Share

3. PUTRA TANPA NAMA

Penulis: Aleena Tan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-07 09:39:23

Hujan masih turun saat suara bel darurat sekte berdentang tiga kali. Arena yang sebelumnya dipenuhi sorak dan cemooh kini berubah menjadi tempat di mana setiap orang memilih untuk diam, bukan karena hormat, tapi karena takut membuat suara yang salah.

Lord Varyon Astaroth turun dari singgasananya. Dengan satu langkah saja, tribun yang kacau mulai kembali teratur. Para murid yang tadinya berseru ingin menyaksikan kematian Kael kini menunduk, seolah takut menyebut namanya dengan suara terlalu keras.

Varyon menatap Kael lama, sebelum akhirnya mengucapkan satu kalimat yang mengubah segalanya.

“Mulai detik ini, Kael Astaroth bukan lagi bagian dari keluarga Astaroth. Namanya dicabut dari silsilah, dan statusnya adalah pemberontak tingkat pertama.”

Geger langsung pecah.

Dicabut dari silsilah, artinya Kael bukan lagi putra, bukan pewaris, bukan keturunan. Bahkan anak budak masih memiliki nama di dalam sekte. Namun Kael? Sekarang ia adalah seseorang yang tidak pernah lahir.

Darian melangkah maju, suara bergetar menahan amarah. “Tidak cukup! Kita harus membunuhnya sekarang juga! Kau lihat sendiri apa yang dia lakukan, dia memakan aura darahku!”

Tapi Varyon menggeleng pelan. “Tidak. Membunuhnya sekarang hanya akan membuat kekuatan itu hilang tanpa dipahami.”

“Jadi kau ingin menyimpannya?!” Darian menjerit. “Dia sudah menghina sekte di depan semua orang!”

Varyon menoleh, dan tatapannya cukup untuk membuat Darian terdiam.

“Kau tidak takut dia melarikan diri?” Salah satu tetua bertanya.

“Dia tidak melarikan diri,” jawab Varyon datar. “Orang yang melarikan diri membuka pintu dengan panik. Dia …” Matanya mengarah pada Kael, “Hanya berjalan keluar.”

Seluruh arena kembali menatap Kael.

Ia masih berdiri di tengah hujan, luka di dadanya masih menghitam, namun ekspresinya tetap sama, tenang, dingin, dan sepenuhnya sadar akan apa yang sedang terjadi.

“Kael,” ujar Varyon. “Kau diizinkan pergi. Dan bila kau memilih kembali dengan pedang, maka itu akan menjadi pilihanmu, bukan takdirmu.”

Kael mengangkat wajah, hujan meluncur dari rambut putih yang menempel di pelipisnya. “Kau menghapus namaku,” katanya tenang. “Tapi tidak ingatanku.”

Darian mendecak. “Berlagak puitis? Kau tetap sampah yang dibuang.”

Kael memandangnya sekejap, tanpa emosi, dan justru itulah yang membuat Darian menggigil.

“Aku ingat setiap orang yang menertawakan kelemahanku,” kata Kael. “Kelemahanku mati hari ini. Tawa kalian menyusul berikutnya.”

Arah tatapannya bergerak perlahan ke tribun, ke para murid yang dulu meludahinya, yang dulu menertawakan cara berjalannya, yang dulu mengira mereka aman karena ia terlalu lemah untuk membalas.

Kini mereka menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak ia lahir, keheningan bukan diberikan padanya, melainkan karena dirinya.

Varyon kembali berbicara, suaranya keras agar terdengar sampai sudut terdalam sekte.

“Dengarlah semua! Hadiah diumumkan, siapa pun yang membawa kepala Kael akan menerima jatah darah suci selama satu tahun penuh! Perburuan dimulai setelah ia melewati gerbang!”

Kali ini sebagian murid bersorak, bukan karena berani, tapi karena hadiah itu terlalu besar untuk diabaikan. Namun sebagian lagi tetap diam, tidak yakin ingin menjadi pulang-pergi antara pemburu dan jasad dingin.

Kael tidak menanggapi pengumuman itu.

Sebaliknya, ia menunduk sebentar, meraih kalung tipis yang tergantung di balik jubahnya, kalung yang pernah dipakaikan ibunya saat ia masih kecil. Ia mengepalkan benda itu seolah mengunci satu bagian luka yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun.

Lalu ia berkata pelan, “Terima kasih.”

Suara itu membuat banyak orang menoleh dalam bingung.

Kael mengangkat wajah, menatap Varyon. “Karena aku tidak perlu mengotori silsilah ini ketika nanti aku berdiri di atasnya.”

Tatapan Varyon tidak berubah, tapi matanya berkedip satu kali lebih lambat. Itu cukup untuk menunjukkan bahwa ia mengerti apa yang baru saja diputuskan.

Darian melangkah maju lagi. “Berhenti! Pertarungan kita belum selesai!”

Kael menatap tombak patah di tangan kakaknya. Lalu dengan satu gerakan jemari, bayangan di tanah menggulung ujung logam itu, dan logam itu berubah rapuh seperti abu. Hancur dalam satu kedipan.

“Benar,” ucap Kael. “Belum selesai, yang ini hanya awal.” Ia berbalik, melangkah ke arah gerbang sekte. Tidak berlari, tidak bergegas.

Setiap langkahnya terdengar seperti jejak yang menempel permanen di batu, bukan jejak pelarian, tapi jejak pemilik masa depan.

Saat Kael melewati gerbang, hujan tiba-tiba lebih deras, angin lebih dingin, dan para murid yang berdiri di sepanjang jalan itu memilih untuk tidak menoleh terlalu lama. Karena menatapnya kini terasa seperti memanggil sesuatu yang lebih gelap daripada sekte mereka sendiri.

Di titik terakhir sebelum keluar sepenuhnya, Kael berhenti. Tidak menoleh, hanya berbicara ke udara yang basah.

“Hari ini kalian menghapus namaku. Kelak kalian akan berebut menyebutnya.” Lalu ia melangkah keluar.

Dan bayangan menyusulnya, seperti makhluk setia yang tidak memiliki bentuk, hanya tujuan.

Di balik lembah, jauh dari mata sekte, sesuatu berbisik dari kegelapan yang lebih tua dari seluruh pohon yang berdiri di atas tanah itu.

Ke mari, ke lembah Sunyi Bayangan yang sedang menunggu pewarisnya.

Kael tidak menjawab, tapi darahnya menjawab untuknya, berdenyut, memanggil, dan menuntun.

Itu bukan pelarian. Itu pendaratan pertama seorang iblis.

Saat langkah Kael hilang dalam hujan, beberapa murid akhirnya berani bernapas lagi. Namun di sudut tribun, ada satu murid perempuan yang tidak ikut menunduk. Matanya mengikuti sosok Kael sampai hilang di balik kabut, dan bibirnya bergerak pelan, seolah menahan kata yang tidak boleh keluar.

“Jadi… kau benar-benar bangkit.” Ia mengepal jari di balik lengan jubahnya. “Terserah apa kata mereka, aku ingin melihat sampai di mana kau akan berdiri.”

Tepat di belakangnya, seorang tetua berwajah kurus memperhatikan tanpa suara, bukan dengan ketakutan, tetapi dengan minat. Ia menyentuh cincin batu tua di jarinya, dan lingkar rune abu-abu menyala redup.

“Darah Bayangan … setelah sekian lama.” Ia berbalik sebelum siapa pun menyadari ia mengamati.

“Sepertinya Sekte Iblis Suci Langit bukan satu-satunya yang punya alasan untuk mencari anak itu.”

Di sisi lain, jauh dari sekte, Kael terus berjalan tanpa henti. Hujan membasahi tubuhnya, tetapi bayangan di bawah kakinya bergerak seperti makhluk yang mempersiapkan tempat tidur bagi tuannya.

Suara itu datang lagi, bukan dari luar, tetapi dari dalam darahnya.

“Jika kau melangkah satu kali lagi, kau tidak hanya meninggalkan rumahmu, kau memasuki takdirmu.”

Kael tidak berhenti.

“Di depanmu ada lembah tempat malam tidak pernah tidur. Di sana, kau tidak akan sendirian.” Suara itu muncul lagi.

Ia mengangkat wajah, membiarkan hujan jatuh di mata yang kini tak lagi tampak seperti mata manusia biasa.

“Aku tidak butuh rumah,” bisiknya. “Aku butuh awal.”

Bayangan bergulung di belakangnya, seolah mengiris batas antara dunia lama dan dunia yang akan ia kuasai. Dan hujan tiba-tiba terbelah, seakan udara memberi jalan untuk sesuatu yang lebih gelap dari badai.

Kael Astaroth telah dibuang dari namanya. Tapi nama baru sedang menunggu untuk diukir, memakai darah orang-orang yang pernah menghapusnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   90. PEMBERONTAKAN KARAKTER UTAMA

    Suara gerigi takdir yang macet terdengar lebih memilukan daripada jeritan ribuan jiwa yang tersiksa. Di bawah tekanan Segel Penghapusan Global, setiap sendi tubuh Kael Astaroth mengeluarkan bunyi retakan yang mengerikan.Seolah-olah realitas itu sendiri sedang berusaha melipat tubuhnya menjadi ketiadaan. Cahaya emas dari langit bukan lagi sekadar pemandangan, melainkan beban fisik seberat jutaan galaksi yang dijatuhkan tepat di atas pundaknya.Lyra, yang mendekapnya dari belakang, mulai mengeluarkan cahaya putih pucat, pertanda bahwa inti kristal semestanya sedang dipaksa bekerja melampaui batas untuk melindungi sang suami."Kau merasa berat, Kael?" Suara Dewa Penulis yang duduk di singgasana terjauh bergema, nadanya penuh dengan ejekan yang halus."Itu bukan sekadar energi. Itu adalah berat dari semua naskah yang gagal kau jalani. Itu adalah berat dari miliaran karakter lain yang harus mati agar kau bisa menjadi pemeran utama. Kau hanyalah tumpukan mayat yang kami beri nama."Kael te

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   89. VONIS SANG EDITOR AGUNG

    Cermin itu tidak memantulkan cahaya, melainkan memantulkan kegagalan. Di dalam wajah retak entitas raksasa itu, Kael melihat ribuan versi dirinya yang mati mengenaskan, ada Kael yang terbunuh oleh pengkhianatan Valerius di masa muda, Kael yang gagal menyelamatkan Lyra, hingga Kael yang jiwanya hancur saat mencoba menyentuh Jantung Asal.Ini bukan sekadar ilusi, melainkan draf gagal dari sejarah yang dikumpulkan oleh Kehampaan. Utusan itu berdiri dengan keangkuhan yang melampaui konsep ruang, memancarkan aura abu-abu yang membuat warna-warna di Jantung Asal mulai memudar."Kael Astaroth, lihatlah makammu yang tak terhitung jumlahnya." Suara dari utusan itu meledak, bukan melalui telinga, melainkan langsung ke dalam pusat kesadaran."Eksistensimu saat ini adalah sebuah kelainan. Kau adalah kata yang salah tulis dalam buku besar penciptaan. Dan aku di sini untuk menghapusnya."Kael tetap berdiri tenang, meskipun tekanan dari wajah cermin itu sanggup meremukkan tulang seorang Kultivator T

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   88. GEMA DARI KEHAMPAAN

    Langit Jantung Asal yang seharusnya menjadi fondasi kedamaian mendadak memekik ngeri, merobek dirinya sendiri menjadi lubang hitam yang tak berujung. Bukan karena ledakan energi, melainkan karena realitas di tempat itu menolak keberadaan Kael Astaroth yang terlalu kuat.Seolah-olah sebuah botol kaca dipaksa menampung seluruh air di samudra, dimensi tersebut mulai retak, mengeluarkan suara dentuman yang sanggup menghancurkan gendang telinga Dewa sekalipun.Kael tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap memeluk Lyra, membiarkan jubah cahayanya menjadi perisai mutlak yang menelan semua distorsi ruang di sekitar mereka. Tangannya yang hangat mengusap rambut Lyra, mencoba menenangkan istrinya yang masih gemetar hebat.Di mata Kael, dunia ini tidak lagi terlihat seperti materi padat, melainkan jutaan baris kode dan simbol naskah yang mengalir deras. Ia bisa melihat setiap detak jantung makhluk hidup di benua bawah, setiap aliran sungai, hingga setiap pikiran jahat yang masih bersembunyi di luban

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   87. KEBANGKITAN SANG PENGUASA HUKUM

    Suara retakan itu bukan berasal dari lantai kristal yang dipijak Valerius. Melainkan dari dalam kedalaman jiwa Lyra yang sedang dikuliti hidup-hidup oleh rantai hitam naskah terlarang.Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun penyiksaan, di mana benang-benang memori tentang Kael ditarik paksa keluar, meninggalkan lubang-lubang kosong yang dingin di dalam batinnya.Lyra menatap wajah Valerius yang menyeringai, namun anehnya, ia mulai lupa mengapa ia begitu membenci pria di depannya. Ia mulai lupa mengapa ia berdiri di tempat ini. Bahkan, nama pria berambut putih yang selama ini ia puja mulai terasa asing di lidahnya."Menyerahlah, gadis kecil. Semakin kau melawan, semakin hancur jiwamu," desis Valerius sembari mempererat cengkeraman energinya pada naskah kulit manusia di tangannya."Kebebasan yang diberikan Kael hanyalah ilusi singkat. Di bawah pemerintahanku, manusia tidak butuh memori. Mereka hanya butuh kepatuhan."Lyra terbatuk darah, tetesan emasnya jatuh menimpa lantai

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   86. KEBANGKITAN NASKAH TERLARANG

    Langit yang baru saja mencicipi warna biru kini mendadak bergejolak. Seolah ia memuntahkan cairan kental berwarna merah marun yang jatuh seperti hujan darah ke seluruh penjuru benua.Ini bukan sekadar fenomena alam, setiap tetesan yang menyentuh tanah mengeluarkan suara mendesis. Menghanguskan rumput hijau dan mengubah sungai yang jernih menjadi aliran nanah yang berbau amis.Di puncak Kuil Tengkorak yang tersembunyi, Valerius berdiri dengan tangan terentang. Ia memegang sebuah perkamen kulit manusia yang mengeluarkan cahaya hitam pekat.Itulah naskah terlarang, sebuah artefak yang berisi kutukan dari arsitek pertama yang telah gila. Sebuah naskah yang dirancang untuk menghapus makna dari setiap emosi manusia.Valerius tertawa terbahak-bahak, tawanya bergema di celah-celah dimensi yang retak."Kael, kau memberikan mereka kebebasan, tapi kau lupa bahwa tanpa rasa sakit dan cinta, kebebasan hanyalah kehampaan yang tidak berarti!" teriaknya sembari menghunjamkan belati peraknya ke tengah

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   85. BAYANGAN SANG PENGKHIANAT

    Bau busuk kematian menyapu lembah hijau yang baru saja lahir, merobek ketenangan seperti pisau karatan yang mengiris sutra. Langit yang tadinya biru cerah mendadak terbelah oleh kilatan petir hitam yang tidak mengeluarkan suara, meninggalkan jejak luka permanen di cakrawala.Seekor burung gagak bermata merah masih bertengger di pagar pondok, bulu-bulunya yang hitam pekat tampak seperti lubang kecil yang menyedot cahaya di sekitarnya. Kehadirannya adalah sebuah anomali, sebuah virus yang mencoba menyusup ke dalam sistem yang baru saja dikunci oleh darah Kael.Lyra berdiri dengan punggung tegak, napasnya terkendali meskipun jantungnya berdegup kencang melawan rasa dingin yang mulai merayap dari bawah tanah. Ia merasakan getaran aneh pada jurnal di tangannya, jurnal yang kini menjadi satu-satunya penghubung antara dirinya dan kehendak Kael yang tersebar di seluruh atom dunia ini."Kau bicara tentang tragedi," ucap Lyra, suaranya jernih dan tajam, memotong desis angin yang mulai berbau be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status