LOGINFatih tidak punya pilihan. Demi biaya pengobatan ibunya, pemuda miskin itu menerima tawaran Bu Rosa, pemilik pabrik gula terkaya di kota, untuk menikahi Laras—putri bisunya. Namun, malam pertama mereka menjadi awal petaka. Di tengah malam, suara gamelan menggema dari gudang pabrik gula. Seorang wanita menari di antara aroma tebu dan darah. Fatih dibawa masuk ke istana gaib milik bangsa siluman ular. Sejak malam itu, Fatih dinyatakan mati. Namanya bahkan telah terukir di batu nisan. Tetapi sesuatu bangkit dalam dirinya. Tanda lahir berbentuk bulan sabit di bahunya memunculkan kekuatan yang ditakuti sekaligus diinginkan para siluman. Dan ketika Laras akhirnya mampu berbicara, semuanya terungkap. Rahasia mengerikan di balik kesuksesan usaha ibunya. Dan Fatih bukan satu-satunya pemuda yang menjadi korban.
View MoreSedari kecil, Fatih selalu merasa hidupnya sedikit berbeda.
Di bahunya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit. Karena tanda itulah, guru silatnya melatihnya lebih keras daripada siapa pun. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu bermain, Fatih menghabiskan harinya mempelajari berbagai jurus dan teknik bertarung. Ia pernah bertanya kenapa harus berlatih sekeras itu. Namun gurunya hanya menjawab, "Sembunyikan kekuatanmu. Jangan pernah menunjukkannya kepada siapa pun." Fatih tidak pernah mendapat penjelasan lebih dari itu. Dan selama bertahun-tahun, ia memilih menurutinya. Sampai hari itu tiba. Bruk! "Aww!" rintih Fatih saat keningnya membentur sesuatu yang keras. Jiwanya seperti baru kembali pada raganya. Fatih mengusap dahinya yang terasa nyeri. Saat ia melihat telapak tangannya, tampak bercak darah di sana. "Sial! Berdarah," rutuk Fatih, pelan. Fatih mengerutkan keningnya, saat menatap sekeliling, ternyata dia berada di sebuah pemakaman. Lalu, tatapannya beralih ke batu nisan yang ada di hadapannya. Ia mengucek matanya beberapa kali, untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Namun, setelah melihatnya lagi, seketika mata Fatih terbelalak lebar dengan mulut menganga. Ia melihat jelas nama yang terukir di batu nisan itu. "Fatih Alfa Rizky." Tubuh Fatih mendadak menegang. Dengan napas memburu, ia membaca tulisan di bawahnya. Tahun kelahiran dan tanggal wafat. Semuanya sama persis dengan identitas miliknya. Degh! Jantungnya berdetak kencang saat sadar ia jatuh di atas kuburan, dengan batu nisan atas nama dirinya. Belum juga keterkejutannya hilang, samar-samar ia mendengar derap langkah dan obrolan orang-orang menjauh dari area pemakaman. Tatapan Fatih beralih ke arah pintu keluar pemakaman. Ia melihat rombongan berpakaian serba hitam seperti habis mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhir. Fatih kembali melihat batu nisan yang bertuliskan namanya. Lalu, melihat tumpukan tanah merah di hadapannya yang terlihat baru ditimbun. Dan taburan bunga-bunganya masih terlihat segar. "Apa aku sudah meninggal?" tanya Fatih, sambil menepuk-nepuk pipinya. "Ini pasti ada yang salah." Fatih kembali melihat ke arah rombongan yang semakin menjauh. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menyusul rombongan. "Tunggu!" Rombongan warga yang tengah berjalan, mendadak berhenti saat mendengar teriakkan Fatih. Mereka serentak menoleh ke arah sumber suara. Tubuh mereka langsung membeku. Perlahan , mata mereka membelalak lebar dengan napas tertahan. "Fa-Fatih!" gagap warga. Fatih berlari semakin mendekat dengan penampilan kotor oleh tanah merah. "Ha-hantu!" jerit warga, lari terbirit-birit ketakutan. "Tolong! Jangan lari! Mana ibuku?!" teriak Fatih. Saat semua warga lari menjauh. Tiba-tiba seorang gadis dengan selendang hitam menutupi kepalanya datang mendekati Fatih. "A Fatih!" Fatih menoleh. "Fatimah! Syukurlah, kamu tidak ikut lari bersama mereka. Mana ibuku, apa dia baik-baik saja?" "Ini beneran Aa? Ya ampun ... Aa masih hidup?!" tanya Fatimah, menutup mulutnya tak percaya. "Iya. Aku masih hidup." Fatimah terlihat menitikkan air mata harunya. "Ibu Aa ada di rumah, dia tidak sanggup berjalan ke sini." Ustaz Hamdan yang merupakan ustaz setempat, datang menghampiri mereka. "Kamu ... beneran Fatih?" tanyanya ragu. "Iya, Pak Ustaz. Saya Fatih." "Allohu Akbar! Sungguh Maha besar kuasamu, ya Allah ..." ujar Pak Ustaz, kagum. Ustaz Hamdan pun segera memeriksa keadaan Fatih, untuk meyakinkan kalau dia benar-benar masih hidup. Beberapa warga yang sudah menjauh, menghentikan langkahnya, lalu memperhatikan Fatih, masih dalam keraguan dan ketakutan. Sebagian bapak-bapak yang masih membawa cangkul, langsung mendekati Fatih dengan langkah ragu. "Tunggu Pak Ustaz, kami masih meragukan Fatih ini. Karena Pak Ustaz pun tahu, kan, kita baru saja menguburkan jenazahnya? Masa tiba-tiba dia bangkit dan hidup lagi?" Fatih menggelengkan kepalanya. "Saya belum meninggal, Bapak-bapak. Saya masih hidup." "Iya, Pak. Ini beneran A Fatih," tegas Fatimah meyakinkan. "Kalau begitu, kita harus buktikan dulu. Bagaimana kalau kita gali lagi kuburan kamu?" usul salah satu warga. Warga yang lain tampak saling pandang dengan teman di sampingnya, lalu mengangguk setuju. "Iya. Sebaiknya begitu. Biar kami tidak dihantui ketakutan." Ustaz Hamdan mengangguk. "Baiklah, ayo kita ke pemakaman." Semuanya mengangguk. Lalu melangkah kembali menuju pemakaman. Fatimah berjalan di samping Fatih. Tak berselang lama, mereka sampai di depan tumpukan tanah merah dengan nisan bertuliskan nama Fatih. Bapak-bapak yang memegang cangkul, langsung menggali lagi kuburan yang baru mereka tutup. Warga desa yang penasaran, perlahan mendekat, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semakin lama, galian tanah semakin dalam. Dan papan kayu penutup liang lahat mulai terlihat. Bapak-bapak cepat mengangkat kayu-kayu itu, hingga menyisakan jenazah yang tadi diyakini jenazah Fatih, terbujur kaku di dalam lubang. Semuanya menahan napas dengan raut wajah ketakutan. Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Bapak-bapak mengangkat jenazah itu dengan hati-hati. Lalu mempersilahkan Pak Ustaz untuk membukanya. "Silahkan, Pak Ustaz." Ustaz Hamdan mengangguk dan segera berjongkok membuka tali pocong jenazah itu. Seketika, suasana mendadak hening. Hanya hembusan angin sore yang menerpa daun-daun pohon bunga kenanga yang berjejer di pemakaman itu. Semua mata warga tertuju pada satu titik, yaitu jenazah yang diyakini jenazah Fatih. Begitu tali pocong terlepas. Pak Ustaz segera membuka kain kafan yang menutupinya. Degh! Semua warga langsung menutup mulut mereka yang hendak menganga. "Innalilahi ..." Mata mereka terbelalak saat melihat jenazah yang tadi mereka kubur dan mereka yakini jenazah Fatih, hanyalah batang pohon pisang yang dibungkus kain kafan. Perlahan, tatapan mata warga tertuju pada Fatih. "Apa jangan-jangan ... kamu korban pesugihan?" tanya seorang warga. Degh! "Pesugihan?" gumam Fatih, sambil mengerutkan keningnya. Fatimah yang ada di sampingnya, segera menggenggam tangan Fatih. "Tapi siapa yang berani menumbalkan si Fatih?" tanya salah satu warga. Semua orang yang ada di sana tampak saling pandang, tidak ada yang berani menjawab. Fatih juga terdiam. Ia mencoba mengumpulkan kembali ingatannya. Namun, Fatimah segera menarik tangan Fatih dan mengajaknya pulang ke rumah. BERSAMBUNGFatih membeku mendengar pernyataan cinta Fatimah. Perlahan, ia memejamkan matanya.Gadis di hadapannya itu bukan orang lain. Fatimah adalah teman masa kecil yang selalu ada untuknya. Bahkan saat semua orang menjauh karena kondisi ibunya yang sakit-sakitan, Fatimah tetap setia membantu merawat sang ibu tanpa pernah mengeluh.Namun bayangan Laras tiba-tiba kembali memenuhi pikiran Fatih.Gadis bisu yang kini sah menjadi istrinya.Meski pernikahan itu terjadi karena syarat dari Bu Rosa atas pinjaman uang yang ia terima, Fatih sadar dirinya tetap seorang suami. Ia tidak seharusnya mengkhianati Laras.Apalagi saat mengingat malam pertama mereka. Malam ketika ia hampir merenggut mahkota gadis cantik itu.Fatih langsung membuka matanya. Dengan pelan, ia mendorong tubuh Fatimah agar sedikit menjauh."Maaf, Fat," ucapnya lirih. "Apa tidak sebaiknya kamu mencari lelaki yang lebih baik dariku? Lelaki yang sudah mapan dan bisa menjamin hidupmu nanti."Mata Fatimah membesar. Ia cepat menggelengkan
"Apa kesalahanku, sehingga kalian terus mengejarku?!" tanya Fatih. Nyai tersenyum lagi. "Kamu itu persembahan untukku. Dan aku sangat tergila-gila padamu. Aroma tubuh dan darahmu sangat menggodaku, Fatih." Fatih mengerutkan keningnya. "Persembahan? Aku bukan persembahan," tegasnya, menatap tajam Nyai. "Aku tidak pernah ada urusan dengan siluman terkutuk seperti kalian!" Nyai tetawa pelan, wajah cantiknya sedikit memerah, membuat siapa pun yang belum tahu wujud aslinya pasti takjub akan kecantikan parasnya. Nyai mendekatkan wajahnya ke wajah Fatih, yang langsung menarik mundur wajahnya. "Kamu persembahan yang bertugas memuaskanku, Fatih. Sampai kapan pun kamu tidak bisa lepas dari tugasmu itu." Degh! Fatih tertegun mendengarnya. Tatapannya tajam menatap wajah Nyai yang terlihat terus menggodanya. Grep! Tangan Fatih mencengkram leher jenjang Nyai yang putih mulus dan sedikit berkeringat, membuatnya terlihat seksi. "Itu menurutmu. Tapi aku tidak akan pernah memenuhi tugas yang
Degh!Ingatan Fatih langsung tersentak. Kesadarannya seperti kembali ditarik ke raganya sendiri yang sedang berjalan menuju rumahnya."A Fatih, kenapa?" tanya Fatimah, yang berjalan di samping Fatih, saat melihat Fatih tersentak kaget."O-oh, tidak apa-apa, Fatimah. Aku hanya ingin segera bertemu dengan ibu," elak Fatih, meski sedikit terbata.Beberapa saat kemudian, mereka tiba di rumah sederhana milik ibunya Fatih, Bu Asmah.Langkah Fatih terhenti, karena di depan rumahnya ternyata sudah dipenuhi warga.Beberapa ibu-ibu berdiri sambil berbisik-bisik.Anak-anak kecil bersembunyi di belakang orang tua mereka sambil mengintip takut.Sementara para Bapak-bapak tampak menatap Fatih dengan wajah tegang dan penuh rasa penasaran.Kabar tentang Fatih yang kembali hidup setelah dikuburkan rupanya sudah menyebar ke seluruh desa.Bisik-bisik warga langsung terdengar begitu Fatih muncul.Fatih menghela napas panjang. Ia sendiri masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Yang
Cahaya putih tiba-tiba memancar dari bahu kanan Fatih. Mata Nyai langsung terbelalak lebar.Senyumnya lenyap seketika.Ia buru-buru mengulurkan tangan untuk menyentuh cahaya tersebut, tetapi cahaya itu justru semakin terang dan semakin kuat, seolah memiliki kehidupan sendiri.Sreeeeettt!Brugh!"Argh!"Tubuh Nyai terpental keras ke belakang hingga menghantam dinding kamar, lalu ambruk di lantai. Nyai terlihat meringis kesakitan.Sementara Fatih sendiri seperti baru sadar dari pengaruh sihir. Ia menatap bahu kanannya yang masih bersinar terang, lalu memakai bajunya kembali."Tanda lahir ini ..." gumamnya pelan, lalu meraba bahunya. "Benar kata guru silatku, suatu saat, kekuatan dahsyat akan bangkit dari tanda lahir ini."Nyai perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya kini berubah tajam penuh keterkejutan."Siapa kamu?"Fatih cepat berdiri. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, Nyai. Siapa kalian? Kenapa kalian membawaku ke tempat aneh ini?"Bukannya menjawab, wanita cantik itu malah ter
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.