Share

5. UJIAN PERTAMA

Author: Aleena Tan
last update Last Updated: 2025-11-08 15:17:16

Keheningan itu seperti kulit kedua. Menempel pada napas Kael saat ia menatap dua mata tanpa cahaya yang mengapung di ujung lorong. Pertanyaan lembah masih menggantung, tajam seperti paku, “Apakah kau datang sebagai daging … atau sebagai penguasa?”

Kael tidak menjawab dengan kata. Ia menjawab dengan langkah. Satu, dua, bayangannya memanjang, menjembatani jarak seperti tinta yang tahu ke mana harus mengalir.

Mata itu mengecil. Batu di sekelilingnya bergetar pelan, lalu dinding membuka ke ruangan bundar yang dikelilingi lempeng-lempeng batu berukir, setiap ukiran menyerupai luka. Udara membawa bau logam basah.

Harga, bisik sesuatu dari darahnya. Di tempat ini, setiap pintu memiliki lidah dan gigi.

Kael mengangkat telapak tangan. Luka di dada masih menghitam. “Ambil,” katanya datar.

Lantai bereaksi. Urat-urat hitam di batu menyala, menelan setetes darah yang jatuh dari ujung jarinya. Dalam sekejap, ukiran-ukiran di dinding menyala bergantian, membentuk kalimat yang tidak dibuat untuk dibaca, melainkan dirasa.

Yang dibuang memilih dua jalan, menjadi mangsa, atau menjadi mulut.

“Mulut,” ucap Kael.

Lorong di hadapannya berubah menjadi koridor sempit. Dari langit-langit, bayangan jatuh seperti tirai. Kael melangkah. Saat kakinya menyentuh ambang, sesuatu menggeliat dari lantai, seperti tangan tanpa tulang, mencoba meraih pergelangannya.

Kael tidak menepis, bayangannya yang menepis. Ujung gelap menyentuh “tangan” itu, dan suara rapuh terdengar, seperti kaca tipis pecah di air. Tangan-tangan itu menghitam, mengerut, lalu hancur menjadi debu gelap.

Kekuatanmu menelan, tapi kau masih bernafas seperti manusia, bisik lembah. Apakah kau siap kehabisan udara?

“Manusia yang tersisa di dalamku,” Kael berkata pelan, “Hanya butuh satu hal, mengingat.”

Ia melangkah lebih dalam. Setiap tiga langkah, koridor memunculkan rupa bayang-bayang setinggi manusia, tanpa wajah, masing-masing membawa sisa-sisa aura berwarna, merah, biru, emas.

Mereka datang menyerang tanpa suara. Bayangan Kael merespons seperti air yang dipanaskan, mengembang, merapat, memakan. Cahaya pudar saat menyentuh gelapnya. Yang tersisa hanya abu yang menempel di telapak.

Di serangan keempat, koridor berubah permainan. Bukannya menurunkan musuh, ia menurunkan rasa sakit yang dulu ia telan sendirian, cemooh murid, tatapan ayah, suara Darian di arena. Rasa itu merambati tulang rusuknya seperti paku dingin, mencoba memecah ritmenya.

Kael berhenti. Bukan karena kalah, melainkan untuk mengingat.

Ia melihat wajah ibunya di bawah hujan di hari pengusiran, tangan gemetar yang tetap mengelus rambutnya. Hening yang diminta agar ia tidak membalas, hening yang membuat mereka percaya ia tidak bisa.

“Noda!” Suara Darian pernah berkata. “Kau lahir untuk diinjak.”

Kael mengangkat wajah. Koridor menunggu.

“Terima kasih sudah mengembalikan barangku,” katanya tenang. “Sekarang lihat bagaimana aku memakannya.”

Rasa itu, sakit, hina, malam-malam pendek masuk ke bayangannya seperti air disedot tanah kering. Dingin berubah menjadi tenaga yang merayap ke lengan, berat berubah menjadi ketegasan di telapak. Urat-urat hitam di bawah kulitnya berdenyut pelan.

Kemampuan terbentuk, bisik lembah, terdengar puas. Berikan namanya.

Bayangan di sekitar Kael berkumpul, membentuk mantel tipis yang menyelimuti bahunya, memadamkan tetesan air yang tidak ada. Kael meraba tepinya, ringan, dingin, patuh.

“Jubah Malam,” ucapnya.

Mantel itu menyatu, melindungi, menenangkan paru-paru seolah udara baru disiapkan hanya untuknya. Kael melanjutkan jalan.

Di luar lembah, kabar menyebar seperti api yang tidak membutuhkan kayu. Di pelataran sekte, lembar pengumuman basah oleh hujan, Buronan Tingkat Pertama, Kael (nama dicabut). Hadiah, jatah darah suci 1 tahun.

Darian menatap lembar itu hingga hurufnya terasa seperti arang di mata. “Siapkan tim. Kita ke lembah sekarang.”

Tetua ketiga menghalangi. “Kau mau mati? Lembah menelan aura darah. Kita akan kehilangan lebih dari harga diri.”

“Jadi kita mau menunggu?” dengus Darian.

“Bukan menunggu,” suara Varyon memotong. “Membiarkan lembah menimbang. Jika dia keluar, dia keluar sebagai sesuatu. Dan sesuatu harus dipahami sebelum dihancurkan.”

Darian menoleh. “Atau ditundukkan.”

Varyon tidak berkedip. “Itu juga pilihan.”

Di koridor, langkah Kael memasuki ruangan kedua, lebih kecil, lebih gelap. Di tengah ruangan, sebuah altar rendah, di atasnya tulang, bukan tulang hewan, bukan juga manusia lengkap. Hanya serpih, seperti cawan yang diremukkan dan dibiarkan untuk menjadi pelajaran.

“Enam,” Kael bergumam.

Enam yang mencoba menjadi mulut tanpa belajar menelan, sahut lembah. Apa yang akan kau bayar, Pewaris ke-7?

Kael menatap telapak tangannya, abu aura yang tadi ia telan masih menempel tipis. “Beri aku ujian yang tidak bisa dibayar orang mati.”

Dinding mengerut, jika batu bisa tertawa, begitulah suaranya.

Altar retak. Dari celahnya, asap hitam tipis keluar, membentuk wajah tanpa detail, seperti topeng kabut. Suaranya bukan suara, tetapi gerakan udara yang dipaksa menjadi kalimat:

Tinggalkan satu hal manusia di sini. Sebagai harga untuk berjalan tanpa kembali.

Kael diam. “Hal manusia?”

"Nama, takut, ragu, lapar, rindu. Pilih satu. Yang kau tinggalkan tidak akan lagi menjadi milikmu."

Hening kembali. Kael memikirkan ragu—tapi ragu adalah alat. Lapar—ia membutuhkannya. Takut—berguna untuk mengukur jarak. Nama—sudah diambil sekte, yang tersisa adalah miliknya sendiri, Kael, yang diucapkan ibunya dengan lembut. Rindu—

Ia melihat kalung di telapak, kusam, hangat oleh kulit.

“Rindu tetap tinggal,” katanya lagi. “Aku membawanya melewati tempat mana pun.” Ia menatap kabut itu. “Ambil namaku.”

Kabut bergetar. Nama apa? Dunia sudah mencabutnya.

“Nama yang ibuku pakai,” jawab Kael. Suaranya turun, dingin dan bersih. “Ambil dariku, agar saat aku kembali, dunia akan memohon untuk mengucapkannya lagi.”

Altar berderak pelan. Asap melilit pergelangan tangannya, dingin seperti air malam. Sesuatu tersentak dari dalam dada, bukan daging, bukan darah, tapi cara ia memanggil dirinya sendiri. Untuk sesaat, hampa itu menyentuh tulangnya. Kael tidak bergerak.

Harga diterima. Ruangan berbisik, "Kau berjalan tanpa nama. Kau akan menulis yang baru dengan tanganmu sendiri."

Mata tanpa cahaya kembali menyala di ujung ruangan, lebih dekat, lebih besar. Kael menoleh. “Kau,” katanya kepada yang menunggu di pintu. “Kau yang memutuskan?”

"Aku penjaga. Bukan hakim." Mata itu berkelip, atau mungkin itu batu yang bergerak. "Tapi aku dapat membuka satu pintu lagi, jika mulutmu cukup lapang."

“Buka.”

Dinding terakhir meluncur turun, memperlihatkan jurang sempit yang diisi kabut pekat. Di bawah kabut, sesuatu berdenyut, seperti jantung. Setiap denyutnya membuat udara bergetar, melucuti kehangatan dari kulit.

Di sana, kata lembah. Sumber. Minumlah, jika kau tidak takut kehausan yang tidak pernah selesai.

Kael berdiri di tepi. Jubah Malam berkibar tanpa angin, melukis siluetnya seperti patung dari kegelapan. Ia mengangkat telapak, dan bayangannya memanjang, menyentuh kabut. Suara gesek lembut terdengar, seperti mulut yang disiapkan.

“Jika dunia menolak keberadaanku,” ucapnya, “biarkan dunia belajar lapar dariku.”

Ia melompat.

Kabut menelan sosoknya, dan untuk sekejap, seluruh ruangan padam, ukiran, mata, cahaya semu, semuanya ditarik ke satu titik diam.

Lalu terjadi.

Darah bayangan di tubuh Kael menyala tanpa cahaya. Setiap hinaan yang pernah ia telan menjadi baris gigi, setiap malam ia paksakan napas menjadi urat-urat hitam yang semakin tebal. Sesuatu dari dasar jurang menyambutnya, dingin, tua, lapar, dan menggigit balik.

Bukan untuk menghancurkan, tapi ntuk mengukur.

Daging … atau penguasa?

Kael membuka mata di tengah kabut. Dalam pupilnya, cincin gelap bukan lagi lingkar, melainkan menjadi lambang yang tidak dikenali bahasa mana pun.

Ia tersenyum tipis.

“Coba telan aku,” bisiknya.

Kabut menjawab dengan dentum yang membuat lembah bergetar.

—BERSAMBUNG—

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   42. CAHAYA DALAM KEMANUSIAAN

    Ledakan cahaya ungu dari pedang Kael menyapu sisa-sisa kegelapan Harbinger of Void. Makhluk itu tidak hancur oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh kemurnian niat yang terpancar dari hubungan Kael dan Lyra. Saat kepulan asap hitam terakhir menguap ke langit merah, Kael terhuyung. Pedang besinya terlepas dari genggaman, jatuh berdenting di tanah berbatu. Napasnya tersengal, dan seluruh otot di tubuhnya terasa seperti ditarik paksa."Kael!" Lyra segera menangkap tubuh Kael sebelum pria itu menyentuh tanah.Ia membiarkan Kael bersandar di pundaknya. Meski Lyra juga merasa lemas karena seluruh energinya terkuras untuk resonansi tadi, ia tetap berusaha berdiri tegak demi menjadi sandaran bagi Kael."Kita ... kita berhasil, Lyra," bisik Kael parau. Keringat membanjiri wajahnya, namun matanya memancarkan kepuasan yang belum pernah ia rasakan saat ia masih memiliki kekuatan dewa.Lyra mengangguk, menyeka keringat di dahi Kael dengan lengan bajunya. "Jangan bicara dulu. Kau memaksakan tu

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   41. HARAPAN BARU

    Kael menatap tangannya yang lecet-lecet. Luka itu tidak langsung menutup seperti dulu. Ia merasakan denyut perih yang nyata, sebuah pengingat bahwa ia kini hanyalah seorang pria biasa yang terikat pada hukum alam.Lyra meletakkan mangkuk sup yang sudah kosong ke samping, lalu meraih tangan Kael dengan lembut. Ia mengeluarkan sehelai kain bersih dan botol kecil berisi minyak herbal yang diberikan oleh warga desa.“Biarkan aku mengobatinya,” tawar Lyra.Kael hanya diam, memperhatikan wajah Lyra yang sangat fokus saat mengusapkan minyak herbal itu ke telapak tangannya. Sentuhan Lyra terasa begitu sejuk di atas kulitnya yang panas. Kael menyadari bahwa meskipun ia kehilangan kekuatan untuk menghancurkan dunia, ia justru mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu perhatian yang tulus.“Lyra,” panggil Kael pelan.“Iya?” Lyra mendongak, matanya yang biru-perak kini tampak lebih dalam dan jernih.“A

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   40. LANGKAH PERTAMA

    Sinar matahari pagi yang menerobos celah jendela pondok kayu itu tidak lagi terasa seperti anugerah dewa, melainkan pengingat bahwa waktu terus berjalan. Kael terbangun dengan rasa kaku di sekujur punggungnya, sebuah sensasi fisik yang sangat nyata.Ia menoleh ke samping dan mendapati Lyra masih terlelap, napasnya teratur dan wajahnya tampak damai di bawah cahaya fajar yang kemerahan.Kael tidak segera bangun. Ia memandangi wajah wanita itu, menyadari bahwa kini ia harus melindungi Lyra bukan dengan kehendak kosmik, melainkan dengan otot, tulang, dan darahnya sendiri.“Selamat pagi, Kael,” bisik Lyra, matanya perlahan terbuka dan langsung bertemu dengan tatapan pria itu. Sebuah senyum kecil namun hangat terukir di bibirnya.“Selamat pagi,” jawab Kael, suaranya sedikit parau. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Lyra dengan lembut. “Bagaimana perasaanmu? Tubuhmu ... apakah terasa berat?”Lyra bangkit perlahan, meregangkan otot-ototnya. “Sedikit pega

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   39. KEKACAUAN PURBA

    Langit yang semula berwarna biru cerah kini seolah bernapas dengan warna merah darah. Ribuan mata merah di balik hutan itu tidak lagi bersembunyi, mereka mengawasi pondok kecil Kael dan Lyra dengan rasa lapar yang hebat.Tanpa belenggu takdir, dunia ini memang bebas, namun kebebasan itu juga melepaskan monster-monster yang seharusnya terkubur selamanya.Kael berdiri di teras pondok, menggenggam gagang pedang besi biasa yang ia temukan di dalam rumah. Tangannya terasa berat. Tidak ada lagi aliran dingin dari Darah Bayangan yang biasanya membuat pedang itu terasa seringan kapas. Ia bukan lagi sang Aksis Dunia yang bisa menghapus konsep, ia kini hanyalah seorang pria dengan luka-luka lama di tubuhnya.“Kael...” Lyra melangkah keluar, menyentuh pundak pria itu. Ia juga tampak pucat, kehilangan cahaya biru-perak Arsitek Memori yang biasanya menyelimutinya seperti jubah suci.Kael menoleh, menatap mata Lyra. Meski kekuatannya hilang, kecantikan dan

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   38. HUKUM TERAKHIR

    Fajar di Domain Aksis tidak pernah tampak seindah ini. Langit yang biasanya hanya berwarna abu-abu kini dipenuhi semburat ungu dan emas, seolah-olah seluruh alam semesta sedang menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Kael dan Lyra berdiri berdampingan di depan pondok kayu mereka, tangan mereka tertaut erat, tidak membiarkan satu inci pun jarak memisahkan.“Kau merasakannya, Kael?” tanya Lyra, menatap ke arah Gerbang Keheningan yang kini memancarkan energi yang luar biasa besar.Kael mengangguk pelan. “Ya. Inti Cahaya dan Inti Kegelapan. Mereka sedang memanggil kita. Ini adalah ujian terakhir bagi aturan yang kita bangun.”Kael menarik napas panjang, menoleh ke arah wanita di sampingnya. Di bawah cahaya fajar itu, Lyra tampak sangat cantik. Tidak ada lagi rasa takut di matanya, hanya ada kepercayaan mutlak pada pria yang ada di sampingnya. Kael menarik Lyra ke dalam pelukannya sejenak, mencium keningnya dengan lemb

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   37. PERDAMAIAN DENGAN MASA LALU

    Peti mati kristal hitam itu mengapung dengan tenang di tengah Danau Bayangan. Cahayanya redup, namun memancarkan aura kerinduan yang sangat dalam. Kael berdiri di tepi danau, tubuhnya kaku dan matanya tidak berkedip. Di dalam peti itu, tersimpan satu-satunya alasan mengapa ia pernah merasa menjadi manusia, ibunya.“Kael...” Lyra berbisik, menyentuh lengan Kael yang gemetar. Ia bisa merasakan badai emosi yang berkecamuk di dalam diri pria itu. “Jika kau belum siap, kita tidak perlu melakukannya sekarang.”Kael menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. “Aku harus melakukannya, Lyra. Suara itu benar. Aku tidak bisa membangun masa depan yang benar-benar bersih jika aku masih menyimpan luka yang bernanah di masa lalu.”Kael melangkah masuk ke dalam air danau. Anehnya, air itu tidak membasahinya, melainkan membelah diri seolah memberi jalan bagi sang penguasa. Lyra mengikuti di belakangnya, memegang juba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status