LOGINWarning!! Bacaan khusus dewasa. Banyak adegan di luar nalar dan bisa bikin ... mohon bijak dalam memilih bacaan. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Fatih menerima syarat, menikahi Laras, putri bisu pemilik pabrik gula terkaya di kota. Namun malam pertama pernikahan justru menyeretnya ke dalam mimpi buruk bersama siluman ular yang menginginkannya seutuhnya. Bahkan saat ia dinyatakan telah mati dan bangkit membawa kekuatan luar biasa, yang keluar dari tanda lahir berbentuk bulan sabit yang ada di bahu kanannya. Takdir tak berhenti mempertemukannya dengan wanita-wanita yang tak rela berbagi. Laras, istri pertamanya yang tulus mencintai dan akhirnya bersuara demi kebenaran. Fatimah, wanita yang setia merawat keluarganya dan menuntut haknya sebagai istri kedua. Ayunda, atasan yang ia selamatkan, lalu jatuh cinta hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Dan Nyai, siluman penguasa alam gaib yang menganggapnya milik abadi dan tak segan-segan mengancam siapa pun yang berani mendekat. Fatih harus bertarung melawan para siluman yang menginginkan darahnya. Namun, pertarungan sesungguhnya justru jiwanya sendiri, di antara kelembutan, kesetiaan, obsesi, dan cinta yang saling bersaing memperebutkan dirinya. Di tengah banyaknya wanita yang bersedia berbagi cinta dan hidup bersamanya, siapakah yang akan ia pilih menjadi pelabuhan terakhir ... jika ia selamat dari takdir yang telah mencatat namanya sebagai tumbal ketujuh?
View MoreSedari kecil, Fatih selalu merasa hidupnya sedikit berbeda.
Di bahunya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit. Karena tanda itulah, guru silatnya melatihnya lebih keras daripada siapa pun. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu bermain, Fatih menghabiskan harinya mempelajari berbagai jurus dan teknik bertarung. Ia pernah bertanya kenapa harus berlatih sekeras itu. Namun gurunya hanya menjawab, "Sembunyikan kekuatanmu. Jangan pernah menunjukkannya kepada siapa pun." Fatih tidak pernah mendapat penjelasan lebih dari itu. Dan selama bertahun-tahun, ia memilih menurutinya. Sampai hari itu tiba. Bruk! "Aww!" rintih Fatih saat keningnya membentur sesuatu yang keras. Jiwanya seperti baru kembali pada raganya. Fatih mengusap dahinya yang terasa nyeri. Saat ia melihat telapak tangannya, tampak bercak darah di sana. "Sial! Berdarah," rutuk Fatih, pelan. Fatih mengerutkan keningnya, saat menatap sekeliling, ternyata dia berada di sebuah pemakaman. Lalu, tatapannya beralih ke batu nisan yang ada di hadapannya. Ia mengucek matanya beberapa kali, untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Namun, setelah melihatnya lagi, seketika mata Fatih terbelalak lebar dengan mulut menganga. Ia melihat jelas nama yang terukir di batu nisan itu. "Fatih Alfa Rizky." Tubuh Fatih mendadak menegang. Dengan napas memburu, ia membaca tulisan di bawahnya. Tahun kelahiran dan tanggal wafat. Semuanya sama persis dengan identitas miliknya. Degh! Jantungnya berdetak kencang saat sadar ia jatuh di atas kuburan, dengan batu nisan atas nama dirinya. Belum juga keterkejutannya hilang, samar-samar ia mendengar derap langkah dan obrolan orang-orang menjauh dari area pemakaman. Tatapan Fatih beralih ke arah pintu keluar pemakaman. Ia melihat rombongan berpakaian serba hitam seperti habis mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhir. Fatih kembali melihat batu nisan yang bertuliskan namanya. Lalu, melihat tumpukan tanah merah di hadapannya yang terlihat baru ditimbun. Dan taburan bunga-bunganya masih terlihat segar. "Apa aku sudah meninggal?" tanya Fatih, sambil menepuk-nepuk pipinya. "Ini pasti ada yang salah." Fatih kembali melihat ke arah rombongan yang semakin menjauh. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menyusul rombongan. "Tunggu!" Rombongan warga yang tengah berjalan, mendadak berhenti saat mendengar teriakkan Fatih. Mereka serentak menoleh ke arah sumber suara. Tubuh mereka langsung membeku. Perlahan , mata mereka membelalak lebar dengan napas tertahan. "Fa-Fatih!" gagap warga. Fatih berlari semakin mendekat dengan penampilan kotor oleh tanah merah. "Ha-hantu!" jerit warga, lari terbirit-birit ketakutan. "Tolong! Jangan lari! Mana ibuku?!" teriak Fatih. Saat semua warga lari menjauh. Tiba-tiba seorang gadis dengan selendang hitam menutupi kepalanya datang mendekati Fatih. "A Fatih!" Fatih menoleh. "Fatimah! Syukurlah, kamu tidak ikut lari bersama mereka. Mana ibuku, apa dia baik-baik saja?" "Ini beneran Aa? Ya ampun ... Aa masih hidup?!" tanya Fatimah, menutup mulutnya tak percaya. "Iya. Aku masih hidup." Fatimah terlihat menitikkan air mata harunya. "Ibu Aa ada di rumah, dia tidak sanggup berjalan ke sini." Ustaz Hamdan yang merupakan ustaz setempat, datang menghampiri mereka. "Kamu ... beneran Fatih?" tanyanya ragu. "Iya, Pak Ustaz. Saya Fatih." "Allohu Akbar! Sungguh Maha besar kuasamu, ya Allah ..." ujar Pak Ustaz, kagum. Ustaz Hamdan pun segera memeriksa keadaan Fatih, untuk meyakinkan kalau dia benar-benar masih hidup. Beberapa warga yang sudah menjauh, menghentikan langkahnya, lalu memperhatikan Fatih, masih dalam keraguan dan ketakutan. Sebagian bapak-bapak yang masih membawa cangkul, langsung mendekati Fatih dengan langkah ragu. "Tunggu Pak Ustaz, kami masih meragukan Fatih ini. Karena Pak Ustaz pun tahu, kan, kita baru saja menguburkan jenazahnya? Masa tiba-tiba dia bangkit dan hidup lagi?" Fatih menggelengkan kepalanya. "Saya belum meninggal, Bapak-bapak. Saya masih hidup." "Iya, Pak. Ini beneran A Fatih," tegas Fatimah meyakinkan. "Kalau begitu, kita harus buktikan dulu. Bagaimana kalau kita gali lagi kuburan kamu?" usul salah satu warga. Warga yang lain tampak saling pandang dengan teman di sampingnya, lalu mengangguk setuju. "Iya. Sebaiknya begitu. Biar kami tidak dihantui ketakutan." Ustaz Hamdan mengangguk. "Baiklah, ayo kita ke pemakaman." Semuanya mengangguk. Lalu melangkah kembali menuju pemakaman. Fatimah berjalan di samping Fatih. Tak berselang lama, mereka sampai di depan tumpukan tanah merah dengan nisan bertuliskan nama Fatih. Bapak-bapak yang memegang cangkul, langsung menggali lagi kuburan yang baru mereka tutup. Warga desa yang penasaran, perlahan mendekat, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semakin lama, galian tanah semakin dalam. Dan papan kayu penutup liang lahat mulai terlihat. Bapak-bapak cepat mengangkat kayu-kayu itu, hingga menyisakan jenazah yang tadi diyakini jenazah Fatih, terbujur kaku di dalam lubang. Semuanya menahan napas dengan raut wajah ketakutan. Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Bapak-bapak mengangkat jenazah itu dengan hati-hati. Lalu mempersilahkan Pak Ustaz untuk membukanya. "Silahkan, Pak Ustaz." Ustaz Hamdan mengangguk dan segera berjongkok membuka tali pocong jenazah itu. Seketika, suasana mendadak hening. Hanya hembusan angin sore yang menerpa daun-daun pohon bunga kenanga yang berjejer di pemakaman itu. Semua mata warga tertuju pada satu titik, yaitu jenazah yang diyakini jenazah Fatih. Begitu tali pocong terlepas. Pak Ustaz segera membuka kain kafan yang menutupinya. Degh! Semua warga langsung menutup mulut mereka yang hendak menganga. "Innalilahi ..." Mata mereka terbelalak saat melihat jenazah yang tadi mereka kubur dan mereka yakini jenazah Fatih, hanyalah batang pohon pisang yang dibungkus kain kafan. Perlahan, tatapan mata warga tertuju pada Fatih. "Apa jangan-jangan ... kamu korban pesugihan?" tanya seorang warga. Degh! "Pesugihan?" gumam Fatih, sambil mengerutkan keningnya. Fatimah yang ada di sampingnya, segera menggenggam tangan Fatih. "Tapi siapa yang berani menumbalkan si Fatih?" tanya salah satu warga. Semua orang yang ada di sana tampak saling pandang, tidak ada yang berani menjawab. Fatih juga terdiam. Ia mencoba mengumpulkan kembali ingatannya. Namun, Fatimah segera menarik tangan Fatih dan mengajaknya pulang ke rumah. BERSAMBUNGBeberapa saat kemudian...Fatih telah kembali ke rumah. Langkahnya berat dan pelan saat melangkah masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang, Laras tampak masih terpejam, seolah belum terbangun dari tidurnya.Tanpa menunda, Fatih segera membersihkan tubuhnya. Setelah kembali berpakaian bersih, ia berbaring perlahan di samping istrinya. Tangannya melingkar erat memeluk tubuh Laras dari belakang, menyandarkan wajahnya di ceruk leher jenjang itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Laras yang menenangkan, bercampur wangi sampo yang lembut menguar dari rambut panjangnya.Namun, tanpa Fatih ketahui, di balik matanya yang terpejam, Laras ternyata telah terjaga sejak tadi. Ia menyadari tempat di sampingnya kosong, menyadari kepergian suaminya di tengah malam yang sunyi. Dan kini, saat pelukan hangat itu kembali menyaputnya, air mata perlahan mengalir deras dari sudut matanya.Laras menahan napas agar tak terdengar sesenggukan. Giginya terkatup rapat menahan rasa perih yang menyayat dadanya. Ia
"Tidak!" seru Fatih seketika.Dengan gerakan cepat ia melepaskan cengkeramannya dari leher Nyai, lalu mundur terhuyung beberapa langkah. Kedua tangannya kini mencengkeram kepalanya erat, napasnya tersengal hebat seolah baru saja dihantam kenyataan yang mematikan.Pikirannya seketika teringat momen kebersamaan bersama Nyai yang terus terulang. Ia selalu terbuai dengan kenikmatan, hingga lupa menahan diri, membiarkan benih kehidupannya menyatu sepenuhnya di dalam rahim siluman itu. Dan kini ... benih itu telah tertanam dan mulai tumbuh."Kenapa, Fatih? Apa kamu terkejut?" tanya Nyai lembut.Perlahan, kedua tangannya terulur mengusap perutnya yang kini bersinar lembut, terlihat denyut-denyut kecil kehidupan yang baru saja tumbuh di sana.Pandangan Fatih seketika menajam, matanya menatap tajam ke arah perut itu."Keluarkan benih itu, Nyai! Jangan biarkan ia tumbuh di rahimmu!" perintahnya tegas namun bergetar.Nyai tersenyum lebar, tak sedikit pun takut."Tidak. Ini adalah benihku dan be
Melihat Nyai terdiam membisu, Fatih perlahan membuka matanya. Di dapatinya, Nyai masih menatapnya lekat dengan pandangan yang nanar dan penuh luka."Kenapa?" tanya Fatih pelan. "Apa jawabanku tadi membuatmu tak suka?"Nyai tersentak, lalu secepat kilat mengubah ekspresinya. Ia mengibaskan tangan seolah mengusir segala pikiran kelam yang sempat singgah."Ah, tidak ... lupakan saja pembicaraan itu. Yang penting saat ini, kita masih bisa bersama. Melalui malam purnama yang indah ini dalam kebersamaan yang akan menambah kekuatan dan kecantikanku," bisiknya halus, seraya tangannya kembali mengusap lembut dada bidang Fatih yang masih berkeringat.Memang tak bisa dipungkiri. Penyatuan yang baru saja mereka lakukan di bawah cahaya bulan purnama itu seolah memancarkan kembali pesona kecantikan siluman wanita itu. Wajahnya kian bersinar bercahaya, dan tubuhnya yang seharusnya terasa lelah justru tampak semakin segar dan bugar.Fatih mendengus pelan, merasa sedikit tak seimbang. "Jadi ... hanya
Mendengar pertanyaan Fatih, Nyai tersenyum lebar, matanya berkilat tajam, namun penuh kepemilikan mutlak. Ia mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya beberapa senti."Selamanya, Fatih," jawabnya tegas namun lembut, seolah itu adalah hal yang paling pasti di dunia ini. "Selama kamu masih bernapas, selama darah ini masih mengalir di tubuhmu ... kamu harus memberikanku satu malam setiap bulan. Tak ada batas waktu, tak ada akhir. Kamu adalah milikku, dan aku tak akan pernah melepaskanmu."Fatih mengerutkan kening, rasa tak percaya bercampur amarah mulai merayap di hatinya."Itu tidak adil. Aku sudah menepati janjiku memberikanmu kepuasan dan menyelamatkan nyawamu dari Handaru. Harusnya perjanjian itu selesai sampai di sana."Nyai menggeleng pelan, lalu bibirnya menyentuh telinga Fatih dengan suara berbisik yang memabukkan."Kamu salah mengerti, sayang ... perjanjian itu bukan sekadar tukar-menukar. Kamu adalah milikku yang kutemukan kembali. Dan kenikmatan yang kuberikan padamu, ser
Gudang di hadapannya tidak gelap seperti ruangan pabrik lainnya. Justru sebaliknya. Puluhan lilin menyala mengelilingi ruangan, sesajen tersusun di atas nampan, sementara aroma kemenyan dan melati memenuhi udara. Di tengah ruangan, beberapa pria berpakaian hitam menabuh gamelan dengan wajah datar.
Fatih tersentak. Alisnya langsung berkerut."Siapa yang mengetuk pintu?" gumamnya dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.Grep!Tiba-tiba tangan Laras meraih lengan Fatih dengan erat.Fatih menoleh. Kepala Laras menggeleng pelan. Wajahnya yang tadi terlihat tenang kini berubah pucat. Ada
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Fatih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Ingatan Fatih langsung tertuju pada kejadian tadi malam. Bukankah ia berada di rumah ibu mertuanya? Dan hendak melakukan malam pertama dengan Laras, istri yang ia nikahi tanpa sepengetahuan keluargany
Sedari kecil, Fatih selalu merasa hidupnya sedikit berbeda.Di bahunya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit. Karena tanda itulah, guru silatnya melatihnya lebih keras daripada siapa pun. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu bermain, Fatih menghabiskan harinya mempelajari berbagai jurus dan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews