. Wajahnya yang tadi terlihat tenang kini berubah pucat. Ada
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Fatih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Ingatan Fatih langsung tertuju pada kejadian tadi malam. Bukankah ia berada di rumah ibu mertuanya? Dan hendak melakukan malam pertama dengan Laras, istri yang ia nikahi tanpa sepengetahuan keluargany
Sedari kecil, Fatih selalu merasa hidupnya sedikit berbeda.Di bahunya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit. Karena tanda itulah, guru silatnya melatihnya lebih keras daripada siapa pun. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu bermain, Fatih menghabiskan harinya mempelajari berbagai jurus dan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews