Share

4. GERBANG SUNYI

Author: Aleena Tan
last update Last Updated: 2025-11-08 04:41:02

Hutan di luar gerbang sekte seharusnya penuh suara serangga, ranting patah, angin yang menyentuh daun. Tapi malam itu tidak ada apa pun, seolah dunia menahan napas saat Kael berjalan sendirian dalam hujan.

Bayangan di bawah kakinya mengikuti langkahnya, bukan menempel seperti biasa, tapi bergerak, seolah hidup. Tanah menyerap jejaknya dan menutup kembali, menyembunyikan kehadirannya dari siapa pun yang mengejar.

Tanah ini mengenal kita, bisik darah bayangan dari dalam tubuhnya. Sebelum dunia memberi nama pada kegelapan, tempat ini sudah mengakuinya.

Kael tidak menanggapi. Ia hanya berjalan, tenang, seperti seseorang yang tidak lagi membutuhkan alasan untuk hidup, hanya arah.

Jalan setapak menghilang. Pepohonan rapat, kabut turun, dan lembah gelap di depan tampak seperti mulut yang menunggu.

Itulah Lembah Sunyi Bayangan. Tempat yang dibicarakan murid nakal, disembunyikan tetua, dan dilupakan sejarah. Tempat yang dikatakan menelan cahaya dan mengembalikan sesuatu yang tidak lagi sepenuhnya hidup.

Kael baru akan memasuki batas lembah ketika tanah bergetar kecil, bukan gempa, tapi langkah. Tiga arah, ringan, terlatih.

Ia berhenti.

“Berhenti di situ!” perintah suara laki-laki dari kiri. Suara tali busur yang ditarik terdengar jelas. “Gerak sedikit, dan panah ini akan menembus jantungmu.”

Dua bayangan lain bergerak menutup belakang dan kanan. Mereka tidak memakai lambang sekte. Jubah hitam, wajah tertutup kain, senjata ringan. Bukan murid, bukan tetua.

Pemburu.

“Terlalu tenang.” Suara perempuan di kanan berbisik. “Dia tahu kita ada di sini.”

Kael tidak menoleh. “Kalian dari sekte?”

“Tentu bukan,” jawab si kiri. “Kalau dari sekte, mereka akan datang ribut dan sombong. Kami tidak suka sombong.”

Kael menurunkan napas tipis. “Kalian mengikutiku sejak arena.”

“Sejak kau menelan aura darah.” Perempuan itu mengakui. “Teknik terlarang seperti itu tidak boleh dibiarkan tanpa pemilik.”

Kael melirik tanah. “Kalian mau menangkapku?”

“Kami mau menilai dulu,” kata pria kiri. “Ada yang ingin membeli tubuhmu. Ada yang ingin menyiksamu. Ada yang ingin mempelajari darahmu. Kami ingin tahu mana yang paling untung.”

“Siapa kalian?”

“Pedagang Hening,” ungkap perempuan itu. “Kami tidak menjual suara. Hanya benda, dan kau … adalah benda berharga.”

Kael diam sejenak, sebelum menjawab datar, “Kalau begitu, mengapa kalian menarik panah?”

“Karena semua barang yang berharga harus diuji ketahanannya.”

Panah dilepaskan.

Kael tidak bergerak.

Bayangan di bawahnya menebal, seperti kabut hitam yang memadat. Panah yang seharusnya mengenai jantungnya menghilang, seolah ditarik ke lubang gelap.

Panah kedua menyusul, dan lenyap lagi.

“Tidak mungkin …” Perempuan itu tersentak, menarik busur lebih tinggi. “Aura panahku ditelan!”

“Bukan aura,” sahut pria tua di belakang, suaranya waspada. “Itu … darah bayangan sungguhan.”

Kael mengangkat tangan perlahan. Bayangan membentuk garis tipis, seperti bilah yang belum disarungkan.

“Kalian datang untuk menilai,” katanya pelan. “Sekarang kalian sudah tahu.”

Pria kiri menghunus belati dan melompat, tapi begitu mata pisaunya menyentuh bayangan Kael, logam itu retak, pecah seperti kaca dingin yang muak disentuh.

Pria itu mundur, terkejut. “Dia bahkan tidak memakai teknik pertahanan, bayangannya yang menahan!”

Kael menoleh sedikit, tatapannya datar. “Pergi, atau aku uji ketahanan kalian.”

Si perempuan menurunkan busur pertama kali. “Tidak hari ini,” katanya. Ia melempar sesuatu ke tanah, kantong kain kecil berisi peta lusuh dan tanda hitam. “Itu jalur masuk lembah yang tidak bisa dilihat mata biasa. Anggap saja bayaran untuk tidak membunuh kami.”

Pria tua menambahkan, “Kami tidak menjualmu hari ini. Tapi kami akan menjual beritamu. Dunia akan tahu kau bangkit.”

Kael mengambil peta itu tanpa berkata apa pun.

Para pemburu menyingkir, hilang ke kabut tanpa suara. Kael melanjutkan langkahnya lebih dalam ke hutan.

Dunia mencium darahmu, bisik suara gelap di dalamnya. Mereka akan datang, membeli, memburu, memohon. Pilih urutanmu.

“Aku memilih yang menertawakan dulu,” jawab Kael.

Hutan berhenti. Tanah turun, membelah menjadi jalur curam yang mengarah ke dinding lembah hitam. Tidak ada cahaya yang masuk, tidak ada suara yang keluar.

Di sini, hujan pun berhenti, bukan karena terlindung, tapi karena udara menelan tetesannya.

Bayangan Kael menyebar, menyentuh tanah, dan tanah membalas, seperti makhluk tidur yang mengenali darahnya.

Pewaris ke-7… kau datang.

Kael menatap dinding hitam itu. “Apa yang menunggu di dalam?”

Bukan jawaban, bukan kekuatan. Tapi bagian dirimu yang belum pernah kau bangunkan.

Jembatan bayangan terbentuk, menghubungkan kakinya ke pintu lembah.

Kael melangkah.

Satu langkah, dua, tiga, dan dinding hitam itu membelah, membuka lorong seperti mulut raksasa yang tidak memiliki gigi, hanya kedalaman.

Darah Kael berdenyut, bukan cepat, tapi dalam.

“Kalau ini tempatku tumbuh,” katanya tenang, “Maka biarkan dunia mempersiapkan dirinya untuk jatuh.”

Ia masuk.

Lorong tertutup di belakangnya, memutus cahaya, suara, dan segala hubungan terakhir dengan dunia lama.

Dan jauh di dalam kegelapan sana … sesuatu bangun.

Pada detik itu, Kael merasakan perubahan pertama. Udara di dalam lorong bukan sekadar dingin, ada berat di dalamnya, seperti tekanan yang hanya bisa dirasakan oleh seseorang yang pernah dipaksa hidup dalam gelap terlalu lama.

Setiap langkahnya memantul, tidak sebagai gema, tetapi sebagai desahan lembut, seolah lantai itu sendiri sedang mencatat kedatangannya.

Bayangan Kael tidak lagi mengikuti, melainkan merayap mendahului, seperti penunjuk arah yang mengenali tempat ini lebih dulu darinya. Dan di kejauhan, sebuah napas panjang terdengar, bukan napas makhluk hidup, melainkan ruang yang bernafas.

Pewaris ke-7… kau masuk lebih dalam dari yang lain.

Bisikan itu kini lebih jelas. Tidak lagi menggema di pikiran, tetapi seolah berada tepat di belakang telinganya. Kael tidak menoleh. “Berapa banyak yang pernah masuk sebelumku?” tanyanya.

Enam, jawab suara itu. Enam yang dipilih, enam yang tidak keluar.

Kael berhenti sejenak, “Apakah mereka mati?”

Tidak. Mereka menjadi bagian dari apa yang kau injak sekarang.

Kael kembali bergerak, tak ada ketakutan. Hanya pemahaman baru, bahwa di sini, tidak ada tempat bagi mereka yang ingin tetap manusia.

Dinding-dinding lembah mulai menyala samar, garis tipis seperti urat berwarna hitam keunguan, seolah darahnya sendiri dipantulkan oleh batu. Kael merentangkan jari untuk menyentuhnya. Batu itu terasa dingin, tetapi saat kulitnya menyentuh, garis itu menyala lebih terang, merespons darahnya seperti kunci menemukan pintu.

Temui yang menunggumu di dasar lembah, bisik itu lagi. Dialah yang akan menjawab apakah kau akan menjadi iblis … atau tuannya.

Kael menurunkan tangan. “Aku tidak datang untuk bertanya,” gumamnya. “Aku datang untuk mengambil.”

Dan untuk pertama kalinya, lembah tertawa.

Tidak keras, tidak meledak. Hanya getaran halus, seperti bumi bergerak sangat pelan, cukup untuk mengatakan satu hal.

“Silakan! Buktikan kau berbeda dari enam yang gagal.”

Kael melangkah lebih dalam, dan untuk sesaat, hanya keheningan yang menyambutnya.

Lalu, sesuatu bergerak.

Bukan angin. Bukan binatang. Sebuah bayangan besar, tinggi, namun tidak memiliki bentuk pasti, mulai menyatu dari kegelapan di ujung lorong.

Dua mata terbuka di dalam kegelapan tanpa cahaya, tapi Kael merasa ditatap.

Dan lembah berbisik seperti pertanyaan, “Apakah kau datang sebagai daging … atau sebagai penguasa?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   42. CAHAYA DALAM KEMANUSIAAN

    Ledakan cahaya ungu dari pedang Kael menyapu sisa-sisa kegelapan Harbinger of Void. Makhluk itu tidak hancur oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh kemurnian niat yang terpancar dari hubungan Kael dan Lyra. Saat kepulan asap hitam terakhir menguap ke langit merah, Kael terhuyung. Pedang besinya terlepas dari genggaman, jatuh berdenting di tanah berbatu. Napasnya tersengal, dan seluruh otot di tubuhnya terasa seperti ditarik paksa."Kael!" Lyra segera menangkap tubuh Kael sebelum pria itu menyentuh tanah.Ia membiarkan Kael bersandar di pundaknya. Meski Lyra juga merasa lemas karena seluruh energinya terkuras untuk resonansi tadi, ia tetap berusaha berdiri tegak demi menjadi sandaran bagi Kael."Kita ... kita berhasil, Lyra," bisik Kael parau. Keringat membanjiri wajahnya, namun matanya memancarkan kepuasan yang belum pernah ia rasakan saat ia masih memiliki kekuatan dewa.Lyra mengangguk, menyeka keringat di dahi Kael dengan lengan bajunya. "Jangan bicara dulu. Kau memaksakan tu

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   41. HARAPAN BARU

    Kael menatap tangannya yang lecet-lecet. Luka itu tidak langsung menutup seperti dulu. Ia merasakan denyut perih yang nyata, sebuah pengingat bahwa ia kini hanyalah seorang pria biasa yang terikat pada hukum alam.Lyra meletakkan mangkuk sup yang sudah kosong ke samping, lalu meraih tangan Kael dengan lembut. Ia mengeluarkan sehelai kain bersih dan botol kecil berisi minyak herbal yang diberikan oleh warga desa.“Biarkan aku mengobatinya,” tawar Lyra.Kael hanya diam, memperhatikan wajah Lyra yang sangat fokus saat mengusapkan minyak herbal itu ke telapak tangannya. Sentuhan Lyra terasa begitu sejuk di atas kulitnya yang panas. Kael menyadari bahwa meskipun ia kehilangan kekuatan untuk menghancurkan dunia, ia justru mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu perhatian yang tulus.“Lyra,” panggil Kael pelan.“Iya?” Lyra mendongak, matanya yang biru-perak kini tampak lebih dalam dan jernih.“A

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   40. LANGKAH PERTAMA

    Sinar matahari pagi yang menerobos celah jendela pondok kayu itu tidak lagi terasa seperti anugerah dewa, melainkan pengingat bahwa waktu terus berjalan. Kael terbangun dengan rasa kaku di sekujur punggungnya, sebuah sensasi fisik yang sangat nyata.Ia menoleh ke samping dan mendapati Lyra masih terlelap, napasnya teratur dan wajahnya tampak damai di bawah cahaya fajar yang kemerahan.Kael tidak segera bangun. Ia memandangi wajah wanita itu, menyadari bahwa kini ia harus melindungi Lyra bukan dengan kehendak kosmik, melainkan dengan otot, tulang, dan darahnya sendiri.“Selamat pagi, Kael,” bisik Lyra, matanya perlahan terbuka dan langsung bertemu dengan tatapan pria itu. Sebuah senyum kecil namun hangat terukir di bibirnya.“Selamat pagi,” jawab Kael, suaranya sedikit parau. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Lyra dengan lembut. “Bagaimana perasaanmu? Tubuhmu ... apakah terasa berat?”Lyra bangkit perlahan, meregangkan otot-ototnya. “Sedikit pega

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   39. KEKACAUAN PURBA

    Langit yang semula berwarna biru cerah kini seolah bernapas dengan warna merah darah. Ribuan mata merah di balik hutan itu tidak lagi bersembunyi, mereka mengawasi pondok kecil Kael dan Lyra dengan rasa lapar yang hebat.Tanpa belenggu takdir, dunia ini memang bebas, namun kebebasan itu juga melepaskan monster-monster yang seharusnya terkubur selamanya.Kael berdiri di teras pondok, menggenggam gagang pedang besi biasa yang ia temukan di dalam rumah. Tangannya terasa berat. Tidak ada lagi aliran dingin dari Darah Bayangan yang biasanya membuat pedang itu terasa seringan kapas. Ia bukan lagi sang Aksis Dunia yang bisa menghapus konsep, ia kini hanyalah seorang pria dengan luka-luka lama di tubuhnya.“Kael...” Lyra melangkah keluar, menyentuh pundak pria itu. Ia juga tampak pucat, kehilangan cahaya biru-perak Arsitek Memori yang biasanya menyelimutinya seperti jubah suci.Kael menoleh, menatap mata Lyra. Meski kekuatannya hilang, kecantikan dan

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   38. HUKUM TERAKHIR

    Fajar di Domain Aksis tidak pernah tampak seindah ini. Langit yang biasanya hanya berwarna abu-abu kini dipenuhi semburat ungu dan emas, seolah-olah seluruh alam semesta sedang menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Kael dan Lyra berdiri berdampingan di depan pondok kayu mereka, tangan mereka tertaut erat, tidak membiarkan satu inci pun jarak memisahkan.“Kau merasakannya, Kael?” tanya Lyra, menatap ke arah Gerbang Keheningan yang kini memancarkan energi yang luar biasa besar.Kael mengangguk pelan. “Ya. Inti Cahaya dan Inti Kegelapan. Mereka sedang memanggil kita. Ini adalah ujian terakhir bagi aturan yang kita bangun.”Kael menarik napas panjang, menoleh ke arah wanita di sampingnya. Di bawah cahaya fajar itu, Lyra tampak sangat cantik. Tidak ada lagi rasa takut di matanya, hanya ada kepercayaan mutlak pada pria yang ada di sampingnya. Kael menarik Lyra ke dalam pelukannya sejenak, mencium keningnya dengan lemb

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   37. PERDAMAIAN DENGAN MASA LALU

    Peti mati kristal hitam itu mengapung dengan tenang di tengah Danau Bayangan. Cahayanya redup, namun memancarkan aura kerinduan yang sangat dalam. Kael berdiri di tepi danau, tubuhnya kaku dan matanya tidak berkedip. Di dalam peti itu, tersimpan satu-satunya alasan mengapa ia pernah merasa menjadi manusia, ibunya.“Kael...” Lyra berbisik, menyentuh lengan Kael yang gemetar. Ia bisa merasakan badai emosi yang berkecamuk di dalam diri pria itu. “Jika kau belum siap, kita tidak perlu melakukannya sekarang.”Kael menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. “Aku harus melakukannya, Lyra. Suara itu benar. Aku tidak bisa membangun masa depan yang benar-benar bersih jika aku masih menyimpan luka yang bernanah di masa lalu.”Kael melangkah masuk ke dalam air danau. Anehnya, air itu tidak membasahinya, melainkan membelah diri seolah memberi jalan bagi sang penguasa. Lyra mengikuti di belakangnya, memegang juba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status