Home / Fantasi / Bayangan Darah Sang Putra Buangan / 83. SANG PENENTANG TAKDIR

Share

83. SANG PENENTANG TAKDIR

Author: Aleena Tan
last update Last Updated: 2026-02-11 19:52:42

Bau belerang dan besi berkarat mendadak memenuhi udara yang seharusnya suci di dalam Jantung Asal. Tidak ada lagi aroma surgawi, yang tersisa hanyalah aroma kematian dari sebuah tatanan yang sedang sekarat.

Kael tidak mempedulikan indra penciumannya yang mulai mati rasa. Fokusnya hanya tertuju pada ujung pisau hitamnya yang kini menjadi pena bagi nasib seluruh alam semesta. Setiap kali ia menggoreskan niatnya pada Naskah Putih, sebuah guncangan hebat menghantam jiwanya, seolah-olah ada palu rak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   90. PEMBERONTAKAN KARAKTER UTAMA

    Suara gerigi takdir yang macet terdengar lebih memilukan daripada jeritan ribuan jiwa yang tersiksa. Di bawah tekanan Segel Penghapusan Global, setiap sendi tubuh Kael Astaroth mengeluarkan bunyi retakan yang mengerikan.Seolah-olah realitas itu sendiri sedang berusaha melipat tubuhnya menjadi ketiadaan. Cahaya emas dari langit bukan lagi sekadar pemandangan, melainkan beban fisik seberat jutaan galaksi yang dijatuhkan tepat di atas pundaknya.Lyra, yang mendekapnya dari belakang, mulai mengeluarkan cahaya putih pucat, pertanda bahwa inti kristal semestanya sedang dipaksa bekerja melampaui batas untuk melindungi sang suami."Kau merasa berat, Kael?" Suara Dewa Penulis yang duduk di singgasana terjauh bergema, nadanya penuh dengan ejekan yang halus."Itu bukan sekadar energi. Itu adalah berat dari semua naskah yang gagal kau jalani. Itu adalah berat dari miliaran karakter lain yang harus mati agar kau bisa menjadi pemeran utama. Kau hanyalah tumpukan mayat yang kami beri nama."Kael te

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   89. VONIS SANG EDITOR AGUNG

    Cermin itu tidak memantulkan cahaya, melainkan memantulkan kegagalan. Di dalam wajah retak entitas raksasa itu, Kael melihat ribuan versi dirinya yang mati mengenaskan, ada Kael yang terbunuh oleh pengkhianatan Valerius di masa muda, Kael yang gagal menyelamatkan Lyra, hingga Kael yang jiwanya hancur saat mencoba menyentuh Jantung Asal.Ini bukan sekadar ilusi, melainkan draf gagal dari sejarah yang dikumpulkan oleh Kehampaan. Utusan itu berdiri dengan keangkuhan yang melampaui konsep ruang, memancarkan aura abu-abu yang membuat warna-warna di Jantung Asal mulai memudar."Kael Astaroth, lihatlah makammu yang tak terhitung jumlahnya." Suara dari utusan itu meledak, bukan melalui telinga, melainkan langsung ke dalam pusat kesadaran."Eksistensimu saat ini adalah sebuah kelainan. Kau adalah kata yang salah tulis dalam buku besar penciptaan. Dan aku di sini untuk menghapusnya."Kael tetap berdiri tenang, meskipun tekanan dari wajah cermin itu sanggup meremukkan tulang seorang Kultivator T

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   88. GEMA DARI KEHAMPAAN

    Langit Jantung Asal yang seharusnya menjadi fondasi kedamaian mendadak memekik ngeri, merobek dirinya sendiri menjadi lubang hitam yang tak berujung. Bukan karena ledakan energi, melainkan karena realitas di tempat itu menolak keberadaan Kael Astaroth yang terlalu kuat.Seolah-olah sebuah botol kaca dipaksa menampung seluruh air di samudra, dimensi tersebut mulai retak, mengeluarkan suara dentuman yang sanggup menghancurkan gendang telinga Dewa sekalipun.Kael tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap memeluk Lyra, membiarkan jubah cahayanya menjadi perisai mutlak yang menelan semua distorsi ruang di sekitar mereka. Tangannya yang hangat mengusap rambut Lyra, mencoba menenangkan istrinya yang masih gemetar hebat.Di mata Kael, dunia ini tidak lagi terlihat seperti materi padat, melainkan jutaan baris kode dan simbol naskah yang mengalir deras. Ia bisa melihat setiap detak jantung makhluk hidup di benua bawah, setiap aliran sungai, hingga setiap pikiran jahat yang masih bersembunyi di luban

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   87. KEBANGKITAN SANG PENGUASA HUKUM

    Suara retakan itu bukan berasal dari lantai kristal yang dipijak Valerius. Melainkan dari dalam kedalaman jiwa Lyra yang sedang dikuliti hidup-hidup oleh rantai hitam naskah terlarang.Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun penyiksaan, di mana benang-benang memori tentang Kael ditarik paksa keluar, meninggalkan lubang-lubang kosong yang dingin di dalam batinnya.Lyra menatap wajah Valerius yang menyeringai, namun anehnya, ia mulai lupa mengapa ia begitu membenci pria di depannya. Ia mulai lupa mengapa ia berdiri di tempat ini. Bahkan, nama pria berambut putih yang selama ini ia puja mulai terasa asing di lidahnya."Menyerahlah, gadis kecil. Semakin kau melawan, semakin hancur jiwamu," desis Valerius sembari mempererat cengkeraman energinya pada naskah kulit manusia di tangannya."Kebebasan yang diberikan Kael hanyalah ilusi singkat. Di bawah pemerintahanku, manusia tidak butuh memori. Mereka hanya butuh kepatuhan."Lyra terbatuk darah, tetesan emasnya jatuh menimpa lantai

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   86. KEBANGKITAN NASKAH TERLARANG

    Langit yang baru saja mencicipi warna biru kini mendadak bergejolak. Seolah ia memuntahkan cairan kental berwarna merah marun yang jatuh seperti hujan darah ke seluruh penjuru benua.Ini bukan sekadar fenomena alam, setiap tetesan yang menyentuh tanah mengeluarkan suara mendesis. Menghanguskan rumput hijau dan mengubah sungai yang jernih menjadi aliran nanah yang berbau amis.Di puncak Kuil Tengkorak yang tersembunyi, Valerius berdiri dengan tangan terentang. Ia memegang sebuah perkamen kulit manusia yang mengeluarkan cahaya hitam pekat.Itulah naskah terlarang, sebuah artefak yang berisi kutukan dari arsitek pertama yang telah gila. Sebuah naskah yang dirancang untuk menghapus makna dari setiap emosi manusia.Valerius tertawa terbahak-bahak, tawanya bergema di celah-celah dimensi yang retak."Kael, kau memberikan mereka kebebasan, tapi kau lupa bahwa tanpa rasa sakit dan cinta, kebebasan hanyalah kehampaan yang tidak berarti!" teriaknya sembari menghunjamkan belati peraknya ke tengah

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   85. BAYANGAN SANG PENGKHIANAT

    Bau busuk kematian menyapu lembah hijau yang baru saja lahir, merobek ketenangan seperti pisau karatan yang mengiris sutra. Langit yang tadinya biru cerah mendadak terbelah oleh kilatan petir hitam yang tidak mengeluarkan suara, meninggalkan jejak luka permanen di cakrawala.Seekor burung gagak bermata merah masih bertengger di pagar pondok, bulu-bulunya yang hitam pekat tampak seperti lubang kecil yang menyedot cahaya di sekitarnya. Kehadirannya adalah sebuah anomali, sebuah virus yang mencoba menyusup ke dalam sistem yang baru saja dikunci oleh darah Kael.Lyra berdiri dengan punggung tegak, napasnya terkendali meskipun jantungnya berdegup kencang melawan rasa dingin yang mulai merayap dari bawah tanah. Ia merasakan getaran aneh pada jurnal di tangannya, jurnal yang kini menjadi satu-satunya penghubung antara dirinya dan kehendak Kael yang tersebar di seluruh atom dunia ini."Kau bicara tentang tragedi," ucap Lyra, suaranya jernih dan tajam, memotong desis angin yang mulai berbau be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status